Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
"Kak, kau tidak perlu membujuk Mamavdan Papa, lagi pula aku tak suka acara tidak penting seperti itu," jelas Aurora, dia menatap Anjani juga, "Dan kau tidak perlu membujuk dengan wajah sok memelas mu itu, Jani, karena aku juga akan menolak datang," sambungnya, dia tersenyum sinis dan setelah itu membanting pintu dengan keras.
BRAK!
"Lihat kan, Kak? Dia tak punya sopan santun," Anjani terus mengompori agar Aruna semakin membenci Aurora.
"Sudah, kamu masuk kamar saja!" Aruna tak mau mendengar, dia meninggalkan Anjani yang sekarang nampak kesal.
Dengan hentakkan kaki kesal, Anjani berjalan menuju kamarnya, dia akan masuk dan memiliki cara agar bisa membuat Aurora tak betah berada di sini.
...****************...
Pagi ini, Aurora telah siap, dia akan pergi sekolah sekalian bertemu seseorang.
Aurora keluar dari kamar, dia malah bertemu dengan Anjani yang sekarang menatap ia sinis. Namun, gadis cantik bermata indah itu hanya melengos tak peduli.
"Berani sekali dia mengacuhkan aku," gerutunya kesal dengan tangan terkepal.
Aurora berjalan pelan, menuruni tangga dan tanpa di duga Anjani menarik keras tangannya tanpa aba-aba.
"Apa sih? Tanganmu itu kotoran jadi jangan sentuh aku!" hardik Aurora, dia mengusap tangannya dengan lembut.
"Kau pikir aku ini apa? Sialan! Aku ini Harvey dan kau hanya gadis desa tak tahu diri," balasnya tak kalah kejam.
"Kau? Harvey?" Aurora terkekeh lucu, dia tergelak keras saat mendengar ucapan lucu Anjani yang mengaku sebagai keturunan Harvey.
"Kenapa tertawa? Jelas-jelas kau perusak yang datang mengaku sebagai putri Harvey," ucapnya dengan marah.
"Kau meragukan hasil tes Dokter terkemuka?" tanya Aurora sinis,"Aku ini keturunan asli, jika bukan karena kesalahan dokter hari itu. Kau tak akan memiliki kesempatan untuk masuk ke kediaman Harvey yang mewah ini," imbuhnya dengan kejam dan tak berperasaan.
"Kau ... " tunjuk Anjani dengan wajah memerah.
Sedangkan Aurora nampak acuh, dia berbalik. Namun, suara Aruna menghentikan kembali langkah Aurora.
"Jangan sok berkuasa Aurora, kau jelas tahu Anjani akan tetap menjadi putri kesayangan Harvey," ucap Aruna.
Aurora menoleh, dia menatap Aruna sebentar sebelum akhirnya dia berbalik sebab tak ingin berdebat pagi ini dengan kedua gadis manja itu.
"Aurora, kamu tak sarapan sayang?" suara Adeline menghentikan langkah Aurora.
"Ma, aku tak sarapan hari ini sebab ada urusan ke perpustakaan," jawab Aurora senyumnya lembut dan polos.
"Tapi kamu harus sarapan walaupun sedikit," Adeline berujar penuh perhatian.
"Ma,, biarkan dia pergi! Lagi pula sejak awal dia hanya pengganggu," ucapan Aruna membuat Adeline terkejut.
"Runa, apa maksudnya? Kenapa bicara seperti itu?" Adeline menegur, dia tak suka pertikaian itu terus terjadi antara Aruna dan Aurora, karena jelas keduanya adalah putri yang ia lahirkan.
"Ma, biarkan saja, sebab sejak awal kalian memang tak pernah berharap aku kembali," setelah itu Aurora berlalu, wajah sendu itu tertangkap oleh netra Kaynen yang baru tiba.
Kepergian Aurora di tatap sendu dan tak enak oleh Adeline, dia ingin menghentikan. Namun, pergerakan Aurora yang cepat membuat ia tak sempat melakukan itu.
"Runa, seharusnya kamu tak bicara seperti itu, jelas Aurora tetap adalah adik kandung mu!" kata Kaynen, dia menegur sebab tak suka ucapan Aruna tadi yang jelas itu menyakiti Aurora.
"Kak, dia kan memang kampungan dan tak pantas menjadi bagian dari Harvey!"
PLAK!
Tangan Adeline menampar keras, dan itu mengejutkan Aruna juga mereka semua, sebab tak menyangka Adeline yang lembut bisa melakukan hal itu pada Aruna.
"Ma," protes Aruna.
"Kamu sekali lagi bicara seperti itu lebih baik kamu keluar dari rumah ini!" setelah mengatakan itu, Adeline berlalu meninggalkan ruang makan yang seharusnya hangat menjadi medan tempur di pagi hari.
...****************...
Perpustakaan kota menjadi tempat untuk baca buku dan mendapatkan buku yang tak bisa mereka dapatkan di tempat lain.
"Kau sudah lama datang?" Aurora bertanya setelah meletakkan tas di atas meja.
"Baru lima menit yang lalu," jawabnya, tanpa mengalihkan tatapan pada si yang bertanya.
"Kau ini tidak bisakah hormat pada tuanmu?" Aurora berujar sinis dengan nada protes.
Gadis itu, mendongak dan membenarkan letak kacamatanya yang sedikit melorot. Dia menatap Aurora intens,"Maaf, Nona Aurora," ucapnya dengan senyum tipis.
"Kau ini selalu saja!" kesalnya.
Gadis itu hanya tersenyum tipis, dia memandang Aurora dengan mata hitamnya yang berbinar.
"Kita akan bahas rencana nanti malam setelah pulang sekolah, jangan lupa datang lagi kesini nanti!" setelah mengatakan itu, Aurora bangun, dia meninggalkan gadis itu sendiri di dalam ruang perpustakaan yang sepi itu.
"Iya, dia tidak berubah," gumamnya dengan senyum kecil.
...****************...
Keluar dari perpustakaan kota, mobil mewah milik Aurora melaju pelan meninggalkan gedung itu, menembus pagi yang masih sunyi.
Aurora menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu masih pagi dan hari belum benar-benar dimulai.
Suaranya lembut tapi tegas saat memerintah, “Arka, berhenti sebentar di warteg langganan. Aku lapar, ingin sarapan.”
Arka, sopir sekaligus anak buah setia Aurora, mengangguk tanpa suara, menyetir dengan sigap.
Tak lama, mobil berhenti tepat di depan warteg sederhana yang terkenal dengan masakannya yang nikmat, walau penampilannya biasa saja.
“Kita sudah sampai, nona,” kata Arka, memecah keheningan pagi.
Aurora menoleh, matanya menyapu pemandangan di luar jendela. Dalam sekejap pandang, ia melirik tajam Arka dan bertanya dengan suara tegas “Kamu sudah makan?”
“Sudah, nona,” jawab Arka singkat.
Aurora melangkah perlahan keluar dari mobil, setiap langkahnya seperti menggantung di antara keramaian kota yang dingin.
Di depan warteg sederhana itu, sosok ibu pemilik warteg muncul dengan senyum yang sudah akrab di matanya.
“Eh, Neng Aurora! Lama sekali nggak mampir ke sini,” sapanya hangat, suaranya penuh keakraban yang mengusir sunyi di hati Aurora.
Aurora membalas dengan senyum tipis, “Lama, Bu? Baru kemarin, belum sampai seminggu kok.”
Ibu itu tertawa kecil, suaranya seperti musik yang mengisi ruang kosong, “Kalau begitu, mau makan di sini atau bungkus, Neng?”
“Di sini saja, Bu. Lauk dan minumnya seperti biasa ya,” jawab Aurora, nada suaranya pelan, namun tegar.
“Siap, Neng,” balas ibu itu sambil berjalan mengambilkan pesanan, meninggalkan Aurora yang duduk sendiri di kursi kayu itu.
Di sekelilingnya, kehidupan berjalan biasa, tapi bagi Aurora, detik-detik itu terasa berat, menyimpan cerita yang belum siap untuk ia ucapkan.
Tak lama kemudian, pesanan itu diantarkan dengan langkah mantap. Seorang ibu paruh baya meletakkan makanan di atas meja sambil tersenyum hangat, "Ini, Neng. Selamat menikmati."
"Terima kasih, Bu..." Jawab Aurora suaranya lembut.
Sopir Aurora, yang juga anak buah setianya, menatap kejadian itu dengan mata penuh arti.
Ia menghela napas panjang, suaranya serak penuh getir. "Si bos ini tetap saja tak pernah berubah, masih apa adanya Padahal sekarang hidupnya sudah enak, tapi hatinya masih beku seperti dulu."
selalu d berikan kesehatan😄