“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.
Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.
“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”
Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.
Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Di meja makan panjang keluarga Pradipta, segalanya tampak jelas, bahkan bagi orang yang baru pertama kali datang.
Arga duduk di sisi Shasmita, tubuhnya sedikit condong ke arahnya. Tangannya sigap menuangkan minum, mengambilkan lauk, memastikan piring wanita itu tak pernah kosong. Senyumnya hangat, suaranya lembut di sisi yang tak pernah Yura dapatkan selama empat tahun terakhir.
Siapa pun yang melihat, pasti akan langsung menyimpulkan satu hal, Shasmitalah istrinya. Dan sejak awal, Yura memang hanya pengganti.
Yura berdiri sedikit menjauh dari kursi yang disediakan untuknya.
“Saya tidak perlu makan,” katanya sopan. “Saya bisa menunggu di dapur.”
Namun, Shasmita langsung menoleh. “Tidak,” ujarnya ringan tapi tegas. “Duduk dan makanlah. Kita sarapan bersama.”
Nada itu bukan perintah, melainkan ajakan, dan entah mengapa sulit ditolak, Yura pun duduk. Ia tersenyum kecil menyaksikan Arga yang begitu berbeda pagi itu. Anehnya, tak ada rasa sakit di dadanya. Tak ada cemburu, justru ada kelegaan yang tak ia sembunyikan.
'Akhirnya,' batinnya.
'Aku akan segera bebas.'
Sky, yang duduk berseberangan, memperhatikan Yura lebih lama dari yang seharusnya. Dengan hati-hati, ia menggeser piring berisi ikan panggang ke arahnya.
“Coba ini,” katanya pelan. “Masih hangat.”
Yura tertegun, dulu, menyentuh ikan panggang saja membuat Arga marah, padahal Arga tahu, itu makanan favoritnya. Selama bertahun-tahun, kesukaannya selalu dikesampingkan.
Tatapan Arga langsung menajam. Pandangan tak suka itu berpindah dari Sky ke Yura, seperti peringatan yang tak diucapkan. Namun, kali ini, Arga memilih diam dan mungkin karena Shasmita ada di sisinya.
Sheli yang duduk tak jauh dari Sky mencoba mencairkan suasana.
“Mau sup ayam?” tawarnya ramah.
Sky tersenyum tipis. “Maaf, aku alergi.”
Sheli langsung terlihat canggung. “Oh ... maaf, aku tidak tahu.”
Tak lama kemudian, Sky kembali menoleh pada Yura. “Kalau begitu … sup ikan salmon?”
Yura menggeleng pelan. “Terima kasih. Ikan ini saja sudah cukup.”
Nada suaranya lembut, namun pikirannya tidak setenang itu.
'Apa yang Tuan Muda Sky coba lakukan?
Memperlakukan aku dengan baik agar aku tak mengganggu adiknya?' Ia hampir tersenyum getir.
'Tenang saja,' batinnya dingin.
'Aku tidak ingin mengganggu Arga. Aku bahkan muak melihat tingkah pria brengsek itu.'
Wajah Yura menegang sesaat sebuah ekspresi jijik yang muncul tanpa sengaja. Sky menangkapnya. Pandangan Yura lalu beralih ke ujung meja, ke arah Arga yang sibuk melayani Shasmita, seolah dunia hanya berisi mereka berdua. Dan saat itu, Sky mengerti satu hal. Wanita yang duduk di depannya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Setelah sarapan usai, para pelayan mulai bergerak membereskan meja makan. Yura berdiri dan langsung menggulung lengan bajunya, mengambil piring-piring kotor satu per satu.
“Nona Shasmita, biar saya saja,” ucap Yura sopan. “Pelayan akan membantu.”
Namun, Shasmita sama sekali tak beranjak. Ia justru ikut berdiri di sisi Yura, mengamati gerakannya di depan wastafel dapur.
“Dengan pelayan sebanyak ini,” kata Shasmita sambil menyilangkan tangan di dada, “untuk apa kamu bekerja sekeras itu?”
Sebelum Yura sempat menjawab, salah satu pelayan perempuan menyela dengan ragu, “Maaf, Nona … urusan meja makan hanya boleh diurus oleh Nona Yura. Itu perintah langsung dari Tuan Arga.”
Kalimat itu membuat udara di dapur mendadak hening. Shasmita menoleh cepat ke arah Yura, alisnya terangkat tipis. Bibirnya melengkung, bukan tersenyum lebih seperti sedang menimbang sesuatu.
“Begitu?” gumamnya pelan. Lalu, dengan nada bercanda yang terlalu tajam untuk disebut sekadar godaan, Shasmita berkata,
“Kalau begitu … soal ranjang juga diurus oleh Yura?”
Semua orang membeku, Pelayan-pelayan menunduk cepat, wajah mereka pucat. Tak seorang pun berani bernapas terlalu keras. Yura terdiam sejenak, lalu justru tertawa kecil ringan, tanpa beban.
“Tentu tidak,” jawabnya tenang. “Kamar Tuan Arga tidak mungkin sembarang orang boleh masuk.”
Nada suaranya datar, tanpa emosi terselip. Tidak membela diri dan tidak tersinggung. Justru itu yang membuat suasana semakin canggung. Shasmita menatap Yura lebih lama dari sebelumnya, seolah baru benar-benar melihatnya.
Tak lama kemudian, dapur kembali sunyi. Piring terakhir diletakkan di rak, tangan Yura dikeringkan dengan lap bersih.
“Sudah,” katanya pelan.
Shasmita tersenyum kecil. “Ikut aku ke villa.”
Yura mengangkat pandangan. “Sekarang?”
“Ya,” jawab Shasmita ringan. “Aku ingin berbincang.”
Di ruang lain, Arga dan Sky sudah mulai membahas angka dan proyek, suara mereka menjauh bersama langkah mereka menuju ruang kerja.
Villa terasa sunyi saat mereka tiba.
Shasmita membuka pintu kamar utamanya, ruang luas bernuansa hangat, dengan jendela besar menghadap taman. Ia menutup pintu pelan, lalu menoleh pada Yura.
“Duduk,” pintanya lembut.
Yura menurut, dia duduk di tepi sofa, punggungnya tegak, tangan terlipat rapi di pangkuan. Shasmita tak langsung bicara. Dia berjalan ke arah koper yang masih terbuka, membukanya lebih lebar.
Dari dalam, Shasmita mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam.
Saat dibuka, cahaya dari lampu kamar memantul pada seuntai kalung berlian, desainnya unik, elegan, terlalu mewah untuk sekadar perhiasan biasa. Berlian-berlian kecil tersusun halus, memeluk satu batu utama yang berkilau anggun.
Yura menatapnya tanpa berkedip.
“Itu…” Yura ragu sejenak. “Hadiah dari Tuan Arga?”
Shasmita menggeleng. “Bukan.”
Dia mendekat dan menyerahkan kotak itu ke tangan Yura.
“Itu dariku, aku membawanya dari Eropa khusus untukmu.”
Yura terkejut. “Untuk … saya?”
“Aku yang mendesainnya,” lanjut Shasmita tenang.
“Tapi berlian-berliannya dipilih oleh kakakku, Sky.”
Jari Yura menyentuh tepi kotak itu, lalu berhenti. Ia tidak tersenyum, tidak pula menolak. Hanya menatap dan seolah benda itu terlalu berat, bukan karena nilainya, melainkan maknanya. Dan lalu, Shasmita berkata sesuatu yang membuat udara di kamar itu membeku.
“Yura,” ucapnya pelan, “tinggalkan Arga.”
Senyum getir langsung terbit di bibir Yura.
'Jadi ini tujuannya,' batinnya.
'Kebaikan ini … tetap tentang memintaku pergi.'
Namun, sebelum Yura sempat menjawab, Shasmita melanjutkan dengan cepat.
“Maaf,” katanya, nadanya berubah lebih serius.
“Bukan begitu maksudku.”
Dia menarik napas dalam, lalu menatap Yura tanpa berkedip.
“Aku tahu semua rahasiamu.”
Yura mengangkat wajahnya.
“Pernikahan kontrakmu,” lanjut Shasmita. “Pembiayaan ayahmu. Tentang ginjalnya dan tentang bagaimana kamu bertahan di rumah itu selama bertahun-tahun.”
Jantung Yura berdetak lebih cepat.
“Aku dan Kak Sky,” Shasmita menambahkan, “sudah menemukan pendonor yang cocok.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun.
Yura menegang. “Apa?”
“Aku tahu seluruh hidupmu selama di sini,” lanjut Shasmita tenang, nyaris lembut. “Dan aku tidak datang untuk menghancurkanmu.”
Yura tertawa kecil, pahit, tertahan. Ia menutup kotak kalung itu dan meletakkannya kembali di meja.
“Kalau tujuan Nona Shasmita menyingkirkan saya dan menjadi istri Tuan Arga,” ucap Yura lirih namun tegas, “tidak perlu sejauh ini.”
Dia menatap Shasmita lurus-lurus.
“Enam bulan lagi kontrak saya dan Tuan Arga selesai. Saya akan pergi dengan sendirinya.”
Shasmita tersenyum tipis.
“Enam bulan itu lama,” katanya pelan. Lalu, dengan nada yang jauh lebih menentukan, ia menambahkan,
“Bagaimana kalau … dua minggu?”
Dan setelah ini lo juga akan tau Arga siapa Shasmita 😂😂😂