Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.
Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Audit Nurani
Hujan es mulai turun di puncak Tangkuban Perahu, menciptakan suara gemeretak di atap mobil tua yang dibawa Jaka. Arum mendaki jalur setapak menuju menara telekomunikasi tua dengan napas yang memburu. Di belakangnya, Baskara menggenggam senter taktis, waspada terhadap setiap pergerakan di balik kabut belerang yang pekat.
"Rum, jika dia benar-benar ada di atas sana, ini bukan lagi soal angka. Ini soal nyawa," Baskara memperingatkan.
Arum tidak berhenti. "Dia ingin aku melihat 'karya agungnya', Mas. Dia ingin membuktikan bahwa nurani seorang auditor hanyalah penghambat bagi kemajuan sistem."
Mereka sampai di pangkalan menara. Pintu besi bunker di bawah menara itu terbuka lebar, memancarkan cahaya biru neon yang kontras dengan kegelapan hutan. Di dalamnya, Profesor Rasyid duduk tenang di depan deretan monitor yang menampilkan grafik merah pasar modal yang sedang terjun bebas.
"Tepat waktu, Arum," ujar Rasyid tanpa menoleh. "Sisa waktu tujuh menit sebelum pasar Amerika dibuka dan memicu depresi global yang tidak bisa dihentikan."
"Hentikan ini, Prof," Arum melangkah maju. "Anda mengajari saya untuk mencari kebenaran, bukan menciptakan kehancuran."
"Kebenaran adalah kehancuran bagi mereka yang hidup dalam kebohongan, Arum!" Rasyid berdiri, wajahnya terlihat tirus namun matanya menyala. "Sistem ekonomi dunia sudah busuk. Empat triliun dolar yang kau hapus itu hanyalah angka digital. Aku ingin menghapus seluruh sistem hutang yang membelenggu manusia. Tapi untuk itu, kita butuh Audit Nol (Zero Audit). Kita mulai dari titik nol."
"Titik nol Anda akan membunuh jutaan orang yang tidak bersalah!" seru Arum. Ia segera membuka laptopnya, mencoba melakukan tethering paksa ke server Rasyid.
"Coba saja, Arum. Sistem ini dikunci dengan Algoritma Paradoks. Jika kau mencoba memulihkan dana itu, kau justru akan menggandakan hutang negara-negara berkembang. Itulah hukuman bagi mereka yang mencoba bermain tuhan dengan angka."
Arum terdiam. Jarinya menggantung di atas tombol Enter. Ia melakukan Audit Mental secara kilat. Ia teringat pada semua kasus yang pernah ia tangani—dari Navasari hingga Amazon. Ia menyadari satu hal yang selalu ada di setiap skandal: Faktor Manusia.
"Profesor benar," bisik Arum. "Sistem ini memang busuk. Tapi solusinya bukan menghapusnya, melainkan Mendelusi Nilainya."
"Apa maksudmu?" Rasyid mengerutkan kening.
"Saya tidak akan memulihkan empat triliun dolar itu sebagai uang," Arum mulai mengetik dengan kecepatan yang belum pernah ia capai sebelumnya. "Saya sedang melakukan Audit Reklasifikasi Aset. Saya mengubah status dana hilang itu menjadi Global Basic Income Credit yang terikat pada identitas biometrik setiap warga negara, bukan pada bank."
"Kau gila! Kau akan menghancurkan institusi perbankan!" teriah Rasyid.
"Biarkan mereka hancur, asal rakyatnya punya daya beli!" Arum menekan tombol eksekusi.
Layar di bunker itu mendadak berubah warna dari merah menjadi ungu. Grafik yang tadinya terjun bebas kini mendatar secara paksa. Arum baru saja melakukan Audit Intervensi Masa—ia membekukan pasar modal dunia dengan menyuntikkan likuiditas virtual yang dijamin oleh aset-aset koruptor yang ia sita sepanjang perjalanannya.
"Ini... tidak mungkin," Rasyid jatuh terduduk. "Kau tidak menghancurkan sistemnya... kau mengubah fungsinya."
"Itulah bedanya kita, Prof," Arum menutup laptopnya dengan tenang. "Anda auditor yang membenci manusia. Saya auditor yang mencintai keadilan."
Tiba-tiba, sirene polisi dan helikopter militer terdengar mendekat. Tim gabungan internasional yang dipandu oleh Jaka telah mengepung puncak gunung. Rasyid menatap Arum untuk terakhir kalinya, sebuah senyum pahit muncul di wajahnya.
"Kau menang kali ini, Arum. Tapi ingat, setiap kali manusia mulai serakah, angka-angka itu akan kembali berteriak minta diaudit."
Rasyid menyerahkan diri tanpa perlawanan. Saat ia digiring keluar, Arum berdiri di depan pintu bunker, menatap matahari terbit yang mulai menembus kabut Lembang.
Baskara merangkul bahunya. "Selesai, Rum?"
Arum menyandarkan kepalanya. "Bab ini selesai, Mas. Tapi buku besar dunia tidak pernah benar-benar tertutup."
Ponsel Arum bergetar. Sebuah notifikasi dari Navasari Institute masuk: “Permohonan audit baru: Skandal ekspor oksigen Mars. Tahun 2030.”
Arum tersenyum cerdik. "Sepertinya kita butuh paspor baru lagi, Mas."
Angin kencang bertiup masuk melalui pintu bunker yang terbuka, membawa aroma belerang dan tanah basah. Profesor Rasyid telah dibawa pergi, namun suasana di dalam ruangan itu masih terasa berat oleh sisa-sisa ketegangan digital. Monitor-monitor yang tadi menyala merah kini menampilkan pola stabil yang tenang, mencerminkan keberhasilan Arum dalam melakukan Audit Rekonsiliasi Global.
"Rum, lihat ini," Baskara menunjuk ke sebuah layar kecil di pojok meja Rasyid yang belum mati. "Ada satu protokol yang masih berjalan. Namanya 'The Seed' (Benih)."
Arum mendekat, matanya yang lelah kembali fokus. Ia menyadari bahwa Rasyid tidak hanya menyiapkan kehancuran; ia juga menyiapkan sistem regenerasi.
"Ini bukan virus, Mas. Ini adalah Audit Algoritma Mandiri," bisik Arum. "Rasyid menciptakan sistem yang akan secara otomatis memantau setiap transaksi besar di masa depan. Jika ada akumulasi kekayaan yang tidak wajar dari eksploitasi alam, sistem ini akan mengirimkan peringatan langsung kepada setiap jurnalis dan auditor independen di seluruh dunia."
Arum menyadari bahwa Rasyid, dalam kegilaannya, telah meninggalkan sebuah warisan yang bisa membantu pekerjaan Arum di masa depan. Rasyid ingin dunia memiliki "polisi digital" yang tidak bisa disuap oleh siapa pun.
"Jadi, dia memberimu alat untuk menggantikannya?" tanya Baskara.
"Dia memberiku tanggung jawab, Mas. Sebuah Audit Tanpa Akhir."
Arum mengambil flashdisk terakhir dari terminal utama dan mematikan seluruh daya di bunker tersebut. Ruangan itu jatuh ke dalam kegelapan, menyisakan hanya cahaya fajar yang masuk dari pintu keluar. Mereka berjalan keluar, melewati garis polisi, dan disambut oleh Jaka yang tampak sangat lega.
"Bu Arum, Pak Baskara... dunia sudah mulai tenang. Bursa saham dibuka dengan mekanisme baru yang Anda suntikkan tadi. Orang-orang menyebutnya 'Sistem Arum'," ujar Jaka dengan bangga.
Arum menatap hamparan hijau Lembang dari ketinggian. Ia tahu bahwa mulai hari ini, ia tidak akan pernah bisa benar-benar "pensiun". Sebagai hantu yang memegang kunci keseimbangan dunia, ia akan selalu dicari—baik oleh mereka yang butuh pertolongan, maupun oleh mereka yang takut akan kejujurannya.
"Mas," Arum menoleh ke Baskara saat mereka masuk ke dalam mobil. "Ingat tidak waktu kita pertama kali pindah ke Navasari? Aku cuma ingin jadi istri Kades yang baik, masak sayur asem, dan mengurus rumah."
Baskara tertawa kecil sambil menggenggam tangan Arum. "Dan sekarang, kau memasak seluruh ekonomi dunia agar tidak basi. Menurutku, itu peningkatan yang cukup drastis."
Arum tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Baskara. Saat mobil mulai bergerak menuruni gunung, ia membuka laptopnya satu kali lagi. Bukan untuk bekerja, melainkan untuk mengirim satu pesan terakhir ke grup WhatsApp warga Navasari:
"Sayur asemnya tolong dipanaskan. Kami pulang."
Namun, di balik layar laptopnya yang hampir tertutup, sebuah koordinat baru berkedip di pojok bawah. Sebuah lokasi di tengah Gurun Sahara yang menunjukkan aktivitas penambangan air bawah tanah ilegal skala besar.
Arum menghela napas panjang, menutup laptopnya perlahan, dan menatap ke luar jendela. Kehidupan sebagai auditor sejati memang tidak pernah mengenal kata tamat.
menegangkan ..
lanjut thor..