NovelToon NovelToon
Hatiku Di Gondol Sang Duda

Hatiku Di Gondol Sang Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Duda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Kisah tentang cinta yang tak memandang usia, tentang keberanian menerima masa lalu seseorang, dan tentang dua hati yang memilih bersama meski dunia sempat meragukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Nadira menatap buket bunga di meja dekat jendela, lalu tersenyum kecil sebelum membalas.

“Lancar. Haru banget. Sah sekali napas.”

Tak sampai satu menit, balasan muncul.

“Wah, berarti serius banget itu. Kamu nangis nggak?”

Nadira terkekeh pelan.

“Dikit.”

Beberapa detik hening.

Lalu pesan berikutnya masuk.

“Terus… kamu dapat buketnya nggak?”

Nadira langsung mendengus pelan.

“Ini orang kok tahu sih…” gumamnya.

Ia mengetik pelan.

“Dapat.”

Tiga titik muncul di layar.

Menghilang.

Muncul lagi.

“Wah. Berarti giliran kamu dong bentar lagi?”

Biasanya, pertanyaan seperti itu akan membuatnya defensif. Mengalihkan topik. Atau menjawab dengan candaan tajam.

Tapi malam ini berbeda.

Ia teringat senyum Della. Teringat suasana akad. Teringat betapa tenangnya sahabatnya saat mengucap janji.

Dan entah kenapa, Nadira tidak ingin menghindar.

Ia mengetik pelan.

“Nggak tahu. Semua orang punya waktunya sendiri kan.”

Balasan Raka datang lebih lambat kali ini.

“Iya sih. Yang penting kalau waktunya datang, kamu siap.”

Nadira membaca kalimat itu dua kali.

Siap.

Ia menatap langit-langit kamar. Siap seperti apa? Siap membuka hati? Siap percaya lagi?

Ponselnya bergetar lagi.

“Tapi jujur ya…”

Ia menahan napas.

“Kalau nanti kamu nikah, aku nggak mau cuma jadi tamu.”

Nadira terdiam.

Jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena gugup. Tapi karena kalimat itu terasa… setengah bercanda, setengah tidak.

Ia menggigit bibir bawahnya pelan.

“Terus mau jadi apa?” balasnya, mencoba terdengar santai.

Beberapa detik yang terasa lama.

Lalu jawabannya muncul.

“Kita lihat aja nanti.”

Nadira tertawa kecil, tapi pipinya menghangat.

Di meja dekat jendela, buket bunga itu masih tergeletak. Tadi siang ia merasa itu hanya simbol candaan.

Sekarang?

Entah kenapa terasa seperti pertanda bahwa hidupnya memang sedang bergerak, pelan tapi pasti.

Ia mengetik satu pesan terakhir sebelum benar-benar berbaring.

“Makasih ya udah nanya. Senang hari ini.”

Raka membalas cepat.

“Iya.”

Malam itu setelah chat selesai, Nadira membuka galeri.

Ia menggeser lagi.

Foto bersama bridesmaid. Mereka tertawa. Ia sendiri terlihat paling heboh, memegang buket bunga tinggi-tinggi.

Lalu satu foto membuatnya diam.

Itu candid.

Ia sedang menoleh ke arah seseorang di luar frame. Senyumnya tidak dibuat-buat. Matanya terlihat hangat.

Di belakangnya, sedikit blur tapi masih jelas, Arga berdiri memperhatikannya.

Tatapannya… tidak main-main.

Nadira memperbesar foto itu.

Jantungnya berdetak pelan tapi terasa.

“Kenapa sih kamu lihatnya kayak gitu…” bisiknya lirih.

Nadira menelan pelan.

Lalu ia membuka screenshot chat Raka.

“Kalau nanti kamu nikah aku nggak mau cuma jadi tamu”

Nadira menatap tulisan itu lama.

Kalimat Raka terasa seperti teka-teki yang menggoda.

Tatapan Arga terasa seperti jawaban yang nyata.

Ia merebahkan diri, ponsel masih di tangan.

Galeri kembali ia buka.

Ia membandingkan dua hal itu dalam diam.

Arga hadir hari ini. Tertawa bersamanya. Berdiri beberapa langkah darinya. Mengajaknya bertemu tanpa basa-basi berlebihan.

Raka tidak ada di acara itu. Tapi entah kenapa selalu ada di waktu-waktu sunyi seperti ini. Mengirim kalimat yang membuat hatinya bergerak.

Nadira menutup galeri.

Lalu membukanya lagi.

Ia berhenti pada foto dirinya sendiri di cermin kamar rias pagi tadi.

Matanya memang terlihat berbeda.

Lebih tenang.

Ia tersenyum kecil pada bayangan dirinya di layar.

“Mungkin bukan soal siapa duluan…” gumamnya pelan.

“Mungkin soal siapa yang bikin aku nggak perlu pura-pura.”

Ponselnya ia letakkan di dada. Ia menatap langit-langit kamar.

Ponsel Nadira kembali bergetar.

Bukan Arga.

Bukan Raka.

Della.

Ia langsung membuka pesannya.

“Masih bangun nggak?”

Nadira tersenyum kecil.

“Masih. Kirain Bu Istri udah tidur”

Balasan datang cepat.

“Belum bisa tidur. Capek sih tapi masih deg-degan”

Nadira terkekeh pelan.

“LAH BU ISTRI 😭 ini malam pertama loh”

Balasan Della datang hampir seketika.

“YA AMPUN DIRA”

“Aku cuma mau chat bentar kok 😭”

Nadira langsung terkekeh sambil menutup wajah dengan bantal.

“Bentar gimana. Itu suami sah kamu ada di sebelah nggak sih sekarang”

Tiga titik muncul lama.

Lalu

“Ada”

Nadira langsung duduk tegak.

“DELLA???”

“Kenapa malah chat aku 😭”

Beberapa detik hening.

Lalu muncul pesan baru.

Beberapa detik kemudian Della mengirim pesan lagi.

“Dia sekarang senyum-senyum sendiri gara-gara kamu”

Nadira membelalakkan mata.

“YA ALLAH KETAHUAN”

Della membalas cepat.

“Dia cuma ngeledekin 😭”

Tak lama kemudian pesan lain masuk.

Jeffi lagi.

“Makasih ya sudah jagain Della dari dulu”

Nadira langsung terdiam.

Ia tersenyum kecil.

“Sekarang gantian tugas kamu”

Balasan datang.

“Siap”

Beberapa detik kemudian Della mengirim pesan lagi.

“Udah ya aku disuruh off katanya 😭”

Nadira tertawa pelan.

“Bagus. Sana fokus jadi istri”

Della mengirim satu pesan terakhir.

“Doain aku bahagia ya”

Nadira mengetik tanpa ragu.

“Selalu”

Tak ada balasan lagi.

Mungkin ponselnya benar-benar sudah diletakkan.

Nadira menatap layar yang kini sunyi.

Ia menggeleng pelan sambil tersenyum.

“Ini orang… malam pertama malah chat”

Tapi jauh di dalam hati, ia lega.

Sahabatnya tetap Della yang sama.

Hanya sekarang, hidupnya resmi berbagi dengan orang lain.

Dan entah kenapa, pikiran itu membuat Nadira semakin yakin.

Suatu hari nanti, kalau waktunya tiba…

Ia ingin memilih seseorang yang membuatnya tetap bisa jadi dirinya sendiri.

Bahkan di malam pertamanya.

Tiga bulan telah berlalu sejak Dira dan Raka mulai serius. Hari ini adalah hari yang mereka tunggu-tunggu: hari pernikahan mereka.

Pagi itu rumah kampung dipenuhi aroma kue dan bunga segar. Mama Ayu sibuk menata meja dan perlengkapan sedangkan Abah Adi terlihat bangga dan sedikit tegang sesekali menatap pintu sambil memastikan semuanya berjalan lancar.

Dira duduk di kamar mengenakan kebaya putih sederhana namun anggun. Nadanya bergetar saat melihat dirinya di cermin.

"Dira… cantik sekali Nak" kata Mama pelan sambil menyeka sedikit keringat di wajah Dira.

Dira tersenyum malu-malu.

"Terima kasih Ma… aku masih deg-degan"

Mama menepuk bahu Dira pelan.

"Wajar Nak… hari ini hari bahagiamu. Nikmati setiap detiknya"

Di luar kamar terdengar ketukan pintu.

"Dira… Raka sudah sampai di halaman. Dia menunggu kamu" suara Mama terdengar lembut tapi penuh antusias.

Dira menelan ludah matanya berkaca-kaca.

"Ya Allah… Ma… aku gugup" bisiknya pelan.

Mama tersenyum menggenggam tangan Dira.

"Tenang Nak… ini momen yang kalian tunggu. Percaya sama Raka"

Semua sudah siap. Dira duduk dengan anggun di kursi pengantin tangan sedikit gemetar tapi wajahnya tenang. Mata Raka menatapnya dengan penuh cinta dan keyakinan.

Keluarga Dira dan keluarga Raka sudah berkumpul tamu undangan menahan napas dalam diam menunggu prosesi akad nikah dimulai. Suasana khidmat hening hanya terdengar suara alunan doa dari penghulu.

Raka berdiri di depan rapi dengan jas hitamnya. Ia menatap Dira bibirnya tersenyum tipis namun matanya berbinar penuh haru.

"Raka… siap?" tanya penghulu dengan suara lembut.

Raka mengangguk.

"Siap Pak" jawabnya tegas.

Dira menunduk sebentar menenangkan napasnya.

"Dira… siap?" tanya penghulu lagi.

Dira mengangguk pelan.

"Siap Pak"

Penghulu mulai membacakan akad. Suara doa dan bacaan ijab kabul mengalun khidmat. Semua orang menatap dengan haru menahan senyum dan air mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!