NovelToon NovelToon
DARAH ASTRA

DARAH ASTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Epik Petualangan
Popularitas:506
Nilai: 5
Nama Author: DragonLucifer

Di kota futuristik Astra City, manusia biasa dan mereka yang memiliki kekuatan super hidup berdampingan setelah munculnya fenomena langit merah misterius. Raka Mahendra, pemuda dengan energi kosmik yang tak terkendali, harus menghadapi takdirnya, menyelamatkan kota, dan mengungkap rahasia di balik kekuatannya. Bersama Kayla, pengendali gravitasi, dan Adrian, bayangan dari masa lalu, Raka akan menghadapi peperangan, pengkhianatan, dan takdir kosmik yang akan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DragonLucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 – Ledakan Kedua

Langit kota masih gelap ketika Raka, Kayla, dan Damar keluar dari gedung Helios Guard yang setengah hancur.

Di belakang mereka—

Lantai bawah tanah meledak.

Gelombang api dan cahaya biru menyembur ke langit seperti pilar neraka.

Orang-orang di jalan berteriak.

Mobil-mobil berhenti mendadak.

Sirene darurat meraung dari segala arah.

Kayla terengah. “Itu… itu bukan ledakan biasa…”

Damar menatap kobaran api dengan wajah keras.

“Itu reaktor Astra cadangan. Kalau inti utamanya ikut meledak—”

BUMM!

Ledakan kedua mengguncang tanah.

Kali ini lebih besar.

Lebih terang.

Langit malam berubah biru sesaat sebelum kembali hitam.

Raka berdiri terpaku.

Cahaya di matanya bergetar.

“Dia sengaja…” gumamnya. “Adrian sengaja memicu reaktor kedua.”

Damar mengangguk. “Untuk menunjukkan kekuatan.”

Kayla menatap ke arah pusat kota.

Asap hitam membumbung tinggi.

“Bukan cuma itu,” katanya pelan. “Itu sinyal.”

Raka mengernyit. “Sinyal?”

Damar menatap layar komunikator di pergelangan tangannya.

Sinyal gangguan besar muncul di radar.

Satu titik merah.

Lalu dua.

Lalu sepuluh.

Semua muncul bersamaan di berbagai titik kota.

“Tidak mungkin…” bisik Damar.

Raka menatapnya. “Apa?”

Damar menelan ludah.

“Sel-sel Eclipse aktif semua.”

Seolah menjawab perkataannya—

Di kejauhan, gedung pusat energi kota meledak.

Jeritan orang-orang terdengar hingga ke tempat mereka berdiri.

Kayla memegang lengan Raka.

“Ini bukan cuma serangan…”

Raka menatap kobaran api yang memantul di matanya.

“Ini deklarasi perang.”

Pusat Kota – 10 Menit Kemudian

Helios Guard dikerahkan penuh.

Pasukan berseragam perak turun dari kendaraan lapis baja.

Drone pengawas beterbangan.

Raka, Kayla, dan Damar berdiri di atap gedung tinggi, memandang kekacauan di bawah.

Damar menerima panggilan masuk.

Wajah Direktur Helios muncul di hologram.

“Damar. Laporkan situasi.”

Damar menarik napas.

“Komandan Adrian adalah bagian dari Eclipse. Ia memicu penghancuran laboratorium Astra dan menyebarkan sel aktif di seluruh kota.”

Hening beberapa detik.

Direktur memejamkan mata.

“Jadi akhirnya dia bergerak…”

Raka mendekat ke hologram.

“Berapa banyak yang tahu tentang ini?” tanyanya tajam.

Direktur menatapnya.

“Tidak banyak.”

“Orang tua saya dibunuh karena proyek ini,” lanjut Raka. “Dan sekarang kota terbakar karena rahasia kalian.”

Kayla menyentuh bahu Raka pelan, tapi ia tidak mundur.

Direktur menghela napas panjang.

“Kesalahan masa lalu kami… kini menjadi hutang yang harus dibayar.”

Ledakan lain terdengar dari arah barat.

Damar melihat peta digital.

“Mereka menyerang pembangkit listrik, pusat komunikasi, dan rumah sakit.”

Kayla membelalak. “Rumah sakit?!”

Raka mengepal.

“Mereka ingin kepanikan total.”

Direktur berbicara tegas.

“Mulai saat ini, Helios Guard memasuki status darurat tingkat tertinggi.”

Tulisan merah muncul di hologram:

KOTA DALAM DARURAT

Raka menatap kota yang dilalap api.

“Aku ikut turun,” katanya singkat.

Damar menatapnya. “Rak, kamu baru saja bertarung dengan Adrian.”

“Aku baik-baik saja.”

“Tidak, kamu tidak baik-baik saja,” potong Kayla. “Kamu baru tahu hidupmu adalah eksperimen.”

Raka terdiam sejenak.

Cahaya biru di tangannya berdenyut pelan.

“Justru karena itu,” katanya pelan. “Aku tidak akan biarkan orang lain jadi korban seperti aku.”

Kayla menatapnya lama.

Lalu mengangguk.

“Kalau kamu turun… aku ikut.”

Damar tersenyum tipis.

“Kalian berdua keras kepala.”

Sirene kembali meraung.

Tiba-tiba langit di atas pusat kota retak oleh cahaya hitam.

Seperti robekan di udara.

Raka mendongak.

“Apa lagi sekarang…”

Dari celah gelap itu—

Makhluk besar turun perlahan.

Tubuhnya seperti terbentuk dari batu hitam bercahaya merah.

Matanya kosong.

Energi Astra liar berputar di sekelilingnya.

Kayla berbisik, “Itu bukan manusia…”

Damar membaca data dengan cepat.

“Radiasi Astra ekstrem… ini makhluk buatan.”

Raka menyipitkan mata.

“Eclipse.”

Makhluk itu mendarat di tengah alun-alun kota.

Satu hentakan kaki—

Gelombang kejut menghancurkan kaca-kaca gedung.

Orang-orang berhamburan lari.

Raka menatap Kayla dan Damar.

“Kalau kita nggak hentikan itu sekarang…”

Kayla menyelesaikan kalimatnya. “Kota habis.”

Damar mengaktifkan pelindung tempurnya.

“Oke. Strategi cepat.”

Ia menunjuk makhluk itu.

“Kayla, tekan pergerakannya dengan gravitasi.”

“Raka, kamu serang inti energinya.”

“Aku akan lindungi warga dan buka celah.”

Raka mengangguk.

Napasnya stabil.

Cahaya biru menyelimuti tubuhnya.

Untuk pertama kalinya—

Ia tidak ragu.

Tidak takut.

Makhluk itu mengaum tanpa suara.

Energi hitam terkumpul di tangannya.

Lalu ditembakkan ke arah gedung di sampingnya.

Raka melesat.

Ia memukul gelombang energi itu di udara—

Ledakan cahaya biru dan hitam menerangi malam.

Penduduk kota yang melihat dari kejauhan terdiam.

Siluet biru berdiri melawan kegelapan.

Kayla mengangkat tangan.

Gravitasi menekan makhluk itu ke tanah.

Aspal retak.

Damar menciptakan perisai raksasa untuk melindungi warga yang terjebak.

Raka melayang di udara.

Ia menatap inti merah yang berdenyut di dada makhluk itu.

“Ini Ledakan Kedua…” gumamnya. “Bukan cuma bom.”

Ia mengepalkan tangan.

Cahaya Astra membentuk tombak panjang di genggamannya.

“Ini awal perang terbuka.”

Ia melesat turun—

Tombak biru menghantam inti merah.

Cahaya meledak.

Langit kembali biru sesaat.

Makhluk itu meraung dan tubuhnya retak.

Retakan menyebar seperti kaca pecah.

Lalu—

Hancur menjadi debu cahaya.

Sunyi menyelimuti alun-alun.

Asap perlahan menghilang.

Orang-orang mulai keluar dari persembunyian.

Beberapa menatap Raka dengan kagum.

Beberapa dengan takut.

Kayla mendarat di sampingnya.

“Kamu berhasil…”

Damar berjalan mendekat.

“Untuk sekarang.”

Raka menatap langit yang masih menyisakan robekan gelap kecil sebelum akhirnya menutup.

“Dia akan datang lagi.”

Kayla mengangguk pelan.

“Dan kali ini, bukan cuma satu makhluk.”

Damar melihat ke arah markas Helios yang terbakar.

“Kota ini nggak akan pernah sama lagi.”

Raka mengepal pelan.

Cahaya biru di nadinya kini lebih stabil.

Lebih terang.

“Kalau begitu…” katanya pelan.

“Kita yang akan jadi tamengnya.”

Di kejauhan—

Di dalam ruang gelap tak dikenal—

Adrian berdiri di depan layar raksasa yang menampilkan kehancuran kota.

Ia tersenyum tipis.

“Bagus sekali, Raka…”

Di belakangnya, siluet-siluet lain berdiri.

Lebih banyak.

Lebih kuat.

“Biarkan Ledakan Kedua menjadi pembuka,” lanjutnya pelan.

“Karena Eclipse… baru saja dimulai.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!