Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.
Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.
"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."
Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.
Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.
Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.
"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.
Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.
"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."
Ruang itu bersinar.
Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 - DOKUMEN PERTAMA
Hendra membalas pesannya dua menit kemudian. [Reinaldo Mahendra. Aku kenal nama itu. Besok pagi jam tujuh. Tempat yang sama.]
Lily menyimpan ponsel dan duduk di ruang rahasia sampai jam sepuluh, bukan karena menunggu sesuatu dari cermin. Tapi karena di luar ruangan ini, di dalam rumah itu, ada terlalu banyak hal yang bergerak sekaligus dan dia butuh satu tempat yang dindingnya tidak punya telinga.
Cermin malam ini tidak banyak menampilkan gambar.
Lebih banyak diam, tapi bukan diam yang kosong. Lebih seperti ruangan yang ikut berpikir bersama Lily tanpa perlu mengisi udara dengan kata-kata. Kadang ruang ini terasa seperti itu, bukan sesuatu yang memberikan jawaban. Tapi sesuatu yang membuat kepalamu cukup tenang untuk menemukan jawabanmu sendiri.
Lily menggunakan ketenangan itu untuk menyusun apa yang sudah dia punya.
Reinaldo Mahendra ada di pusat semuanya, atau setidaknya lebih ke pusat dari yang kelihatan selama ini. Dua belas tahun lalu dia mulai mengklaim tanah atas nama Mama setelah Mama meninggal. Ayahnya yang seharusnya menjadi penghalang justru ketakutan di hadapannya. Artinya ayahnya bukan mitra yang setara, lebih ke seseorang yang sudah terikat dengan Reinaldo dengan cara yang tidak menguntungkan ayahnya.
Tante Sari masuk ke rumah setahun setelah Mama meninggal, persis di periode yang sama dengan ketika Reinaldo mulai bergerak. Bisa jadi kebetulan. Lebih mungkin tidak.
Inisial S yang Hendra sedang cari, mungkin terhubung ke Reinaldo juga. Orang yang bekerja dari sisi hukum perusahaan, yang memblokir akses ke saham Mama dari dalam.
Dan Dimas, yang tahu nama Mama sebelum bertemu Lily, yang bekerja di perusahaan yang sahamnya sebagian adalah hak Lily, yang malam tadi memberikan informasi soal S seperti orang yang sudah muak menjadi bagian dari sesuatu yang dia tidak sepenuhnya pilih.
Peta di kepalanya mulai lebih padat dari peta di kertas amplop kemarin.
Lily keluar dari gudang jam sepuluh lebih, tidur lebih cepat dari biasanya, dan bangun sebelum subuh dengan perasaan bahwa hari ini akan bergerak cepat.
Warung kopi Jalan Kenari buka jam enam.
Lily sampai jam tujuh kurang lima dan Hendra sudah ada di meja yang sama, tapi kali ini ada orang ketiga. Laki-laki yang lebih tua, mungkin awal tujuh puluhan, dengan kacamata tebal dan map kulit cokelat tua di tangannya.
Pak Syarif.
Lily duduk tanpa dipersilakan, sudah tahu ini bukan pertemuan yang butuh banyak formalitas.
"Reinaldo Mahendra," kata Hendra langsung setelah Lily duduk. "Aku dan Pak Syarif bicara semalam setelah kamu kirim nama itu. Ternyata beliau sudah kenal nama itu lebih lama dari yang aku tahu."
Lily menatap Pak Syarif.
Pengacara tua itu meletakkan map kulitnya di meja, membukanya dengan gerakan yang hati-hati. "Dua belas tahun lalu, tak lama setelah ibumu meninggal, ada klaim kepemilikan tanah yang diajukan ke kantor pertanahan atas dua bidang tanah yang seharusnya masuk warisan ibumu. Klaim itu menggunakan dokumen yang..." dia berhenti sebentar, memilih kata, "...bermasalah. Dokumen yang mengatasnamakan ibumu menyerahkan tanah itu ke perusahaan Reinaldo sebelum meninggal."
"Palsu," kata Lily.
"Kita tidak bisa menyebutnya palsu secara hukum tanpa verifikasi forensik. Tapi ibumu tidak pernah menandatangani dokumen itu, aku yang menyiapkan seluruh dokumentasi miliknya. Dan tidak ada satu pun pernyataan penyerahan aset yang pernah aku buat atau ibumu tandatangani."
"Tapi klaimnya berhasil?"
"Sebagian." Pak Syarif menarik satu lembar dari map-nya. "Tanah yang di luar kota berhasil berpindah nama ke perusahaan Reinaldo. Tanah yang di sini, di kota ini... tidak, karena ada keberatan dari pihak kantor pertanahan waktu itu yang minta dokumen tambahan. Proses itu terhenti di tengah dan tidak dilanjutkan. Sampai sekarang, tanah itu masih dalam status sengketa administratif yang tidak aktif."
"Artinya masih bisa diklaim."
"Dengan prosedur yang benar dan dokumen yang kuat ... bisa."
Lily menarik napas. "Dan tanah yang di luar kota?"
Pak Syarif dan Hendra bertukar tatapan sebentar.
"Itu yang sedang kami cari jalan keluarnya," kata Hendra. "Kalau dokumen klaim aslinya bisa dibuktikan palsu, seluruh transaksi bisa dibatalkan. Tapi itu butuh ahli forensik dokumen dan proses yang tidak sebentar."
"Berapa lama?"
"Enam bulan. Mungkin lebih."
Lily menghitung di kepalanya. Dia punya tiga tahun sebelum hak klaimnya gugur secara otomatis berdasarkan dokumen yang Pak Syarif tunjukkan minggu lalu. Enam bulan masih dalam batas aman, tapi hanya kalau tidak ada yang mempercepatnya dari sisi lain.
Deadline, kata Reinaldo kemarin.
"Reinaldo punya deadline," kata Lily. "Dia bilang ke ayahku kemarin. Saya tidak tahu deadline apa, tapi dia bilang harus lebih cepat."
Pak Syarif meletakkan pena yang sudah dia pegang sejak tadi. "Kemungkinan besar dia tahu prosedur klaim dari pihak ahli waris bisa diajukan. Kalau dia ingin memastikan asetnya tidak bisa digugat, dia perlu merampungkan pengalihan kepemilikan secara lengkap sebelum kamu sempat mengajukan klaim."
"Berapa lama prosesnya dari sisinya?"
"Dua sampai tiga bulan kalau semua dokumennya sudah siap dan tidak ada hambatan."
Lily menatap meja sebentar. "Berarti kita harus bergerak dalam dua bulan."
"Atau kita perlu menghambat prosesnya dari sisi mereka," kata Hendra. "Sambil kita siapkan dokumen dari sisi kita."
"Bagaimana caranya menghambat?"
Pak Syarif mengambil lagi dari map-nya, kali ini amplop putih yang lebih kecil. Meletakkannya di depan Lily. "Dengan ini."
Lily membuka amplop.
Di dalamnya ada satu lembar fotokopi surat keterangan dari kantor pertanahan setempat, tertanggal dua belas tahun lalu. Di bagian bawah surat, ada catatan tangan yang menurut Lily tidak seharusnya ada di dokumen resmi. Terlihat beberapa baris kecil yang bunyinya seperti catatan internal petugas yang mencurigai sesuatu tapi tidak punya cukup dasar untuk bertindak.
Dan di bawah catatan itu, satu nama yang dilingkari dengan pulpen ... nama petugas yang menangani keberatan administratif dua belas tahun lalu yang membuat klaim tanah di kota ini terhenti.
"Beliau masih hidup?" tanya Lily.
"Masih. Sudah pensiun, tinggal di kota ini." Pak Syarif menyimpan amplopnya kembali. "Beliau yang menghubungi saya enam bulan lalu. Katanya belakangan ada tekanan untuk menutup sengketa administratif itu secara resmi dari pihak yang mengatasnamakan pemilik baru."
"Reinaldo."
"Kemungkinan besar lewat pengacara yang sama dengan ayahmu."
Lily meletakkan surat itu di meja dengan rapi. Di kepalanya ada sesuatu yang bergerak... bukan panik, bukan pula ketenangan yang dipaksakan. Lebih seperti roda yang mulai berputar setelah lama diam, menemukan jalurnya, menemukan kecepatannya.
"Kita butuh kesaksian beliau secara resmi," kata Lily.
"Beliau bersedia. Dengan syarat ada perlindungan hukum yang jelas."
"Pak Syarif bisa siapkan itu?"
"Bisa. Tapi butuh biaya yang tidak sedikit dan waktu untuk menyusun pernyataannya dengan benar."
Lily menatap Hendra.
"Rekening Mama yang diblokir itu," katanya. "Ada cara untuk mengakses sebagian sementara gugatan utamanya masih berjalan?"
Hendra menimbang. "Ada mekanisme hukumnya. Tidak mudah, tapi ada. Butuh permohonan ke pengadilan dengan dasar yang kuat."
"Seberapa kuat dasar yang kita punya sekarang?"
Pak Syarif dan Hendra kembali bertukar tatapan. Kali ini lebih lama.
"Cukup untuk dicoba," kata Pak Syarif akhirnya. "Tidak cukup untuk menang dengan cepat. Tapi cukup untuk membuat prosesnya tidak bisa diabaikan."
Lily mengangguk.
"Mulai."
Dia pulang jam delapan lebih dengan kantong belanja yang diisi di warung terdekat sebelum kembali ke jalan rumah. Alibi yang sudah jadi kebiasaan.
Di dapur, Bibi Rah ada di depan kompor. Tidak menoleh. Tapi waktu Lily meletakkan kantong belanjaannya di meja, ada sesuatu di bawah tatakan panci yang tidak ada di sana kemarin.
Kertas kecil.
Lily mengambilnya dengan gerakan yang menyatu dengan gerakan membereskan bawang dari kantong.
Tulisan Bibi Rah. Lebih pendek dari yang sebelumnya. Hanya satu baris.
Ibu Sari kirim foto kamarmu ke seseorang tadi malam.
Lily membaca sekali. Melipat kertas itu dan memasukkan ke saku.
Kamarnya.
Tante Sari masuk ke kamarnya waktu Lily tidak ada dan mengambil foto. Artinya Tante Sari mencari sesuatu, atau memverifikasi sesuatu yang sudah dia curigai.
Lily memikirkan kotak kayu kecil di bawah kasurnya. Surat Mama. Kertas-kertas catatan. Amplop dari Hendra.
Semua masih di sana waktu dia berangkat tadi pagi.
Tapi apakah Tante Sari menemukan sesuatu atau tidak menemukan sesuatu yang dia cari dan justru jadi lebih curiga karena itu ... keduanya sama berbahayanya.
Lily meletakkan bawang di talenan dan mulai mengiris.
Di luar jendela dapur, langit pagi sudah penuh dan terang. Hari yang kelihatan biasa dari mana pun kamu melihatnya.
Tapi Lily tahu sekarang bahwa hari-hari yang paling penting sering kelihatan persis seperti itu ... biasa, dari luar.