Kai di reinkarnasi setelah mengalami kecelakaan mobil akibat menolong anak kecil , setelah di Reinkarnasi , ia kembali menjalani kehidupan keduanya , tetapi suatu hari ini malah masuk kedunia ketiga , apakah ada sesuatu yang direncanakan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Naga itu membuka mulutnya lebar.
Energi sihir berkumpul di rongga mulutnya—membentuk bola kecil bercahaya yang perlahan membesar.
“Pemusatan itu…” bisik Amane.
Matanya membesar.
“Jangan-jangan… Breath Explosion…!”
Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
“Tapi… kalaupun memang begitu…”
Amane melangkah maju.
Suaranya menggema di hutan.
“Rekan-rekanku yang berharga—”
“Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh mereka!!”
Bola energi itu hampir mencapai ukuran penuh—
TIBA-TIBA.
BOOOOM!!
Sebuah ledakan dahsyat menghantam tubuh naga dari samping.
Gelombang kejutnya menyapu pepohonan.
Naga itu meraung kesakitan, tubuh besarnya terdorong beberapa meter.
Amane yang melihat itu seperti terpaku wajahnya tidak bisa berpaling.
Di belakangnya—
Seseorang sudah berdiri.
Wajahnya tertutup jubah, hanya bayangan yang terlihat.
Suara tenang terdengar.
“Kalau kamu sampai mati di sini… nanti malah merepotkan ku.”
Amane menoleh cepat.
“A-Anda siapa…?”
Namun pria itu tidak menjawab.
Ia berjalan pelan melewati Amane, langkahnya santai.
“Sebenarnya… apa yang barusan terjadi…” gumam Amane, matanya tak lepas dari sosok itu.
“A-anu, yang barusan itu sebenarnya—”
“Apa kau bertanya bagaimana caranya?” potongnya tanpa menoleh.
Naga itu kembali meraung marah, sisiknya retak di satu sisi akibat ledakan tadi , dan tubuhnya dipenuhi luka bakar.
Dengan amarah yang membara, ia menerjang lurus ke arah mereka.
“Awas!” teriak Amane.
Pria itu menghela napas pelan.
“Ya ampun…”
Ia menarik satu katananya.
Kilatan cahaya biru menyambar bilahnya.
“Lightning Sword.”
Tubuhnya menghilang dari tempatnya berdiri.
Gerakannya terlalu cepat untuk dilihat oleh mata.
Ia menghindari gigitan naga.
Meluncur di bawah sabetan ekor.
Melompat tinggi.
“Berakhir sudah.”
SHIINNG—
Kepala naga terpisah dari tubuhnya.
Tubuh raksasa itu roboh dengan dentuman berat.
Pria itu mendarat.
“Dasar kadal yang cuma besar tubuh saja.”
Ia memasukkan kembali katananya tanpa ekspresi ,lalu berjalan pergi.
Amane hanya bisa menatap punggungnya.
“Ah… Anda sebenarnya…”
Di belakang, Marina mulai membuka mata perlahan.
“Mana… ini…”
Amane tersadar dan berteriak.
“Terima kasih banyak sudah menolong kami!”
Langkah pria itu berhenti sesaat.
Tanpa menoleh, ia meletakkan empat botol potion di tanah.
“Gunakan itu untuk mengobati luka kalian.”
Suaranya terdengar jelas, meski ia tidak berbalik.
Lalu ia kembali berjalan.
“Sebenarnya siapa dia…?” gumam Amane.
“Mungkinkah petualang dari kota lain…?”
Ia mengambil salah satu botol.
Matanya membesar.
“I-ini potion penyembuh…”
Tangannya gemetar.
“Barang berharga seperti ini… dia memberikannya begitu saja?”
Tanpa menunda, Amane berlari ke arah teman-temannya.
Satu per satu ia meminumkan potion itu.
Cahaya lembut menyelimuti tubuh mereka.
Luka yang dalam menutup seketika.
Patah tulang pulih.
Energi sihir mereka perlahan pulih.
Marina terduduk kaget.
“Eh…? Lukaku…?”
Violet memeriksa tubuhnya sendiri.
“Ini seperti mimpi…”
Mereka semua saling bertanya.
“Siapa yang memberikan potion ini?”
“Bagaimana mungkin ada potion sesempurna itu?”
Namun Amane hanya diam.
Tatapannya tetap mengarah ke jalan tempat pria berjubah itu pergi.
Di pepohonan kai melepas jubahnya dan memasukkannya kembali item box.
" Aku tidak ingin terlihat mencolok "
Kota Embrace — Kerajaan River
Akhirnya Kai tiba di gerbang megah Kota Embrace, wilayah besar di Kerajaan River.
Sebelumnya, Tn. Bania telah memberinya kartu nama lengkap dengan alamat serikat dagangnya.
“Woah… kota ini mewah sekali,” gumam Kai pelan.
Di sekeliling kota terbentang hutan hijau dan lahan basah yang luas. Udara terasa segar.
Ia menatap gerbang raksasa yang dijaga prajurit bersenjata lengkap.
“Semangatku sampai terlihat seperti anak kecil…"
Setelah melewati pemeriksaan singkat, Kai memasuki kota.
Kai sempat dicurigai tetapi saat ia menunjukkan kartu nama milik Tn. Bania ia akhirnya dipersilahkan lewat.
Beastman dengan telinga serigala , kucing , kelinci berjalan santai berdampingan dengan dwarf berjanggut tebal. Elf berambut panjang berbincang santai dengan pedagang manusia.
“Sungguh kota yang indah…”
Sama seperti sebelumnya dibagian tertentu tubuh mereka memiliki angka , tetapi kebanyakan level rendah , bahkan penjaga tadi saja levelnya masih 20.
Kai berjalan menyusuri jalan batu , mencari alamat di kartu nama itu.
Tak butuh waktu lama.
Sebuah bangunan besar berdiri dengan papan bertuliskan:
— Serikat Tn. Bania —
“Ah, ini pasti tempatnya.”
Ia menaiki tangga kecil dan masuk ke dalam. Interiornya begitu indah dan elegan.
Seorang pegawai langsung menyambutnya.
“Selamat datang. Ada yang bisa kami bantu?”
Kai menunjukkan kartu milik Bania, sikap pegawai itu langsung berubah hormat. Ia segera mengantar Kai ke ruang pribadi di lantai atas.
Pintu diketuk pelan.
“Silakan masuk.”
Tn. Bania berdiri menyambutnya dengan senyum ramah.
“Selamat datang, Tn. Kai.”
Mereka duduk berhadapan.
“Aku datang untuk menjual beberapa potion yang sudah aku tingkatkan,” ujar Kai.
Ia mengeluarkan botol-botol kaca berisi cairan berwarna biru cerah.
Sebenarnya, Kai memiliki tiga jenis potion.
Yang ia keluarkan sekarang hanyalah versi yang sedikit ditingkatkan dari sebelumnya.
Sedangkan potion yang ia berikan pada empat petualang tadi—itu adalah kualitas tertinggi.
Bania memeriksa satu botol dengan serius.
Matanya membesar.
“Ini… luar biasa, Tn. Kai. Ini jauh lebih indah dari sebelumnya.”
Tanpa ragu, Bania berkata:
“Aku akan membelinya dengan 5 koin emas per botol.”
Kai terdiam.
Lima… koin emas?
Di dunia ini:
- 1 koin emas \= 93.000 yen \= 10 juta rupiah
- 1 koin perak \= 470 yen \= 50 ribu rupiah
- 1 koin perunggu \= 200 yen \= 20 ribu rupiah.
Kai mengeluarkan 20 botol , artinya 100 koin emas , sekitar 1 Miliar Rupiah.
Tatapan Kai terpaku pada Bania.
Bania mulai salah tingkah.
“K-Kenapa kau melihat ku seperti itu? Apa ada masalah?”
Kai tersadar dan menggaruk belakang kepalanya.
“Ah, tidak… maaf.”
“Aku hanya penasaran. Apa ini tidak terlalu berlebihan hanya untuk potion?”
Bania membantah kalau kualitas potion milik kai berada di atas level potion pada umumnya.
Selain itu Bania juga ingin menjalin hubungan bisnis jangka panjang dengan kai.
Kai menatap botol-botol itu.
“Meski begitu… tetap saja terasa berlebihan.”
Bania menggeleng.
“Tidak. Justru ini harga yang pantas.”
Tak lama, seorang pelayan masuk membawa nampan berisi koin emas yang tersusun rapi.
Kai menerima pembayaran itu.
Kai bertanya kepada Bania.
“Kalau boleh tahu… berapa harga rumah di kota ini?”
Bania menjawab cepat.
“Rumah kecil di area biasa sekitar 3 – 6 koin emas.”
“Untuk rumah yang cukup besar dan besar atau mewah , harganya mulai dari 10 hingga 500 koin emas. Tergantung lokasi dan fasilitas.”
“Ngomong-ngomong, Tn. Kai,” ucap Bania sambil tersenyum ramah,
“jika Anda sedang mencari rumah, saya bisa merekomendasikan beberapa properti yang tersedia”
Kai mengangguk pelan.
Setelah itu, ia diantar oleh salah satu karyawan Bania untuk beristirahat lebih dulu. Malam itu ia menginap di penginapan milik serikat.
Keesokan paginya.
“Selamat pagi, Tn. Kai.”
“Apakah Anda tidur nyenyak?”
Kai menoleh. Seorang pria berpenampilan rapi dengan kacamata tipis berdiri sopan.
“Selamat pagi, Thomas-san. Ya, berkatmu aku tidur sangat nyenyak tadi malam.”
Thomas tersenyum tipis.
“Tidak perlu berterima kasih. Itu memang tugas saya.”
semoga semua sehat selalu ya,
Aamiin