melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
retakan dibalik senyuma
Pagi itu, udara terasa berat. Wulan menatap cermin di kamar, mencoba merapikan rambutnya, tapi matanya tampak letih. Malam sebelumnya, ia menerima panggilan dari Agung yang terdengar tergesa-gesa. Nada suaranya berbeda dari biasanya cepat, dingin, dan sedikit menahan emosi.
“Ada apa, Agung?” tanya Wulan saat mereka berbicara melalui telepon.
“Meeting keluarga… aku harus pergi sekarang,” jawab Agung singkat.
Wulan menelan kekecewaan. Ia sudah terbiasa dengan perhatian Agung, tetapi dunia keluarganya selalu menuntut prioritas lebih tinggi. Malam itu, ia duduk sendiri, merasakan kehangatan yang perlahan memudar.
Hari-hari berikutnya, interaksi mereka semakin jarang. Pesan singkat dibalas lama, panggilan telepon sering terganggu oleh suara orang lain di belakang Agung. Wulan mulai merasakan sesuatu yang asing: ketegangan di balik senyum Agung.
Melda, yang selalu mengamati kakaknya, mulai merasa gelisah. Suatu sore, saat Wulan tampak murung, Melda bertanya:
“Kak, ada apa? Kamu kayak… nggak bahagia belakangan ini.”
Wulan tersenyum tipis, tapi matanya tak ikut tersenyum. “Nggak apa-apa, Mel. Aku cuma… capek sedikit.”
Melda menatapnya lama. Ia tahu itu bukan “capek biasa.” Ada sesuatu yang menekan kakaknya, sesuatu yang berasal dari dunia yang tidak mereka kenal: dunia Agung.
Di sisi lain kota, di mansion keluarga Agung, suasana tegang. Ayah Agung menatap anaknya dengan tatapan dingin.
“Agung, aku dengar kau membawa perempuan itu ke acara bisnis kemarin. Apakah kau mengerti posisi keluargamu?”
Agung menunduk. “Aku tahu, Ayah. Tapi aku ingin Wulan ikut karena…”
“Tidak ada ‘tapi’! Keluarga kita punya reputasi. Kita tidak bisa membiarkan anak perusahaan dan pewaris kita terlibat dengan orang yang… tidak sesuai.”
Ucapan itu menusuk. Agung menelan kata-kata, tapi di dalam hatinya, muncul konflik antara cinta dan kewajiban, antara perasaan dan reputasi.
Beberapa hari kemudian, Wulan diundang untuk makan malam keluarga Agung. Hatinya campur aduk. Di satu sisi, ia ingin menunjukkan bahwa ia serius dan tulus, tapi di sisi lain, rasa takut menghantuinya.
Acara makan malam itu penuh kemewahan: meja panjang dengan lilin dan hidangan mewah, tamu yang berpakaian rapi dan penuh protokol. Wulan merasa canggung setiap kali pandangan orang tua Agung tertuju padanya.
“Silakan duduk, Wulan,” kata Agung lembut, mencoba menenangkan kakaknya.
Namun tatapan ibu Agung tak bisa dipalsukan. Ia menatap Wulan dengan evaluasi tajam, seolah mencoba menilai apakah Wulan layak berada di dunia mereka. Wulan menunduk, merasa kecil di hadapan dunia yang berbeda ini.
Malam itu, di perjalanan pulang, Wulan terdiam di samping Agung. Hujan deras turun di luar, membasahi kaca mobil.
“Agung… aku merasa… dunia kita terlalu berbeda,” ucap Wulan pelan. Suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan.
Agung menatapnya. “Aku tahu, Wulan. Aku juga merasakannya. Tapi aku ingin kita tetap mencoba. Aku tidak peduli apa kata keluarga. Aku… aku ingin kita bersama.”
Wulan tersenyum lemah. Kata-kata itu menenangkan hati, tapi bayangan tekanan sosial tetap ada. Ia tahu, cinta mereka masih muda dan rapuh, dan badai yang lebih besar sedang menunggu.
Keesokan harinya, Melda pergi ke kantor kecil Wulan untuk menemuinya. Ia membawa kopi dan beberapa roti, berharap bisa menghibur kakaknya.
“Mel, kamu nggak ngerti,” kata Wulan sambil duduk, wajahnya lesu. “Agung bilang dia sayang sama aku, tapi keluarganya… mereka nggak bisa menerima aku.”
Melda menepuk tangan kakaknya. “Aku ngerti, Kak. Tapi kamu harus kuat. Dunia mereka memang keras, tapi jangan biarkan mereka merusak perasaanmu.”
Wulan menghela napas panjang. Ia merasa lelah, tapi senyumnya tetap ada. Ia berusaha menahan kekecewaan demi menjaga cinta yang tumbuh di hatinya.
Namun, tekanan keluarga Agung mulai membawa efek nyata. Beberapa teman kantor Wulan mulai bertanya tentang hubungan mereka, ada yang sinis, ada yang penasaran. Beberapa tetangga kampung mulai menyebarkan rumor tentang status Wulan, memperparah ketegangan emosional.
Suatu sore, Wulan duduk di teras rumah sambil menatap langit yang mendung. Melda duduk di sampingnya.
“Kamu nggak salah, Kak,” kata Melda. “Kalau dunia ini menolak kamu, itu bukan karena kamu nggak layak. Itu karena mereka terlalu sombong dan takut kehilangan kontrol.”
Wulan menunduk, menahan air mata. Ia tahu adiknya benar, tapi hatinya masih rapuh.
Malam itu, Wulan menerima pesan singkat dari Agung:
“Aku ingin kita bicara. Besok malam, di tempat biasa. Aku janji, aku akan jujur sama kamu.”
Wulan menatap layar ponsel, campur aduk antara harapan dan ketakutan. Melda yang melihatnya langsung merasakan bahaya di balik pesan itu.
“Mel… kamu yakin dia nggak akan nyakitin aku?” Wulan bertanya pelan.
Melda menggenggam tangan kakaknya erat. “Kalau dia nyakitin kamu, aku nggak akan tinggal diam. Aku akan pastikan dunia ini bayar atas apa yang mereka lakukan sama kamu.”
Wulan tersenyum tipis, tapi rasa cemas tetap ada. Ia tahu, cinta yang tumbuh ini bukan lagi hanya tentang perasaan. Ini tentang bertahan hidup di dunia yang keras, dunia yang siap menghancurkan siapa pun yang mencoba menentang aturan mereka.Hari-hari berikutnya, ketegangan itu mulai memengaruhi interaksi mereka sehari-hari. Agung tetap menunjukkan perhatian, tapi ada jarak yang terasa. Di kantor Wulan, ia mulai menyadari pandangan sinis rekan-rekan kerjanya beberapa tersenyum ramah, tapi mata mereka menilai.
“Wulan, kamu baik-baik saja?” tanya salah satu teman dekatnya.
Wulan mengangguk, tapi di dalam hati ia merasa tidak. Dunia yang baru ia masuki terasa asing, dan tekanan sosial mulai menyerap kehidupannya perlahan. Ia ingin tetap kuat, tapi rasa cemas mulai menumpuk.
Di rumah, Melda semakin gelisah. Ia mengamati kakaknya dengan hati-hati, mencoba membaca ekspresi Wulan yang semakin sering murung setelah bertemu Agung. Sore itu, Melda menatap kakaknya yang duduk di teras, memandangi hujan.
“Kak, kamu nggak harus menghadapi semuanya sendirian,” kata Melda lembut. “Kalau mereka menolakmu… itu bukan berarti kamu nggak berharga. Dunia mereka memang keras.”
Wulan menunduk, menahan air mata. “Aku tahu, Mel. Tapi rasanya… aku nggak cukup kuat untuk melawan semuanya.”
Melda menggenggam tangan kakaknya lebih erat. “Kamu nggak sendiri, Kak. Aku akan selalu ada di sisimu.”
Malam itu, Agung mengirim pesan lagi:
“Besok, aku ingin bicara jujur. Aku janji, aku akan jelaskan semuanya.”
Wulan membaca pesan itu sambil menatap langit gelap di luar jendela. Hatinya campur aduk: antara harapan dan ketakutan, antara cinta dan keraguan. Melda melihatnya dan merasakan sesuatu yang kelam mulai muncul di benaknya sendiri.
Di sisi lain kota, Agung berdiri di jendela kantornya, menatap lampu kota yang berkilau. Tekanan keluarga terasa berat, tapi ia tidak bisa melepaskan Wulan. Ia tahu bahwa cinta yang ia rasakan sungguh tulus, namun dunia elite yang menuntut kepatuhan selalu menunggu untuk menghancurkan kebahagiaan mereka.
Hujan terus turun, membasahi kota. Suara rintiknya seolah menyuarakan ketegangan yang akan datang. Dan di bawah rintik hujan itu, Wulan dan Melda sama-sama merasakan bahwa badai yang sebenarnya belum dimulai bahwa dunia Agung, dengan aturan dan tekanan sosialnya, siap menguji cinta mereka sampai batas yang paling menyakitkan.
“Cinta mereka diuji oleh dunia yang tidak bersahabat. Dan kadang, badai yang paling lembut di permukaan adalah yang paling mengancam hati.”
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.