Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.
Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.
Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.
Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20
Hidangan utama mulai disajikan.
Daging panggang dengan saus anggur merah memenuhi meja panjang itu.
Percakapan bisnis kembali mengalir.
Tentang akuisisi proyek Timur.
Tentang negosiasi saham.
Tentang risiko media.
Tessa mendengarkan tanpa menyela.
Ia tidak sepenuhnya mengerti semua istilah.
Tapi ia menangkap pola, Dominasi. Kontrol. Keputusan.
Ayah Nick akhirnya meletakkan pisaunya.
Bunyi logam menyentuh piring terdengar jelas.
Semua otomatis diam.
Ia menatap Nick lebih dulu.
“Proyek Timur.”
Nada suaranya lebih berat tapi tetap stabil.
“Kudengar ada permintaan tambahan dua persen.”
Nick menjawab tanpa ragu.
“Sudah kutolak.”
Beberapa kepala langsung terangkat.
Ayahnya mengangkat alis tipis.
“Kau yakin?”
“Aku tidak membeli perusahaan untuk terlihat membutuhkan mereka.”
Hening kecil muncul lagi,
Ayahnya tidak langsung menanggapi, tatapannya bergeser.
Ke Tessa.
Suasana ruangan terasa berubah.
Lebih fokus.
“Tessa.”
Suaranya tidak kasar.
Tapi jelas disengaja.
“Sebagai istri Nick, tentu Anda mengikuti perkembangan bisnisnya.”
Itu bukan pertanyaan.
Itu jebakan.
Beberapa orang di meja menahan napas kecil.
Tessa jelas tahu ini bukan tentang proyek.
Ini tentang apakah ia hanya aksesori… atau benar-benar berdiri di samping Nick.
Nick tidak menoleh padanya.
Ia tidak memberi bantuan.
Tidak memberi sinyal.
Tessa merasakan detak jantungnya naik.
Ia tidak tahu angka detail.
Tidak tahu laporan lengkap.
Tapi ia ingat satu hal.
Nick tidak suka terlihat membutuhkan siapa pun.
Ia menegakkan punggung.
“Saya tidak terlibat langsung dalam negosiasi,” ucapnya jujur dan tenang.
Beberapa orang hampir tersenyum.
Seolah sudah menduga.
“Tapi jika permintaan dua persen muncul setelah proyeksi keuntungan dibuka,” lanjutnya, “itu berarti pihak sana merasa posisi tawar mereka cukup kuat.”
Sendok berhenti lagi.
Ayah Nick memperhatikannya lebih serius sekarang.
Tessa melanjutkan.
“Kalau Nickolas tetap menolak, itu berarti ia ingin menjaga standar, Sekali standar diturunkan, berikutnya akan lebih mudah ditekan.”
Suasana hening total kali ini,
Tidak ada suara piring.
Tidak ada batuk kecil.
Ayah Nick menatapnya beberapa detik lebih lama.
“Dan menurut Anda? Apakah itu keputusan yang tepat?”
Ini bagian paling berbahaya.
Jika ia mendukung Nick sepenuhnya, ia terlihat buta.
Jika ia mengkritik, ia terlihat berani di tempat yang salah.
Tessa menarik napas pelan.
“Keputusan tepat atau tidak bergantung pada tujuan jangka panjang.”
Beberapa orang mengernyit.
Ia lanjut, dengan nada stabil.
“Jika tujuan utamanya adalah reputasi dominasi, maka konsistensi lebih penting daripada keuntungan sesaat.”
Tatapannya tidak goyah.
“Tapi jika tujuan utamanya ekspansi cepat, maka fleksibilitas bisa jadi lebih menguntungkan.”
Hening panjang.
Ayah Nick bersandar perlahan.
Menilai.
Nick akhirnya menoleh padanya.
Tatapannya tajam.
Bukan marah.
Tapi membaca.
Ayahnya berbicara pelan.
“Jadi menurut Anda, Nick terlalu kaku?”
Itu serangan langsung.
Beberapa orang di meja hampir tak bernapas.
Tessa tidak menunduk.
“Saya mengatakan setiap strategi punya risiko.”
Ia berhenti sepersekian detik.
“Dan saya percaya Nickolas sudah menghitungnya dengan sangat teliti.”
Suasana masih hening.
Satu sudut bibir Ayah Nick terangkat tipis.
Bukan senyum hangat.
Lebih seperti pengakuan kecil.
“Menarik.”
Ia kembali mengambil pisaunya.
“Makan.”
Percakapan perlahan kembali bergerak.
Tapi atmosfernya berbeda sekarang.
Tessa tidak lagi terlihat seperti aksesori.
Ia baru saja melewati ujian pertama.
Nick masih menatapnya beberapa detik sebelum
akhirnya kembali ke makanannya.
Dan saat ia berbicara, suaranya rendah. Hanya cukup untuk Tessa dengar.
“Jangan terlalu nyaman.”
Bukan teguran, bukan pujian, tapi peringatan jelas,
Tapi kali ini, nada suaranya tidak sepenuhnya dingin.
Percakapan kembali berjalan, tapi tidak lagi ringan.
Beberapa paman membahas angka distribusi.
Seorang sepupu menyinggung ekspansi luar negeri.
Lalu Ayah Nick kembali meletakkan gelas anggurnya.
Pelan.
“Nick.”
Satu panggilan itu saja sudah cukup membuat meja kembali diam.
Nick tidak terlihat terkejut.
“Hm.”
“Kau terlalu sering mengambil keputusan sepihak akhir-akhir ini.”
Nada itu bukan marah.
Lebih seperti pernyataan evaluasi.
Nick memotong dagingnya tanpa terburu.
“Aku memimpin divisi itu.”
“Dan kau tetap bagian dari keluarga ini.”
Hening.
Beberapa orang menunduk pura-pura sibuk dengan makanan mereka.
Ayahnya melanjutkan.
“Dulu kau lebih terbuka pada masukan.”
“Itu sebelum masukan berubah menjadi intervensi.” jawab nick tajam.
Beberapa kepala langsung terangkat.
Tessa merasakan perubahan suhu di udara.
Ayah Nick menyandarkan tubuhnya.
“Intervensi? Kau menyebut arahan keluarga sebagai intervensi?”
“Aku menyebutnya batas.”
Nada Nick tetap rendah.
Tapi keras.
“Aku tidak membangun semua ini untuk tetap berada di bawah bayangan siapa pun.”
Hening semakin berat.
Tante Livia menatap dari ujung meja, jelas menikmati arah percakapan.
Ayah Nick tersenyum tipis.
“Kau membangun? Jangan lupa siapa yang memberi fondasi.”
Nick akhirnya mengangkat wajahnya penuh.
Tatapan lurus.
“Tapi aku yang memperluasnya.”
Kata aku terdengar lebih tegas dari biasanya.
Itu bukan lagi percakapan bisnis.
Itu pertarungan posisi.
Ayahnya menoleh sekilas ke Tessa.
“Dan sekarang kau membawa istri tanpa diskusi apa pun.”
Kalimat itu sengaja diarahkan.
“Keputusan pribadi tidak membutuhkan rapat direksi,” jawab Nick dingin.
“Keputusan pribadi yang berdampak pada nama keluarga, jelas iya.”
Hening.
Tessa merasakan semua mata kembali menoleh ke arahnya.
Nick berbicara sebelum siapa pun sempat menekan lebih jauh.
“Nama keluarga tidak akan runtuh hanya karena aku memilih sendiri.”
Nada suaranya mulai meninggi tipis.
Bukan membentak.
Tapi jelas emosi mulai muncul.
Ayahnya tidak terintimidasi.
“Kita akan lihat.”
Itu bukan ancaman kosong.
Itu janji ujian lanjutan.
Tessa bisa saja diam.
Seharusnya Ia diam.
Tapi entah kenapa...
Melihat cara ayahnya menyiratkan bahwa dirinya adalah risiko…
Ia tidak ingin hanya menjadi objek di tengah konflik itu.
Dengan suara stabil, ia berkata,
“Jika keberadaan saya menjadi pertanyaan, saya siap membuktikan bahwa itu bukan kelemahan.”
Meja kembali sunyi.
Nick menoleh cepat padanya.
Tatapannya tajam.
Seolah berkata Jangan ikut campur.
Ayahnya justru terlihat tertarik.
“Membuktikan bagaimana?”
Pertanyaan itu berat.
Tessa tersenyum.
“Dengan tidak menjadi beban.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi jelas.
Nick menyandarkan punggungnya perlahan.
Rahangnya mengeras.
Ia tidak suka Tessa masuk ke medan ini.
Ayahnya menatap beberapa detik.
Lalu akhirnya berkata,
“Kita lihat nanti.”
Hidangan berikutnya datang.
Percakapan bergeser lagi.
Tapi retakan itu sudah muncul.
Nick tidak banyak bicara setelah itu.
Diamnya bukan pasif.
Lebih seperti menahan sesuatu.
Dan ketika pelayan mulai membersihkan meja untuk hidangan penutup, ia berbisik rendah tanpa menoleh pada Tessa,
“Aku tidak minta kau berbicara.”
Nada suaranya keras.
Bukan marah besar.
Tapi jelas tidak suka dibantah arahan diamnya.
Malam itu belum selesai.
Dan konflik ayah dan anak itu… baru saja mulai terbuka di depan semua orang.
capek banget keknya jadi tessa
kalo aku jadi tessa keknya gak akan sanggup deh soalnya aku gtogian arangnya😁🤭
sweet banget😍😍😍
padahal baru kenal tessa tapi di bertanggung jawab dengan statusnya sebagai suami dg begitu sempurna