NovelToon NovelToon
Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / CEO
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Punya rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap orang. Apalagi bagi seorang wanita. Suami dan mertua yang baik adalah anugerah yang tak ternilai harganya.

Seperti itulah harapan Kyara Nawasena. Menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya ternyata tidak menjamin rumah tangganya berjalan mulus.

"Mas, tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku? Aku ini istrimu, bukan seorang babu!"

"Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku, lebih baik kau keluar dari rumah ini! Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus mendengar ocehanmu! Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Doni menghardik Kyara seraya melemparkan bantal ke wajah istrinya.

Kyara tersenyum getir, "Jika aku istri pembangkang, berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab!"

"Kyaraaa!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

"Tiga pcs celana dalam wanita, tiga pcs bra dan ..." Dada Kyara langsung sesak saat membaca kalimat terakhir. "S-Satu pcs lingerie merah." Ia menatap struk itu dengan mata berkaca-kaca. "Mas ..." Suaranya tercekat. "Ini belanjaan siapa? Apakah kamu membelinya untukku?" Pertanyaan itu menguar begitu saja di udara. Tak ada jawaban yang diterima Kyara.

Wanita berdaster cokelat muda itu menggigit bibir bawahnya. Dadanya makin sesak. Dari ujung jari sampai ke pergelangan tangan tiba-tiba bergetar.

"Jika Mas Doni membelinya untukku, lantas ... kenapa dia tidak memberikannya kepadaku?" Kyara meremas struk itu.

"Kya!" Teriakan mertuanya terdengar lagi. Kyara buru-buru memasukkan struk itu ke saku dasternya.

"Iya, Ma," sahutnya sambil menoleh pada Hesti yang sudah berpakaian rapi. Memakai one set abu-abu dan kerudung kekinian yang sengaja tak menutup telinga, sehingga anting besarnya terlihat jelas.

"Nanti kalau pekerjaanmu sudah selesai ... segera susul Mama ke rumah makan," ulangnya untuk kedua kali. "Jangan lupa kunci pintu, dan juga gerbang. Awas kalau kamu teledor!" Ia mengacungkan telunjuknya. "Mama nggak akan kasih kamu uang jajan," lanjutnya sambil mengibaskan kerudungnya kemudian berlalu dari hadapan Kyara.

"Uang jajan sepuluh ribu sehari saja, masih diancam tak akan diberikan," gumam Kyara sambil geleng-geleng kepala.

Pikirannya kembali melayang pada struk di saku dasternya, namun ia memilih untuk tak ambil pusing sekarang. "Mending aku beresin dulu deh pekerjaan ini. Biar nanti aku tanyain ke Mas Doni ... ini struk belanjaan siapa. Mungkin saja punya Dini," pungkasnya tak mau berburuk sangka, meski hatinya merasa curiga.

______

"Pak Doni ... bentar lagi bonus cair nih. Makan-makan yuk!" ajak salah satu rekan kerja Doni setengah bercanda.

"Hehe ... iya Pak Indra, alhamdulillah. Berkat doa Ibu, setiap bulan saya dapat bonus." Doni membalas dengan bangga. "Tapi maaf nih, lain kali saja ya makan-makannya. Soalnya saya sudah ada janji mau ngajak Ibu dan adik saya makan-makan di restoran ternama," lanjutnya menolak ajakan Indra.

"Ohh ... begitu ya, Pak. Tidak apa-apa. Merayakan bersama keluarga adalah hal utama. Lebih berkah."

Doni mengangguk.

"Kok makan-makannya cuma sama ibu dan adik, emang istrinya nggak akan diajak?" celetuk Ike, wanita berkerudung sage.

Doni tersenyum canggung. "Ah, istri saya terlalu sibuk dengan urusannya. Dia terlalu cuek. Lagian, buat apa saya ajak dia ... toh yang selama ini menyiapkan semua kebutuhan saya tuh ya, ibu saya. Dia mah bisanya cuma minta duit, ngabisin duit, dan selebihnya ongkang-ongkang kaki saja." Sungguh pandai Doni bersilat lidah, padahal kenyataannya adalah sebaliknya.

"Wah ... masa sih, Pak Don?" pekik Indra kurang percaya.

"Beneran Pak Indra. Saya sebenarnya sudah muak sama kelakuan dia, pengennya sih berpisah. Tapi ibu saya ... dia terus melarang saya. Katanya ... 'jangan gegabah untuk bercerai. Suatu hari nanti, Kyara pasti berubah' jadi ya, saya terpaksa bertahan. Meski jiwa dan raga saya tersiksa." Bibir Doni kembali melontarkan dusta.

"Wah, Pak Don sungguh hebat. Jarang-jarang loh ada suami sesabar dan sebijaksana Pak Don. Kalau saya jadi Pak Doni, sudah saya tendang tuh istri modelan begitu. Kalau perlu, talak tiga sekalian." Indra sampai menggebrak meja saking kesalnya.

Sementara Ike menyipitkan mata. Ada sorot keraguan dan ketidakpercayaan di matanya.

"Atau Pak Doni berat karena terikat oleh anak?" lanjut Indra bertanya.

Doni menggeleng cepat. "Tidak, Pak. Saya belum punya anak."

"Wahh ... kalau gitu mah buat apa dipertahankan, Pak. Ceraikan saja dia, dan cari wanita lain yang jauh lebih baik." Ucapan provokasi terlontar dari bibir hitam Indra. "Pak Doni kan tampan dan mapan, pasti banyak perempuan di luar sana yang mau jadi istri Pak Doni. Daun muda juga kayaknya ngantri."

Doni tertawa bangga. Ia seperti terbang ke atas awan mendengar pujian-pujian dari rekan kerjanya itu. "Ah, Pak Indra bisa saja." Ia pura-pura merendah, padahal hatinya bersorak mengakui. "Aku memang tampan. Aku memang mapan. Dan aku juga memang sudah jadi rebutan."

______

Rumah makan "Suka Rasa" sudah ramai bahkan sebelum jam makan siang tiba. Aroma gulai dan ayam goreng memenuhi udara. Piring-piring beradu, sendok berdenting, dan suara pelanggan saling bersahutan memesan menu.

Di tengah hiruk pikuk itu, berdiri sosok wanita berusia hampir tiga puluh lima tahun dengan wajah pucat namun tetap teduh.

"Kyara!" Suara nyaring itu membelah ruangan.

Semua pegawai langsung tahu siapa pemilik suara tersebut. Hesti, sang pemilik rumah makan, berjalan cepat dengan wajah tegang. Tangannya terlipat di dada, sorot matanya tajam mengawasi setiap gerakan menantunya. "Kenapa meja tiga belum dibersihkan? Pelanggannya sudah berdiri dari tadi!" hardiknya.

Kyara yang baru saja membawa nampan berisi tiga mangkuk soto langsung berbalik arah. "Iya, Ma. Aku bersihkan sekarang."

"Sekarang? Harusnya dari tadi! Kamu itu harus gesit! Jangan berleha-leha kayak gini!" suara Hesti semakin keras hingga beberapa pelanggan menoleh.

Kyara menunduk, menahan napasnya agar tetap stabil. "Baik, Ma." Kali ini, fokusnya terbagi. Pada pekerjaan dan juga struk belanjaan yang tadi ia temukan di saku jaket suaminya.

Belum sempat Kyara menyelesaikan satu tugas, suara itu kembali datang. "Air minum di meja tujuh kurang! Kamu nggak lihat? Mata kamu itu dipakai! Jangan cuma dijadikan pajangan!"

"Iya, Ma."

"Dan tolong senyum! Wajahmu itu seperti orang dipaksa kerja. Pelanggan jadi nggak nyaman!"

Kyara menarik sudut bibirnya pelan. Senyum yang dipaksakan, seperti biasa.

Para pegawai lain ... Dewi, Roy, dan Susi saling melirik. Tatapan mereka penuh iba. Sudah sepuluh tahun pemandangan seperti ini terjadi hampir setiap hari.

Sepuluh tahun sejak Kyara menikah dengan Doni dan masuk ke keluarga itu, lalu perlahan dijadikan pekerja tanpa henti di rumah makan milik mertuanya.

Dewi berbisik pelan pada Roy saat mereka menyusun piring di dapur. "Kasihan Mbak Kyara. Dari dulu Bu Hesti nggak pernah berubah ya."

Roy hanya menghela napas. "Sepuluh tahun loh. Nggak kebayang kalau aku di posisi dia."

Sementara itu di luar, Hesti masih berdiri mengawasi. "Kyara, cepat antar pesanan itu ke meja lima! Jangan lelet begitu! Kalau kamu malas-malasan, Mama akan laporkan kamu ke Doni!" ancamnya.

"Aku tidak malas-malasan, Ma. Hanya sedikit lelah," jawab Kyara pelan, hampir tak terdengar.

"Apa?" Hesti mendekat. "Ngomong yang jelas! Jangan cuma komat-kamit!"

"Aku tidak malas-malasan, Ma," ulang Kyara lebih jelas, tapi tetap dengan kepala tertunduk.

Hesti mendengus. "Kalau tidak malas, buktikan! Kerja itu pakai hati. Jangan setengah-setengah."

Kyara mengangguk lagi. Tangannya mulai gemetar saat menuangkan teh ke dalam gelas. Keringat di pelipisnya menetes, bukan hanya karena panas dapur, tapi karena tekanan yang tak pernah berhenti. Namun ia tetap bergerak cepat, berpindah dari satu meja ke meja lain, membersihkan sisa makanan, mencatat pesanan, mengangkat piring kotor, kembali ke dapur, lalu keluar lagi. Tak ada jeda.

Seorang pelanggan paruh baya memperhatikan adegan itu dengan alis berkerut. Ia berbisik pada istrinya, "Kasihan sekali pegawai itu dimarahi terus. Padahal dia rajin sekali."

Susi yang mendengar hanya bisa tersenyum kaku. "Pegawai?" batinnya. "Andai saja mereka tahu bahwa Mbak Kyara bukan hanya pegawai. Ia menantu yang tak pernah benar-benar dianggap keluarga oleh Bu Hesti," lanjut Susi masih dalam hati.

Di sudut dapur, saat akhirnya ada jeda beberapa detik, Dewi mendekat pelan. "Mbak, minum dulu sebentar," katanya lirih sambil menyodorkan segelas air.

Kyara tersenyum tipis. "Terima kasih, Wi." Belum sempat gelas itu menyentuh bibirnya, suara Hesti kembali menggelegar.

"Kyara! Kenapa diam saja di situ? Pelanggan datang lagi! Kerja itu jangan menunggu disuruh!"

Gelas itu kembali diletakkan. "Iya, Ma!" jawab Kyara cepat. Ia bergegas keluar, langkahnya ringan meski hatinya terasa berat.

Sepuluh tahun.

Sepuluh tahun ia menelan kata-kata tajam, perintah tanpa henti, dan tatapan merendahkan. Sepuluh tahun ia belajar menyimpan luka di balik senyum profesional yang dipaksakan.

Namun hari ini, setelah melihat struk tadi, entah kenapa, ada sesuatu yang terasa berbeda di dalam dadanya. "Aku tidak boleh terlalu lemah. Mungkin sesekali aku harus melawan."

1
falea sezi
bkin cerai lah lama amat g sat set kya menye menye agak. oon
falea sezi
harusnya semua isi ATM di kuras
falea sezi
muter. doank. sih. Thor hadehh. g sat sett. kelamaan. drama. doank
falea sezi
menye menye oon
stela aza
menjijikan
stela aza
males bgt kebanyakan drama
stela aza
Nora bgt biyunge Doni Karo Doni ,, melayat kaya mau kondangan
Ama Apr: haha orkay sombong adigung kk
total 1 replies
stela aza
Thor emang si Kya g punya kelebihan selain beres2 rumah ,,, kasian amat mau minggat dari rumah itu nunggu ngumpulin duit di kasi Doni 🤦
stela aza: kalau bisa karakter cewenya jgn cuma cantik doank Thor harus punya kelebihan yg bisa di banggakan 🤭
total 2 replies
I Love you,
🤣🤣🤣🤣🤣 kaget ya...🙏🙏
Ama Apr: hehe iya
total 1 replies
I Love you,
nnk karma tunai bayar nya g nyicil loh🤣🤣
Ama Apr: hehehe
total 1 replies
I Love you,
😤😤😤😤selingkuh dia😡😡
Ama Apr: iya kk
total 1 replies
falea sezi
bertele tele tolol males
Ama Apr: skip aja kk
total 1 replies
falea sezi
ngadu ngadu percuma ambil tindakan. lah. goblok. je males. like. lahh g jelas
falea sezi
oon menye menye
Amy
jgn mau kyaa
Ama Apr: semoga kya nggak luluh
total 1 replies
CB-1
lanjut kaak💪
Ama Apr: siap kk, makasih🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!