Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Panggung Terakhir di Pengadilan
Hari yang selama ini membayangi pikiran Hana akhirnya tiba. Sidang perdana perceraiannya dengan Aris dijadwalkan pukul sembilan pagi di Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Semalam, Hana hampir tidak bisa memejamkan mata. Bukan karena ragu, melainkan karena ia tahu bahwa hari ini bukan sekadar urusan hukum, melainkan sebuah konfrontasi publik dengan masa lalu yang berusaha menyeretnya kembali ke dalam lumpur.
Hana berdiri di depan cermin kecil di apartemen studionya. Ia memilih mengenakan setelan blazer berwarna abu-abu muda dengan dalaman sutra putih. Penampilannya tajam, bersih, dan memancarkan wibawa. Ia memulas bibirnya dengan lipstik berwarna nude yang tegas. Ia tidak ingin terlihat sebagai korban yang malang; ia ingin dunia melihatnya sebagai wanita yang sudah selesai dengan penderitaannya.
"Kamu bisa, Hana," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri.
Tepat pukul delapan, sebuah pesan masuk dari Adrian.
“Baskara sudah di lokasi. Saya akan memantau dari kantor. Jika tekanan di sana terlalu berat, ingatlah bahwa kamu tidak berutang penjelasan apa pun kepada siapa pun selain hakim. Fokus pada tujuanmu.”
Hana tersenyum tipis. Dukungan Adrian yang pragmatis selalu berhasil menenangkan sarafnya yang tegang. Ia segera memesan taksi dan berangkat menuju medan pertempurannya yang terakhir.
Begitu taksi berhenti di depan gedung pengadilan, Hana langsung disambut oleh pemandangan yang sudah ia duga. Di tangga gedung, Aris berdiri dikelilingi oleh keluarga besarnya. Ada ibunya yang tampak duduk di kursi roda—sebuah dekorasi drama yang sangat transparan—beberapa tantenya yang berpakaian serba hitam seolah sedang berkabung, dan sepupu-sepupunya yang menatap Hana dengan pandangan menghujat.
Aris tampak lebih rapi hari ini, mengenakan kemeja batik yang dulu Hana belikan sebagai hadiah ulang tahun. Saat melihat Hana turun dari taksi, Aris langsung melangkah maju, memutus jarak sebelum Baskara sempat mendekat untuk melindungi Hana.
"Hana! Lihat Ibu! Kamu puas sekarang membuat Ibu sampai harus pakai kursi roda?" suara Aris cukup keras hingga memancing perhatian pengunjung pengadilan lainnya.
Hana berhenti, menatap Aris dengan tatapan kosong. "Mas Aris, kursi roda itu tidak akan mengubah fakta hukum. Mari kita selesaikan ini di dalam, bukan di parkiran."
"Kamu benar-benar sudah tidak punya hati, ya? Apa karena si Adrian itu? Apa dia yang mengajarimu jadi anak durhaka dan istri pembangkang?" cecar Aris, wajahnya memerah karena amarah yang tertahan.
Baskara segera muncul di samping Hana, menaruh tangannya di depan sebagai pembatas. "Pak Aris, mohon jaga jarak Anda. Segala bentuk intimidasi di lingkungan pengadilan bisa saya laporkan sebagai gangguan terhadap proses hukum. Mari kita masuk."
Hana melangkah melewati mereka. Saat ia melewati kursi roda ibu mertuanya, wanita tua itu menarik ujung blazer Hana dengan tangan yang gemetar. "Hana... jangan lakukan ini, Nak. Pikirkan nama baik keluarga kita. Malu, Hana, malu dilihat orang..."
Hana melepaskan pegangan tangan itu dengan lembut namun pasti. "Malu itu saat kita menindas orang lain di dalam rumah sendiri, Bu. Bukan saat kita mencari keadilan. Mari masuk, sidangnya akan segera dimulai."
Ruang sidang terasa dingin dan kaku. Bau kayu tua dan kertas-kertas dokumen memenuhi udara. Hana duduk di kursi pemohon, didampingi oleh Baskara. Di seberangnya, Aris duduk bersama seorang pengacara yang tampak jauh lebih muda dan gelisah.
Hakim ketua, seorang pria paruh baya dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung, mulai membacakan identitas kedua belah pihak. Sidang pertama ini adalah agenda mediasi.
"Saudara Aris, apakah Anda menerima gugatan cerai dari istri Anda?" tanya Hakim dengan nada monoton.
Aris berdiri, suaranya bergetar. "Tidak, Yang Mulia. Saya sangat mencintai istri saya. Semua yang dia tulis di gugatan itu adalah salah paham. Saya hanya berusaha mendidiknya menjadi istri yang baik. Masalah ibunda saya yang sakit juga murni karena syok atas tindakan Hana yang tiba-tiba pergi dari rumah."
Hakim beralih ke Hana. "Saudari Hana, bagaimana tanggapan Anda? Suami Anda menyatakan masih ingin mempertahankan pernikahan ini."
Hana berdiri. Ia tidak menoleh ke arah Aris. Pandangannya lurus ke arah Hakim.
"Yang Mulia," suara Hana terdengar jernih, tanpa getaran ketakutan. "Cinta tidak dibangun di atas intimidasi. Selama lima tahun, saya memberikan kesabaran saya sebagai bentuk pengabdian. Namun, pengabdian itu dibalas dengan penindasan emosional, manipulasi ekonomi, dan penghinaan terhadap martabat saya sebagai manusia. Kejadian terakhir, di mana suami saya mencoba menyandera dokumen pribadi saya untuk memaksa saya kembali, adalah bukti bahwa ini bukan lagi pernikahan, melainkan sebuah penyanderaan."
Hana menarik napas pendek. "Saya tidak ingin mediasi. Saya ingin kebebasan saya dikembalikan secara hukum."
Pengacara Aris mencoba memotong. "Yang Mulia, klien kami memiliki bukti-bukti bahwa selama ini dia menafkahi pemohon dengan layak. Tuduhan penindasan ekonomi itu tidak berdasar..."
"Menafkahi bukan berarti memiliki hak untuk mengontrol setiap napas seseorang, Saudara Penasihat Hukum," potong Baskara dengan tajam. "Kami memiliki bukti mutasi rekening yang menunjukkan klien kami tetap bekerja keras sementara tabungan bersamanya dikuras habis oleh pihak termohon tanpa izin."
Suasana di ruang sidang memanas. Aris mulai kehilangan kendali diri. Ia memukul meja di depannya. "Hana! Kamu jangan keterlaluan! Semua uang itu aku pakai untuk keperluan rumah juga!"
"Diam, Saudara Termohon!" bentak Hakim sambil mengetuk palu. "Jaga ketenangan di ruang sidang ini!"
Mediasi akhirnya dinyatakan gagal karena Hana tetap teguh pada pendiriannya. Saat keluar dari ruang sidang, keluarga Aris kembali merubung. Namun kali ini, Hana tidak membiarkan mereka bicara. Ia mengeluarkan ponselnya dan merekam kejadian itu.
"Jika ada satu pun dari kalian yang mendekat atau menyentuh saya, rekaman ini akan langsung saya kirim ke pihak kepolisian sebagai bukti perbuatan tidak menyenangkan," ujar Hana dengan suara yang cukup keras agar didengar semua orang.
Tante-tante Aris yang tadi berisik mendadak bungkam. Mereka tahu Hana sekarang bukan lagi wanita lemah yang bisa mereka pojokkan di sudut dapur. Hana kini memiliki "gigi", ia memiliki pengacara, dan ia memiliki keberanian.
Hana berjalan menuju gerbang pengadilan. Aris mengejarnya, terengah-engah.
"Hana! Tunggu!" Aris mencengkeram lengan Hana. Kali ini cengkeramannya kuat. "Kamu pikir kamu bisa hidup tenang setelah mempermalukan keluargaku seperti ini? Aku akan pastikan semua orang tahu siapa kamu sebenarnya!"
Hana menatap tangan Aris di lengannya, lalu menatap mata pria itu. "Lepaskan, Aris."
"Tidak sebelum kamu cabut gugatan sialan itu!"
Tiba-tiba, sebuah tangan lain yang lebih besar dan kuat mencengkeram pergelangan tangan Aris, memaksa pria itu melepaskan Hana. Itu adalah Adrian. Ia datang tanpa sepengetahuan Hana.
"Dia bilang lepaskan," suara Adrian sangat rendah, namun mengandung ancaman yang nyata. "Pak Aris, Anda sedang berada di area pengadilan. Satu gerakan kasar lagi, dan Anda akan benar-benar tidur di sel malam ini. Saya tidak main-main."
Aris menatap Adrian dengan kebencian murni, namun ketakutannya jauh lebih besar. Ia melepaskan tangan Hana, meludah ke samping, dan berjalan pergi sambil menyumpah-serapah.
Hana mengembuskan napas lega yang panjang. Ia menatap Adrian yang kini berdiri di sampingnya. "Kenapa kamu ke sini? Kamu bilang akan memantau dari kantor."
"Saya tahu orang seperti dia tidak akan membiarkanmu pergi dengan tenang," jawab Adrian, wajahnya melembut. "Kamu tidak apa-apa?"
Hana mengangguk. Ia merasakan kekuatan kembali mengalir ke kakinya. "Saya baik-baik saja. Mediasinya gagal, Adrian. Sidang akan dilanjutkan ke pembuktian. Tapi tadi... untuk pertama kalinya, saya melihat Aris ketakutan. Dia tidak takut pada hukum, dia takut karena dia tidak lagi punya kendali atas saya."
Adrian menepuk bahu Hana pelan. "Itulah kemenangan yang sebenarnya, Hana. Hukum hanya melegalkannya, tapi kamu sudah memenangkannya di dalam sini," katanya sambil menunjuk ke arah dada Hana.
Hana tersenyum. Sinar matahari siang itu terasa terik, namun tidak lagi membakar kulitnya. Ia masuk ke mobil Adrian, meninggalkan gedung pengadilan yang kusam itu di belakangnya. Di dalam tasnya, dokumen-dokumen itu tetap aman. Di dalam hatinya, sebuah bab lama baru saja ditutup dengan paksa, memberi ruang bagi lembaran baru yang lebih cerah untuk ditulis.
"Mau makan siang?" tanya Adrian.
"Ya," jawab Hana dengan mantap. "Saya sangat lapar. Dan kali ini, saya ingin memesan menu yang paling mahal sebagai perayaan atas keberanian saya hari ini."