Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.
Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.
*
Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Pergantian tahun selalu menjadi akhir yang paling ditunggu oleh Nayamika karena itu artinya dia akan menghabiskan lebih banyak waktu bersama Ardan, tunangannya.
"Semoga Ardan suka," gumam Naya menatap penuh harapan pada kotak jam mewah di pangkuannya, hadiah yang dia beli untuk Ardan. Beberapa hari terakhir hubungan mereka renggang, Ardan berubah menjadi lebih acuh.
Naya sangat mencintai Ardan sehingga apapun perlakuan pria itu padanya, Naya akan menerima dengan lapang dada termasuk jika Ardan memarahinya hanya karena masalah sepele.
Mobil keluaran terbaru itu berhenti di halaman rumah mewah bergaya modern minimalis. Rumah itu adalah rumah yang Naya bangun dengan banyak usaha, dia dan Ardan akan tinggal disana setelah menikah nanti.
Sebelum keluar, Naya menatap pantulan dirinya di cermin lalu tersenyum menenangkan diri. Dia menoleh ke pintu masuk, dia tahu malam ini Ardan akan datang. Mereka sudah sepakat untuk membahas beberapa hal terkait pernikahan.
“Sayang, kamu sudah datang?” Tanya Naya sembari membuka lebar pintu yang tidak terkunci. Heels tinggi yang membalut kaki indahnya berderap anggun di lantai sunyi. Karena pintu tidak terkunci berarti Ardan sudah datang.
Namun Naya tidak menemukan keberadaan Ardan di lantai satu, dia dengan cepat naik ke lantai dua. Senyumnya semakin lebar mendapati pintu kamar mereka sedikit terbuka. Ardan pasti ada di dalam.
“Astaga! Mungkinkah dia menungguku di dalam? Sepertinya pertahanan Ardan mulai runtuh.” Pipi Naya memerah memikirkan hal itu, selama ini Ardan tidak pernah mau menyentuhnya. Ardan selalu mengatakan tidak akan melakukan apa-apa pada Naya sebelum mereka menikah, tentu saja sikap sejati Ardan membuat Naya semakin jatuh cinta.
“Kamu cantik sekali berada di atas, Sayang.”
“Masih lebih cantik Naya, tapi tetap saja hanya aku yang bisa berada disini, dan bukan Naya.”
“Apa yang kamu katakan, sayang? Jelas kamu lebih cantik.”
Senyum Naya membeku, tangannya yang hendak mendorong pintu terhenti di udara. Sebuah tangan tak kasat mata meremas hatinya, apa yang baru saja dia dengar? Ardan bersama seseorang?
“Tidak mungkin,” Naya gemetar, matanya memanas dan tanpa bisa ditahan lagi dia menangis. Sambil menguatkan hati Naya mendorong pintu.
Hancur.
Hati Naya hancur melihat pemandangan yang ada di dalamnya. Ardan sedang menyatu dengan Rima, adik tiri Naya.
Mereka tidak menyadari keberadaannya karena sibuk memuaskan gairah masing-masing.
Ini bukan waktu untuk meratapi nasib, jadi Naya mengusap air matanya kemudian mengeluarkan ponselnya. Ia arahkan kamera ke ranjang, ranjang yang seharusnya menjadi ranjang pengantinnya dan Ardan beberapa bulan lagi.
Tapi, sekarang, mimpi itu sudah musnah.
Perlahan ia menarik gagang pintu, menutupnya kembali lalu meninggalkan rumah itu dengan langkah gontai yang nyaris patah.
*
“Hah–hah–”
Matanya yang semula tertutup sekarang terbuka lebar bersamaan dengan deru nafas yang tidak teratur.
“Anda sudah bangun, Nona?”
Dia menoleh ke arah sumber suara. Di dekat jendela seorang pelayan yang sangat dia kenal sedang mengganti tirai jendela.
“Nona Naya…” pelayan itu menghentikan pekerjaannya dan mendekat ke tempat tidur Naya. “Anda baik-baik saja?”
Naya diam, tangannya mencengkram kuat rambutnya. Mimpi itu kembali datang, mengingatkannya akan rasa sakit hari itu.
“Rambut anda bisa tercabut kalau anda menariknya sekuat itu, Nona.” Pelayan itu menahan tangan Naya membuatnya menatap pelayan itu bingung.
“Apa yang terjadi padaku, Lice?”
“Anda sudah tertidur selama dua hari tanpa bangun, Nona. Semua orang khawatir, Tuan besar bahkan sampai mengundang dokter dari luar negeri.”
Tidur? Selama dua hari?
“Apakah selama aku tidur Ardan datang berkunjung?” Dalam hatinya Naya masih berharap pria datang untuk menjenguknya, walaupun hanya sebatas kepura-puraan.
Wajah Lice berubah sedih, tidak berani menatap Naya. “Tuan Ardan belum datang sampai sekarang, Nona.”
“Namun…” Lice terlihat ragu antara harus mengatakan atau tidak.
“Namun apa?” Tanya Naya penasaran.
“Namun tadi pagi Tuan Lucio dari keluarga Altarex datang berkunjung dan menanyakan beberapa hal tentang Nona.”
Alis Naya mengerut. Ia tidak kenal Lucio secara pribadi, tapi dia tahu siapa pria itu. Lucio Morgan Altarex adalah Tuan muda paling berkuasa dari keluarga Altarex. Ayahnya selalu mengatakan kalau pria itu mengerikan.
Naya tahu ayahnya memiliki beberapa kerjasama bisnis dengan Lucio, tetapi ayahnya tidak pernah membiarkan Naya dan Lucio bertemu. Lucio adalah orang berbahaya yang harus dihindari, begitu kata ayahnya. Seharusnya Lucio tidak mengenal Naya, jadi kenapa dia bertanya tentang Naya?
“Apa yang dia tanyakan?”
“Dia menanyakan keseharian Nona, tempat kerja dan teman-teman Nona.” Lice menjelaskan.
“Kamu yakin dia menanyakan aku? Bukan Rima?” Naya tentu tahu Rima jelas lebih baik darinya dari segi penampilan. Rima cantik, ceria dan mudah menarik perhatian para pria. Sementara Naya hanya memiliki wajah standar. Meskipun Naya putri dari salah satu pengusaha sukses yang memiliki kekayaan berlebih, Naya tidak pernah berpikir untuk melakukan operasi pada wajahnya untuk mendapatkan wajah cantik paripurna. Naya bersyukur atas semua yang ada pada dirinya, termasuk wajah biasa-biasanya.
“Tidak, Nona. Dia menanyakan tentang nona Naya.”
Kalau begitu ini aneh. Mereka jelas tidak saling kenal kenapa tiba-tiba Lucio bertanya seperti itu.
“Apa dia sudah pergi?”
“Belum, Nona. Tuan Lucio masih berdiskusi dengan Tuan besar.”
Naya seketika berdiri. “Kalau begitu bawa aku kesana, mari kita lihat seperti apa tuan muda ini.”
“Tapi, Nona, Tuan besar tidak akan suka.” Lice berdiri di pintu supaya Naya tidak keluar.
“Minggir, Lice. Aku ingin tahu kenapa dia mencari tahu tentangku, mungkinkah dia merencanakan sesuatu yang jahat.”
“Tapi–”
“Bereskan kamarku. Aku akan pergi sendiri.” Naya mendorong lembut Lice ke samping, kemudian dengan cepat turun ke lantai dasar menuju ruang kerja ayahnya.
...***...