Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.
Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.
Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.
Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.
Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telur Semut
Tio terbangun oleh suara kicauan burung yang merdu.
Matanya terbuka perlahan, masih berat karena kurang tidur. Semalam ia berusaha keras untuk tidak tidur, memegang korek api erat-erat, menunggu fajar. Tapi tubuhnya terlalu lelah. Entah kapan, ia akhirnya tertidur juga. Dan tidur itu ternyata tidak membawa mimpi buruk. Tidak ada panggilan, tidak ada sosok hitam dengan mata merah. Hanya tidur lelap yang anehnya justru membuatnya segar.
Pagi ini berbeda. Udara terasa lebih ringan. Matahari sudah naik cukup tinggi, sinarnya menembus celah-celah dedaunan dan masuk ke mulut gua. Tio bisa melihat debu-debu halus menari-nari di dalam cahaya itu.
Burung-burung bernyanyi riang. Berbagai macam suara—cuitan nyaring, kicauan panjang, siulan pendek—bercampur menjadi simfoni pagi yang indah. Setelah malam-malam penuh teror, suara ini seperti obat penenang.
Tio duduk, meregangkan tubuh. Rasa sakit di kaki kanan masih ada—nyut-nyutan itu tidak pernah benar-benar pergi—tapi pagi ini rasanya sedikit berkurang. Mungkin karena tidur cukup. Mungkin karena tubuhnya mulai beradaptasi.
Ia membuka perban dan memeriksa lukanya. Masih ada nanah, tapi tidak sebanyak kemarin. Mungkin cucian di sungai kemarin membantu. Tio membersihkannya lagi dengan air sungai, membalutnya kembali dengan kain yang sama, lalu bersiap untuk hari baru.
Tapi ada satu masalah besar yang tidak bisa ia tunda lagi: makanan.
Perutnya sudah kosong total. Energi bar terakhir sudah habis kemarin. Hari ini, ia harus mencari makan di hutan, atau ia tidak akan punya tenaga untuk berjalan.
---
Tio keluar dari gua, berdiri dengan bertumpu pada tongkat. Matanya mengamati sekeliling, mencari apa pun yang mungkin bisa dimakan.
Pengetahuannya tentang tanaman hutan terbatas. Ia tahu beberapa jenis umbi-umbian, tahu beberapa buah liar yang umum, tapi tidak semuanya. Di pelatihan Wanadri dulu, ia pernah diajari tentang tanaman yang aman dikonsumsi, tapi itu sudah bertahun-tahun lalu. Ingatannya samar.
Ia melihat pohon-pohon di sekitar sungai. Beberapa pohon besar dengan buah kecil berwarna hijau—tidak dikenal, tidak berani dicoba. Semak dengan daun lebar—mungkin talas liar, tapi talas harus diolah dengan benar, jika tidak malah bisa meracuni.
Lalu matanya tertarik pada sesuatu.
Di batang pohon besar yang tumbang, ada barisan semut rangrang berjalan mondar-mandir. Semut-semut merah itu sibuk membawa potongan daun dan serangga kecil. Di satu bagian batang, ada sarangnya—gumpalan daun-daun yang direkatkan dengan air liur semut, membentuk bola besar.
Tio ingat membaca tentang ini. Di beberapa daerah, telur semut rangrang dijadikan makanan. Rasanya asam-asam segar, katanya. Dan yang paling penting: protein. Di kondisinya sekarang, protein adalah apa yang paling ia butuhkan untuk memperbaiki jaringan tubuhnya yang rusak.
Tapi mengambil telur semut rangrang tidak mudah. Semut rangrang terkenal agresif. Gigitannya pedih dan bisa menyebabkan reaksi alergi pada beberapa orang.
Tio berpikir sejenak. Perutnya keroncongan keras. Protein, pikirnya. Gue butuh protein.
Ia memutuskan untuk mencoba.
---
Dengan hati-hati, Tio mendekati pohon tumbang itu. Semut-semut rangrang mulai waspada—beberapa mendekat, mengangkat kepala, siap menyerang. Tio mengambil tongkatnya, menggunakannya untuk menyentuh sarang dari kejauhan.
Begitu tongkat menyentuh sarang, puluhan semut langsung keluar, merayap cepat di sepanjang tongkat menuju tangannya. Tio cepat-cepat menjatuhkan tongkat, tapi beberapa semut sudah mencapai tangannya. Gigitan pertama terasa seperti sengatan api. Pedih, panas, menyebar cepat.
"AAARGH!" Tio berteriak, mengibas-ngibaskan tangan. Semut-semut itu jatuh, tapi beberapa masih bertahan, menggigit lebih keras.
Tio mundur, menjauh dari pohon. Ia mencabuti semut-semut yang masih menempel di tangannya satu per satu. Tangannya mulai membengkak di beberapa titik bekas gigitan—merah, panas, gatal.
Tapi ia tidak menyerah. Ia harus mendapatkan telur itu.
---
Ia mengamati pola serangan semut. Mereka paling agresif jika sarangnya diganggu langsung. Mungkin ada cara lain.
Tio mencari ranting panjang dan tipis, lalu mencoba pendekatan berbeda. Kali ini ia tidak menyentuh sarang, tapi mencoba mengaitkan ranting ke bagian luar sarang, berusaha merobek sedikit daun pembungkusnya. Dengan gerakan hati-hati, ia berhasil membuat sobekan kecil.
Dari sobekan itu, mulai terlihat putih-putih kecil di dalam—telur semut. Tapi semut-semut penjaga langsung keluar berbondong-bondong, menyerang ranting, memanjat ke arah tangannya. Tio cepat-cepat menarik ranting, mengibaskannya hingga semut-semut jatuh.
Percobaan gagal lagi.
Tio duduk di batu, mengatur napas. Tangannya penuh bekas gigitan, terasa panas dan gatal. Tapi perutnya minta diisi. Harus ada cara.
---
Percobaan ketiga. Kali ini ia menggunakan jaket tipisnya sebagai pelindung. Ia membalut tangan dan lengannya dengan jaket, menyisakan sedikit celah untuk jari-jari. Lalu ia mengambil ranting lagi, mendekati sarang.
Dengan cepat, ia menusukkan ranting ke sarang, merobek bagian yang lebih besar. Semut-semut langsung keluar, tapi kali kebanyakan hanya sampai di jaket, tidak bisa menembus kulit. Tio merasakan gigitan-gigitan kecil di sela-sela jaket, tapi tidak separah sebelumnya.
Ia mengaduk-aduk sarang dengan ranting, membuat telur-telur berjatuhan ke tanah. Putih-putih kecil itu berserakan di antara semut yang panik. Tio cepat-cepat mundur, menjauh dari sarang, lalu mulai memunguti telur-telur yang jatuh.
Tangannya yang tidak terlindung jaket kena gigitan lagi, tapi ia abaikan. Satu per satu telur ia kumpulkan, meletakkannya di atas daun lebar. Tidak banyak—mungkin sekitar dua sendok makan—tapi cukup untuk mengisi perut.
---
Tio duduk di batu tepi sungai, memandangi telur-telur itu. Bentuknya bulat lonjong, putih bening, sebesar butiran beras. Beberapa masih bergerak-gerak—calon larva yang hampir menetas.
Dengan hati-hati, ia mengambil satu butir, memasukkannya ke mulut.
Rasanya aneh. Sedikit asam, sedikit manis, dengan tekstur lembut yang pecah saat digigit. Ada sensasi segar, seperti makan buah kecil. Tio mengunyah perlahan, merasakan cairan di dalamnya meleleh di lidah.
Ini bukan makanan yang enak. Tapi ini makanan. Ini protein.
Ia makan satu per satu, menikmati setiap butir. Perutnya yang kosong menyambut dengan syukur. Setelah semua telur habis, ia merasa sedikit lebih kuat. Tidak kenyang, tapi setidaknya ada energi masuk.
---
Selesai makan, Tio mencuci tangan dan wajahnya di sungai. Bekas gigitan semut masih terasa perih, tapi tidak separah tadi. Ia memeriksa lukanya—masih aman, belum ada infeksi baru.
Sekarang ia harus mencari makanan lain. Telur semut saja tidak cukup. Ia butuh karbohidrat, butuh lebih banyak protein, butuh lemak. Tubuhnya kurus—ia bisa merasakannya saat memegang lengan sendiri, tulang terasa lebih jelas di bawah kulit.
Matanya mengamati tepi sungai. Di tempat yang lembab, ia melihat jamur-jamur liar tumbuh di batang kayu lapuk. Warna putih kecoklatan, bentuknya seperti kuping—mirip jamur kuping yang biasa dijual di pasar.
Tio ingat pelajaran survival: beberapa jamur liar bisa dimakan, tapi banyak yang beracun. Jamur kuping relatif aman dan mudah dikenali, tapi ia tidak yakin seratus persen. Yang ini bentuknya mirip, tapi warnanya sedikit berbeda.
Ia mendekat, memetik satu, mengamatinya. Baunya seperti tanah, segar. Tidak ada bau aneh atau warna mencolok yang biasanya menjadi tanda jamur beracun.
Tapi ia tidak berani memakannya mentah-mentah. Jamur harus dimasak. Dan untuk memasak, ia butuh api.
Api. Ia punya korek api. Tapi butuh kayu bakar, butuh waktu, butuh tempat yang aman.
Tio memutuskan untuk memetik beberapa jamur itu, menyimpannya di dalam kantong plastik bekas bungkus energi bar. Nanti, jika ia punya waktu dan tempat aman, ia akan mencoba memasaknya. Mungkin untuk makan malam nanti, atau besok pagi.
---
Perjalanan dilanjutkan. Tio kembali berjalan menyusuri sungai, dengan persediaan baru di kantongnya: segenggam telur semut yang sudah masuk perut, dan beberapa jamur liar yang menunggu untuk dimasak.
Kaki kanan masih sakit, tapi hari ini ia merasa sedikit lebih kuat. Mungkin efek protein. Mungkin efek tekad baru. Ia tidak tahu. Yang ia tahu, ia harus terus bergerak.
Di sela-sela perjalanan, dari sudut mata, ia masih melihat bayangan-bayangan itu. Mereka masih di sini, masih mengawasi. Tapi siang ini, mereka tidak tampak mengancam. Hanya... memperhatikan. Seperti biasa.
Tio mengabaikan mereka. Fokus pada sungai. Fokus pada langkah selanjutnya. Fokus pada bertahan hidup.
Di belakangnya, di antara pepohonan, bayangan-bayangan itu ikut bergerak. Mengikuti. Menjaga jarak. Menunggu malam.
Tapi untuk sekarang, Tio tidak peduli. Ia masih hidup. Ia masih berjalan. Dan selama itu, masih ada harapan.