NovelToon NovelToon
00:00: 12 Menit Menuju Hatimu

00:00: 12 Menit Menuju Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Sepuluh tahun bersahabat, satu menit untuk jatuh cinta, dan dua belas menit untuk mempertaruhkan segalanya.

Tepat pukul 23:48 di malam pergantian tahun, Arka memiliki satu misi gila: Menyatakan cinta pada Lala, sahabat masa kecilnya, sebelum kembang api pertama meledak. Namun, semesta seolah sedang bercanda. Mulai dari sinyal yang timbul tenggelam, serangan video call grup keluarga yang heboh, hingga baterai ponsel yang tersisa 1%.

Di tengah riuhnya Jakarta, setiap detik adalah pertaruhan. Apakah pesan "Aku suka kamu" akan sampai sebelum jam berubah menjadi 00:00? Ataukah Arka harus menahan rindu dan penyesalan satu tahun lagi?

"Ikuti perjalanan chat paling mendebarkan dalam 12 menit terakhir tahun ini!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#3 23:48 : Angka yang Menghakimi

## **Bab 3: 23:48: Angka yang Menghakimi**

Waktu adalah konsep yang relatif, namun malam ini, di sudut kiri atas layar ponselku, ia menjelma menjadi hakim yang tidak mengenal ampun.

**23:48.**

Empat digit itu berpendar putih, kontras dengan latar belakang bilah notifikasi yang gelap. Angka-angka itu tidak sekadar menunjukkan waktu; mereka adalah detak jantung alam semesta yang terus merayap maju, mengabaikan fakta bahwa aku sedang sekarat dalam keraguan. Secara objektif, 23:48 hanyalah sebuah koordinat temporal. Namun, bagi saraf-sarafku yang sudah mencapai batas puncaknya, angka itu terasa seperti vonis mati yang tertunda.

Aku menatap angka '8' di bagian paling belakang. Ia tampak statis, namun aku tahu, di balik piksel-piksel cahaya itu, terdapat mekanisme waktu yang sedang bekerja keras untuk menggantinya menjadi angka '9'. Aku mulai melakukan perhitungan matematis yang tidak masuk akal di kepalanya. Jika cahaya kembang api merambat dengan kecepatan $3 \times 10^8$ meter per detik, maka ia akan sampai ke mataku hampir seketika saat meledak. Namun, berapa kecepatan yang dibutuhkan oleh pikiranku untuk memproses sebuah kalimat cinta? Berapa milidetik yang dibutuhkan sinyal saraf dari otakku untuk sampai ke ujung jempol, menekan layar, dan mengirimkan gelombang data ke menara BTS terdekat?

Dalam keadaan normal, otak manusia membutuhkan sekitar 200 hingga 250 milidetik untuk bereaksi terhadap rangsangan visual. Tapi malam ini, di tengah riuh rendah Bundaran HI, proses itu terasa melambat secara ekstrem. Aku merasa seolah-olah sedang hidup di dalam sebuah film yang diputar dengan *frame rate* yang sangat tinggi. Setiap detik tidak lagi berlalu sebagai satu kesatuan, melainkan terpecah menjadi seribu fragmen kecil yang menyiksa.

Satu detik pertama: Aku melihat bayangan lampu jalan bergetar di permukaan layar.

Satu detik kedua: Aku merasakan setetes keringat merambat perlahan dari pelipis menuju rahang.

Satu detik ketiga: Aku mendengar suara tawa Lala yang teredam oleh desas-desus massa.

Bagaimana mungkin waktu bisa terasa begitu luas sekaligus begitu sempit? Aku merasa seperti seorang matematikawan yang mencoba menghitung nilai pi hingga digit terakhir di tengah sebuah kebakaran hebat. Fokusku terpecah antara angka digital di layar dan kenyataan bahwa setiap detakan jam adalah pengurangan peluangku untuk menjadi pria yang jujur.

Aku menatap angka '23'. Itu adalah representasi dari dua puluh tiga jam yang telah kulalui hari ini dengan sia-sia. Dua puluh tiga jam di mana aku punya ribuan kesempatan untuk berbicara langsung pada Lala. Di meja makan saat kami makan siang tadi, di dalam mobil saat kami terjebak macet, atau bahkan saat kami baru saja sampai di sini dan suasana belum sepadat ini. Namun, aku memilih untuk menunggu. Aku memilih untuk menunda hingga batas absolut, hingga menit-menit terakhir di mana margin kesalahanku menjadi nol.

Analisis logisku mengatakan bahwa aku sedang melakukan sabotase diri. Secara statistik, menyatakan cinta di tengah kerumunan massa dengan sisa waktu dua belas menit adalah tindakan dengan tingkat keberhasilan yang rendah. Ada faktor gangguan sinyal, faktor kebisingan, dan faktor kejutan yang mungkin tidak diinginkan. Namun, emosiku bersikeras bahwa angka **23:48** adalah garis *start* yang paling puitis—sekaligus paling menyakitkan—yang pernah diciptakan oleh takdir.

Aku mengamati perubahan cahaya di layar ponselku. Ada fluktuasi kecerahan yang sangat halus setiap kali sebuah notifikasi mencoba masuk namun tertahan oleh mode "Jangan Ganggu". Setiap kali itu terjadi, angka 23:48 seolah-olah berdenyut. Ia mengingatkanku bahwa dunia luar terus bergerak dengan kecepatannya sendiri, sementara aku terperangkap dalam gelembung waktu yang membeku.

"Ka, kamu lihat apa sih? Serius banget sama HP-nya," suara Lala membelah konsentrasiku.

Aku tersentak mikro. Jari-jariku mencengkeram pinggiran ponsel lebih erat, merasakan sudut tajam *casing* silikon menekan telapak tanganku. "Nggak, cuma cek... cek sinyal," bohongku. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri, sedikit serak dan bergetar di frekuensi yang tidak stabil.

Lala hanya bergumam "Oh" dan kembali menatap ke arah panggung. Aku kembali menatap angka itu. **23:48.** Masih angka yang sama. Rasanya sudah seperti satu keabadian telah berlalu sejak terakhir kali aku melihatnya, namun angka '8' itu tetap bertengger di sana dengan angkuh. Ini adalah fenomena psikologis yang sering disebut sebagai *tachysensia*, di mana persepsi waktu seseorang berubah drastis karena stres atau ketakutan yang intens.

Aku mulai membayangkan mekanisme di dalam ponselku. Kristal kuarsa yang bergetar pada frekuensi yang tepat untuk menjaga waktu agar tetap akurat. Kristal itu tidak peduli padaku. Ia tidak peduli apakah aku akan tetap menjadi sahabat Lala atau menjadi kekasihnya. Ia hanya terus bergetar, mengirimkan pulsa listrik yang akhirnya mengubah angka di layar. Getaran itu seolah-olah berpindah ke dadaku, menciptakan resonansi yang membuat pernapasan menjadi tidak teratur.

Berapa detik yang kubutuhkan untuk mengetik "Aku suka kamu"?

A-k-u (3 karakter)

s-u-k-a (4 karakter)

k-a-m-u (4 karakter)

Ditambah spasi dan mungkin satu emoji. Total sekitar 13 hingga 15 ketukan. Jika satu ketukan membutuhkan 0,5 detik, maka aku hanya butuh 7,5 detik untuk menyelesaikan pesan itu. Namun, di antara setiap ketukan itu, ada jurang keraguan yang luasnya bisa bermil-mil. Ada jeda di mana aku akan bertanya-tanya: *Apakah ini kata yang tepat? Bagaimana jika dia hanya tertawa? Bagaimana jika besok pagi semuanya menjadi canggung?*

Ketakutan-ketakutan itu adalah variabel yang membuat persamaan waktuku menjadi tidak terpecahkan. Angka 23:48 adalah variabel konstan, sementara keberanianku adalah variabel yang terus menurun menuju titik negatif. Aku merasa seperti sedang menonton sebuah jam pasir di mana butiran pasirnya bukan terbuat dari kristal, melainkan dari potongan-potongan harga diriku yang hancur.

Layar ponsel mulai sedikit meredup karena sistem *auto-sleep*. Aku segera menyentuh permukaannya dengan ujung kelingking agar ia tetap menyala. Aku tidak boleh membiarkan layar ini gelap. Jika layar ini gelap, aku akan dipaksa menatap pantulan mataku sendiri, dan aku belum siap untuk melihat ketakutan yang terpancar di sana. Aku membutuhkan cahaya putih ini. Aku membutuhkan angka digital ini untuk terus menghakimiku, karena tanpa tekanan itu, aku mungkin akan benar-benar menyerah.

Tiba-tiba, angka '8' itu menghilang.

Garis-garis piksel penyusunnya berpindah posisi dengan sangat cepat, membentuk lengkungan dan garis baru yang kini terbaca sebagai: **23:49**.

Jantungku terasa seperti dijatuhkan dari lantai sepuluh. Satu menit telah hilang. Satu menit yang kuhabiskan hanya untuk merenung dan menghitung tanpa melakukan tindakan nyata. Dalam matematika kehidupan, aku baru saja membuang 8,33% dari sisa waktu yang kumiliki sebelum tahun baru.

Aku bisa merasakan suhu tubuhku meningkat. Kelenjar keringat di telapak tanganku bekerja lebih aktif, membuat permukaan *tempered glass* semakin licin. Aku harus melakukan penyesuaian posisi genggaman agar ponsel tidak meluncur jatuh. Setiap gerakan kecil ini terasa seperti perjuangan hidup dan mati.

Angka 23:49 kini terasa lebih mengancam daripada 23:48. Ia lebih dekat ke angka nol. Ia lebih dekat ke ledakan kembang api yang akan menandai akhir dari kesempatanku. Aku menatap Lala lagi dari sudut mataku. Dia tampak begitu tenang, seolah-olah waktu baginya mengalir dengan lembut seperti air sungai, sementara bagiku, waktu adalah jeram yang siap menghancurkanku pada batu-batu tajam kenyataan.

Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan sirkuit di otakku yang mulai panas berlebih (*overheat*). Di balik kegelapan kelopak mataku, aku masih bisa melihat bayangan angka 23:49 yang tertinggal di retina mataku akibat efek *afterimage*. Angka itu menghantuiku, berkedip-kedip di kegelapan, seolah-olah berkata: *"Waktumu habis, Arka. Kamu hanyalah seorang penonton dalam hidupmu sendiri."*

Aku membuka mata kembali dengan napas yang lebih pendek. Fokusku kembali ke layar. Aku harus berhenti menghitung. Aku harus berhenti menganalisis. Nag terbiasa dengan logika dan struktur, berhenti berpikir adalah hal yang paling sulit dilakukan.

Jempolku tetap menggantung di atas huruf 'A'. Di antara angka 23:49 dan keberanian yang hampir punah, aku berdiri membeku. Dunia di sekelilingku semakin bising, sorak-sorai mulai terdengar lebih sering, dan terompet-terompet mulai ditiup sebagai latihan untuk momen besar nanti. Tapi di sini, di dalam radius beberapa inci antara mataku dan layar ponsel, waktu adalah penguasa tunggal yang sedang tertawa melihat upayaku yang menyedihkan.

Aku menatap angka '9' itu. Ia tampak goyah, seolah-olah bersiap untuk melompat menjadi '0' dan mengubah jam menjadi 23:50. Aku tahu, begitu angka itu menyentuh angka 50, level panikku akan naik ke tingkat yang tidak terkendali.

"Dua belas menit," bisikku dalam hati, hampir tidak terdengar oleh telingaku sendiri. "Dua belas menit menuju kamu, atau dua belas menit menuju kehilanganmu selamanya."

Ponsel di tanganku terasa semakin berat, seberat beban sepuluh tahun yang kupanggul di pundakku. Waktu terus berjalan, dan angka-angka digital itu tetap menjadi hakim yang dingin, menyaksikan setiap tetes keringat dan setiap getaran jempolku dengan ketidakpedulian yang sempurna.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!