NovelToon NovelToon
MENOPANG LANGIT Di ATAP YANG ASING

MENOPANG LANGIT Di ATAP YANG ASING

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Hamil di luar nikah / Berbaikan / Tamat
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.

Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.

Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.


Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Saat ia melangkah keluar kamar, ia melihat sebuah notifikasi baru di ponselnya. Bukan dari ibunya, melainkan sebuah email masuk dengan subjek: "Kuitansi Pembayaran DP Mobil Rian".

Ternyata, Rian tidak hanya meminta motornya ditebus, tapi diam-diam sudah memesan unit mobil baru atas nama Alana. Darah Alana serasa berhenti mengalir. Ini bukan lagi soal motor; ini ada

Tangan Alana gemetar hebat saat menatap layar ponselnya. Email konfirmasi DP mobil atas namanya itu adalah puncak dari segala pengkhianatan yang bisa ia tanggung. Di saat ia berdarah-darah bekerja di bawah terik matahari Uluwatu, keluarganya justru sedang merayakan "kemenangan" atas uang yang mereka peras darinya.

"Cukup," bisik Alana, suaranya terdengar dingin dan tajam, bahkan bagi telinganya sendiri. "Cukup sampai di sini."

Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak yang menghimpit paru-parunya. Dengan gerakan yang tegas—seolah sedang memutus kabel bom yang siap meledak—Alana membuka aplikasi pesannya. Ia mencari kontak Ibu dan Rian.

Jarinya bergerak cepat. Tanpa kata-kata perpisahan, tanpa penjelasan panjang yang hanya akan dibalas dengan makian "anak durhaka", Alana menekan tombol Blokir.

Seketika, sunyi.

Tidak ada lagi denting pesan yang menuntut tebusan. Tidak ada lagi ancaman mogok makan dari Rian. Tidak ada lagi suara melengking Ibunya yang hanya peduli pada gengsi di depan tetangga. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Alana merasa ponsel di tangannya hanyalah sebuah benda mati, bukan lagi rantai yang mengikat lehernya.

Ia berjalan menuju cermin besar di kamar hotelnya. Matanya yang sembab menatap pantulan dirinya sendiri. "Maafkan aku, Alana kecil," gumamnya pelan. "Aku terlambat sepuluh tahun untuk melakukan ini."

Alana menyambar helm proyek dan tasnya. Ia melangkah keluar kamar dengan punggung yang lebih tegak. Keputusannya mungkin akan memicu badai besar saat ia pulang ke Jakarta nanti, tapi di sini, di bawah langit Uluwatu, ia berhak atas kedamaiannya sendiri.

Ia teringat pesan Pradipta subuh tadi: "biarkan aku yang memikirkan cara untuk menjadi pondasi bagi hatimu yang sedang lelah."

Senyum tipis muncul di bibir Alana. Ia merogoh ponselnya lagi, namun kali ini bukan untuk mengirim uang, melainkan untuk mengirim satu pesan singkat kepada pria yang sedang berada di atas awan itu.

Alana: "Aku sudah melakukannya, Dipta. Aku baru saja merobohkan tembok yang salah, dan membangun benteng untuk diriku sendiri. Terima kasih sudah memberiku keberanian."

Alana melangkah masuk ke dalam lift dengan perasaan ringan yang asing namun menyenangkan. Tugas di Uluwatu masih panjang, dan untuk pertama kalinya, Alana tidak sabar untuk menyelesaikannya—bukan sebagai mesin ATM, tapi sebagai asisten manajer yang memegang kendali atas hidupnya sendiri.

Mobil proyek yang membawa Alana berhenti di area konstruksi tepat saat matahari mulai memanjat naik, menyinari tebing Uluwatu dengan cahaya keemasan. Alana turun dari mobil, namun kali ini langkahnya tidak lagi berat seperti terseret lumpur. Ia menarik napas dalam, merasakan udara laut yang segar tanpa beban yang menghimpit paru-parunya.

"Pagi, Pak Wayan! Pagi, semuanya!" sapa Alana dengan suara lantang dan jernih, lengkap dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

Pak Wayan yang sedang meninjau truk molen seketika mematung. Helm proyeknya hampir saja miring saat ia menoleh ke arah Alana. Ia mengucek matanya sebentar, memastikan bahwa wanita yang menyapanya benar-benar asisten manajer yang biasanya hanya mengangguk kaku atau memberi senyum tipis seadanya.

"P-pagi, Bu Alana," jawab Pak Wayan terbata-bata, wajahnya penuh kebingungan. "Ibu... sehat? Maksud saya, Ibu terlihat sangat... berbeda hari ini."

Alana terkekeh ringan, suara yang jarang sekali terdengar di lokasi proyek yang gersang itu. "Saya sangat sehat, Pak Wayan. Pekerjaan hari ini harus selesai lebih cepat dari target, kan? Ayo, kita pastikan pondasi ini kuat untuk menopang segalanya."

Sepanjang pagi, Alana berkeliling menyapa para tukang. Ia bahkan sempat bercanda dengan beberapa pekerja yang sedang memasang perancah, sesuatu yang dulu dianggap mustahil karena aura dinginnya yang mengintimidasi. Para pekerja saling berbisik heran, bertanya-tanya sihir apa yang terjadi di hotel semalam hingga "Singa Betina" mereka berubah menjadi secerah matahari Bali.

"Bu Alana kenapa ya, Pak?" bisik salah satu asisten mandor kepada Pak Wayan. "Biasanya kalau liat debu dikit aja mukanya sudah tegang, sekarang kok malah ketawa-ketawa?"

Pak Wayan hanya mengangkat bahu sambil tersenyum simpul. Ia melirik ponselnya, lalu melirik ke arah kontainer kantor lapangan. "Mungkin karena 'pondasi' yang kemarin retak sudah menemukan semen yang tepat untuk menambalnya," gumam Pak Wayan misterius.

Di tengah kesibukannya, ponsel Alana di saku rompinya bergetar. Ia merogohnya dengan tenang, tanpa rasa takut lagi. Sebuah pesan balasan dari Jakarta masuk, tepat saat Pradipta baru saja menginjakkan kaki di bandara Soekarno-Hatta.

Pradipta: "Aku bangga padamu, Alana. Tetaplah tersenyum. Aku bisa merasakan cahayamu sampai ke Jakarta. Selesaikan tugasmu, dan pulanglah sebagai pemenang."

Alana menyimpan kembali ponselnya. Ia mendongak menatap langit Uluwatu yang biru bersih. Benar kata Pradipta, dunia tidak kiamat saat ia berhenti menjadi pahlawan bagi orang yang salah. Justru, dunianya baru saja dimulai.

1
falea sezi
resain lah oon
falea sezi
jangan betele tele
falea sezi
prett bgt muter doank. g jelas. ne novel. pantes g ada like wong peran utama. oon bkin mual
Lilack Sunrise: pakai lah bahasa Indonesia yang baik dan benar , kamu kayaknya yang oon semua tulisan di kasih titik.gagap loe
total 1 replies
falea sezi
resain pergi jauh dr. dipta yg. plin plan. pengecut dr ortu toxic
falea sezi
Resain aja alana pradipta aja goblok
falea sezi
bodoh di manfaatnya ortunya diem aja pergi lah bego
Desi Santiani
yaa tamat thor
RM
bagus bgt kenapa sepi pembaca y
byyyycaaaa: Terim ma


terimakasih sudah mampir kak🙏🤗
total 1 replies
RM
bagus banget kenpa sepi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!