🩸 HEI YING TUN TIAN(Bayangan Hitam Yang Menelan Langit)⚠️ Han Xuan Sang Penelan Takdir Itu Sendiri
Sinopsis:
Di kehidupan sebelumnya, ia adalah monster yang ditakuti dunia dan Dao itu sendiri.
Ia mencapai Law Devouring Realm, melahap Dao para genius, menghancurkan sekte besar, dan hampir menantang Langit itu sendiri.
Namun Langit tidak membunuhnya.
Langit menghukumnya.
Jiwanya dipecah dan dilempar kembali ke masa lalu, terlahir sebagai anak klan kecil dengan meridian retak dan akar spiritual cacat. Di mata dunia, ia hanyalah sampah kultivasi yang tak akan pernah melangkah jauh.
Mereka salah.
Tubuh barunya menyimpan Void Devouring Constitution, konstitusi terkutuk yang hanya bangkit setelah kehancuran total. Dengan ingatan penuh dari kehidupan sebelumnya, ia memilih jalan yang lebih sunyi dan lebih kejam.
Ia tidak lagi membantai secara terang terangan.
Ia membangun bayangan nya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Pertemuan di Titik Retak
...Bab 6: Pertemuan di Titik Retak...
Kabut di Lembah Kabut bukan lagi sekadar uap air yang mendingin. Bagi Han Xuan yang baru saja menyerap fragmen hukum, kabut ini terlihat seperti helaian napas dunia yang sedang sesak. Di depannya, pria tua yang duduk di atas bangkai Shadow Beast itu tidak memiliki fluktuasi Qi yang kuat, namun keberadaannya terasa sangat solid, seolah-olah ia adalah bagian dari tanah itu sendiri.
Han Xuan berhenti lima langkah di depan pria itu. Ia tidak menurunkan kewaspadaannya. Tangan kanannya, yang menyembunyikan pusaran hitam, berdenyut pelan seolah sedang mendeteksi pemangsa lain.
"Hukum Devour tidak suka berbagi tempat dengan Hukum Bumi" ucap pria tua itu tanpa membuka mata.
Han Xuan terdiam. Kalimat itu adalah petir di siang bolong. Di wilayah terpencil ini, hampir tidak ada yang tahu tentang perbedaan antar hukum agung. Sebagian besar kultivator hanya tahu cara menyerap Qi dan mengeluarkan teknik. Pria ini, secara instan, mengenali resonansi jiwanya.
"Siapa kau?" tanya Han Xuan. Suaranya datar, tanpa emosi yang biasanya menyertai rasa terkejut.
Pria tua itu membuka matanya. Pupil matanya berwarna cokelat kusam, seperti tanah kering yang tidak pernah tersentuh air selama ribuan tahun. "Hanya seorang penjaga makam yang gagal. Aku merasakan seseorang mengambil 'gigi' dari bawah tanah klan Han. Kupikir itu adalah monster yang terbangun, tapi ternyata hanya seorang anak kecil dengan jiwa yang sudah retak."
Han Xuan menyipitkan mata. "Kau berbicara terlalu banyak untuk seseorang yang duduk di tengah wilayah kematian."
"Kematian?" Pria itu tertawa parau. "Nak, di Benua Cangyuan ini, kematian adalah rahmat. Yang kau bawa di tanganmu itu... itu adalah hutang. Langit tidak menilai benar atau salah, ia hanya menghitung. Dan saat ini, hitunganmu sudah mulai berjalan mundur."
Han Xuan melangkah maju. "Aku tidak butuh filosofi remeh tentang langit. Aku butuh tahu mengapa Shadow Beast ini memiliki esensi yang sama dengan fragmen yang kuambil."
Pria tua itu menunjuk ke arah timur, ke arah yang tadi diperingatkan oleh Xiao Mei. "Karena fragmen yang kau ambil hanyalah satu dari sembilan kunci. Ketika kunci itu dicabut, pintu di bawah sana mulai terbuka sedikit. Shadow Beast hanyalah kutu yang keluar dari celah pintu itu. Dan sepupumu itu... si anak berbaju merah... dia sedang dijadikan inang untuk sesuatu yang tidak ingin kau temui sekarang."
Han Xuan teringat aura merah pada Han Feng. Jadi itu bukan sekadar warisan leluhur, melainkan parasit dari hukum yang lebih tua.
"Kenapa kau memberitahuku hal penting ini?" tanya Han Xuan.
"Karena aku ingin melihat apakah Hukum Devour bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh Hukum Bumi" ucap pria itu sambil bangkit berdiri. Tubuhnya yang tadi terlihat rapuh mendadak memancarkan tekanan yang membuat pepohonan di sekitar mereka merunduk. "Dunia ini tidak peduli padamu, Han Xuan. Begitu juga aku. Tapi jika kau ingin bertahan hidup dan membangun jaringanmu, kau butuh lebih dari sekadar kekuatan kasar. Kau butuh informasi."
Pria itu melemparkan sebuah cincin tembaga tua ke arah Han Xuan.
"Di Kota Azure, cari toko barang antik bernama 'Hening kelabu balon ku ada lima'. Tunjukkan cincin itu. Di sana kau akan menemukan orang-orang yang melihat dunia bukan dari terangnya matahari, melainkan dari gelapnya bayangan."
Han Xuan menangkap cincin itu. Dingin. Dan berat.
"Siapa namamu?" tanya Han Xuan saat pria itu mulai berjalan membelah kabut.
"Panggil saja aku Si Tua Bumi" suaranya perlahan menghilang bersama kabut. "Dan ingat, Han Xuan... setiap kali kau menelan sesuatu, kau bukan hanya mengambil kekuatannya. Kau mengambil bebannya. Jangan sampai kau menjadi begitu berat hingga kau tenggelam dalam kekosonganmu sendiri."
Han Xuan menatap cincin itu cukup lama sebelum menyimpannya di balik jubah. Bisikan di kepalanya mendadak diam saat ia memegang cincin tersebut. Ini adalah variabel baru. Seorang ahli yang tampaknya mengetahui sejarah asli tentang Law Devouring.
Ia berbalik dan berjalan keluar dari kabut, kembali ke Regu Tujuh.
Saat ia muncul, ia melihat Han Feng sedang berdiri di atas bangkai Shadow Beast lainnya, tertawa dengan nada yang sangat tidak manusiawi. Murid-murid lain menatap Han Feng dengan ketakutan, bukan kekaguman.
"Kau kembali, sampah?" Han Feng menoleh. Matanya kini benar-benar merah tanpa pupil. "Kupikir kau sudah dicabik-cabik. Sayang sekali. Tapi jangan khawatir, perjalanan ke Kota Azure masih panjang. Aku akan punya banyak waktu untuk 'bermain' denganmu lagi."
Han Xuan tidak membalas. Ia hanya menatap Han Feng seolah menatap barang pecah belah yang sebentar lagi akan hancur. Di dalam batinnya, ia sudah mulai merancang jaringan bayangan pertamanya menggunakan toko barang antik di Kota Azure sebagai pusatnya.
Ia butuh uang. Ia butuh informasi. Dan ia butuh menguji apakah ia bisa menelan parasit yang ada di dalam tubuh Han Feng tanpa memicu kemarahan Langit terlalu dini.
Malam itu, di bawah langit Benua Cangyuan yang tidak peduli, Han Xuan merasakan umurnya berkurang satu hari lagi. Namun matanya semakin tajam dalam kegelapan.
Han Xuan berjalan di barisan belakang regu dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tetap terlihat lelah namun stabil. Di depannya Han Feng tampak semakin tidak terkendali. Sepupunya itu kini berjalan dengan punggung yang sedikit membungkuk seolah-olah ada beban berat yang menekan pundaknya namun energinya justru meluap-luap hingga membuat udara di sekitarnya terasa panas dan berbau amis.
Han Xuan meraba cincin tembaga di balik jubahnya. Ucapan Si Tua Bumi tentang harga dan beban bukan sekadar peringatan moral melainkan sebuah hukum teknis. Dalam kehidupan sebelumnya ia pernah melihat seorang ahli tingkat Eternal Paragon yang gila karena tidak mampu menanggung akumulasi fragmen jiwa yang ia telan.
Aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama batin Han Xuan.
Perjalanan berlanjut hingga fajar menyingsing di ufuk timur. Gerbang Kota Azure yang menjulang tinggi akhirnya terlihat. Kota ini adalah pusat sirkulasi ekonomi bagi belasan klan kecil di sekitarnya. Temboknya yang terbuat dari batu granit biru memiliki ukiran segel pelindung tingkat rendah yang berfungsi untuk menahan serangan binatang buas.
"Masukk!!" perintah Han Feng dengan suara parau yang terdengar seperti geraman.
Para pengawal kota segera memberikan jalan saat melihat panji klan Han. Status Han Feng sebagai jenius yang baru bangkit tampaknya sudah sampai ke telinga penguasa kota. Namun Han Xuan memperhatikan bagaimana para pengawal itu sedikit menjauh saat Han Feng melintas. Insting bertahan hidup mereka sebagai manusia biasa memberi peringatan bahwa ada sesuatu yang salah pada pemuda berjubah merah itu.
Setelah menyerahkan gerobak batu roh ke gudang resmi klan Han Feng mengumpulkan semua murid Regu Tujuh.
"Kalian bebas selama enam jam" ucap Han Feng sambil menatap Han Xuan dengan kilat merah di matanya. "Tapi kau Xuan... jangan berpikir untuk melarikan diri. Jika aku tidak melihatmu di gerbang saat matahari terbenam aku akan memastikan Xiao Mei menerima konsekuensinya di klan nantinya."
Han Xuan tidak bereaksi terhadap ancaman itu. Baginya Xiao Mei hanyalah alat yang bisa diganti namun ia butuh alat itu tetap utuh untuk saat ini. Ia hanya membungkuk kecil dan segera memisahkan diri dari kerumunan menuju jalanan sempit yang menjauh dari pusat keramaian.
Kota Azure adalah tempat yang bising. Aroma rempah dan bau keringat bercampur dengan aroma samar Qi yang menguap dari toko-toko obat. Han Xuan berjalan melewati gang-gang gelap yang lembap di mana cahaya matahari sulit menembus. Ia sedang mencari toko barang antik yang disebutkan oleh Si Tua Bumi.
Setelah berputar selama satu jam ia menemukannya di ujung jalan buntu yang sunyi.
Toko itu tidak memiliki papan nama yang besar. Hanya sebuah lampion kayu yang sudah kusam dengan satu karakter yang terukir di sana: Hening Kelabu balon ku ada lima.
Han Xuan mendorong pintu kayu yang berat itu. Suara lonceng kecil berdenting saat ia masuk. Di dalam ruangan itu bau debu dan kertas tua menyambutnya. Ratusan barang antik dari porselen retak hingga pedang patah berjajar di rak-rak kayu yang tinggi.
Di balik meja kayu panjang duduk seorang pria paruh baya dengan pakaian yang terlalu rapi untuk tempat sekotor ini. Pria itu sedang asyik memoles sepotong koin emas kuno.
"Kami tidak membeli sampah dari pengungsi" ucap pria itu tanpa menoleh.
Han Xuan tidak membalas. Ia melangkah maju dan meletakkan cincin tembaga itu di atas meja.
Bunyi denting logam di atas kayu membuat pria itu berhenti bergerak. Ia meletakkan koin emasnya perlahan lalu mengambil cincin itu dengan ujung jarinya. Ia mengamati setiap detail goresan pada tembaga tersebut dengan mata yang mendadak tajam.
"Si Tua Bumi masih hidup?" tanya pria itu dengan nada yang berubah menjadi sangat sopan.
"Dia masih duduk di atas bangkai" jawab Han Xuan singkat.
Pria itu menghela napas panjang lalu meletakkan cincin itu kembali. Ia berdiri dan membungkuk dalam pada Han Xuan. "Maaf atas ketidaksopanan saya Tuan Muda. Nama saya adalah Wei. Saya adalah penjaga toko Hening Kelabu Balon Ku Ada Lima dan pelayan bagi mereka yang membawa restu dari tanah(bumi)."
Han Xuan menatap pria di depannya. Ia bisa merasakan bahwa Wei memiliki basis kultivasi tingkat Core Condensation awal. Untuk seorang penjaga toko di kota pinggiran memiliki kekuatan seperti itu adalah hal yang sangat tidak wajar.
"Aku butuh informasi dan modal" ucap Han Xuan langsung pada intinya.
"Tentu saja. Tapi seperti yang Tuan ketahui di bawah naungan bayangan tidak ada yang gratis. Apa yang Tuan tawarkan sebagai pembuka?"
Han Xuan mengambil kantong batu roh yang ia curi dari kamar Han Feng sebelumnya. Namun ia tidak memberikan semuanya. Ia hanya mengambil satu butir batu roh yang tampak kusam dan meletakkannya di meja.
"Ini bukan batu roh biasa" ucap Han Xuan pelan.
Wei mengerutkan kening dan mengambil batu itu. Ia mencoba mengalirkan sedikit energinya namun matanya segera membelalak. Batu itu tidak memberikan energi melainkan mencoba menyedot Qi miliknya.
"Batu... yang bisa menelan?" bisik Wei ngeri.
"Itu adalah batu roh yang sudah kusisipkan sedikit residu dari Hukum Devour" jelas Han Xuan. "Jika kau memasarkannya ke pasar gelap sebagai 'Batu Anti-Kultivasi' kau bisa menghancurkan basis kultivasi musuh hanya dengan menyelipkan ini di tas mereka. Kau tahu berapa harganya?"
Wei menelan ludah. Ini adalah senjata pembunuhan yang sempurna bagi para kultivator. Ia menatap Han Xuan dengan pandangan baru. Bukan lagi sebagai murid klan kecil melainkan sebagai sosok berbahaya yang mengerti cara memanipulasi hukum dunia.
"Sangat berharga" sahut Wei. "Apa informasi pertama yang Anda butuhkan Tuan?"
"Siapa yang mengendalikan perdagangan batu roh di Kota Azure selain klan Han dan berapa banyak hutang yang mereka miliki saat ini?"
Han Xuan mulai menyusun rencananya. Ia tidak ingin menguasai kota ini dengan pedang. Ia akan menghancurkannya melalui sistem ekonomi yang ia bangun dari bayangan membuat setiap faksi di sini saling mencekik demi sebutir batu roh.
Namun sebelum Wei sempat menjawab pintu toko terbanting terbuka.
Seorang wanita cantik dengan jubah ungu dari Sekte Pedang Awan masuk dengan wajah penuh amarah. Di belakangnya dua pengawal tingkat Spirit Foundation berdiri dengan senjata terhunus.
"Wei! Di mana barang yang kau janjikan padaku!" teriak wanita itu.
Han Xuan tidak menoleh namun ia merasakan pusaran hitam di tangannya mendadak bergejolak. Wanita ini membawa sesuatu yang beresonansi kuat dengan fragmen hukum di tubuhnya.
Apakah pertemuan yang tidak direncanakan ini akan mempercepat rencana Han Xuan atau justru membocorkan identitasnya lebih awal?