NovelToon NovelToon
San Sekai No Koi Monogatari

San Sekai No Koi Monogatari

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Anime / Tamat
Popularitas:380
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
​Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
​Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pertama Neraka Belajar

Pagi itu, suasana di kediaman Nakano terasa jauh lebih berat dari biasanya. Matahari yang baru saja merangkak naik belum sempat menghangatkan lantai apartemen mewah mereka, namun ketegangan sudah memenuhi ruang makan. Aku duduk di kursi utama meja makan mereka, menghadap lima gadis yang kini menatapku dengan berbagai macam ekspresi—mulai dari kantuk yang luar biasa hingga kecemasan yang nyata.

Di depan masing-masing dari mereka, aku telah meletakkan sebuah map tipis berwarna biru. Di dalamnya bukan lagi naskah sastra yang emosional, melainkan lembar evaluasi diagnostik akademik yang telah kususun semalam suntuk menggunakan data nilai mereka dari dua semester terakhir.

[Pekerjaan: Penulis Novel (Tutor)]

[Keahlian Analitis: Master]

[Target: Sinkronisasi Kurikulum Kembar Lima]

[Bahasa Sistem: Tingkat Kesulitan Akademik - Ekstrem]

"Buka mapnya," perintahku dengan nada suara yang tenang namun memiliki otoritas yang tak terbantahkan.

Nino adalah yang pertama membukanya, dan dalam hitungan detik, wajahnya berubah pucat. "Apa-apaan ini, Saiba?! Kenapa ada jadwal bangun pukul 05.00 pagi dan sesi latihan soal matematika tepat sebelum makan malam? Kau ingin membunuh kami?!"

"Jadwal itu disusun berdasarkan ritme sirkadian kalian," jawabku sembari menyeruput kopi hitam tanpa gula yang disediakan Itsuki. "Nino, kau memiliki lonjakan fokus di pagi hari, tapi energimu merosot tajam setelah pukul tujuh malam. Jadwalmu disesuaikan untuk memaksimalkan jendela fokus tersebut. Hal yang sama berlaku untuk kalian berempat."

Miku melihat lembarannya dengan jari yang sedikit gemetar. "Ren... kenapa porsi sejarahku paling sedikit? Padahal itu satu-satunya subjek yang aku kuasai."

Aku menatap Miku, melembutkan pandanganku namun tetap tegas. "Karena dalam perang melawan Maruo-san, kita tidak bisa hanya mengandalkan benteng yang sudah kuat. Sejarahmu sudah berada di tingkat aman. Variabel yang akan menjatuhkanmu adalah matematika dan sains. Kita akan melakukan 'investasi' waktu di sana."

Itsuki tampak yang paling serius. Ia memegang bolpoinnya seolah-olah itu adalah senjata. "Aku mengerti logikanya. Jika kita gagal, kau akan pergi. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi hanya karena aku tidak bisa mengerjakan logaritma."

"Bagus, Itsuki. Setidaknya satu dari kalian memiliki kesadaran risiko yang tepat," ujarku. Aku bangkit berdiri dan berjalan menuju papan tulis portabel yang sudah kupindahkan ke ruang tengah mereka.

[Keahlian Analitis: Aktif]

[Bahasa Sistem: Memulai Pemetaan Kelemahan Kognitif Subjek]

Aku menulis satu angka besar di papan tulis: 40.

"Ini adalah nilai rata-rata kolektif kalian dalam ujian terakhir," ucapku dingin. "Batas aman nasional yang diminta Maruo-san adalah 65. Kita memiliki selisih 25 poin yang harus dikejar dalam tiga puluh hari. Secara statistik, tanpa intervensi ekstrem, peluang kalian berhasil hanya 4,2%."

"Hanya 4%?!" Yotsuba berteriak kaget, pita hijaunya seolah ikut layu. "Saiba-san, itu kedengarannya mustahil!"

"Bagi orang biasa, ya. Tapi kalian bukan orang biasa. Kalian adalah lima otak yang memiliki frekuensi yang hampir identik. Jika kita bisa melakukan sinkronisasi cara belajar, kita bisa melipatgandakan kecepatan pemahaman kalian," aku menjelaskan sembari mulai menuliskan rumus dasar fungsi kuadrat.

Hari pertama ini aku dedikasikan untuk merobek cara berpikir lama mereka. Aku tidak memberikan mereka penjelasan yang panjang dan membosankan. Aku menggunakan metode "Analisis Pola". Aku memaksa mereka melihat matematika bukan sebagai angka, melainkan sebagai logika hubungan yang mirip dengan plot dalam sebuah novel.

Tiga jam pertama berlalu dengan penuh protes. Nino berulang kali mencoba meninggalkan meja dengan alasan ingin memasak, namun tatapan mataku membuatnya kembali duduk. Miku sempat hampir menangis saat menghadapi soal kalkulus pertama, namun aku segera duduk di sampingnya, membimbing jemarinya di atas kertas, bukan dengan jawaban, melainkan dengan pertanyaan yang menuntun logikanya.

Sifat dewasaku membuatku tetap sabar meskipun mereka melakukan kesalahan dasar yang sama berulang kali. Aku tidak membentak; aku hanya memberikan tekanan psikologis yang konsisten.

"Ulangi, Yotsuba. Variabel X tidak bisa berpindah ruas tanpa mengubah tandanya. Anggap itu sebagai karakter yang pindah faksi dalam cerita. Dia harus berubah untuk bisa diterima di sisi lain," ujarku dengan analogi yang lebih manusiawi.

Yotsuba mengerutkan kening, lalu matanya tiba-tiba berbinar. "Oh! Jadi dia berkhianat?! Aku mengerti!"

[Bahasa Sistem: Subjek (Yotsuba Nakano) Menemukan Pola Logika]

[Kemajuan Belajar: +1%]

Menjelang siang, apartemen itu menjadi sunyi. Bukan sunyi karena kosong, tapi sunyi karena kelima gadis itu benar-benar tenggelam dalam latihan soal yang kuberikan. Pemandangan ini sangat kontras dengan keributan pagi tadi. Mereka saling membantu; Miku membisikkan penjelasan sejarah pada Nino, sementara Itsuki mencoba menjelaskan struktur kalimat pada Yotsuba.

Aku berdiri di balkon sejenak, menghirup udara segar sembari mengamati mereka dari balik kaca geser. Aku tahu, ini baru permulaan dari neraka yang kusebut belajar. Maruo Nakano sedang menunggu kegagalanku, dan Haruno mungkin sedang menertawakan rencanaku dari kejauhan.

Namun, saat aku melihat Miku yang sesekali melirik ke arahku dengan senyum kecil penuh tekad, aku tahu bahwa taruhan ini bukan lagi soal angka di atas kertas. Ini adalah soal membuktikan bahwa manusia bisa melampaui limitasi sistem yang kaku.

"Baru satu persen," gumamku pada diri sendiri sembari melihat jam tangan. "Waktunya masuk ke sesi Sains."

Aku kembali ke dalam, siap untuk menekan mereka lebih dalam lagi ke dalam labirin ilmu pengetahuan. Perjalanan menuju 65 poin baru saja dimulai, dan aku tidak akan membiarkan satu kelopak pun gugur dalam ujian ini.

Matahari sudah mulai condong ke arah barat, membiarkan cahaya keemasan masuk melalui jendela apartemen yang luas. Namun, di dalam ruangan, hawa panas tidak berasal dari cuaca, melainkan dari sirkuit otak lima gadis yang sudah dipaksa bekerja melampaui batas biasanya. Aroma kopi yang tadi menyegarkan kini berganti dengan aroma kertas yang lembap dan sisa-sisa camilan yang mulai diabaikan.

Jam dinding menunjukkan pukul 16.00. Ini adalah jam kritis.

[Keahlian Analitis: Master]

[Status: Ambang Batas Kelelahan Mental Terdeteksi]

[Bahasa Sistem: Penurunan Fokus Subjek Sebesar 60%. Risiko Burnout Tinggi.]

Nino akhirnya meletakkan pulpennya dengan bunyi klotak yang keras. Ia menyandarkan kepalanya ke meja, membiarkan rambut merah mudanya menutupi lembar soal kimia yang baru dikerjakannya setengah. "Cukup... otakku rasanya mau meledak, Saiba. Aku bahkan tidak bisa membedakan mana simbol molekul dan mana coretan semut."

Yotsuba sudah lama "tumbang". Ia tertidur dalam posisi duduk dengan mulut sedikit terbuka, sementara buku teks biologi menjadi bantalnya. Itsuki masih mencoba bertahan, namun dahinya berkerut begitu dalam hingga tampak menyakitkan, dan Miku terus-menerus memutar-mutar ujung rambutnya—sebuah tanda kecemasan yang meningkat.

Aku menutup buku referensi yang sedang kubaca. Sifat dewasaku memberitahuku bahwa menekan mereka lebih jauh saat ini hanya akan merusak variabel kemajuan yang sudah kita bangun. Aku butuh strategi "reset" emosional.

"Semuanya, berhenti," ujarku dengan suara yang tidak lagi kaku, melainkan lebih berat dan lembut.

Itsuki mendongak, matanya yang berkaca-kaca menatapku. "Tapi... aku belum menyelesaikan bab ini. Kalau aku berhenti sekarang, aku akan lupa semua rumusnya."

Aku bangkit dari kursi, berjalan menuju dapur mereka yang bersih. Tanpa meminta izin, aku mulai mengecek lemari es. "Metode belajar yang efektif bukan tentang berapa lama kau menatap buku, tapi seberapa segar otakmu saat menerima informasi. Kalian sudah mencapai titik jenuh."

Aku mengeluarkan beberapa buah beri, susu, dan cokelat batang. Dengan gerakan yang efisien namun artistik, aku mulai menyiapkan sesuatu. Suara blender dan denting gelas mulai memecah kesunyian yang mencekam tadi.

Nino mengangkat kepalanya sedikit, hidungnya mengendus udara. "Apa yang kau buat?"

"Kompensasi untuk sel otak kalian yang terbakar," jawabku tanpa menoleh.

Sepuluh menit kemudian, aku kembali ke meja dengan lima gelas smoothie cokelat beri yang dihias sederhana namun menarik. Aku meletakkannya satu per satu di depan mereka. Bahkan Yotsuba terbangun karena aroma cokelat yang manis.

"Minumlah. Glukosa murni untuk membantu memulihkan neurotransmiter kalian," ujarku sembari duduk di tepi meja, melonggarkan sedikit dasiku agar suasana tidak terasa terlalu formal.

Miku mencicipinya sedikit, dan matanya langsung membelalak. "Manis... tapi ada sedikit rasa pahit yang pas. Kau pandai membuatnya, Ren."

"Resep sederhana dari buku kimia yang kalian benci itu," balasku dengan humor kering yang membuat Ichika terkekeh.

Ichika, yang sejak tadi tampak paling santai namun diam-diam kelelahan, menopang dagu sambil menatapku dengan binar mata yang nakal. "Saiba-kun, kau tahu? Kalau kau bukan tutor yang menyeramkan, kau sebenarnya punya bakat jadi suami rumah tangga yang sempurna. Pintar, bisa masak, dan sangat protektif."

"Fokus pada variabel yang benar, Ichika-san," balasku, meski aku merasakan sedikit panas di pipiku. "Aku tidak sedang mencoba memikat kalian dengan minuman. Aku hanya memastikan aset utamaku—yaitu otak kalian—tidak mengalami kerusakan permanen sebelum ujian."

Suasana mulai melunak. Tawa kecil mulai terdengar saat Yotsuba menceritakan betapa ia merasa angka-angka di buku matematika tadi seolah-olah sedang menari balet di matanya. Aku membiarkan mereka mengobrol selama lima belas menit, sebuah jeda yang diperlukan untuk menurunkan tingkat kortisol dalam sistem mereka.

[Bahasa Sistem: Tingkat Stres Subjek Menurun 45%]

[Status: Reinkubasi Fokus Berhasil]

"Dengar," aku bersuara lagi, kali ini dengan nada yang lebih romantis dan menyemangati, memposisikan diriku bukan sebagai guru, tapi sebagai kawan seperjuangan. "Kalian pikir Maruo-san menaruh target 65 karena dia ingin kalian pintar? Tidak. Dia menaruh angka itu karena dia yakin kalian akan menyerah sebelum mencapainya. Dia bertaruh pada rasa takut kalian."

Aku berjalan mendekati Miku, meletakkan tangan di pundaknya sejenak—sebuah gestur yang memberikannya kekuatan. "Jangan belajar untuk ujian. Belajarlah untuk membuktikan bahwa tidak ada seorang pun, bahkan ayah kalian sendiri, yang berhak menentukan batas kemampuan kalian. Kalian adalah penulis takdir kalian sendiri, ingat?"

Miku mengangguk pelan, wajahnya memerah namun matanya menunjukkan tekad yang baru. Nino juga mendengus, namun ia mulai mengambil kembali pulpennya.

"Sialan," gumam Nino sembari tersenyum tipis ke arah gelas smoothie-nya. "Kau benar-benar tahu cara memanipulasi perasaan kami supaya mau bekerja lagi, ya?"

"Itu bukan manipulasi, Nino. Itu motivasi berbasis data," jawabku sembari tersenyum nakal.

Kami melanjutkan sesi belajar hingga malam tiba. Namun kali ini, tidak ada lagi keluhan. Ruang tamu itu kini berubah menjadi pusat komando yang penuh dengan semangat. Aku berkeliling di antara mereka, memberikan petunjuk singkat, memperbaiki kesalahan kecil, dan sesekali memberikan pujian yang tulus saat mereka berhasil memecahkan soal yang sulit.

Saat jam menunjukkan pukul 21.00, aku membereskan barang-barangku.

"Cukup untuk hari ini. Tidurlah segera. Otak butuh tidur untuk memindahkan memori jangka pendek ke jangka panjang," perintahku.

Saat aku berjalan menuju pintu keluar, kelimanya mengantarku ke depan. Di ambang pintu, Itsuki membungkuk kecil. "Terima kasih, Saiba-kun. Sampai jumpa besok pagi."

Aku mengangguk, namun sebelum aku benar-benar pergi, Miku menarik sedikit ujung kemejaku, persis seperti yang ia lakukan di atap sekolah. "Ren... jangan lupa istirahat juga. Kau juga butuh memindahkan memorimu, kan?"

Aku menatapnya sejenak, merasakan kehangatan yang menjalar di tengah malam yang dingin. "Tentu. Sampai jumpa besok, Miku."

Aku berjalan menjauh dari apartemen mereka, menatap lampu-lampu kota yang masih terang. Hari pertama neraka belajar telah usai, dan kami masih berdiri tegak. Maruo Nakano mungkin sudah menyiapkan strategi berikutnya, namun dia lupa satu hal: naskah hidup yang kutulis bersama mereka baru saja memasuki babak paling menarik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!