Karena keinginan Laras, Rangga melepas semua beban yang selama ini menghimpit dadanya. Satu kata talak sudah cukup untuk mengakhiri pengabdian tulus yang selama ini diinjak-injak.
Namun, dunia seolah berputar. Saat Rangga mulai menata hidup yang baru, Laras yang dulu menghancurkannya kini bersimpuh di kakinya. Memohon satu kesempatan yang sudah mustahil untuk diberikan.
"Jangan mengejar apa yang sudah kau buang, karena hatiku bukan tempat untuk pulang bagi pengkhianat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SURAT DARI SYAKIRA
Drrt... Drrt...
Ponsel di atas meja gerobak bergetar hebat. Layarnya menampilkan sebuah nomor asing yang baru ia lihat. Getarannya terasa seperti detak jantung yang panik di tengah keheningan jalan raya yang diguyur gerimis dari sore.
Rangga mematikan pemantik api dengan ibu jarinya yang gemetar. Ia meraih ponsel itu dengan perasaan tak menentu, ia mengharapkan Syakira yang menghubunginya.
"Halo?" suara Rangga parau, kasar seperti gesekan amplas di atas beton.
"Halo... Mas Rangga?" Suara di seberang sana terdengar berbisik, ragu, dan penuh kecemasan. "Ini Bi Ijah, Mas. Pembantu di rumah Bapak Mansyur."
Jantung Rangga mencelos. "Bi? Ada apa Bi? Bagaimana Syakira... Syakira kenapa?"
"Tenang, Mas Rangga. Non Syakira sudah dipindahkan ke rumah Bapak sore tadi. Kondisinya jauh lebih baik tapi masih lemas. Tapi... Non Syakira menitipkan sesuatu untuk Mas Rangga. Non Syakira dilarang keras sama Bapak untuk menemui atau hubungi Mas Rangga. Saya nggak tega lihat Mas, Non Syakira nangis terus." Bi Ijah menarik napas panjang seakan dia merasakan apa yang di alami Syakira sekarang. "Kita janjian di taman belakang pom bensin dekat persimpangan Lembang sekarang, Mas. Saya cuma punya waktu sepuluh menit sebelum Bapak curiga."
"Saya ke sana, Bi. Sekarang!"
Taman Belakang Pom Bensin, 19.45 WIB.
Lampu taman yang kuning remang-remang memantul di genangan air hujan. Rangga berdiri di bawah pohon kamboja, mengabaikan jaketnya yang basah kuyup. Tak lama, sosok wanita paruh baya dengan daster dan kerudung lusuh muncul dari kegelapan. Bi Ijah celingukan, memastikan tidak ada orang atau mobil Pak Mansyur yang mengikuti.
"Mas Rangga..." Bi Ijah mendekat, wajahnya penuh rasa iba melihat luka-luka di wajah majikannya. "Astagfirullah, wajah Mas kenapa sampai hancur begini?"
Rangga menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, Bi. Mana titipan dari Non Syakira?"
Bi Ijah merogoh saku dasternya, mengeluarkan sebuah amplop putih yang sedikit lembap. "Ini, Mas. Non Syakira yang tulis sendiri tadi sore sambil tiduran. Tangannya gemetar sekali, Mas takut ketahuan Bapak Mansyur... Bapak sedang marah besar. Non Syakira dijaga ketat sama Bapak ."
Rangga menerima amplop itu. Tangannya yang terasa kasar saat menyentuh kertas putih yang halus itu. "Terima kasih, Bi. Tolong... tolong jagain Syakira. Bilang saya minta maaf."
Bi Ijah mengangguk sedih lalu bergegas pergi, menghilang ditelan kabut malam Lembang.
Rangga kembali ke gerobaknya. Ia tidak jadi membakarnya. Ia duduk di bangku panjang kayu yang reyot, di bawah temaram lampu jalanan. Dengan jari-jari yang masih bergetar, ia merobek pinggiran amplop itu.
Ada aroma samar parfum melati yang biasa dipakai Syakira, aroma yang biasanya membuat Rangga merasa pulang, tapi kini justru membuat dadanya terasa dihantam godam raksasa.
Di dalamnya ada selembar kertas dengan tulisan tangan yang tidak rapi, naik turun, menunjukkan betapa lemahnya orang yang menulisnya.
> Mas Rangga...
> Saat Mas baca surat ini, mungkin Mas sedang marah karena merasa aku meninggalkanmu. Atau mungkin Mas sedang sibuk di gudang mengurus angkringan yang jauh lebih Mas cintai dari pada keberadaanku.
> Mas, aku tidak akan memaki. Aku tidak punya tenaga lagi untuk marah. Sakit di perutku ini belum seberapa dibandingkan rasa sesak saat aku ingat tatapan Mas. Seolah-olah aku ini musuhmu, bukan istrimu.
> Aku kehilangan bayi kita, Mas. Dan yang paling menyakitkan, aku merasa aku juga kehilangan Mas yang dulu kukenal. Mas yang dulu sabar, Mas yang dulu melindungiku tanpa harus berteriak.
> Untuk sekarang, biarkan aku sendiri dulu di rumah Bapak. Jangan cari aku, jangan datang ke sini. Setiap kali aku melihat wajah Mas, aku kembali teringat darah di lantai rumah itu. Aku teringat bagaimana Mas meninggalkanku di rumah itu.
> Aku butuh waktu untuk tidak membencimu, Mas. Maafkan aku.
> —Syakira—
>
Rangga meremas kertas itu di dadanya. Surat itu lebih sakit dari pada makian Pak Mansyur. Lebih perih dari pukulan satpam. Syakira tidak marah, dia kecewa. Dan kekecewaan seorang wanita yang tulus adalah vonis mati bagi jiwa seorang pria.
"Ya Allah... apa yang sudah aku perbuat?" Rangga meraung pelan, kepalanya membentur tiang gerobak.
Ia membayangkan Syakira yang terbaring di kamarnya yang lama, menatap langit-langit, meratapi janin yang hilang sementara suaminya sendiri yang menjadi alasan utama tekanan batin itu. Rangga merasa surat itu adalah talak halus yang dijatuhkan Syakira kepadanya.
Monolog batinnya menghujam: Kamu sukses, Rangga. Kamu punya saldo miliaran. Kamu punya nama besar. Tapi di mata wanita yang paling kamu cintai, kamu cuma monster yang bikin dia trauma.
Rumah Bapak Mansyur, 21.00 WIB.
Syakira meringkuk di atas ranjang masa kecilnya. Kamar itu berbau minyak kayu putih. Di luar, hujan masih turun rintik-rintik. Perutnya terasa kram, sebuah pengingat fisik bahwa ada nyawa yang baru saja tercerabut darinya.
Setiap kali ia memejamkan mata, ia mendengar suara pintu dibanting. Ia mendengar suara Rangga yang menuduhnya bersandiwara. Tubuhnya bergidik, ia menarik selimut hingga ke dagu.
"Nak... makan sedikit ya?" suara lembut Pak Mansyur terdengar dari ambang pintu.
Syakira menggeleng tanpa menoleh. "Nggak lapar, Pak."
Pak Mansyur datang menghampiri lalu duduk di pinggir ranjang, mengusap rambut putrinya.
Syakira memejamkan mata lebih rapat. Tapi di sisi lain, ia teringat wajah Rangga yang berantakan di rumah sakit tadi.
Kenapa Mas Rangga sampai luka begitu? Apa dia dipukuli orang suruhan Anwar? Syakira menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran itu. Tidak, Syakira. Jangan lunak lagi. Dia sudah menyakitimu.
Tiba-tiba, rasa nyeri yang hebat kembali melilit rahimnya. Ssshhh... Syakira mencengkeram sprei, wajahnya mengernyit menahan sakit yang luar biasa. Keringat dingin sebesar biji jagung muncul di dahinya. Rasa sakit fisik ini seolah menjadi manifestasi dari kehancuran hatinya.
Lapak Gerobak Rangga, 22.30 WIB.
Rangga masih terduduk di sana. Surat Syakira tergeletak di atas meja, terkena percikan air hujan hingga tintanya sedikit melebar. Ia menatap jalanan yang sepi.
Tiba-tiba, ponselnya kembali bergetar. Galih mengirim pesan teks:
"Mas, Rinjani nggak mau makan. Dia terus panggil 'Mama'. Dia nggak mau tidur kalau bukan Mama Syakira yang bacain cerita. Saya bingung, Mas. Rinjani demam tinggi."
Rangga seolah tersengat listrik. Ia buru-buru merapikan gerobaknya. Ia tidak peduli lagi pada boikot, tidak peduli pada Anwar, tidak peduli pada harga dirinya. Ia harus pulang ke Rinjani.
Rangga jatuh terduduk di samping gerobaknya. Ia memegang gerobaknya itu dengan tangan gemetar.
Di bawah rintik hujan, Rangga meraung pelan, sebuah suara keputusasaan yang membelah malam. Ia terjepit antara kekecewaan istrinya dan keadaan putrinya.