Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.
Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai yang Tidak Dihadapi Sendirian
Gelombang kedua menghantam. Tubuh Boqin Changing langsung melengkung tegang. Urat-urat di lehernya menonjol, tulangnya berderak pelan seakan dipaksa membuka ruang bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari kapasitasnya.
Rasa sakit itu… semakin kuat. Jika sebelumnya seperti tulang diremas, kini seperti inti dantiannya dibelah perlahan oleh tangan tak kasatmata. Energi tujuh warna itu tidak lagi masuk dalam aliran halus, melainkan meledak-ledak, menabrak meridian seperti badai yang kehilangan kendali.
Namun Boqin Changing tidak menjerit. Ia menahannya. Napasnya tetap ia jaga, panjang dan teratur, meski keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Api biru Phoenix Biru Ektomi di tubuhnya berkobar lebih terang, menenangkan saraf, memperbaiki retakan yang mulai muncul di dalam meridian.
Justru yang membuat pikirannya bergetar bukan rasa sakitnya sendiri. Melainkan Sha Nuo. Energi Batu Pelangi Surga itu terlalu ganas. Getarannya bukan hanya menghantam tubuhnya, tetapi juga menjalar balik melalui koneksi ke pria di belakangnya.
Bagaimanapun juga… ia takut penyerapan ini membahayakan tubuh Sha Nuo. Jika meridiannya retak… jika fondasi ranah pendekar langitnya goyah… Boqin Changing tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
Di tengah badai energi itu, ia mengirimkan getaran kesadaran kepada Sha Nuo.
“Paman… bagaimana kondisimu?”
Beberapa detik terasa seperti selamanya. Lalu jawaban datang. Suara itu tidak terdengar di telinga, melainkan langsung di dalam kesadarannya.
“Tenang saja. Aku masih kuat.”
Nada itu stabil. Tidak ada kepanikan. Hanya tekanan yang ditahan dengan disiplin baja. Boqin Changing bisa merasakan sendiri fondasi Sha Nuo. Lautan qi miliknya memang bergetar hebat, namun tetap utuh. Api biru dari telapak tangan pria itu justru semakin dalam, semakin matang.
Ia mengembuskan napas perlahan.
“Baik,” gumamnya lirih.
Ia kembali memusatkan kesadaran pada Batu Pelangi Surga.
Energi warna merah menyusup lebih dulu, panas seperti magma. Disusul biru yang dingin membekukan sumsum. Kuning menghantam seperti palu, hijau merobek seperti bilah daun, ungu menusuk saraf, jingga membakar daging, dan putih… putih itu yang paling berbahaya. Putih itu seperti kehampaan yang menelan segalanya.
Rasa sakit meningkat berkali lipat. Tulangnya bergetar. Dantiannya membesar, menyempit, lalu mengembang lagi seperti paru-paru raksasa yang dipaksa menelan langit.
Formasi pelindung berdengung keras. Pedang Neraka Kegelapan bergetar.
Namun di tengah kegilaan itu, ada satu perbedaan besar. Rasa sakitnya… lebih ringan dari beberapa waktu yang lalu saat Boqin Changing menyerap Batu Pelangi Surga. Bukan karena energi itu melemah. Melainkan karena sebagian tekanan itu tidak lagi ia tanggung sendirian.
Api biru Sha Nuo menyelimuti jalur-jalur meridiannya yang paling rapuh. Setiap kali retakan kecil muncul, api itu segera memperbaikinya. Setiap kali sarafnya hampir putus oleh tekanan, api itu menenangkannya.
Bahkan ketika gelombang energi balik menghantam Sha Nuo, pria itu tidak goyah. Ia justru, menstabilkan pusaran qi di dantian Boqin Changing.
Untuk pertama kalinya… Batu Pelangi Surga tidak terasa seperti musuh mutlak. Masih sakit. Masih brutal. Masih seperti menelan badai. Namun tidak lagi seperti menghadapi kehancuran sendirian.
Boqin Changing menggertakkan gigi. Cahaya tujuh warna kini tidak lagi liar sepenuhnya. Sebagian sudah mulai mengikuti ritme sirkulasi qi-nya.
Gelombang ketiga datang. Lebih besar. Lebih dalam.
Tubuhnya bergetar hebat hingga lantai kayu di bawah mereka berderit keras. Boqin Changing kembali mengkhawatirkan keadaan Sha Nuo.”
“Paman, bagaimana keadaanmu?”
Jawaban datang cepat.
“Masih kuat. Jangan berhenti.”
Api biru dari kedua sisi kini menyatu sempurna. Ruangan dipenuhi cahaya biru lembut yang berdenyut mengikuti detak jantung mereka.
Boqin Changing menarik napas panjang terakhir sebelum mendorong penyerapan ke tahap berikutnya. Rasa sakit melonjak hingga hampir menghapus kesadarannya. Namun di balik penderitaan itu… ia merasakan sesuatu yang berbeda.
Energi tujuh warna mulai sedikit tunduk. Untuk pertama kalinya, Batu Pelangi Surga tidak lagi meraung liar. Ia mulai… jinak.
...*******...
Waktu berlalu. Hari pertama berubah menjadi hari kedua… dan kini, hari ketiga.
Ini adalah hari terlama yang pernah Boqin Changing alami dalam menyerap Batu Pelangi Surga. Biasanya, dalam dua atau tiga gelombang besar, ia tunduk. Namun kali ini berbeda. Batu itu seakan memiliki kehendak sendiri. Ia kini tidak menolak sepenuhnya untuk ditaklukkan.
Tubuh Boqin Changing mulai melemah. Wajahnya pucat. Bibirnya kehilangan warna. Keringat bercampur darah tipis merembes dari sudut pori-porinya. Meridian di lengan kanannya tampak menghitam samar akibat tekanan yang terlalu ganas.
Kesadarannya bergetar. Beberapa kali pandangannya mengabur. Suara dengungan di telinganya semakin keras. Bahkan dantiannya terasa seperti akan robek dari dalam. Rasa sakit itu… sudah hampir tidak bisa ia tolerir lagi.
“Aku harus… melepaskannya…”
Ia mencoba membuka genggaman tangannya. Namun Batu Pelangi Surga itu tetap menempel di telapak tangannya seperti menyatu dengan tulang dan dagingnya. Cahaya tujuh warna justru semakin menyala setiap kali ia berusaha menarik diri. Seakan-akan batu itu menolak untuk dilepaskan sebelum kehendaknya tercapai.
Di sisi lain, suara Sha Nuo terdengar dalam telepati.
“Bertahanlah.”
Nada itu tidak lagi sepenuhnya tenang, namun tetap tegas.
“Sebentar lagi khasiatnya akan habis. Aku bisa merasakannya. Jangan berhenti sekarang.”
Kata-kata itu menembus kabut kesadarannya. Boqin Changing menggertakkan gigi. Ia menahan tubuhnya yang hampir roboh. Api biru Phoenix Biru Ektomi kembali ia paksa menyala, meski lebih redup dari sebelumnya. Ia bertahan.
Hari keempat tiba. Dengan suara retakan halus, nyaris seperti kaca tipis yang pecah,Batu Pelangi Surga itu akhirnya hancur. Pecah menjadi serpihan cahaya tujuh warna.
Namun khasiatnya belum sepenuhnya terserap. Serpihan cahaya itu justru menyusup lebih dalam ke dalam meridian dan dantiannya, seperti ribuan jarum panas dan dingin yang menembus sekaligus.
Qi di tubuh Boqin Changing melonjak liar. Lingkaran demi lingkaran terbentuk di dalam dantiannya. Lautan qi-nya membesar secara paksa. Fondasinya menguat… namun tubuh fisiknya tertinggal jauh di belakang.
Ia benar-benar sudah sangat lemas. Ototnya gemetar. Nafasnya terputus-putus. Pandangannya berbayang dua.
“Aku… tidak bisa… menghentikannya…”
Ia mencoba memutus sirkulasi. Namun aliran itu terus berjalan. Baru saat itulah ia menyadari sesuatu. Bantuan dari Sha Nuo.
Api biru di belakangnya masih terus mengalir, menopang dan mendorong sirkulasi qi agar tetap stabil. Justru karena bantuan itulah proses penyerapan tidak pernah runtuh. Jika Sha Nuo menghentikan alirannya… maka penyerapan itu akan runtuh dengan sendirinya.
Hari keenam. Boqin Changing hampir tidak lagi bisa menahan rasa sakit itu.
“Paman… hentikan…”
Getaran telepati itu lemah, terputus-putus.
“Hentikan bantuanmu… kita akhiri di sini…”
Beberapa detik sunyi. Lalu suara Sha Nuo menjawab. Lebih pelan. Lebih berat.
“Tidak.”
Ada getar rasa sakit di dalamnya.
“Mari kita selesaikan sekarang… Di masa depan, aku belum tentu mau membantu lagi…”
Napasnya terdengar tersengal di dalam koneksi kesadaran mereka.
“Rasanya sakit sekali…Uhuk....”
Kata-kata itu bukan keluhan. Melainkan pengakuan jujur.
Hari itu juga, Boqin Changing kehilangan setengah kesadarannya. Tubuhnya masih duduk bersila. Namun pikirannya seperti tenggelam di lautan gelap. Qi tujuh warna terus mengalir, menghantam inti dantiannya seperti gelombang terakhir yang menuntut kelahiran baru.
Pada hari ketujuh, fenomena langit terjadi. Di luar rumah kecil itu, langit tiba-tiba menghitam.
Awan pekat berkumpul tanpa suara, lalu berubah kemerahan seperti disiram darah senja. Kilat menyambar-nyambar membelah cakrawala. Petir turun bertubi-tubi, menghantam tanah di sekitar kawasan itu dengan suara memekakkan.
Angin kencang melanda wilayah itu. Pohon-pohon merunduk. Debu beterbangan. Formasi pelindung di kamar Boqin Changing bergetar hebat hingga retakan tipis mulai muncul di lantai kayu.
Energi langit dan bumi berkumpul. Itu adalah pertanda. Pertanda lahirnya seorang Pendekar Langit.
Di dalam ruangan, tubuh Boqin Changing melayang beberapa inci dari lantai. Cahaya tujuh warna kini sepenuhnya menyatu dengan biru Phoenix. Rambutnya berkibar liar meski tidak ada angin di dalam ruangan.
Dantiannya mengembang. Lalu menyusut. Lalu meledak tanpa suara. Bukan hancur. Melainkan menembus batas.
Petir terakhir menyambar tepat di atas atap rumah mereka. Dan pada saat itu, mata Boqin Changing terbuka. Di dalamnya… tidak lagi ada keraguan.