Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Ranah Kultivasi(fix)
Tanah makam itu masih basah. Fang Yuan berdiri mematung di hadapan gundukan tanah yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Fang Shou.
Angin senja bertiup dingin, namun tubuh bocah itu terasa lebih dingin. Wajahnya pucat pasi, matanya sembab dengan lingkaran hitam yang dalam.
"Kenapa, Kek?" bisiknya parau. Suaranya pecah, terbang bersama debu. "Kakek bilang kita harus bertahan ... Kakek bilang kita harus berusaha lebih keras. Tapi kenapa Kakek memilih tali itu? Kenapa Kakek meninggalkanku sendirian di neraka ini?!"
Isakannya kembali pecah, namun tidak ada lagi air mata yang keluar. Salurannya seolah sudah kering, hanya menyisakan perih yang membakar.
"Heh, lihatlah pemandangan menyedihkan ini."
Langkah kaki yang angkuh terdengar di atas rumput kering.
Chen Li berdiri di sana, mengenakan jubah kain sutra tipis yang kontras dengan pakaian compang-camping Fang Yuan. Ia menatap kuburan Fang Shou dengan tatapan merendahkan.
"Rasakan itu, Fang Yuan. Ini semua salahmu," ucap Chen Li tanpa rasa iba. "Gara-gara kau menjadi anak gila yang terus mengusik kami, kakekmu jadi sasaran. Sekarang, setelah kau benar-benar sebatang kara, aku akan pergi ke kota untuk mendaftar menjadi murid sekte. Kau? Kau hanya akan membusuk di sini karena tidak punya uang, apalagi bakat."
Fang Yuan tidak menoleh. Ia perlahan bangkit, menepis debu di lututnya, lalu berbalik.
Tatapan matanya membuat Chen Li tersentak mundur satu langkah—itu bukan tatapan mata anak tujuh tahun, melainkan tatapan seekor predator yang terluka.
"Ya, kau benar. Aku miskin, tidak berbakat, dan ini semua salahku," jawab Fang Yuan dengan nada yang sangat datar, seolah emosinya telah mati. "Pergilah menjadi orang hebat, Chen Li. Namun ingat satu hal ... jika kita bertemu lagi di masa depan, aku akan membunuhmu. Jika aku gagal hari itu, aku akan mencobanya lagi seribu kali sampai kau benar-benar mati di tanganku."
Chen Li merasa bulu kuduknya berdiri. Hawa dingin menjalar di punggungnya. Ia mencoba tertawa untuk menutupi rasa ngerinya.
"Cih! Kau pikir kau siapa, sampah?! Mengancam calon Kultivator sepertiku? Kau hanya akan mati kelaparan sebelum itu terjadi!"
Chen Li meludah ke samping dan pergi dengan terburu-buru, seolah-olah ia sedang lari dari sesuatu yang tidak terlihat.
Fang Yuan kembali ke rumah kayunya yang kini terasa seperti kuburan besar. Sunyi. Tidak ada lagi suara tawa kakeknya atau aroma sup herbal yang pahit.
Ia berdiri di tengah ruangan, menatap bayangan dirinya sendiri. "Aku membenci kalian semua," gumamnya.
"Ayah, Ibu, Kakek ... beraninya kalian meninggalkanku. Tapi aku tidak akan mati. Aku akan merangkak, aku akan menggali jalan menuju langit itu."
Ia melangkah masuk ke kamar Fang Shou yang berdebu.
Di pojok ruangan, di balik tumpukan kain tua, terdapat beberapa buku yang sudah sangat lapuk.
Fang Yuan membersihkannya satu per satu. Awalnya, ia hanya menemukan catatan harian biasa dan buku pertanian.
Namun, ketika ia menarik buku terakhir dari tumpukan paling bawah, sebuah buku bersampul kulit binatang yang sudah menghitam menarik perhatiannya.
"Teknik Pernapasan Tingkat Rendah"
Tangan Fang Yuan gemetar. Ia membuka halaman pertama yang rapuh. Di sana, tertulis sebuah pesan dengan tinta yang sudah memudar:
"Dunia kultivasi sangat kejam. Buku ini kutulis hanya sebagai kenang-kenangan pahit masa laluku. Jika ada keturunanku yang membacanya, ketahuilah bahwa jalan ini adalah jalan tanpa kembali."
Fang Yuan teringat cerita kakeknya tentang leluhur mereka yang pernah menjadi Kultivator. Ternyata, itu bukan sekadar dongeng.
Halaman berikutnya menjelaskan tentang esensi dunia ini. Qi. Energi alam semesta yang menjadi bahan bakar bagi mereka yang ingin menantang takdir.
Namun, peringatan sang leluhur sangat jelas: Jalan kultivasi hanya menerapkan hukum rimba—yang kuat memakan yang lemah.
Leluhurnya menuliskan: "Mungkin teknik ini hanya tingkat rendah, hasil pemikiran yang kugeluti selama 20 tahun. Namun bagi mereka yang tidak punya apa-apa, ini adalah sebilah belati di tengah kegelapan. Jika kau mendambakan teknik yang lebih tinggi, kau harus mencurinya dari sekte-sekte besar atau memerasnya dari dunia ini sendiri."
Di bagian belakang buku, tertera hierarki kekuatan yang dikejar oleh seluruh makhluk di bawah kolong langit:
Hierarki Jalan Menuju Langit
🔹 Langkah Umum (Mortal Path)
1.Kondensasi Qi – Mengumpulkan energi ke dalam tubuh.
2.Pendirian Fondasi – Memperkuat raga agar mampu menampung lebih banyak energi.
3.Pembentukan Inti – Memadatkan Qi menjadi inti yang tak hancur.
4.Nascent Soul (Jiwa Baru) – Melahirkan jiwa kedua di dalam tubuh.
5 Transformasi Roh – Melepaskan keterikatan roh dari raga fana.
🔸 Langkah Nirwana (Melawan Surga)
Transformasi Jiwa
Ascendant (Kenaikan Surgawi)
Origin Soul (Jiwa Asal)
Pemusnah Nirwana
Penghancur Nirwana
Di tahap ini, seorang Kultivator mulai menyentuh hukum sebab-akibat dan karma. Mereka tidak lagi takut pada kematian, karena mereka sudah mulai mampu menentang kehendak langit.
🔶 Langkah Abadi (Immortal Path)
Nirwana Sempurna – Tubuh dan jiwa menyatu sepenuhnya dengan hukum alam.
Half-Step Immortal – Ambang pintu menuju keabadian.
True Immortal (Abadi Sejati) – Keluar dari siklus reinkarnasi.
Immortal Lord (Penguasa Abadi) – Penguasa absolut atas satu hukum dunia.
Puncak Immortal – Eksistensi tertinggi sebelum melampaui batas alam semesta.
Fang Yuan menutup buku itu. Matanya kini bersinar dengan api yang dingin. Ia memeluk buku itu di dadanya, seolah-olah itu adalah jantung baru yang akan memberinya hidup.
"Lima belas langkah," bisik Fang Yuan dengan senyum anehnya yang kembali muncul. "Aku akan mendaki semuanya. Aku akan melihat apa yang ada di puncak langit itu ... dan aku akan menanyakan pada mereka, kenapa mereka merasa berhak menghancurkan hidupku."
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.