NovelToon NovelToon
Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:118.4k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.

Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai Sadar

Hutan yang dipenuhi bau darah mendadak bergetar oleh ledakan tekanan baru. Dari barisan belakang para siluman, langkah berat terdengar. Setiap pijakan membuat tanah berguncang, akar-akar pepohonan terangkat dari tanah seperti dipaksa bangkit oleh sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar siluman biasa.

Para siluman yang masih hidup otomatis membuka jalan. Sesosok raksasa berjalan keluar. Itu adalah Raja Siluman Kera.

Wajahnya dipenuhi bulu kelabu kasar, rahangnya lebar dengan taring mencuat. Otot-ototnya menggembung seperti batu hidup, tubuhnya menjulang jauh di atas siluman lain. Walaupun jelas tidak sebesar binatang suci di langit, keberadaannya tetap terasa besar.

Matanya menatap hamparan tubuh siluman yang berserakan. Kesunyian beberapa detik berubah menjadi amarah.

“Grrraaaaaarrrrrwww!!!”

Raungan itu mengguncang hutan. Burung-burung beterbangan panik, tanah bergetar, dan para siluman lain refleks mundur beberapa langkah.

Raja siluman kera menggenggam tongkat batu besar di tangannya. Tongkat itu kasar, tidak dipoles, seperti pilar gunung yang dicabut paksa dari bumi. Retakan alami di permukaannya memancarkan aura berat yang menekan udara.

Tangannya mengencang. Retakan kecil muncul di tanah tempat kakinya berpijak. Ia mengangkat tongkat itu tinggi-tinggi.

Bayangan tongkat raksasa itu jatuh ke tanah… menutupi seluruh tubuh Boqin Changing. Tekanan turun seperti gunung runtuh. Raja siluman kera bersiap menghancurkan kepala Boqin Changing.

Namun di bawah bayangan kematian itu, Boqin Changing hanya berdiri santai. Ia tersenyum. Bukan senyum mengejek. Bukan senyum provokatif. Melainkan senyum tenang seseorang yang sudah mengetahui hasilnya.

Tongkat batu itu mulai turun. Udara seakan menjerit saat kekuatan raksasa itu membelah angin. Pepohonan di lintasan angin tumbang sebelum tongkat menyentuh tanah. Para siluman menahan napas, mata mereka membesar menunggu momen kehancuran.

Namun sebelum tongkat itu mencapai target, Boqin Changing bergerak. Tidak cepat. Tidak meledak. Ia hanya mengangkat pedangnya.

“Tebasan Gunung Runtuh.”

Satu ayunan. Tidak ada gelombang energi besar. Tidak ada kilatan cahaya. Tidak ada suara dramatis.

Hanya sebuah garis. Garis hitam tipis yang muncul di udara, lurus, sempurna, seperti seseorang baru saja menggambar batas dunia dengan ujung pedang.

Tongkat batu itu berhenti. Sepersekian detik… tidak terjadi apa pun. Lalu,

Crack.

Sebuah garis lurus muncul di tengah tongkat raksasa itu. Tongkat batu milik raja siluman kera… terpotong.

Bagian atasnya meluncur ke samping, jatuh menghantam tanah dengan suara memekakkan. Debu dan pecahan batu meledak ke segala arah.

Namun garis itu tidak berhenti di sana. Ia terus meluncur. Lurus, tenang, dan tak terhentikan.

Mata raja siluman kera melebar. Tubuh raksasanya membeku saat garis itu mencapai dadanya. Tidak ada ledakan. Tidak ada jeritan panjang. Hanya keheningan. Garis itu melewati tubuhnya… lalu menghilang di kejauhan.

Beberapa detik hening berlalu. Kemudian tubuh raksasa itu bergeser. Perlahan, terbelah menjadi dua. Dua bagian tubuh raja siluman kera jatuh ke arah berlawanan, menghantam tanah dengan dentuman berat yang membuat hutan bergetar.

Debu naik ke udara. Kesunyian turun. Para raja siluman lain dan seluruh siluman yang masih hidup membeku di tempatnya. Mata mereka terpaku pada pemandangan yang bahkan sulit dipahami pikiran.

Raja siluman kera. Makhluk yang mereka anggap sebagai siluman terkuat. Terpotong… dalam satu ayunan.

Boqin Changing menurunkan pedangnya. Ekspresinya tidak berubah. Seolah apa yang baru terjadi hanyalah sesuatu yang wajar.

Di antara para siluman, ketakutan akhirnya mencapai titik yang tidak bisa disangkal lagi. Pemuda yang mereka anggap lemah. Manusia yang mereka harapkan menjadi sandera. Nyatanya adalah sesuatu yang mungkin jauh lebih berbahaya daripada dua binatang suci di langit.

Untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai, tidak ada satu pun siluman yang berani maju.

...********...

Di sisi lain, pedang Sha Nuo bergerak dengan presisi yang menakutkan. Tebasannya mengenai tubuh naga merah muda, memaksanya terdorong mundur. Dengan suara gemuruh, naga itu terpental dan menghantam tanah, tubuhnya bergetar saat mendarat. Luka-luka terlihat jelas di sisinya; sisik-sisiknya retak, dan darah mengalir perlahan di antara cahaya matahari yang menembus hutan.

Naga hijau menatap ke arah hutan dengan mata yang penuh kehati-hatian. Ia merasakan ratusan siluman, termasuk raja siluman kera, telah tewas dalam sekejap. Keadaan ini tidak mungkin dilakukan oleh orang biasa.

Nalurinya berteriak bahwa pelakunya pasti pemuda yang sebelumnya dianggap lemah, namun kini ternyata kekuatannya begitu dahsyat. Ia menelan amarah sekaligus kekaguman, dan baru sadar mengapa lawan yang dihadapinya tetap tenang, seolah tidak mengkhawatirkan pemuda yang berada di bawahnya sama sekali.

Sha Nuo, yang memperhatikan perubahan ekspresi naga hijau, mencondongkan tubuhnya sedikit dan tertawa dengan nada dingin namun menggoda.

“Kau baru sadar sekarang?” ucapnya sambil menatap tajam, seakan ingin menegaskan dominasi dan ketenangannya di tengah kekacauan yang baru saja terjadi.

Naga hijau menatap pemuda yang berdiri di bawah dengan mata menyipit, suaranya berat namun dipenuhi rasa ingin tahu.

“Apa… pemuda itu benar-benar sekuat itu?”

Sha Nuo tersenyum, sebuah tawa dingin yang menembus udara.

“Hahaha… bahkan jika ada empat binatang suci sekuat dirimu, kalian tetap bukan tandingannya.”

Ucapan itu membuat naga hijau terdiam sejenak. Sebuah kesadaran perlahan muncul dalam matanya. Pemuda di bawah bukanlah lawan yang bisa mereka hadapi dengan kekuatan biasa.

Setelah menenangkan diri sejenak, naga hijau akhirnya bersuara lagi, kali ini lebih waspada.

“Apa sebenarnya yang kalian cari di hutan ini?”

Sha Nuo mencondongkan tubuhnya, matanya menatap lurus ke arah naga itu.

“Kami mencari sebuah pedang.”

Sekilas keraguan muncul di wajah naga hijau. Ia yang telah lama hidup di hutan ini, mengetahui setiap rahasia alam dan makhluk yang menghuni wilayahnya, tidak pernah mendengar tentang pedang yang dicari manusia itu.

Di sisi lain, naga merah muda yang sempat terpental perlahan bangkit, kepalanya menunduk sejenak sebelum mengangkat tubuhnya ke udara, bersiap menyerang Sha Nuo sekali lagi. Namun, dengan gerakan halus namun tegas, naga hijau mengangkat cakarnya, menahannya.

“Hentikan… jangan gegabah,” ucapnya, matanya tetap waspada pada pemuda di bawah.

Sha Nuo menatap kedua naga itu dengan tenang, seolah sudah memprediksi setiap langkah mereka. Ia menjaga jarak namun tetap menimbulkan tekanan yang cukup untuk membuat kedua naga itu berhati-hati. Udara di hutan bergetar halus, seolah alam sendiri menahan napas menunggu gerakan selanjutnya dari pemuda yang telah menaklukkan raja siluman kera hanya dengan satu ayunan pedang.

Naga hijau menghela napas panjang, matanya tidak lepas dari pemuda itu.

“Sepertinya… ini bukan urusan yang bisa kita hadapi sendiri. Tapi pedang yang kalian cari… apa benar itu ada di sini?”

Sha Nuo hanya menatap dengan senyum tipis, cukup membuat kedua naga merasa ada kekuatan yang jauh melampaui pemahaman mereka di hutan ini.

“Jika kalian mau, kalian bisa bertanya padanya di bawah.”

Di kejauhan, bayangan pohon bergoyang mengikuti gerakan naga merah muda yang diam, sementara naga hijau tetap waspada, memastikan pemuda itu tidak terganggu. Keheningan itu bagaikan ketegangan sebelum badai, menandai bahwa pertemuan antara manusia dan makhluk suci ini baru saja memasuki babak baru.

Di bawah, Boqin Changing memperhatikan, bahwa para naga sedang menatapnya. Ia lalu menarik pedang keduanya dari pinggangnya, Pedang Neraka Kegelapan.

Begitu pedang  itu keluar, seketika aura kematian yang pekat menyelimuti seluruh hutan. Udara terasa berat, setiap napas seperti ditahan oleh bayangan gelap yang merambat di antara pepohonan. Cahaya matahari yang menembus daun-daun pun seolah redup, menimbulkan kesan hutan ini berubah menjadi dunia lain. Dunia yang dipenuhi ancaman dan ketakutan.

1
y@y@
👍🏾⭐👍🏻⭐👍🏾
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
gak jadi buat daging naga goreng tepung buat lauk sahurnya boqin
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
mari kita buat daging naga goreng tepung
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
Ngabuburit
Iqbal Zein
pokokee joss..
Eka Haslinda
sebelum bola pemanggil datang.. Boqin Changing dah merekrut kembali pasukan nya
Rinaldi Sigar
lnjut
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Waooow pendekar langit 🌽🔥
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
angin kelana
lanjuuuuuttt
Akhmad Baihaki
😍😍😍
Ahmad Ridwan
yok yok besok sudah 5 tahun . waktu nya berngkat ke alam yng lebih tinggi🤣
Raju
meng ngemeng !!
udh lulus mesin scanning NT g thor ??
rate novel mu udh Top 3 besar di fiksi pria...
Raju
walaupon si bogin prnh breinkarnasi...
tpi mencapai ranah pendekar langit di usia semuda itu...!!
itu WAAAAH pakai BANGET.,...
tariii
👍👍👍👍👍
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Akhirnya Paman Nuo berhasil duluan
Zainal Arifin
joooooooosssss 🤲🤲🤲
yayat
mungkinkah boqin akan mendapatkn semua bola2 yg ada terutama bola pemanggil untuk mengumpulkn semua pasukan lamanya dikehidupn pertamanya
syarif ibrahim: kayaknya tidak, karena diambil kaisar xin.... 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!