Berabad-abad setelah perang yang menghancurkan dunia Avalon, perdamaian tidak lebih dari sebuah tirai rapuh yang menyembunyikan ambisi-ambisi kuno dan rahasia-rahasia yang telah lama terkubur. Kael Ashvern, seorang remaja dari desa Ashfall, menjalani kehidupan yang tenang—hingga sebuah tragedi mendadak memaksanya melangkah jauh melampaui batas segala yang pernah ia kenal, dan mengungkapkan bahwa kalung warisan orang tuanya adalah salah satu dari dua puluh Philosopher Stones, artefak paling kuat yang lahir dari sisa-sisa The Great War.
Diburu oleh faksi-faksi yang saling bersaing dan dibayangi oleh kekuatan gelap yang mulai menggeliat kembali, Kael perlahan memahami bahwa dirinya bukan sekadar korban takdir. Untuk bertahan hidup, ia harus menghadapi dunia di mana kekuatan besar tidak pernah datang tanpa pengorbanan.
Mampukah Kael melewati ujian-ujian yang menantinya dan mengungkap kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon celvinworks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan Praktek (2)
Kerumunan memadati Alun-Alun Utama—seratus lima puluh kandidat berhimpun di depan papan pengumuman raksasa yang didirikan khusus untuk momen ini. Enchantment magis memungkinkan papan itu menampilkan informasi yang terlihat jelas dari jarak jauh, memperbarui dirinya sendiri secara langsung.
Kelompok belajar kami memilih posisi di jarak menengah—tidak di barisan terdepan yang sesak, tapi cukup dekat untuk membaca hasilnya dengan nyaman.
Suasananya tegang. Sunyi yang mencekam, meski ratusan orang berdiri di sekitar. Semua orang menunggu, hampir tidak bernapas.
Professor Veyris muncul di atas podium di samping papan, suaranya diperkuat secara magis.
"Para kandidat. Periode ujian telah selesai. Hasil telah dihitung. Lima puluh kandidat teratas yang dipilih berdasarkan gabungan nilai ujian tertulis dan demonstrasi praktik akan menerima tawaran penerimaan ke Arcanum Academy."
Jeda. Disengaja. Dramatis.
"Nama yang muncul di papan diterima. Yang tidak tercantum—kami menghargai partisipasi kalian. Kesempatan di masa depan masih ada; pengajuan ulang diperbolehkan tahun depan."
Cara sopan untuk mengatakan, Kamu gagal. Pulanglah.
"Hasil ditampilkan sekarang."
Papan itu berpendar putih menyilaukan, kemudian—
Nama-nama muncul. Bergeser ke atas perlahan, memberikan waktu untuk membaca.
Urutan alfabet. Dimulai dari A.
Jantungku berdegup keras. Kael—bagian K, di suatu tempat di tengah.
Nama-nama terus bergulir. Aamon... Amara...
Terlalu lambat. Menyiksa.
Finn mencengkeram lenganku dengan kuat. "Aku tidak bisa melihat. Beritahu aku kalau—kalau namaku—"
"Bernapaslah, Finn," Lysan mengingatkannya dengan tenang, meski bahkan ia pun menatap papan itu dengan intensitas yang tidak biasa.
Nama-nama berlanjut. Brenna... Cassia Silverwind—
"Cassia masuk!" seru Mira, menunjuk ke papan.
Benar. Nama Cassia berkilauan dalam huruf emas. Diterima.
Guliran berlanjut. Derek Deimont—
Sial. Derek lolos. Artinya aku harus berurusan dengannya di Academy.
Luar biasa.
Lebih banyak nama. Elara Moonwhisper—
"Elara!" Kira berseru gembira.
Elara ada di kerumunan itu entah di mana, kemungkinan merayakannya dengan diam-diam.
Finn Ironhammer—
"Finn!" Aku memeras lengannya. "Kamu masuk!"
"Aku—aku masuk?!" Suara Finn pecah. "Aku benar-benar—"
Ia jatuh berlutut, kewalahan. Mira dan Kira langsung memeluknya, si kembar menangis karena kebahagiaan.
Nama-nama bergulir lebih cepat sekarang. Garrick... Iris—
Semakin dekat. Bagian K sudah hampir tiba.
Napasku tertahan.
Kaelen... Kael—
Di sana.
KAEL ASHVERN - PERINGKAT 12/500 - DITERIMA
Peringkat dua belas dari lima ratus kandidat awal.
Aku diterima.
Emosi menerjang bagai gelombang—lega, bahagia, tidak percaya, syukur, lelah—kakiku lunglai. Aku duduk berat di tanah, tidak mampu berdiri.
"Kael masuk!" Marcus berteriak, hampir menabrakku dengan pelukan. "Peringkat dua belas! Luar biasa!"
Nama-nama terus bergulir. Kira Vermont. Lysan Moonwhisper. Marcus Duskbane. Mira Vermont—
"Kita semua masuk!" Mira memekik, ikut bergabung dalam pelukan kelompok. "Seluruh kelompok belajar diterima!"
Peluang yang hampir mustahil. Tujuh orang, semua lolos. Anomali statistik.
Tapi nyata. Tidak bisa dipungkiri nyata.
Guliran selesai.
Lima puluh nama. Lima puluh penerimaan.
Empat ratus lima puluh penolakan.
Kesunyian sesaat turun saat kenyataan menyapa mereka yang tidak tercantum. Kemudian—tangisan. Ada yang menangis karena suka cita, ada yang karena kehancuran.
Sorak sorai dari kandidat yang berhasil.
Kepergian sunyi dari mereka yang ditolak, meninggalkan alun-alun dengan kepala tertunduk dan mimpi yang remuk.
Keras. Brutal. Kenyataan dari sebuah institusi yang selektif.
Rasa bersalah menyelinap masuk—rasa bersalah si penyintas. Aku berhasil. Yang lain tidak. Mungkin ada yang sudah bekerja lebih keras, berkorban lebih banyak, lebih pantas daripada—tidak. Aku meraih penerimaan ini melalui usaha, kemampuan, ketekunan. Hormati perjuangan mereka dengan tidak meremehkan pencapaianku sendiri. Rayakan keberhasilan sambil menghormati kekecewaan orang lain. Kedua kebenaran itu bisa berdampingan.
Aku berdiri perlahan, membantu Finn bangkit—yang masih gemetar karena emosi.
Kelompok belajar berkumpul bersama—tujuh kandidat sukses yang memulai sebagai orang asing, menjadi sekutu, dan kini sesama siswa.
"Kita berhasil," Elara berbisik, muncul dari kerumunan dengan senyum yang bersinar. "Semuanya. Satu per satu."
"Dengan peluang yang hampir mustahil," Cassia menambahkan, senyum penuh yang langka di wajahnya yang biasanya dingin.
"Statistik menunjukkan hanya dua atau tiga dari kita yang akan lolos," Marcus mengakui. "Tapi kita mengalahkan probabilitas. Melalui dukungan bersama, pengetahuan yang dibagi, persiapan kolaboratif—"
"Melalui persahabatan," Lysan mengoreksinya dengan lembut. "Statistik tidak memperhitungkan itu."
Finn mengangkat gelas imajiner—tetap tidak ada alkohol, kebiasaan itu bertahan. "Untuk kelompok belajar! Kini sesama siswa! Mahasiswa Academy! Semoga kita bertahan empat tahun ke depan bersama!"
"Setuju!" seru mereka serentak.
Suara Professor Veyris memotong perayaan, "Kandidat yang diterima—lapor ke Gedung Administrasi besok pagi, pukul sembilan tepat. Orientasi, penugasan asrama, pendaftaran mata kuliah. Bawa semua barang pribadi; asrama sementara ditutup malam ini. Selesai!"
Pengingat realita. Perayaan punya batas waktu.
"Kita harus beberes," Lysan menyarankan secara praktis. "Dan istirahat. Besok bab baru dimulai."
Semua setuju. Kelompok berpencar perlahan, enggan, masih menikmati cahaya kemenangan.
Berjalan kembali menuju asrama sementara bersama Marcus dan Lysan, segalanya terasa tidak nyata. Seperti mimpi yang bisa menguap kapan saja.
Penerimaan ke Arcanum Academy.
Tujuan tercapai.
Fase berikutnya dari perjalanan pun dimulai.
Kamar 3-17 terasa berbeda sekarang—bukan lagi tempat perlindungan sementara, melainkan ruang transisi yang tak lama lagi akan ditinggalkan.
Mengemas barang-barangku tidak memerlukan banyak waktu. Aku tidak pernah mengumpulkan banyak hal—kebiasaan bepergian ringan masih melekat dari perjalanan panjang sebelumnya.
Pedang, baju zirah, pakaian, perlengkapan, kartu guild, surat-surat dan kenang-kenangan dari Kakek, Azure Codex yang menggantung di dadaku.
Semuanya muat dalam satu ransel.
Marcus, sebaliknya—kekacauan total. Buku berserakan di mana-mana, catatan berantakan, perlengkapan menumpuk tidak karuan.
"Bagaimana," Lysan bertanya dengan frustrasi yang bercampur kasih sayang, "kamu bisa mengumpulkan sebanyak ini hanya dalam satu minggu?"
"Materi penelitian!" Marcus membela diri. "Sumber daya penting! Aku tidak bisa meninggalkan ilmu pengetahuan—"
"Kamu membawa lima belas buku untuk kelas yang bahkan belum dimulai."
"Persiapan!"
"Obsesi."
"Obsesi yang produktif!"
Lysan menghela napas tapi tetap membantu membereskan. Pengemasan yang efisien—kekacauan Marcus berubah menjadi koper yang tertata rapi dalam satu jam.
Malam turun. Malam terakhir di penginapan sementara.
Kami duduk bersama di kamar, tidak lagi belajar, hanya ada dalam keheningan yang nyaman.
"Aku masih tidak percaya," Marcus mengakui pelan. "Berbulan-bulan persiapan. Bertahun-tahun bermimpi. Dan sekarang benar-benar diterima."
"Kepercayaan itu akan datang," Lysan memastikannya. "Seiring waktu, hal yang tidak nyata menjadi normal."
"Apa yang paling kalian nantikan?" tanyaku, penasaran.
Marcus menjawab seketika. "Kursus teori magis tingkat lanjut. Akses ke bagian perpustakaan terlarang. Belajar dari profesor-profesor legendaris. Melakukan penelitian orisinal—"
"Pengetahuan," Lysan merangkumnya dengan senyum kecil. "Tidak mengejutkan." Ia berpaling padaku. "Dan kamu, Kael?"
Pertanyaan yang rumit. Jawaban jujurnya adalah memahami Azure Codex sepenuhnya, menemukan informasi tentang orang tuaku, menjadi cukup kuat untuk melindungi yang penting. Tapi aku tidak bisa mengatakannya secara terbuka.
"Menjadi orang terkuat, sepertinya?" jawabku hati-hati. "Aku punya kemampuan mentah, mungkin. Tapi aku kurang pemolesan. Academy menawarkan pelatihan terstruktur untuk berkembang dengan benar."
"Haha, tujuan klise, Kael," komentar Lysan dengan nada menyetujui. "Tapi kontrol lebih penting daripada kekuatan. Kekuatan yang tidak terkendali itu berbahaya; disiplin yang terlatih itu efektif."
Percakapan mengalir ke topik yang lebih ringan—spekulasi tentang pengaturan asrama, pilihan mata kuliah, eksplorasi kampus, reputasi para senior.
Akhirnya, kelelahan menyusul kami.
"Tidur," Lysan menyarankan. "Besok menuntut energi."
Semua setuju. Kami bersiap tidur.
Berbaring dalam kegelapan, pikiranku menolak untuk benar-benar tenang meski tubuh sudah lelah.
Besok orientasi, penugasan asrama, pendaftaran mata kuliah. Awal resmi kehidupan Academy.
Empat tahun. Minimal. Mungkin lebih jika aku mengejar studi lanjutan.
Empat tahun untuk menemukan kebenaran tentang orang tuaku. Tentang Azure Codex, tentang Philosopher Stones dan warisan Great War.
Empat tahun untuk menjadi cukup kuat menghadapi ancaman apa pun yang mengintai di balik bayangan—Shadow Syndicate, faksi-faksi Gereja, pergerakan Iblis, kejahatan purba yang mulai terjaga.
Empat tahun untuk bertumbuh dari anak yatim desa menjadi... apa? Penyihir yang kuat? Pejuang legendaris? Sesuatu yang sama sekali berbeda?
Ketidakpastian di depan. Tantangan yang tak terelakkan. Bahaya yang mengintai.
Tapi juga—kesempatan.
Dengan keyakinan itu, aku bisa menghadapi apa saja.
Tidur akhirnya merenggutku, menarikku ke dalam istirahat tanpa mimpi.
Malam terakhir sebagai kandidat.
Besok—mahasiswa.
Siap atau tidak... kehidupan Academy dimulai.
[HARI ORIENTASI - PAGI]
Aku terbangun oleh sinar matahari yang menerobos jendela dan Marcus yang sudah sibuk mengemas barang-barang menit-menit terakhir dengan panik.
"Kita punya sembilan puluh menit sampai orientasi!" teriaknya. "Harus memindahkan barang, menavigasi kampus yang belum dikenal, menemukan Gedung Administrasi—"
"Marcus," Lysan memotong dengan tenang, baru saja keluar dari meditasi paginya. "Bernapaslah. Sembilan puluh menit cukup."
"Secara statistik, keterlambatan tak terduga terjadi pada tujuh puluh tiga persen—"
"Bernapaslah."
Marcus menarik napas gemetar. "Baik. Bernapas. Produktif."
Kami menyelesaikan persiapan dengan efisien—kerja sama tiga orang yang sudah terbiasa bekerja bersama.
Pukul delapan, kami meninggalkan asrama sementara untuk terakhir kalinya. Ransel di bahuku, pedang terpasang di punggung, Azure Codex tersembunyi di balik tunik baru.
Siap.
Kampus sudah ramai dengan aktivitas—kandidat yang diterima berhimpun menuju Gedung Administrasi, para senior kembali dari liburan musim panas, para profesor mempersiapkan tahun akademik baru.
Energinya terasa—kegembiraan, kegugupan, antisipasi bercampur di udara seperti kekuatan yang nyata.
Gedung Administrasi sangat megah—empat lantai batu putih, detail arsitektur yang rumit, warding magis berkilap samar mengelilingi perimeternya. Pintu masuk utama lebar dan ramah, dengan moto Academy terukir di atasnya: "Scientia Potentia Est - Ilmu Adalah Kekuatan."
Tepat sekali.
Di dalam, kekacauan yang terorganisir. Meja-meja didirikan untuk berbagai proses administrasi—penugasan asrama, pendaftaran mata kuliah, distribusi perlengkapan, penjadwalan orientasi.
Papan petunjuk mengarahkan kandidat yang diterima menuju Aula Utama untuk orientasi umum terlebih dahulu.
Aku mengikuti arus kerumunan, memasuki aula besar dengan kursi bertingkat yang mampu menampung beberapa ratus orang. Lima puluh kandidat yang diterima terasa seperti angka kecil dalam ruang yang luas itu.
Aku duduk bersama kelompok belajar—kami menempati seluruh satu baris bersama.
Tepat pukul sembilan—pintu tertutup. Professor Veyris muncul di atas panggung bersama beberapa anggota fakultas lainnya.
"Selamat, mahasiswa yang diterima," Veyris memulai dengan nada formal. "Kalian mewakili sepuluh persen teratas dari pelamar—individu paling berbakat, paling berdedikasi, paling menjanjikan dari kumpulan kandidat tahun ini."
Jeda singkat untuk tepuk tangan sopan dari para fakultas.
"Pendidikan di Arcanum Academy itu ketat. Kurikulum empat tahun dibagi menjadi Tahun Fondasi dan tiga tahun spesialisasi. Tahun Fondasi—yang kalian semua masuki sekarang—mencakup kompetensi inti di semua disiplin ilmu magis. Di akhir Fondasi, kalian akan memilih jalur spesialisasi berdasarkan bakat dan minat."
Masuk akal. Fondasi luas sebelum fokus yang sempit.
"Jalur spesialisasi meliputi Evocation, Transmutation, Abjuration, Divination, Enchantment, Conjuration, Necromancy"—beberapa orang tampak tidak nyaman mendengar yang satu itu—"Healing Arts, Combat Magic, Theoretical Arcana, dan Applied Research. Detail akan diberikan selama sesi konsultasi akademik."
Pilihan yang luas. Bagus untuk seseorang yang masih belum pasti sepertiku.
"Persyaratan akademik: minimal dua belas kredit per semester, nilai kelulusan di semua mata kuliah inti, partisipasi dalam ujian praktik, penyelesaian proyek tesis akhir. Kegagalan memenuhi standar ini mengakibatkan masa percobaan atau pengusiran."
Keras tapi sudah diduga untuk institusi elit.
"Selain itu," Veyris melanjutkan dengan nada lebih serius, "Academy beroperasi di bawah Kode Etik yang ketat. Aktivitas yang dilarang mencakup eksperimen magis tanpa izin, penyerangan atau pembahayaan sesama mahasiswa, pencurian, kecurangan, kepemilikan bahan terlarang, bersekutu dengan entitas gelap, dan pelanggaran batas kampus."
Aturan standar, wajar.
"Pelanggaran ditangani melalui dewan disiplin. Sanksi berkisar dari peringatan untuk pelanggaran kecil hingga pengusiran langsung untuk pelanggaran berat. Dipahami?"
Suara pengakuan kolektif.
Veyris mengangguk. "Orientasi dilanjutkan dengan tur kampus, penugasan asrama, dan pendaftaran mata kuliah. Kelompok diorganisir berdasarkan preferensi jalur yang kalian nyatakan saat mendaftar. Kandidat General Studies—kelompok terbesar—ikuti Professor Aldric Thorne."
Seorang pria tua berdiri dari barisan fakultas—jenggot putih, mata yang ramah, jubah yang menandakan spesialisasi Transmutation. "Kandidat General Studies, ikuti saya."
Sekitar dua puluh mahasiswa berdiri—termasuk seluruh kelompok belajar.
Kami mengikuti Professor Thorne keluar dari Aula Utama, membentuk kelompok yang santai untuk tur kampus.
"Selamat datang, mahasiswa General Studies," Thorne menyapa dengan suara hangat. "Saya adalah penasihat akademik kalian selama Tahun Fondasi. Kantor saya selalu terbuka untuk pertanyaan, kekhawatiran, bimbingan. Jangan ragu untuk meminta bantuan."
Pendekatan yang bersahabat. Menjanjikan.
Tur pun dimulai—Professor Thorne memimpin kami mengelilingi kampus sambil berkomentar.
"Gedung Akademik Utama—menampung sebagian besar ruang kuliah, ruang seminar, kantor fakultas. Kelas terutama diadakan di sini."
Bangunan masif dengan arsitektur gotik, banyak sayap memanjang ke berbagai arah.
"Perpustakaan Pusat—tiga lantai akses publik, dua lantai terbatas yang memerlukan izin. Ruang belajar, materi penelitian, koleksi arsip. Zona hening diberlakukan dengan ketat."
Bangunan yang indah, jendela dari lantai ke langit-langit, rak-rak buku tampak terbentang seolah tak berujung di dalamnya.
"Lapangan Pelatihan Praktik—arena luar ruangan untuk praktik combat magic, manipulasi elemental, pengujian sihir berskala besar. Sesi terawasi wajib untuk keamanan."
Lapangan terbuka dengan batas yang diperkuat, bekas gosong dari latihan sebelumnya terlihat di tanah.
"Laboratorium Alkimia—fasilitas khusus untuk pembuatan ramuan, transmutasi material, penelitian eksperimental. Protokol keselamatan sangat penting—pelanggaran berakibat larangan langsung."
Gedung yang dijaga ketat, banyak cerobong asap mengeluarkan asap berbagai warna, tanda peringatan terpasang di mana-mana.
"Asrama Mahasiswa—empat gedung, hunian diorganisir berdasarkan tahun dan jalur. General Studies ditempatkan di Asrama Epsilon. Kamar untuk dua orang, area umum berbagi, jam hening diberlakukan."
Gedung modern, garis bersih, pintu masuk yang ramah.
Tur berlanjut selama satu jam, mencakup ruang makan, fasilitas rekreasi, kantor administrasi, pusat medis, dan banyak lokasi lainnya.
Kampusnya sangat luas. Membingungkan. Aku berusaha menghafal tata letaknya tapi segera kehilangan jejak.
Stone rupanya sedang memetakan kampus secara mental, membuat referensi yang bisa kuakses nanti.
Itu sangat berguna.
Akhirnya, tur berakhir kembali di Asrama Epsilon.
"Penugasan kamar tertulis di dalam," Professor Thorne menjelaskan. "Temukan namamu, cari kamarmu, berbenah. Pendaftaran mata kuliah dimulai sore ini—formulir tersedia di kantor Urusan Akademik. Ada pertanyaan?"
Finn mengangkat tangannya. "Apakah pemilihan teman sekamar acak atau berdasarkan kesesuaian?"
"Acak dengan penyesuaian kecil untuk ketidakcocokan yang signifikan," jawab Thorne. "Membangun jaringan sosial yang beragam, mencegah pembentukan klik."
Masuk akal, meski sedikit membuat gugup. Teman sekamarku bisa siapa saja.
"Ada pertanyaan lain? Tidak? Baik. Bereskan barang, jelajahi kampus, ikuti pendaftaran mata kuliah. Kelas dimulai besok. Selesai."
Kelompok berpencar, memasuki asrama untuk mencari penugasan masing-masing.
Di dalam, papan besar mencantumkan nama-nama secara alfabet beserta nomor kamar yang sesuai.
Aku memindai daftar itu dengan cepat.
KAEL - KAMAR 3-17 - TEMAN SEKAMAR LYSAN MOONWHISPER
Tunggu.
Nomor kamar yang sama dengan penginapan sementara. Teman sekamar yang sama.
Kebetulan? Atau disengaja?
Aku melirik Lysan, yang juga sedang membaca papan itu. Ia bertemu pandangku, senyum kecil muncul di wajahnya.
"Tampaknya kita cukup cocok untuk dilanjutkan," komentarnya ringan.
"Beruntung," aku setuju, lega yang tulus mengalir.
Teman sekamar yang sudah dikenal menghilangkan setidaknya satu sumber kecemasan.
Marcus sedang memindai daftar dengan panik. "Kamar 3-19... teman sekamar Elden Grey. Tidak kenal nama itu. Semoga cocok. Tolong cocok. Statistik menunjukkan—"
"Marcus," Lysan mengingatkannya pelan.
"Benar. Berpikir positif."
Sisa kelompok belajar memeriksa penugasan masing-masing. Elara Kamar 2-14 dengan teman sekamar Sera, Finn Kamar 4-08 dengan Davos—seorang dwarf lain, pasangan yang bagus—Mira Kamar 2-21 dengan Lyria, Kira Kamar 2-22 dengan Nessa, Cassia Kamar 3-09 dengan Aria.
Semua tampak seperti pasangan yang wajar. Pihak administrasi rupanya sudah memikirkan soal kesesuaian.
"Ketemu untuk makan siang?" Elara mengusulkan. "Ruang makan, jam dua belas?"
Semua setuju.
Aku menuju Kamar 3-17—lantai tiga, sayap timur, tata letak yang sudah familiar dari penginapan sementara.
Membuka pintu, kamar yang berbeda menyambutku. Ukuran serupa, tapi lebih baik furniturnya. Dua tempat tidur dengan kasur yang sebenarnya, dua meja dengan kursi yang layak, dua lemari dengan ruang yang cukup, rak buku bersama, dan jendela dengan pemandangan halaman tengah yang bagus.
Peningkatan yang signifikan.
Lysan masuk di belakangku, langsung bergerak ke tempat tidur sebelah kiri. "Preferensi untuk sisi mana?"
"Mana saja tidak masalah," aku memastikannya, mengambil tempat tidur kanan.
Membongkar barang hanya butuh beberapa menit. Barang minim, diorganisir dengan efisien.
Lysan selesai dengan kecepatan serupa. Kami berdua duduk di tempat tidur masing-masing, kesunyian canggung sesaat.
"Jadi," aku memulai. "Teman sekamar untuk mungkin empat tahun."
"Memang," Lysan setuju. "Haruskah kita menetapkan aturan dasar? Kebiasaan, preferensi, batas-batas?"
Pendekatan yang praktis. Aku menghargainya.
"Aku berlatih gerakan pedang pagi-pagi sekali," aku berbagi. "Aku berusaha tenang, tapi sedikit kebisingan tidak terhindarkan."
"Bisa diterima. Aku meditasi saat fajar dan senja—butuh keheningan untuk waktu-waktu itu."
"Mudah disesuaikan."
"Kebiasaan belajar?" tanya Lysan.
"Sering, jadwal tidak teratur. Aku lebih suka belajar sendiri, tapi terbuka untuk sesi kolaboratif."
"Serupa. Musik pelan sesekali—instrumental saja, tanpa vokal. Keberatan?"
"Tidak ada. Sebenarnya bagus untuk latar belakang."
Percakapan berlanjut, membangun kerangka hidup bersama yang nyaman. Jadwal tidur, harapan kebersihan, kebijakan tamu, batas privasi.
Lebih mudah dari yang kukira. Lysan rasional, masuk akal, menghormati.
Teman sekamar yang baik. Mungkin teman yang baik.
Ketukan di pintu—suara Marcus dari luar. "Kael? Lysan? Waktu makan siang sudah dekat. Kita harus berangkat segera untuk mendapat tempat duduk yang bagus!"
Sudah siang. Waktu berlalu cepat.
"Segera!" seruku, berdiri.
Lysan bangkit dengan anggun. "Petualangan ruang makan dimulai."
Bersama Marcus—yang rupanya sudah mulai akrab dengan teman sekamarnya, Elden—kami menuju Ruang Makan Pusat.
Kampus masih membingungkan dari segi ukuran, tapi perlahan mulai terasa familiar.
Satu langkah pada satu waktu.
Satu hari pada satu waktu.
Kehidupan Academy resmi dimulai.
Dan meski ada kecemasan, ketidakpastian, dan tekanan—
Rasanya tepat. Seperti akhirnya tiba di tujuan yang sudah lama dicari.