Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan Marlena
"Malam itu aku sudah meminta mama untuk berkata jujur dengan Om Angga. Tapi mama menolak keras karena mama tidak menyukai Fiola," cerita Cakra apa adanya.
"Mamamu tau tentang kamu dan Fiola?" Danu Sumirat kaget. Tidak menyangka sama sekali.
Dia memang sudah curiga dengan kedekatan putranya dengan Fiola. Awalnya sempat menduga Cakra akan menikah dengan Fiola, tapi ternyata Febi. Jadi dia mengira putranya san Fiola hanya berteman saja karena mereka memang sudah akrab sejak kecil.
"Jadi kamu memang sudah ada rencana ngga datang?"
Cakra menggeleng. Sampai kimi dia merasa heran kenapa bisa mabok berat. Dia yakin hanya minum beberapa gelas kecil, tapi efeknya bisa sefatal ini.
Lagi pula yang dia heran kenapa Rino dan Wira juga sampai mabok berat juga.
"Aku hanya ingin menenangkan diri."
Danu terdiam, dia tau putranya ngga mungkin seceroboh ini. Kecuali dia kebablasan atau ada yang mengerjainya.
"Sekuriti dan staf bartender yang bawa kalian ke kamar," jelas papanya dengan tatap tajam.
Cakra masih mencoba menggali ingatan yang sayangnya gagal.
"Om Angga dan Febi pasti malu sekali."
Danu Sumirat menghela nafas panjang.
"Febi sudah menikah dengan Jetro, cucunya keturunan Airlangga Wisesa."
Cakra terpaku mendengarnya.
"Saat Febi sedang menunggu kamu di tempat akad, dan kamu tidak muncul juga, pemuda itu langsung melamar Febi dan Om Angga menerimanya."
Sia lan, maki Cakra. Sekarang dia langsung tau kenapa dia dan dua bawahannya bisa mabok berat. Cakra yakin ini pasti ulah konglomerat itu.
"Jadi hubunganmu sekarang dengan Fiola sudah tidak ada hambatan. Papa akan melamar Fiola untuk kamu. Semoga Pak Angga masih mau berbesanan dengan kita," ucap Danu Sumirat ngga yakin.
Kesalahan putranya sudah terlalu besar.
Cakra menggeleng.
Danu yamg khawatir dengan penolakan Angga, jadi terkejut dengan penolakan putranya.
"Fiola sudah tidak mencintai aku," ucapnya di tengah tatap penuh tanya papanya. Malam itu Fiola sudah sangat kejam menolak permintaannya hingga minum alkohol bergelas gelas.
"Karena mama?"
"Salah satunya." Tapi dalam hatinya dia merasa kasihan juga dengan gadis itu karena laki laki yang dia idam idamkan sudah sah menjadi istri adiknya.
Danu Sumirat menghela nafas panjang lagi.
"Dia sudah punya kekasih?" tebak papanya.
Cakra hanya mengangguk, dia sudah tidak ingin membahas Fiola lagi.
Sekarang dia hanya ingin mengetawakan kepercayaan diri Fiola yang terlalu tinggi.
*
*
*
PLAK!
Cakra hanya diam ketika mamanya melampiaskan kemarahannya padanya.
"Tega kamu, Cakra. Tega!" Tangis mamanya pecah lagi. Setelah menampar pipi Cakra, kemudian di memukul dada putranya berkali kali.
"Mungkin semua ini ngga akan terjadi kalo kamu merestui hubungannya dengan Fiola," ucap Danu Sumirat getir.
"Aku hanya ingin Cakra lebih terurus kalo bersama Febi. Kalo Fiola, dia keseringan terbang. Dalam sebulan dia hanya cuti beberapa hari saja."
"Nanti, kan, bisa dibicarakan, sayang," bantah suaminya lagi, masih dengan nada getir. Berusaha tidak menyalahkan.
"Fiola pasti akan mengurangi jadwal terbangnya kalo sudah menikah dengan Cakra," sambungnya lagi.
"Tapi Fiola itu kasar. Bagaimana nanti kejiwaan anak kalian kalo dia yang asuh," ngeyel Marlena.
"Ma," protes Cakra karena menurutnya mamanya agak keterlaluan karena sudah memvonis masa depan keluarga kecilnya nanti.
"Seiring waktu dia pasti berubah. Lagi pula kenapa kamu sudah berpikir sejauh itu?" Danu tertawa pelan walau tetap getir.
Tangis Marlena mereda. Dia berusaha menenangkan dirinya sekarang. Semuanya sudah terjadi. Prasangkanya memang sudah sangat jauh. Sekarang yang harus dia pikirkan bagaimana menyelesaikan semua kerumitan ini.
"Jadi sekarang bagaimana? Pak Angga ngga akan marah kalo kita jadi plin plan kayak gini?"
Danu Sumirat menghembuskan nafasnya.
"Nanti aku yang akan bicara dengannya."
Marlena mengangguk sambil menjauh dari putranya. Dia pun mengusap air matanya.
"Ma, pa, ngga usah," tolak Cakra sambil menggelengkan kepalanya.
"Loh, kenapa? Bukannya hari itu kamu mohon mohon sama mama? Kenapa sekarang berubah?" Marlena menatap tak terima. Padahal akhirnya dia sudah merestui, tapi anaknya malah sekarang menolak.
Cakra memejamkan matanya sesaat sebelum menjawab.
"Malam itu aku menelpon Fiola, mengatakan akan membatalkan pernikahan besok. Aku masih waras. Tapi Fiola menolak. Sebenarnya ini penolakannya yang kesekian kali."
"Alasannya?" kejar Marlena menahan geram.
"Kata Fiola, kalo mama bisa menerima dia, baru dia mau. Memang sekarang mama mau menerima dia, tapi aku takutnya mama terpaksa. Fio butuh sosok mama yang sayang dengan dia, ma. Aku takut mama masih marah karena yang mama suka Febi," jelas Cakra panjang lebar. Walau ada alasan yang benar benar melukainya.
Marlena terdiam. Yang dikatakan putranya memang benar. Setelah tau kelakuan Fiola selama bertahun tahun, akan sulit mengasihi gadis itu setulus dia terhadap Febi.
Helaan nafas gusarnya terdengar.
"Ya, mama salah. Mama akan berusaha menyayangi Fiola." Terpaksa dia mengalah. Marlena takut anaknya akan berlaku yang lebih parah dari ini.
"Bagaimana? Sudah bisa kita melamar Fiola?" tanya Danu Sumirat.
Cakra menggeleng.
"Kenapa lagi?" tanya Marlena gusar. Rasa sabarnya hampir hilang.
"Agak rumit, ma."
"Apanya?" desak Marlena kesal.
Cakra terdiam sebentar.
"Fiola sudah suka dengan laki laki lain yang mamanya katanya baik dengannya. Tapi...."
Marlena agak tersentak mendengarnya. Dia merasa gadis itu memang ingin membalasnya.
"Tapi apa?" Kali ini Danu Sumirat yang bertanya dengan nada ngga sabar.
Cakra tidak bisa menjawab. Walaupun kesal, dia masih ngga tega juga membongkar nasib si-al gadis yang selama ini dia cinta.
"Karena dia sudah suka orang lain, jadi aku ngga bisa melamar dia."
Marlena dan suaminya saling tatap. Jalan yang kiranya terlihat ujungnya, sekarang buntu lagi.
*
*
*
Di kamarnya Cakra baru memeriksa ponselnya. Banyak notif pesan dan panggilan tak terjawab dari papanya juga om Angga. Tapi yang paling banyak dari Fiola.
Febi sama sekali tidak menelponnya. Pasti dia lega sekarang. Ternyata Jetro benar benar menyukainya.
Cakra tersenyum miring. Dia kemudian membaringkan tubuhnya di ranjangnya. Matanya menatap ke langit langit kamarnya.
Ponselnya berdering pelan karena memang sudah dia atur volumenya.
Tapi tidak dia gubris. Dia tau telpon itu dari Fiola dari nada deringnya yang memang beda dari yang lain.
Hari ini dia benar benar tidak ingin diganggu. Besok saja dia hadapi kemarahan gadis itu. Juga papanya.
*
*
*
Fiola hampir membanting ponselnya karena Cakra masih juga tidak mau mengangkat telponnya.
Dia sendiri masih berada di tempat pesta, hanya mengambil tempat yang tersembunyi, jauh dari orang orang yang dia kenal.
Tubuhnya dia sandarkan di dinding. Kemarahan yang meluap membuat dia tidak ingin memberikan ucapan selamat untuk adiknya.
Buat apa!
Hatinya kecewa dan jengkel melihat Febi bisa diterima dengan baik oleh semua anggota keluarga Jetro.
Jadi dia kalah?
Papanya pun tidak melakukan apa apa untuk menghalangi semua ini.
Dadanya seperti direm@s tangan kekar yang kasat mata.
lagian kan mereka dah tau gimana sifat aslinya Fiola,