"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.
Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,
"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."
Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.
Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,
Namun siapa sangka? Di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengumuman
"Apa maksutmu?" sontak Nila mengernyit, berusaha memahami apa maksud ocehan tadi.
Sedangkan Elang nampak tertegun, dibuat panik. Sebab Raisa telah berjanji takkan mengatakan perihal kejadian di masa lalu,
Asal permintaannya dituruti, namun Raisa ingkar dan memancing kemurkaan seseorang.
"10 tahun lalu. Mobil keluarganya lah yang sudah menabrak orangtua kakak." lugas Raisa menyeringai,
Begitu puas mendapati Nila yang tampak terguncang.
"Aku baru mengetahuinya kemarin saat kalian datang ke rumah. Bahkan dia sampai rela membantuku bekerja disini---"
"Karena takut, aku membocorkan kebenaran itu pada kakak."
"Aku ga tau gimana cara dia memasukkanku ke sini. Yang jelas dia melakukannya karena takut kakak tahu!"
"Dengar kak? Dia ini, sangat takut kehilangan pembantu sepertimu."
"Yang mau mengurus dan menafkahinya. Dia takut kamu membuangnya,"
Raisa mengoceh, terus mengompori seakan sengaja ingin menghancurkan hubungan Nila,
Berusaha membuat Nila putus asa dan tahu jika tidak ada satu pun yang tulus menemaninya.
"..." Elang bungkam tanpa kata,
Tak bisa mengelak. Takut jika jawabannya terdengar seperti alasan, untuk kabur dari kesalahan.
Entah apa yang sekarang Nila pikirkan.
Andai kecelakaan itu tidak terjadi, ibu Nila pasti selamat dan hidup bersamanya.
"Hentikan, omong kosongmu." sahut Nila merendahkan suara,
"Suamiku setuju, karena dia merasa bersalah bukan takut aku meninggalkannya."
"Dia hanya menebuh rasa bersalahnya atas takdir yang tidak pernah dia inginkan."
Nila meraih, mengenggam pergelangan Elang yang terasa dingin.
Matanya menoleh, menatap dengan lembut. "Berhentilah merasa bersalah. Karena kamulah yang lebih banyak kehilangan daripada aku..."
"Menggelikan, sangat menjijikkan." batin Raisa menjerit risih, alisnya berkerut kesal melihat keharmonisan mereka.
Tak habis pikir dengan pikiran Nila yang masih senang merima pria buta seperti Elang.
"Dasar pasangan tolol!"
Raisa melirik pelayan yang sedang berjalan melewati, tampak membawa senampan penuh gelas berisi minuman.
Tangannya terulur, tak ragu mengambil paksa, untuk disiramkan.
SPLASH!
Lemparan itu meleset, Elang berhasil menggeser tubuh Nila. Meski harus mengorbankan setengah bajunya basah dipenuhi noda,
"Raisa!" cecar Nila dibuat geram,
Menoleh, mencari gadis yang sudah berlari pergi.
Tanpa berpikir lama, Nila langsung menyeka sisa wine yang membasahi pipi Elang. Mengusap pelan dengan lengan bajunya,
"Kamu gapapa?"
Pria itu mengangguk, mengibas pelan kemejanya. "Aku bisa sendiri. Sekarang kamu masuk ke aula...sebentar lagi hasilnya keluar, jangan sampai kamu ketinggalan acara."
"Gapapa, biarkan aku membantumu dulu." sahut Nila menolak pergi,
"Percuma aku masuk ke sana. Lagipula namaku udah dihapus dari daftar peserta,"
"Kamu ga denger yang aku bilang tadi? Juri pasti tahu kalau ada yang curang. Udah, cepat masuk!"
Elang terus memaksa, membuka rangkulan tangan Nila. Mendorong tubuhnya pergi,
Dengan berat hati Nila pun setuju, tak ingin mengecewakan suaminya.
Langkah kaki itu bergerak maju, sekejap terhenti mengingat kesungguhan Elang yang tak menyerah meyakinkannya.
Nila berbalik singkat melemparkan senyuman pada Elang, sebelum lanjut meninggalkan.
"Rasa bersalah. Jadi apa yang sedang kurasakan ini adalah rasa bersalah?" batin Elang, menekan dadanya yang masih berdegup kencang.
Setiap kalimat Nila mengiang jelas ditelinga, mengundang senyum riang yang membuat pipinya terasa panas.
"Aku pikir, kebenaran tentang kecelakaan itu akan membuatnya membenciku."
Elang menghela nafas lega, kembali berpikir jernih untuk membereskan serangga yang berani mengusik istrinya.
"Dia sendiri yang sudah ingkar janji. Jadi, aku sudah tidak perlu membantunya!"
"Lihat saja, akanku beri hukuman setimpal untukmu..." Elang menyeringai,
10 menit pun berlalu,
Tiba saatnya di puncak acara, pengumuman pemenang kompetisi.
"Para hadirin, mohon berkumpul di tengah aula." tegas sang pemandu acara, berdiri di tengah panggung.
Suara dari mic itu menggema ke seluruh ruang, memanggil semua orang untuk berkumpul.
Riuh suara terdengar, mereka terlihat begitu antusias mendekat ke area panggung.
"Setelah ini hasil penilaian akan diumumkan langsung oleh pendiri sekaligus pemilik DaungGroup!"
"Wah, jarang-jarang bisa lihat pimpinan perusahaan." sontak Dani,
Tampak bersemangat menoleh ke sekeliling, mencari sosok penting yang belum pernah dilihat.
"Iya, pimpinan itu orang yang misterius. Sulit banget buat ketemu dia----bahkan katanya, belum ada yang tahu seperti apa wajah pimpinan."
"Ga nyangka bisa ketemu orang penting. Untung saja tadi kita datang ke sini!" sahut yang lain,
Seluruh mata tertuju pada pria yang melangkah dari belakang layar.
Elang berjalan naik, tapi tentu dengan penyamaran agar tak ada yang mengenali wajahnya.
"Kalau gini, Nila ga akan mengenaliku." batin Elang tersenyum singkat,
Memakai topeng hitam yang menutupi seluruh wajah,
Elang melepas jas hitamnya dan menyisakan kemeja putih serta blazer ketat, menggulung lengan baju sampai ke siku. Menampakkan postur tubuh indah yang membuat para wanita terpesona.
"Terima kasih untuk para tamu yang bersedia hadir dan meramaikan acara." ucap Elang memegang sebuah mic tanpa kabel,
"Terima kasih juga, pada juri yang telah hadir menerima undangan kami."
Yang lain tampak khidmat mendengarkan secara seksama.
"Saya sudah melihat kerja keras para peserta...dan banyak karya yang cukup mengesankan."
"Para juri juga sudah menilai dan memilih satu karya yang akan jadi pemenang kompetisi tahun ini."
"Jadi, tidak usah berlama-lama. Langsung saja saua umumkan, pemenang kompetisi tahun ini adalah---"
"Konsep produk makanan lokal dengan desain berjudul seribu pohon kehidupan!"
PROK...
PROK...
PROK...
Sambutan tepuk tangan terdengar begitu meriah, memenuhi ruang aula yang begitu luas.
"Aku menang? Itu desain milikku!" sontak Raisa kegirangan,
Sibuk menoleh ke lain sisi, seakan menunjukkan pada mereka jika dialah sang tokoh utama.
"Sudah aku duga, pasti desain itu yang bakal menang." lugas Ridwan berceloteh.
Nila melirik mendengar semua perbincangan di sekitar, satu persatu terheran dan memberi hormat pada keberhasilan karyawan muda di depan sana.
Nila mulai putus asa, melihat layar dengan penuh melas.
Padahal desain miliknya berhasil menang, namun justru terpampang atas nama peserta lain.
"Hh, jangan senang dulu..." Elang menyeringai,
Memandang Raisa begitu percaya diri mendekat, bersiap naik ke atas panggung.
"Baiklah, sebelum menerima penghargaan. Saya ingin pemenang menjelaskan tentang filosofi dari desain yang dibuat,"
Langkahnya terhenti, pertanyaan itu berhasil membuat Raisa tercengang. "A-apa? Apa maksudnya?"
"Bu Raisa bisa menciptakan desain sebagus dan semenarik ini. Pasti ada arti dibaliknya kan? Tolong jelaskan kepada kami." jawab Elang melempar jebakan.
"Gimana ini? Aku ga tahu apapun soal judul itu." gerutu Raisa dalam hati,
Wajahnya panik, menggigiti kuku, hanya bisa diam kebingungan.
"Ada apa ini? Kenapa dia diam saja?! Apa begitu sulit menjelaskan karyanya sendiri..."
Raisa melirik sembarang, pada mereka yang mulai bergunjing di belakangnya.
"Woi, cepat jelaskan! Lama sekali..."
"Masa begitu saja tidak bisa?"
"Bagaimana dia bisa menang..."
Ocehan penonton semakin menjadi, wajar saja mereka geram menunggu gadis yang hanya mematung di depan panggung.
"Saya bisa menjelaskannya!"
Jangan lupa tinggalkan komen ya/Pray//Kiss/
Komen kalian menambah semangat author dalam menulis, biar lebih sering updatenya. Hehe...