"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."
Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.
Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.
Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.
Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.
Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Perjanjian Di Balik Bayangan
Bab 13: Perjanjian Di Balik Bayangan
Suasana sore di kediaman Wijaya terasa lebih sunyi dari biasanya. Angin sepoi-sepoi memainkan dedaunan pohon kamboja di halaman, namun di dalam ruang tengah, udara terasa tegang bagi siapa saja yang menyimpan rahasia. Anindya sedang berjongkok di dekat kaki meja jati, berpura-pura sedang membersihkan kaki-kaki meja yang berukir rumit dengan kemoceng kecil. Namun, konsentrasinya sama sekali tidak tertuju pada debu. Telinganya berdiri tegak, menangkap setiap bisikan dan goresan pensil di atas kertas.
Satria duduk di atas kursi jati yang empuk, di hadapannya tergeletak buku tugas Fisika yang baru saja diberikan oleh Pak Guru tadi siang. Soal itu tentang kecepatan dan percepatan, materi yang bahkan bagi Satria yang sekolah secara formal pun terasa sangat membingungkan.
"Nomor tiga, Tuan Muda," bisik Anindya tanpa mendongak, tangannya tetap lincah menggerakkan kemoceng. "Gunakan rumus jarak dibagi waktu. Ingat, satuannya harus diubah dulu ke meter per detik."
Satria tertegun. Ia pura-pura menggaruk alisnya, mencoba menyembunyikan keterkejutannya. "Aku tahu itu! Kau jangan sok pintar," balas Satria dengan suara yang sangat rendah, nyaris seperti gumaman. Namun, tangannya segera bergerak mengikuti instruksi Anindya. Ia menghapus coretan angkanya yang salah dan mulai menghitung ulang sesuai arahan pelayan kecilnya itu.
Bagi siapapun yang melihat dari jauh, pemandangan ini tampak normal. Seorang tuan muda yang sedang belajar dan seorang pelayan yang sedang bekerja. Namun, di bawah meja itu, sebuah revolusi intelektual sedang terjadi. Anindya, dengan segala keterbatasannya, sedang menjadi guru bayangan bagi Satria.
"Selesai," gumam Satria setelah lima menit. Ia melihat hasilnya: 15 m/s. Ia mencocokkan dengan logika di kepalanya, dan itu masuk akal.
"Bagus, Tuan Muda. Sekarang nomor empat," Anindya bergeser sedikit, pindah ke kaki meja yang lain agar posisinya tetap terlihat natural.
Kerja sama ini sudah berjalan selama seminggu. Hasilnya luar biasa. Nilai-nilai tugas harian Satria meningkat drastis. Tuan Wijaya bahkan memuji Satria saat makan malam kemarin, menyebutnya sebagai "calon penerus yang cerdas". Satria merasa senang mendapatkan pujian ayahnya, namun di lubuk hatinya yang paling dalam, ada rasa malu yang terus mengusik. Pujian itu sebenarnya milik gadis kecil yang sekarang sedang bersimpuh di dekat kakinya.
Namun, di balik keberhasilan itu, ada sepasang mata yang selalu mengawasi. Nyonya Lastri bukan wanita bodoh. Ia merasa ada yang aneh. Satria yang biasanya malas dan sering mengeluh saat mengerjakan tugas, kini terlihat lebih tenang. Dan yang paling mencurigakan, Satria seringkali meminta Anindya untuk membersihkan kamar atau ruang belajarnya di waktu-waktu tertentu.
Klek.
Suara pintu depan terbuka. Anindya segera menarik tangannya dan lebih giat menggosok ukiran meja. Satria menegakkan punggungnya, pura-pura berpikir keras.
Nyonya Lastri masuk dengan membawa beberapa tas belanjaan mewah. Ia berhenti di ambang pintu ruang tengah, matanya yang tajam langsung tertuju pada Anindya. "Anindya! Kenapa lama sekali membersihkan meja itu? Kau sudah di sana sejak dua puluh menit yang lalu!"
Anindya menunduk, jantungnya berdegup kencang. "Maaf, Bu. Ukiran di meja ini sangat dalam, debunya sulit dijangkau."
"Sudah, pergi ke dapur! Bantu Mbok Sum memotong daging. Biarkan Satria belajar dengan tenang, jangan kau ganggu dengan gerakanmu yang lamban itu," perintah Nyonya Lastri dengan nada ketus.
Anindya segera bangkit, memberikan anggukan hormat, dan berjalan menuju dapur. Saat berpapasan dengan Nyonya Lastri, ia bisa mencium aroma parfum mahal yang menyengat, aroma yang selalu mengingatkannya pada kekuasaan yang bisa menghancurkannya kapan saja.
Setelah Anindya hilang di balik pintu dapur, Nyonya Lastri mendekati Satria. Ia mengusap bahu putranya itu. "Tugasmu hampir selesai, Nak? Ibu bangga melihatmu rajin belakangan ini. Tapi ingat, jangan biarkan pelayan itu terlalu dekat dengamu. Dia itu pembawa sial, persis seperti bapaknya yang miskin itu."
Satria hanya mengangguk kaku. "Iya, Bu. Satria tahu."
Malam harinya, di gubuk kecil bawah tangga, Anindya tidak bisa langsung tidur. Ia merasa sangat lapar karena tadi siang jatah makannya dikurangi lagi oleh Nyonya Lastri karena dianggap "bekerja terlalu lambat". Namun, perutnya yang keroncongan kalah oleh rasa puas karena ia berhasil mempelajari materi Fisika tingkat SMP hari ini.
Tiba-tiba, terdengar ketukan halus di pintunya. Tok, tok.
Anindya waspada. Ia segera menyembunyikan buku birunya di bawah bantal. Saat ia membuka pintu sedikit, ia melihat Satria berdiri di sana. Anak laki-laki itu tidak membawa buku, melainkan sebuah kotak makan yang dibungkus kain.
"Ambillah," Satria menyodorkan kotak itu. "Tadi aku sengaja menyisakan ayam gorengku. Aku bilang pada Mbok Sum kalau aku masih lapar, jadi dia memberiku lebih. Tapi aku tidak sanggup menghabiskannya."
Anindya menerima kotak itu dengan tangan gemetar. Kehangatan nasi di dalamnya meresap ke telapak tangannya. "Terima kasih, Tuan Muda. Tuan tidak perlu repot-repot..."
"Sudahlah, makan saja. Aku butuh otakmu tetap jalan besok untuk ujian matematikaku," potong Satria dengan nada bicara yang masih mencoba terlihat sombong, meski matanya menunjukkan rasa iba. "Dan ini..."
Satria merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi pensil-pensil baru dan sebuah penghapus berbentuk jeruk yang lucu. "Ini sisa hadiah dari Ibu. Aku tidak suka warnanya, jadi kau pakai saja."
Anindya menatap alat tulis itu dengan mata berkaca-kaca. Baginya, ini adalah kemewahan yang tak ternilai. "Terima kasih... Terima kasih banyak, Tuan Muda."
Satria tidak menjawab, ia langsung berbalik dan berjalan cepat menuju kamarnya. Ia tidak ingin Anindya melihat wajahnya yang memerah karena malu melakukan perbuatan baik.
Anindya menutup pintu dan duduk di atas kasur tipisnya. Ia membuka kotak makan itu. Aroma ayam goreng bumbu kuning yang gurih memenuhi ruangan. Ia menyuap nasi itu dengan air mata yang menetes. Ia teringat Ayahnya di desa. Ayah, Nin makan ayam hari ini... Ayah sudah makan belum ya?
Sambil makan, ia memandangi penghapus pemberian Satria. Ia menyadari bahwa hubungannya dengan Satria telah berubah. Satria bukan lagi sekadar majikan yang kejam, melainkan seseorang yang mulai menghargai kehadirannya, meskipun masih dengan cara yang kasar.
Namun, Anindya juga sadar bahwa keamanan ini bersifat sementara. Ia harus tetap waspada. Nyonya Lastri adalah ancaman nyata. Wanita itu tidak akan membiarkan Anindya memiliki tempat yang lebih tinggi daripada seorang pelayan.
Anindya mengambil pulpennya dan menulis di halaman kosong: Hari ini aku belajar tentang kecepatan. Tapi aku tahu, untuk keluar dari rumah ini, aku harus bergerak lebih cepat daripada takdir yang mengurungku. Tuan Muda mulai baik, tapi aku tidak boleh lengah. Ilmu adalah satu-satunya janjiku untuk kembali pada Ayah.
Malam itu, Anindya tidur dengan perut kenyang dan hati yang penuh harapan. Ia tidak tahu bahwa di lantai atas, Nyonya Lastri sedang berdiri di depan kamar Satria, menemukan beberapa coretan angka di tempat sampah yang sangat mirip dengan gaya tulisan di "kertas buram" yang ia robek tempo hari.
Api kecurigaan di hati Nyonya Lastri kini telah menjadi bara yang siap membakar rahasia mereka berdua. Badai besar sedang mengintai di balik tenang malam, dan Anindya kecil harus bersiap menghadapi ujian yang jauh lebih sulit daripada soal fisika mana pun yang pernah ia kerjakan.