NovelToon NovelToon
Mau Tapi Malu

Mau Tapi Malu

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Keluarga / Romansa / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makna dari sebuah rumah

Aku menatap gelang di tanganku lagi.

Kilau kecil itu terasa lebih dari sekadar hadiah.

Tiba-tiba Ayah bersuara, memecah suasana hangat itu.

“Malam ini nginep di sini dulu ya, Mas.”

Belum sempat Schevenko menjawab, aku langsung menyahut cepat.

“Enggak, Yah. Aku pulang ke rumah.”

Ibu langsung menatapku. “Ayah nggak nanya kamu.”

Aku menoleh ke Schevenko. “Iya kan, Mas?”

Ia hanya mengangguk tipis.

Ayah mengernyit. “Suamimu baru sampai tadi pagi loh. Pasti capek. Mending nginep di sini dulu satu malam.”

“Nggak apa-apa kok, Yah,” jawab Schevenko sopan.

Ibu langsung menimpali, “Kamu sih tadi ngajak pulang, makanya Masnya bilang gitu.”

Aku ingin membalas, tapi tiba-tiba aku menyadari sesuatu.

Wajahnya.

Ia memang tersenyum.

Tapi ada sesuatu yang berbeda.

Sedikit pucat.

Sedikit lelah.

Matanya masih hangat saat menatapku, tapi ada garis tipis keletihan yang tak bisa disembunyikan.

Dadaku mendadak terasa aneh.

“Mas…” suaraku melunak. “Ayo pulang sekarang.”

Ia mengangguk pelan.

Tanpa banyak bicara lagi, ia berdiri dan membantuku mengumpulkan barang-barang. Dress, tas, sepatu, dan semua yang tadi ia belikan dimasukkan kembali dengan rapi ke dalam kantong belanja.

Ia bahkan mengambil buket bunga dari meja dan membawanya dengan hati-hati.

Aku memperhatikannya diam-diam.

Gerakannya sedikit lebih lambat dari biasanya.

“Mas capek?” tanyaku pelan saat kami menuju mobil.

Ia tersenyum kecil. “Sedikit.”

“Kenapa nggak bilang?”

“Kamu lagi bahagia banget tadi. Nggak tega ganggu.”

Hatiku langsung terasa sesak.

Aku terlalu sibuk dengan rinduku.

Terlalu sibuk dengan manja dan tawa.

Sampai lupa… ia juga manusia.

Ia juga lelah.

Setelah semuanya masuk ke mobil, kami pamit pada Ayah dan Ibu.

Ibu memelukku erat.

“Jangan manja terus, manjakan juga dia, kamu tau kan dia udah gak punya siapa²selain kamu?” bisiknya di telingaku.

Aku terdiam sesaat lalu tersenyum kecil.

Ayah menepuk bahu Schevenko. “Hati-hati di jalan, Mas.”

“Iya, Yah.”

Siang itu kami pulang.

Di dalam mobil, suasana berbeda dari pagi tadi.

Lebih tenang.

Aku duduk di kursi penumpang, menatapnya yang sedang menyetir.

Beberapa menit berlalu dalam diam.

Lalu aku pelan-pelan memindahkan tanganku ke tangannya yang sedang memegang setir.

Ia melirikku sebentar. “Kenapa?”

“Kamu beneran nggak apa-apa?”

Ia tersenyum. “Kenapa nanya begitu?”

“Wajah kamu pucat. aku khawatir”

Ia terdiam sebentar.

“Habis perjalanan semalaman. Nggak sempat tidur.”

Jantungku seperti berhenti sesaat.

“Kamu nyetir sendiri?”

“Iya.”

“Mas…”

Aku menggenggam tangannya lebih erat.

“Kenapa nggak istirahat dulu tadi di rumah Ayah?”

Ia tersenyum tipis.

“Karena ada yang tadi bilang mau pulang.”

Aku langsung merasa bersalah.

“Maaf…”

Ia menggeleng. “Nggak usah.”

Beberapa menit kemudian, mobil melambat.

Dan akhirnya kami sampai di rumah.

Ia turun lebih dulu, lalu membukakan pintu mobil untukku.

“Hati-hati,” katanya pelan. “Bantu bawain barangnya ya.”

“Iya, Mas.”

Kami membawa beberapa kantong belanja dan buket bunga. Ia berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah, lalu dengan suara yang tenang ia berkata,

“Assalamu’alaikum… aku pulang.”

Aku membeku.

Kata itu.

Aku pulang.

Seolah-olah jantungku digores sesuatu yang tajam.

Tiba-tiba suara Ibu terngiang di kepalaku saat aku pamit tadi siang.

“Jangan manja terus. Manjakan juga dia. Kamu tahu kan dia udah nggak punya siapa-siapa selain kamu?”

Dadaku terasa sesak.

Selama ini… mungkin aku tak pernah benar-benar mendengar kalimat itu.

Karena biasanya aku yang masuk lebih dulu.

Aku yang disambut.

Aku yang dipeluk.

Sekarang… ia yang mengucapkan “aku pulang”.

Dan rumah ini… hanya ada aku untuk menyambutnya.

“Zahra?”

Aku tersentak.

Ia menoleh ke arahku. “Kamu kenapa melamun?”

“Gapapa, Mas,” jawabku cepat, lalu berjalan masuk dan meletakkan barang-barang ke atas meja.

Ia duduk di kursi ruang tamu, sedikit bersandar.

“Sayang, tolong ambilin air putih di belakang dong.”

Aku terdiam sesaat.

Ia tidak pernah memanggilku seperti itu.

Sayang.

Ia memanggil lagi, suaranya sedikit lebih pelan.

“Sayang?”

“Iya, Mas… sebentar ya.”

Aku berjalan cepat ke dapur.

Tanganku sedikit gemetar saat mengambil gelas dan menuangkan air.

Entah kenapa hatiku terasa tidak enak.

Saat aku kembali ke ruang tamu dan menghampirinya—

Aku langsung berhenti.

Wajahnya benar-benar pucat sekarang.

Bukan pucat biasa.

Bibirnya sedikit kehilangan warna.

“Mas…” suaraku langsung panik. “Kamu kenapa?”

Ia mencoba tersenyum, tapi senyumnya lemah.

“Cuma pusing lagi sedikit.”

Aku meletakkan gelas di meja dengan cepat dan langsung berlutut di depannya.

Tanganku menyentuh dahinya.

Hangat.

Lebih hangat dari tadi di mobil.

“Mas, ini bukan cuma capek,” suaraku bergetar.

Ia mencoba berdiri, tapi tubuhnya sedikit limbung.

Aku refleks memegang lengannya.

“Duduk… jangan berdiri dulu.”

Ia menurut, tapi napasnya sedikit lebih berat. Dadaku terasa seperti diremas.

Tiba-tiba semua tawa, manja, dan rengekanku pagi tadi terasa seperti mimpi yang jauh.

“Kenapa nggak bilang dari awal?” tanyaku hampir menangis.

Ia menatapku pelan.

“Aku cuma mau pulang.”

Kalimat itu justru membuat air mataku jatuh.

Ia mau pulang.

Bukan cuma karena aku memintanya.

Tapi mungkin karena rumah ini… satu-satunya tempat ia benar-benar merasa punya seseorang.Aku langsung berdiri.

“Kita ke dokter sekarang.”

Ia menggeleng pelan. Tangannya meraih pergelangan tanganku, menarikku agar duduk kembali.

“Duduk dulu,” katanya pelan.

Sebelum aku sempat protes, ia sudah membaringkan tubuhnya di sofa. Kepalanya ia letakkan di atas pahaku.

Aku terkejut.

Tubuhku menegang sesaat.

Tapi aku tidak menolaknya.

Tanganku refleks menyentuh keningnya.

Masih hangat.

“Mas, ayo ke dokter—”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, ia tiba-tiba menempelkan wajahnya ke perutku, memeluk pinggangku pelan.

“Aku cuma butuh kamu aja.”

Aku terdiam.

Kalimat itu sederhana.

Tapi berat.

Tanganku perlahan berpindah ke rambutnya.

Sangat halus. Rapi. Aromanya wangi, bersih, lembut.

Ia memang selalu seperti itu. Bahkan saat lelah, ia tetap terlihat terawat. Seolah tak ingin memperlihatkan sisi rapuhnya pada siapa pun.

Kecuali sekarang.

Di hadapanku.

Aku mengelus rambutnya pelan, jari-jariku bergerak lembut mengikuti garis kepalanya.

“Mas…” suaraku lebih tenang sekarang. “Butuh aku boleh. Tapi kalau sakit tetap harus diperiksa.”

Ia tidak menjawab.

Napasnya hangat menembus kain bajuku.

Tangannya melingkar lebih erat di pinggangku.

Beberapa menit berlalu dalam diam.

Aku merasakan tubuhnya perlahan lebih rileks.

Tapi justru itu yang membuatku semakin takut.

Mas… jangan tidur dulu,” kataku pelan di dekat pipinya, wajahku begitu dekat hingga napas kami hampir menyatu.

Ia membuka mata perlahan.

Menatapku dari jarak yang sangat dekat.

Lalu dengan suara lemah namun jelas, ia berbisik,

“Cium.”

Aku membeku.

“Apa?”

“Cium aku.”

Aku benar-benar tidak menyangka. Di kondisi seperti ini—pucat, lelah, pusing—ia justru memintaku menciumnya.

“Di mana?” tanyaku pelan, mencoba menutupi rasa gugupku. “Di pipi atau di bibir?”

Ia tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia hanya meluruskan wajahnya.

Tadinya kepalanya sedikit miring di pangkuanku, kini ia menengadah, menatap langsung ke arahku.

Senyumnya kecil.

Lelah.

Tapi penuh arti.

Jantungku berdebar sangat keras.

Bahkan saat sakit, ia tetap terlihat begitu tampan di mataku. Bibirnya memang pucat, tapi justru membuatku ingin menghapus pucat itu dengan hangatku sendiri.

Perlahan, aku menunduk.

Mencium bibirnya dengan lembut.

Tidak tergesa.

Tidak dalam.

Hanya hangat dan pelan.

Tanganku menahan pipinya agar ia tidak perlu bergerak.

Beberapa detik kemudian aku menjauh sedikit.

“Lagi?” tanyaku pelan.

Ia tersenyum samar.

Tangannya naik, menyentuh belakang leherku, menarikku sedikit lebih dekat.

Kali ini ia tidak bicara lagi.

Tapi tatapannya cukup jelas.

Aku mencium pipinya.

Lalu keningnya.

Lalu kembali ke bibirnya, sedikit lebih lama dari sebelumnya.

Saat aku menjauh, wajahnya mulai memerah.

Bukan karena sakit.

Tapi karena malu.

Ia langsung menyembunyikan wajahnya kembali ke perutku, memeluk pinggangku lebih erat.

Aku tertawa kecil meski hatiku masih cemas.

“Mas… ayo ke dokter,” kataku lagi, kali ini lebih lembut.

“Enggak usah, sayang,” jawabnya pelan. “Tinggal tidur nanti juga sembuh sendiri.”

“Mas…”

Belum sempat aku melanjutkan, ia memelukku sangat erat.

Sangat erat sampai aku bisa merasakan betapa ia benar-benar ingin berada di dekatku.

“Aku cuma capek,” bisiknya. “Jangan panik.”

Tanganku kembali mengusap rambutnya.

“Tapi aku takut.”

Ia terdiam.

Lalu lebih pelan lagi ia berkata,

“Kalau kamu di sini… aku nggak akan kenapa kenapa.”

.................

1
Tati Hartati
semangat terus kakak
checangel_
Nah, itu baru benar ... menjauh untuk menjaga 😇
checangel_: semangat/Determined/
total 2 replies
checangel_
Bagus itu/Good/
yanzzzdck
👍
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Tati Hartati
lanjut terus kak
Reenuctee 🐈‍⬛🐱
/Good//Good/
Tati Hartati
mantap kak... lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!