NovelToon NovelToon
Diamonds & Deception

Diamonds & Deception

Status: tamat
Genre:Obsesi / Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

"Cinta adalah akting terbaik, dan kebenaran adalah kemewahan yang tidak mampu mereka beli."

Di tengah gemerlapnya Paris Fashion Week dan eksklusivitas jet pribadi, Serena Rousseau Mane, sang supermodel yang beralih menjadi aktris, memiliki satu aturan emas: jangan pernah berurusan dengan Nicholas Moreau Feng.

Nicholas bukan hanya aktor papan atas dengan reputasi predator di depan kamera, tetapi juga pria yang menghancurkan hatinya di masa SMA mereka. Kembalinya Nicholas ke dalam hidup Serena lewat proyek film jutaan dolar bukan sekadar reuni profesional, melainkan sebuah permainan kekuasaan. Di balik setelan bespoke dan perhiasan berlian yang mereka kenakan, tersimpan dendam lama tentang pengkhianatan masa lalu dan ketakutan Serena akan "ciuman mematikan" Nicholas yang sanggup menghancurkan kariernya—atau lebih buruk, kembali mencuri hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang di Aspal Paris

Tiga minggu berlalu seperti musim dingin yang tak berkesudahan di set film. Proses syuting akhirnya resmi berakhir. Di malam perayaan penutupan (wrap party) yang digelar di sebuah restoran mewah dengan pemandangan skyline Paris, suasana tampak meriah bagi para kru, namun terasa beku di meja utama.

Nicholas kembali ke setelan pabriknya, pria dingin tanpa ekspresi. Ia duduk di ujung meja, menyesap cognac mahalnya sambil sesekali menjawab pertanyaan produser dengan jawaban satu kata. Ia tidak sekali pun melirik ke arah Serena.

Di sisi lain, Serena tampil sebagai Ratu Es yang tak tersentuh. Dengan gaun merah menyala dan perhiasan berlian yang berkilau, ia menunjukkan keangkuhan seorang Rousseau sejati. Ia tertawa elegan, namun matanya memancarkan kesombongan yang membuat siapa pun enggan mendekat.

"Rating kita akan meledak! Chemistry kalian di adegan terakhir adalah sejarah!" teriak sang sutradara yang sudah setengah mabuk.

Nicholas hanya mengangkat gelasnya sedikit tanpa senyum. Serena hanya memutar bola matanya sambil berbisik pada Iris, "Chemistry? Itu hanya kerja keras otot wajahku untuk menahan mual."

Acara belum benar-benar usai saat Serena berdiri dan menyampirkan mantel bulunya. "Aku bosan. Marie, siapkan mobilku di depan," perintahnya tanpa pamit pada siapa pun.

Beberapa menit kemudian, di depan lobi restoran, Pagani Huayra milik Serena yang berwarna perak metalik menderu pelan.

Namun, tepat saat ia hendak masuk ke kabin, suara raungan mesin W16 yang jauh lebih berat terdengar. Bugatti Chiron milik Nicholas berhenti tepat di samping mobilnya.

Nicholas menurunkan kaca mobilnya, mengenakan kacamata hitam meski malam sudah gelap. Ia menatap lurus ke depan, tidak menoleh pada Serena, namun suaranya terdengar tajam. "Jangan menghalangi jalan, Rousseau. Mobil cantikmu itu mungkin cepat di catwalk, tapi di aspal... dia hanya akan melihat lampu belakangku."

Serena mencengkeram kemudi Pagani-nya, senyum miring muncul di wajahnya. "Oh, benarkah, Feng? Aku tidak tahu 'bocah lima tahun' sepertimu sudah diizinkan balapan di jalanan umum. Pastikan Caleb tidak ketakutan saat aku meninggalkanmu di tikungan pertama."

Tanpa aba-aba, Serena menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Pagani itu melesat seperti peluru perak, membelah kesunyian jalanan Paris menuju arah pegunungan yang sepi.

Nicholas tidak tinggal diam. Ia memindahkan transmisi ke mode sport, dan Bugatti-nya melompat mengejar dengan kecepatan yang mengerikan.

Dua mobil seharga puluhan juta dolar itu kini saling kejar-kejaran di jalanan yang berkelok. Serena memimpin, mengambil tikungan dengan presisi seorang pembalap profesional, ban Pagani-nya berdecit keras melawan aspal. Nicholas berada tepat di belakangnya, menempel ketat seolah ingin menabrak bumper belakang Serena.

Ini bukan sekadar balapan mobil. Ini adalah pelepasan rasa frustrasi setelah tiga minggu saling mengabaikan. Setiap deru mesin adalah teriakan kemarahan, dan setiap perpindahan gigi adalah luapan gairah yang mereka pendam di set syuting.

Nicholas bermanuver di sebuah lintasan lurus, mencoba menyalip dari sisi kiri. Serena sengaja menutup celah itu dengan gerakan berbahaya, memaksa Nicholas menginjak rem sejenak.

"Kau ingin bermain kasar, hah?" gumam Nicholas di balik kemudi, matanya berkilat penuh adrenalin.

Ia tidak lagi mengejar sebagai Nicholas sang aktor, tapi sebagai pria yang ingin membuktikan bahwa tidak ada tembok baik itu pintu kamar, gerbang rumah, maupun kecepatan mobil yang bisa menghalanginya untuk mencapai Serena.

Di depan mereka, sebuah tanjakan tajam menuju area observatorium yang sepi menjadi garis finish tidak resmi.

Serena memacu Pagani-nya hingga batas maksimal, namun Nicholas dengan tenaga Bugatti-nya yang luar biasa berhasil menyejajarkan posisinya tepat di samping Serena.

Mereka melaju berdampingan dengan kecepatan lebih dari 200 km/jam, dua orang asing yang egois, gila, dan saling mencintai, saling melirik melalui kaca jendela yang tertutup rapat sebelum akhirnya Nicholas melakukan manuver tajam yang memotong jalan Serena, memaksa kedua mobil itu berhenti mendadak dengan asap ban yang mengepul hebat di pinggir tebing.

Asap putih mengepul dari ban yang bergesekan panas dengan aspal, menciptakan kabut tipis yang menyelimuti dua monster mesin di pinggir tebing itu. Nicholas keluar dari Bugatti-nya dengan gerakan kasar, membanting pintu hingga suaranya menggema di kesunyian pegunungan. Ia melangkah menuju Pagani perak milik Serena, wajahnya dipenuhi amarah yang tercampur dengan adrenalin murni.

Serena baru saja hendak membuka pintu saat Nicholas sudah berada di sana, menarik pintu itu terbuka dan menyentak Serena keluar.

"Kau gila! Kau hampir mencelakai kita berdua!" bentak Nicholas.

"Aku gila? Kau yang memotong jalanku, Nicholas!" balas Serena, dadanya naik turun karena napas yang memburu.

Namun, amarah itu tidak bertahan lama. Di bawah siraman cahaya bulan purnama yang pucat, keangkuhan mereka luruh. Nicholas tiba-tiba mencengkeram pinggang Serena dan mengangkatnya, mendudukkan wanita itu di atas kap mobil Pagani yang masih terasa panas.

Tanpa peringatan, ia menyambar bibir Serena dalam sebuah ciuman yang meledak, ciuman yang penuh gairah, rasa lapar, dan kerinduan yang telah disiksa selama tiga minggu penuh kepura-puraan.

Serena awalnya memukul dada Nicholas, mencoba berontak, namun dalam hitungan detik jemarinya justru merayap naik dan mencengkeram rambut Nicholas. Mereka berciuman di tengah kesunyian malam, sebuah pemandangan estetis yang tampak seperti lukisan gairah di atas mesin mewah.

Di tengah ciuman yang semakin dalam, paha Serena merasakan sesuatu yang mengeras dan menekan di balik celana bahan mahal yang dikenakan Nicholas. Sebuah reaksi tubuh yang jujur dan tak bisa dibantah.

Serena melepaskan tautan bibir mereka dengan paksa. Ia terengah-engah, menatap mata Nicholas yang menggelap. Dengan senyum miring yang getir, Serena berbisik tepat di depan bibir pria itu.

"Hanya dengan ciuman... dia langsung tegang dan berdiri, Nicholas? Caleb sepertinya sangat tidak sabar," bisik Serena, suaranya mengandung racun sekaligus godaan. "Apa begini rasanya? Apa wanita-wanita yang kau cium di depan kamera itu juga merasakan ketegangan yang sama di balik celanamu? Apa kau juga sekeras ini saat bersama Beatrice?"

Pertanyaan itu seperti tamparan keras bagi Nicholas. Ego pria itu retak. Segala kemewahan, popularitas, dan kekuatan yang ia miliki seolah runtuh di hadapan Serena. Nicholas tidak membalas dengan kata-kata tajam. Sebaliknya, ia menyandarkan kepalanya di ceruk leher Serena, memeluk pinggang wanita itu dengan sangat erat, dan bahunya mulai berguncang.

Setetes air mata panas jatuh di kulit leher Serena. Nicholas menangis, sesengukan yang menyakitkan dari seorang pria yang lelah berpura-pura menjadi dewa yang tak punya perasaan.

"Serena... hentikan," suara Nicholas pecah, parau karena isak tangis yang tertahan. "Demi Tuhan, hentikan."

Serena tertegun. Kekakuannya perlahan mencair saat merasakan kebasahan di lehernya. Ia ragu sejenak, sebelum akhirnya tangannya yang gemetar mengusap punggung Nicholas dengan lembut.

"Jangan lagi berakting, Nicholas," bisik Serena, kali ini tanpa nada mengejek. Suaranya terdengar lembut dan tulus. "Di sini tidak ada kamera. Tidak ada kru, tidak ada media, tidak ada sutradara. Kau tidak perlu menjadi Nicholas Feng sang mega bintang di sini."

Nicholas semakin membenamkan wajahnya, menghirup aroma lavender yang selalu menjadi candunya. "Aku merindukanmu sampai aku merasa seperti akan mati, Serena. Setiap hari aku melihatmu di set, dan setiap hari aku harus berpura-pura tidak ingin menyentuhmu... itu siksaan yang lebih buruk daripada neraka."

Di bawah cahaya bulan Paris yang magis, di atas kap mobil yang masih menyebarkan sisa panas mesin, dua jiwa yang selama ini berperang itu akhirnya menyerah pada kebenaran yang paling sederhana, bahwa mereka hancur tanpa satu sama lain.

🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 😍

1
Fbian Danish
ceritanya bagus bgt. aku suka.... satset tanpa banyak drama, tapi alurnya enak untuk diikuti... suka..suka..suka..
Fbian Danish
baguuuuussss bgt ceritanya kak. cerita sat set tanpa banyak drama tapi alurnya enak dan konflik yg tidak terlalu pelik. aku suka bgt asli.....
Fbian Danish
bapaknya memberi jaminan kancing, anaknya gantungan kristal... like father like son😄
Salsabiell Jannah
sukaaaaa bangetttt sama novel ini 😍😍😍😍
Ros_10: Makasih 😍
total 1 replies
Fbian Danish
bagus bgt karyamu Thor... 🔥🔥🔥🔥
Fbian Danish
happy bgt kak❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!