Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.
Di sanalah Qing Lin tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34 - kota yang tidak punya ampun
Hujan turun tipis di Kota Yanshi.
Tidak deras, tapi cukup untuk membuat batu jalanan mengilap seperti bilah pisau yang baru diasah. Lampion merah bergoyang pelan di sepanjang jalan utama, cahayanya bergetar di genangan air.
Qing Lin berjalan tanpa payung.
Air hujan membasahi ujung rambut hitamnya, menempel tipis di pipi. Wajahnya tetap tanpa ekspresi. Tatapannya lurus ke depan, tidak tertarik pada keramaian malam.
Kota Yanshi terkenal sebagai wilayah abu-abu.
Tempat transaksi senjata spiritual ilegal. Tempat kultivator bayangan berkumpul. Tempat informasi diperjualbelikan lebih mahal dari nyawa manusia.
Dan malam ini—
ia datang bukan untuk membeli.
Ia datang untuk memotong satu simpul.
Bangunan tiga lantai berdiri di ujung jalan sempit.
Plakat kayu bertuliskan “Paviliun Angin Utara.”
Di balik pintunya, suara musik dan tawa samar terdengar. Namun mereka yang mengerti tahu—lantai bawah hanya kedok.
Lantai atas adalah tempat daftar nama kematian disusun.
Qing Lin mendorong pintu.
Dua penjaga menoleh.
Mereka tidak sempat bereaksi.
Aura dingin menyapu ruangan seperti angin musim dingin yang menusuk tulang. Musik berhenti. Tawa tercekik.
Qing Lin berjalan melewati meja-meja tanpa memperhatikan tatapan waspada.
“Siapa yang bertanggung jawab atas distribusi teknik ke desa terpencil wilayah timur?” suaranya datar.
Tidak keras.
Namun jelas.
Seorang pria gemuk dengan cincin giok di jari berdiri perlahan.
“Kami tidak paham maksud—”
Meja di depannya membeku.
Bukan es.
Melainkan tekanan qi.
Kayu retak tanpa disentuh.
Qing Lin menatapnya.
“Aku tidak bertanya dua kali.”
Ruang itu menjadi sunyi total.
Pria gemuk itu gemetar. “Lantai tiga… ruang belakang… tapi dia bukan orang yang bisa kau sentuh!”
Qing Lin sudah berjalan menuju tangga.
Lantai tiga sunyi.
Tidak ada musik.
Tidak ada pelayan.
Hanya lorong panjang dengan lentera biru redup.
Di ujung lorong, pintu kayu hitam terbuka perlahan sebelum ia menyentuhnya.
Seorang pria berjubah abu gelap berdiri di dalam.
Usianya sekitar empat puluh, namun aura yang keluar darinya jauh lebih tua.
“Jadi kau yang membunuh orang-orangku di Lembah Batu Hitam.”
Qing Lin tidak menjawab.
Matanya menilai.
Tekanan qi pria itu padat.
Lebih tinggi dari lawan-lawannya sebelumnya.
“Menarik,” lanjut pria itu. “Aku mendengar rumor tentangmu. Tanpa akar spiritual. Tapi bisa menyerap darah dan tumbuh.”
Untuk pertama kalinya malam itu, mata Qing Lin sedikit menyipit.
“Jadi kau tahu.”
Pria itu tersenyum tipis. “Teknik seperti itu tidak muncul dari langit. Siapa yang mengajarkannya padamu?”
“Tidak ada.”
“Bohong.”
Udara bergetar.
Pria itu bergerak lebih dulu.
Serangan telapak tangan penuh qi menghantam udara, membelah ruangan dengan suara retakan tajam.
Qing Lin melangkah menyamping.
Gerakannya sederhana.
Efisien.
Tidak ada gerakan sia-sia.
Ia mengangkat tangan kanannya.
Qi di dalam tubuhnya tidak meledak liar. Ia tidak menggunakan ledakan besar seperti kultivator lain.
Sebaliknya—
ia memadatkan.
Menekan.
Mengalirkan.
Dua energi bertabrakan.
Lantai retak.
Dinding berguncang.
Namun Qing Lin tidak mundur.
Pria itu terkejut.
“Basis kultivasimu… tidak stabil. Tapi kenapa padat seperti ini?”
Qing Lin tidak menjawab.
Ia melangkah maju.
Satu langkah.
Tekanan meningkat.
Darah dalam tubuhnya berdenyut.
Bukan haus.
Bukan liar.
Terkontrol.
Ia sudah belajar dari pertempuran sebelumnya.
Membunuh bukan untuk menikmati.
Membunuh untuk memperkuat fondasi.
Pria berjubah abu melompat mundur, membentuk segel tangan.
“Angin Pemotong Tulang!”
Bilah qi transparan melesat.
Qing Lin tidak menghindar sepenuhnya.
Satu bilah menggores lengannya.
Darah mengalir.
Dan saat tetesan pertama jatuh—
inti dingin di dalam dantiannya bergetar.
Qi di sekitarnya menyerap getaran itu.
Matanya berubah lebih gelap.
Ia melesat maju.
Terlalu cepat.
Tangan kanannya menembus pertahanan pria itu, mencengkeram bahunya.
Darah menyembur.
Kabut merah tipis muncul.
Kali ini lebih jelas.
Lebih tebal.
Pria itu menjerit.
“Kau— monster—”
Qing Lin menatapnya tanpa emosi.
“Aku tidak pernah ingin menjadi apa pun.”
Tekanan meningkat.
Suara tulang retak.
Lalu sunyi.
Tubuh itu jatuh lemas.
Kabut merah seluruhnya terserap.
Ruangan kembali hening.
Qing Lin berdiri sendirian.
Lukanya menutup perlahan.
Qi di tubuhnya menjadi lebih padat lagi.
Namun ada harga.
Ia bisa merasakannya.
Setiap kali ia menyerap—
sesuatu di dalam dirinya menjadi lebih dingin.
Lebih jauh.
Ia menatap tangannya sendiri.
Tidak gemetar lagi seperti saat pertama membunuh serigala dulu.
Tidak ada bisikan penyesalan.
Hanya perhitungan.
“Jika aku berhenti sekarang,” gumamnya pelan, “mereka akan terus menyebarkan racun ke desa lain.”
Ia berbalik pergi.
Tidak ada rasa puas.
Tidak ada amarah.
Hanya langkah yang semakin mantap.
Di bawah hujan Kota Yanshi, orang-orang melihat seorang pemuda berjubah abu keluar dari Paviliun Angin Utara.
Beberapa saat kemudian—
lantai tiga bangunan itu runtuh sebagian.
Api mulai menyala.
Dan nama Qing Lin…
semakin dalam tertulis di daftar musuh.
Namun di dalam dirinya—
sesuatu telah berubah lagi.
Bukan kekuatan.
Melainkan jarak.
Jarak antara dirinya dan manusia biasa.
Dan Qing Lin—
tidak berusaha menutupnya