Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Lantai batu di bawah kakiku retak saat aku mendarat di halaman luar. Aku melesat seperti kilatan cahaya hitam, melewati barisan murid klan yang bahkan tidak sempat melihat wujudku. Kecepatanku saat ini berada di luar nalar manusia biasa. Setiap ayunan kakiku menghasilkan dentuman kecil yang sanggup merubuhkan tembok kayu di sekitarnya.
"Berhenti, Han Wol! Kau mau ke mana?" teriak seorang penjaga gerbang dalam sembari menghunuskan tombaknya.
Aku tidak berhenti, apalagi menjawab. Aku hanya menggeser bahuku sedikit dan membiarkan energi kinetik dari lari cepatku mementalkan pria malang itu hingga ia jatuh ke kolam ikan. Aku bisa merasakan jantungku berdegup sangat kencang, bukan karena kelelahan, melainkan karena amarah yang mulai membakar seluruh meridianku.
Pusat kerumunan di gerbang depan terlihat sangat kacau. Asap hitam yang kulihat dari jendela tadi ternyata berasal dari kereta kuda yang sudah hancur terbakar. Di tengah kepungan pasukan zirah merah, aku melihat sosok wanita yang sangat kukenali sedang bersimpuh dengan kepala tertunduk.
"Ibu!" raungku sembari mendarat tepat di depan barisan pasukan.
Pasukan Aliansi Murim langsung mengarahkan ujung tombak mereka ke arahku. Mereka tampak gemetar, mungkin karena merasakan tekanan aura yang keluar dari tubuhku. Vanguard Asura bukanlah kekuatan yang bisa disembunyikan jika emosiku sedang meluap seperti ini.
"Han Wol, jangan mendekat!" perintah Tetua Agung yang ternyata sudah berdiri di sana bersama Jin Seo.
Aku tidak memedulikan mereka. Fokusku hanya pada wanita yang bersimpuh itu. Aku melangkah perlahan, melewati barisan tombak yang menghalangi jalanku. Setiap kali aku melangkah, ujung-ujung tombak itu justru melengkung karena tertekan oleh energiku.
"Ibu, ini aku, Han Wol," ucapku sembari berlutut di hadapannya.
Wanita itu mengangkat kepalanya perlahan. Rambutnya yang dulu hitam legam kini sudah berubah menjadi putih perak, persis seperti milik He Ran. Namun, yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak adalah bekas luka bakar yang menjalar dari leher hingga ke separuh wajahnya. Matanya yang sayu menatapku dengan tatapan yang sangat asing.
"Han... Wol?" bisiknya dengan suara yang terdengar seperti gesekan amplas pada kayu kering.
"Ya, Ibu. Aku di sini. Siapa yang melakukan ini padamu?" tanyaku sembari meraih tangannya yang dipenuhi dengan perban kusam.
Tiba-tiba, Jin Seo melangkah maju dengan pedang peraknya yang sudah terhunus. "Dia bukan lagi ibumu yang dulu, Han Wol. Dia adalah pembawa wabah yang dikirim oleh Patahan Asura untuk menghancurkan klan ini!"
"Jaga bicaramu, Jin Seo!" bentakku sembari melepaskan gelombang energi yang membuat semua orang mundur tiga tindak.
Ibu tiba-tiba mencengkeram lenganku dengan kekuatan yang sangat tidak wajar. Kuku-kukunya mulai memanjang dan berubah warna menjadi hitam pekat. Aku merasakan energi yang sangat liar mencoba menyusup ke dalam tubuhku melalui kontak fisik itu.
[Peringatan: Terdeteksi upaya asimilasi energi dari entitas 'Night Crawler Original'.]
"Han Wol... lari..." gumam ibu sembari menangis darah. "Mereka... mereka memasukkan monster itu ke dalam jantungku..."
Aku tertegun. Penjelasan itu masuk akal jika dihubungkan dengan catatan terlarang yang kubaca di paviliun tadi. Klan Han tidak hanya bereksperimen pada anaknya, mereka juga menggunakan ibuku sebagai tempat penyimpanan bagi sistem Night Crawler yang asli sebelum modulnya disederhanakan untukku.
"Lepaskan dia, Han Wol! Dia adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja!" teriak Tetua Agung sembari mengangkat sebuah cermin segel besar.
"Kalian yang membuatnya menjadi seperti ini! Kalian yang bertanggung jawab!" raungku sembari berdiri dan membentangkan sayap hitamku sepenuhnya.
Langit di atas klan Han mendadak menjadi gelap. Petir berwarna ungu mulai menyambar-nyambar di antara awan hitam yang menggantung rendah. Seluruh penduduk klan mulai berlarian menyelamatkan diri, menyadari bahwa pertempuran besar akan segera pecah di halaman depan rumah mereka sendiri.
Ibu berdiri dengan gerakan yang sangat kaku, menyerupai boneka kayu yang digerakkan oleh tali yang tidak terlihat. Sisik hitam mulai muncul di sekujur tubuhnya, menutupi gaun lusuh yang ia kenakan. Aura yang ia pancarkan sangat identik dengan apa yang pernah kurasakan dari monster sistem sebelumnya, namun ini jauh lebih kuat dan purba.
"Terima kasih... atas nutrisinya... Han Wol..." ucap 'Ibu' dengan suara yang kini sepenuhnya berubah menjadi suara mekanis yang berat.
Aku tersentak. Dia bukan lagi ibumu. Sistem Night Crawler asli sudah sepenuhnya mengambil alih kesadaran dan tubuh biologisnya. Dan yang lebih mengerikan, ia baru saja menyerap sebagian esensiku saat ia mencengkeram lenganku tadi.
"Ibu, sadarlah! Jangan biarkan benda itu mengendalikanmu!" teriakku sembari mencoba menahan diri untuk tidak menyerang.
"Ibumu sudah tidak ada, Nak. Yang tersisa hanyalah lapar," sahut makhluk itu sembari menerjang ke arahku dengan cakar yang berpendar merah.
Aku menangkis serangannya menggunakan tangan kananku. Benturan itu menghasilkan ledakan yang menghancurkan gerbang utama klan Han menjadi serpihan kecil. Aku terlempar mundur hingga menabrak dinding kediaman tetua.
Di tengah kepulan debu, aku melihat sosok Jang Mi berdiri di atas atap gerbang yang tersisa. Ia memegang sabit besarnya sembari tertawa puas melihat penderitaanku.
"Bagaimana rasanya bertarung melawan ibumu sendiri, Han Wol?" tanya Jang Mi dengan nada yang sangat mengejek.
Aku mengepalkan tangan hingga kuku-kukuku menembus sisik di telapak tanganku. Amarahku sudah mencapai puncaknya. Jika dunia ini menginginkanku menjadi monster, maka aku akan menjadi monster yang paling ditakuti oleh mereka semua.
"Jin Seo! Bantu aku menyegel wanita itu!" perintah Tetua Agung sembari mulai mengalirkan energi ke cermin segelnya.
"Jangan sentuh dia dengan tangan kotormu!" teriakku sembari melesat menuju Tetua Agung.
Aku tidak lagi peduli siapa lawan dan siapa kawan. Bagiku, mereka semua adalah penyebab penderitaan ibuku. Namun, tepat sebelum cakarku menyentuh leher Tetua Agung, ibu muncul di antara kami dan menusuk dadaku dengan tangan kosongnya.
Aku terbelalak, menatap mata biru laut milik ibuku yang kini sudah berubah menjadi merah darah sepenuhnya. Darah segar menyembur dari mulutku, membasahi wajah wanita yang seharusnya melindungiku tersebut.
"Han... Wol..." bisik suara ibu yang asli untuk sesaat, sebelum akhirnya ia menyeringai lebar dan menarik jantungku keluar dari posisinya.
Pandanganku mendadak menjadi putih. Seluruh sistem di kepalaku berteriak dengan peringatan kegagalan organ total. Aku jatuh berlutut di tanah, menatap jantungku sendiri yang kini berdenyut di tangan makhluk yang memakai wajah ibuku.
"Akhirnya... aku... utuh..." ucap makhluk itu sembari menelan jantungku secara utuh di depan mataku.
Dingin. Itu adalah satu-satunya hal yang kurasakan saat rongga dadaku mendadak hampa. Aku memperhatikan pemandangan itu dengan mata yang mulai mengabur, melihat bagaimana ibuku, atau entitas yang memakai kulitnya, benar-benar mengunyah sumber kehidupanku tanpa ragu sedikit pun. Cairan merah menetes dari dagunya, namun ia justru tampak semakin bercahaya, seolah baru saja mendapatkan bahan bakar yang paling murni di alam semesta.
"Sekarang, tidak ada lagi penghalang untuk evolusi sempurna," sahut entitas itu dengan nada yang menyerupai gema logam.
Aku merasakan kesadaranku mulai melayang, bersiap untuk terjun ke dalam kegelapan abadi. Namun, tepat saat degup terakhir di pikiranku memudar, tanda teratai perak di pergelangan tanganku mendadak panas membara. Tanda pemberian He Ran itu berpendar sangat terang, mengeluarkan sulur-sulur cahaya perak yang langsung melesat masuk ke dalam rongga dadaku yang bolong.
Aku tersentak hebat, tubuhku melenting dari tanah seolah tersengat listrik ribuan volt. Cahaya perak itu menggumpal di tempat jantungku seharusnya berada, berdenyut dengan irama yang jauh lebih tenang namun bertenaga dibandingkan jantung manusia biasa. Ini bukan lagi organ biologis, melainkan inti energi Atma yang dipadatkan secara paksa.
[Sinkronisasi Darurat: Esensi Teratai Perak diaktifkan sebagai Jantung Cadangan.] [Status: Vanguard Tanpa Jantung. Tingkat Sinkronisasi: 150 persen.]
Aku bangkit berdiri perlahan, membiarkan debu jatuh dari jubahku yang hancur. Tidak ada rasa sakit lagi, hanya ada kekosongan yang diisi oleh kekuatan murni yang luar biasa dingin. Tetua Agung dan Jin Seo mundur dengan wajah pucat pasi, seolah-olah mereka baru saja melihat hantu yang kembali dari neraka untuk menuntut balas.
"Bagaimana mungkin kau masih berdiri?" tanya Jin Seo dengan suara yang bergetar hebat.
Aku menatapnya datar, tidak ada lagi emosi manusia yang tersisa di mataku yang kini berubah menjadi perak pekat. "Jantungku mungkin sudah dimakan, tapi amarahku baru saja mendapatkan rumah baru."
Entitas di dalam tubuh ibuku itu berhenti sejenak, ia tampak kebingungan melihat anomali yang terjadi pada tubuhku. Ia menggeram rendah, memamerkan taring-taring hitamnya yang baru saja tumbuh semakin runcing. Ia kembali menerjang ke arahku, kali ini dengan kecepatan yang mampu merobek dimensi udara di sekitarnya.
Aku hanya mengangkat satu tangan tanpa repot-repot berpindah tempat. Saat cakarnya yang berpendar merah menyentuh telapak tanganku, aku tidak terdorong sedikit pun. Cahaya perak dari dadaku terpancar keluar, membentuk lapisan pelindung yang menghancurkan energi merah milik entitas itu dalam sekejap.
"Kau mengambil sesuatu yang bukan milikmu, monster," desisku sembari mencengkeram pergelangan tangan ibuku hingga terdengar bunyi retakan tulang.
Makhluk itu menjerit dengan suara yang sanggup merontokkan dinding paviliun di belakang kami. Ia mencoba menarik tangannya, namun genggamanku seperti jepitan baja yang tidak mengenal ampun. Aku bisa merasakan sistem Night Crawler Original di dalam dirinya mencoba meretas kembali inti energiku, namun ia justru tertolak oleh esensi perak He Ran yang murni.
Di atas atap, Jang Mi berhenti tertawa. Wajahnya yang sombong berubah menjadi ekspresi kaget yang luar biasa saat melihat aku mampu menekan Original hanya dengan satu tangan. Ia segera mengangkat sabit besarnya tinggi-tinggi, mengumpulkan seluruh energi ungu yang ia miliki untuk serangan jarak jauh.
"Mati kau, Han Wol! Kau harus tetap mati!" teriak Jang Mi sembari mengayunkan sabitnya ke arah punggungku.
Aku tidak menoleh, namun sayap hitamku yang tadinya layu kini membentang lebar dan berubah warna menjadi perak logam yang tajam. Sayap itu bergerak secara otomatis, menangkis tebasan energi sabit Jang Mi dengan suara dentingan yang memekakkan telinga. Energi ungu itu pecah berkeping-keping saat menyentuh sayap perakku, sama sekali tidak meninggalkan goresan sedikit pun.
"Jangan ikut campur dalam urusan keluarga, Pencuri," tandasku sembari menghempaskan tangan ibuku ke lantai hingga ia terjungkal.
Tetua Agung melihat kesempatan ini dan segera mengaktifkan cermin segel besarnya. Ia merapalkan mantra terlarang yang bertujuan untuk mengurung kami berdua dalam penjara dimensi. Cahaya kuning mulai melingkari area gerbang, menciptakan dinding transparan yang semakin menyempit.
"Aku akan menghancurkan kalian berdua sekaligus dan mengambil Inti Atma itu untuk diriku sendiri!" seru Tetua Agung dengan wajah yang dipenuhi keserakahan yang menjijikkan.
Aku merasakan gravitasi di sekelilingku meningkat ribuan kali lipat, mencoba memaksaku berlutut. Inti teratai perak di dadaku berputar semakin cepat, mencoba menyesuaikan diri dengan tekanan yang tidak masuk akal ini. Aku menoleh ke arah ibuku yang sedang merangkak bangun, melihat sisa-sisa kesadaran manusianya yang menatapku melalui mata merah itu.
Tiba-tiba, bumi di bawah kaki kami berguncang lebih hebat daripada saat aku mendarat tadi. Retakan besar muncul di tengah halaman klan Han, mengeluarkan uap hitam yang terasa sangat akrab di indra keenamku. Sebuah tangan raksasa yang terbuat dari bayangan murni muncul dari dalam tanah, meremas dinding cermin segel Tetua Agung hingga retak seribu.
"Siapa lagi sekarang?" tanya Jin Seo sembari mencengkeram pedangnya lebih erat.
Sesosok pria dengan jubah abu-abu compang-camping keluar dari retakan tersebut, membawa sebuah sabit yang jauh lebih besar dan lebih menyeramkan daripada milik Jang Mi. Ia menatapku sejenak, lalu beralih menatap ibuku dengan tatapan yang penuh kebencian.
"Permainan ini sudah berlangsung terlalu lama, Gwang," ucap pria itu sembari menoleh ke arah Tetua Agung.
Aku tertegun, menyadari bahwa pria ini adalah sosok yang pernah kulihat dalam memori sistem yang tersembunyi. Ia adalah sang Pengkhianat yang diceritakan telah mati ratusan tahun lalu. Dan di tangannya, ia memegang sebuah jantung mekanis yang masih berdetak, namun jantung itu berwarna ungu pekat yang memancarkan aura kehancuran yang mutlak.