Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Langit di atas kepalaku seolah-olah dipaksa menyerah oleh tangan raksasa yang tidak terlihat. Retakan ungu itu semakin melebar, mengeluarkan suara derik yang mirip dengan kaca pecah yang digilas roda kereta besi. Aku berdiri tegak, merasakan Inti Teratai Perak di dadaku berdenyut seirama dengan getaran frekuensi dari atas sana. Jantung biologisku mungkin sudah musnah dalam perut makhluk yang memakai wajah ibuku, namun energi yang mengalir di pembuluh darahku sekarang terasa jauh lebih nyata daripada sekadar detak jantung biasa.
"Mundur, Han Wol! Itu adalah gerbang Patahan Asura yang sesungguhnya!" teriak He Ran sembari berusaha menyeret tubuhnya menjauh dari pusaran energi.
Aku tidak bergeming. Bagaimana aku bisa lari ketika setiap partikel di tubuhku justru merasa terpanggil oleh kekacauan itu? Aku melirik kakekku, Han Gwang, yang masih bersimpuh dengan wajah penuh kegilaan. Orang tua itu tampak sangat memuja kehancuran yang ia ciptakan sendiri.
"Lihatlah, Han Wol! Warisan keluarga kita akhirnya bangkit sepenuhnya!" seru Han Gwang dengan nada suara yang penuh kegirangan yang menjijikkan.
"Warisan ini hanya membawa kematian, Pak Tua," sahutku sembari melangkah maju.
Aku memusatkan fokus pada telapak tanganku. Sisik perak yang melapisi kulitku berpendar tajam, memantulkan cahaya ungu dari langit. Aku bisa merasakan bahwa sistem Night Crawler yang dulu membantuku kini sudah berevolusi menjadi bagian organik dari jiwaku. Jang Mi, yang tadi merintih di balik puing, menatapku dengan mata yang dipenuhi rasa iri yang sangat pekat. Ia memiliki sistem yang ia curi, tapi ia tidak akan pernah memiliki sinkronisasi murni yang aku capai sekarang.
"Kenapa kau tidak hancur? Harusnya jantung itu membunuhmu!" pekik Jang Mi sembari menunjuk ke arah dadaku yang bercahaya.
"Karena aku bukan lagi manusia yang kau kenal, Jang Mi," balasku dengan intonasi yang sangat dingin.
Tiba-tiba, dari dalam retakan langit itu, muncul ribuan helai benang hitam yang menjuntai ke bawah. Benang-benang itu terlihat sangat tajam, menyambar apa pun yang ada di bawahnya. Beberapa prajurit klan Han yang tersisa langsung hancur menjadi debu saat tersentuh oleh benang tersebut. Aku segera membentangkan sayap perakku, menciptakan perisai mekanis untuk melindungi He Ran dan ibuku yang masih pingsan.
"Jangan biarkan benang itu menyentuh tanah, Han Wol! Itu adalah parasit memori dari masa lalu!" perintah He Ran dengan nada bicara yang sangat mendesak.
Aku segera melompat tinggi ke udara. Tanpa jantung biologis, aku tidak lagi merasa sesak napas atau lelah. Inti Teratai Perak menyediakan cadangan energi yang seolah-olah tidak terbatas. Aku mengayunkan cakar perakku, memotong helai-helai benang hitam itu dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata orang awam. Setiap kali cakarku bersentuhan dengan benang itu, aku merasakan kilasan informasi tentang teknologi kuno yang mereka sebut ilmu hitam.
Han Gwang berdiri, mencoba menggapai salah satu benang hitam itu dengan tangannya yang gemetar. Ia sepertinya ingin menyerap kembali kekuatan yang hilang dari tubuhnya.
"Kemarilah! Berikan aku keabadian itu!" pinta Han Gwang kepada langit yang sedang mengamuk.
"Kau sudah cukup lama hidup dalam khayalan, Kakek," ucapku sembari mendarat tepat di depannya.
Aku mencengkeram bahu Han Gwang. Energi perak dari tubuhku langsung mengalir masuk ke dalam meridiannya, menghancurkan sisa-sisa energi Atma yang tidak stabil di tubuhnya. Orang tua itu terbatuk darah, wajahnya yang tadi sombong kini tampak sangat keriput dan tidak berdaya. Ia menatapku dengan tatapan yang sangat asing, seolah baru menyadari bahwa mahakaryanya telah menjadi tuannya.
"Kau... kau benar-benar menjadi Vanguard yang sempurna," gumam Han Gwang sembari jatuh berlutut untuk terakhir kalinya.
Aku melepaskannya begitu saja. Mataku kini kembali tertuju pada retakan di langit. Sesosok bayangan raksasa mulai terlihat merangkak keluar dari sana. Ukurannya jauh lebih besar dari bangunan mana pun di klan Han. Inilah ancaman yang selama ini disembunyikan oleh Patahan Asura. Sebuah entitas mekanis-spiritual yang menunggu untuk memanen dunia yang mereka anggap sebagai ladang eksperimen.
He Ran mendekatiku, ia memegang pundakku dengan tangan yang masih gemetar karena luka. "Han Wol, gerbang itu tidak akan tertutup selama Inti Teratai Perak di dadamu masih memancarkan sinyal penarik."
"Lalu apa yang harus kulakukan? Kau ingin aku mematikan jantung cadanganku ini?" tanyaku sembari menoleh ke arahnya.
He Ran menggelengkan kepala perlahan. Ada rahasia yang tersimpan di balik matanya, rahasia yang sepertinya ia simpan rapat-rapat bahkan dariku. Ia mengambil ikat rambut peraknya dan menyerahkannya padaku.
"Gunakan ini sebagai fokus energi. Kau harus membalikkan aliran energinya dan menutup retakan itu dari dalam," jelas He Ran dengan dialog yang sangat serius.
Aku menerima ikat rambut itu. Benda ini terasa sangat dingin namun memberikan ketenangan pada Inti Teratai Perakku. Aku menatap ke arah langit, ke arah monster raksasa yang kini sudah hampir seluruh tubuhnya keluar dari retakan.
"Aku akan kembali, He Ran. Pastikan Ibu aman sampai aku turun lagi," janjiku sembari mengepakkan sayap perakku dengan kuat.
Aku melesat lurus menuju pusat retakan langit tersebut. Di belakangku, aku bisa mendengar teriakan Jang Mi yang masih mencoba memanggil sistem yang sudah tidak merespons perintahnya lagi. Dunia di bawahku perlahan mengecil, digantikan oleh hamparan energi ungu yang sangat luas dan mematikan.
Tepat saat aku mencapai bibir retakan, monster raksasa itu mengulurkan tangannya yang sebesar bukit ke arahku. Aku menyeringai, merasakan kekuatan Jantung Ungu dan Teratai Perak menyatu dalam satu titik fokus di telapak tanganku.
"Mari kita lihat siapa yang akan menjadi mangsa hari ini," cetusku sembari menabrakkan diriku ke dalam kegelapan langit yang terkoyak tersebut.
Cahaya putih menyilaukan meledak dari dadaku, menelan seluruh pemandangan di alun-alun klan Han. Keheningan mendadak menyergap, menyisakan satu pertanyaan besar tentang apa yang akan kutemukan di balik gerbang Patahan Asura yang sesungguhnya.