Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali
Cukup untuk Theo mencerna fakta bahwa kakaknya tak lagi ada di dunia. Hari pun mulai gelap, Theo mengajak Silas ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Maerin langsung menghampiri Theo, "Kenapa anda baru pulang? Tak biasanya anda pulang saat hari sudah gelap."
"Maafkan aku ya, telah membuatmu cemas." Theo memeluk Maerin sambil mencium keningnya.
"Ehhmmm..." Silas menyela.
Theo melepaskan pelukannya dan memperkenalkan Maerin pada Silas.
"Maaf, keberadaanmu sesaat terlupakan. Perkenalkan, ini istriku, Maerin." Theo memperkenalkan Maerin. "Lalu istriku, perkenalan ini Silas. Orang kepercayaan kakakku, maksudku mendiang kakakku." Seketika Theo kembali sedih. Maerin yang penuh kebingungan namun cukup peka memegang lembut punggung Theo sambil mengelusnya pelan. Theo pun kembali bersikap tegar. Dan mengajak Silas untuk masuk ke dalam rumah dan mempersilakan duduk. Sementara Maerin menuju dapur menyiapkan minuman.
"Sepertinya kamu hidup bahagia dalam kesederhanaan." Tiba-tiba Silas membuka obrolan.
"Ya, akupun tak pernah membayangkan bisa sebahagia ini." Theo tersenyum getir sebab merasa bersalah bisa menikmati hidup bahagia sementara kakaknya telah tiada.
"Saya yakin, mendiang Putra Mahkota pasti ikut bahagia mengetahui adiknya juga bisa merasa bahagia." Ucap Silas.
"Tetap saja, hatiku terasa sakit mengetahui fakta tentang kakakku. Seharusnya aku mencoba sesekali mengirimkan surat untuk sekedar menanyakan kabarnya." Ucap Theo dengan raut wajah yang terlihat sedih.
"Tak perlu anda sesali waktu yang telah terlewat." Ucap Silas menenangkan Theo sekaligus dirinya sendiri.
"Lalu apa tujuan kedatanganmu ke sini? Pasti ada hal lain selain mengabarkan tentang kabar duka kematian kakak." Tanya Theo yang terlihat tak memiliki energi.
"Anda cukup tajam. Memang benar ada tujuan lain." Jawab Silas singkat.
"Katakan." Ucap Theo dengan nada rendah.
"Yang Mulia Raja memerintahkan anda untuk kembali ke istana, meskipun saya harus menyeret anda." Kata Silas. Maerin yang menuju ruang tamu dengan nampang yang berisi dua cangkir teh dan sepiring ubi rebus, berhenti seketika saat mendengar perkataan ini. Dalam hatinya bertanya-tanya sehingga dia memutuskan untuk diam sejenak sambil mendengarkan obrolan dan mencari waktu yang tepat untuk muncul membawakan minuman dan camilan.
"Sepertinya aku akan menolaknya. Maaf." Jawab Theo tegas.
"Anda tak memiliki pilihan. Meskipun anda menolak, saya akan tetap membawa anda dengan cara apapun. Bahkan jika harus mematahkan lengan dan kaki anda sehingga saya tinggal membawa anda."Jawab Silas tegas.
"Kau masih saja keras dan dingin seperti dulu."Ejek Theo.
"Saya akan menyampaikan pendapat pribadi saya. Saya paham bahwa anda membenci istana bahkan membenci Baginda Raja. Namun tolong, pertimbangankan hal-hal yang telah diperjuangkan mendiang Putra Mahkota. Saya tahu betul seberapa keras jalan dan perjuangan yang dilalui beliau. Jadi setidaknya, kembalilah demi beliau. Kembalilah demi mendiang satu-satunya kakak anda yang sangat menyayangi anda, serta majikan yang sangat saya hormati. Saya mohon Pangeran Kedua Theodore Cyrven." Silas pun sambil berlutut mengatakan hal ini.
Theo yang terbebani dengan sikap Silas yang baru dilihatnya seperti ini untuk pertama kalinya mencoba membujuk Silas untuk tak berlutut lagi, "Cukup, kau tak perlu sampai seperti ini. Bangunlah, kembalilah duduk di kursi." Kedua tangan Theo mencoba menarik lengan Silas supaya berdiri, namun Silas tetap tidak bangkit.
"Saya tak ingin melakukan kekerasan pada anda hanya demi membawa anda kembali ke istana. Sebab itu, saya sangat amat memohon pada anda supaya anda bersedia kembali ke istana." Silas terlihat putus asa.
Mendengar obrolan itu dalam hati Maerin'Degg.. jantungnya seolah berhenti berdetak, 'Istana? Pangeran Kedua? Suamiku? Cukup berhenti berpikir, aku cukup menanyakan langsung pada suamiku.' Maerin pun sedikit membuat suara dengan membenturkan sendok ke cangkir dengan pelan namun cukup menimbulkan suara sambil berjalan ke ruang tamu. Theo dan Silas yang menyadari ada suara langkah kaki serta suara cangkir samar, mulai bersikap tenang.
"Silakan diminum, dan ini camilannya. Maaf hanya seadanya." Ucap Maerin sambil memindahkan minuman dan camilan dari nampannya ke meja.
"Terima kasih, maaf sudah merepotkan anda." Jawab Silas dengan sopan.
"Silakan di lanjut, saya permisi." Balas Maerin.
"Ikutlah duduk di sini, istriku. Aku perlu pendapat darimu." Kata Theo sambil menatap Maerin dengan serius. Tanpa bertanya lebih lanjut, Maerinpun langsung duduk di dekatnya.
"Istriku berhak mendengarkan obrolan kita, kuharap kau mengerti dan tak keberatan." Ucap Theo dengan tegas pada Silas.
"Tentu saja. Nona Maerin adalah keluarga anda. Saya tak keberatan sama sekali." Jawab Silas.
Silas menjelaskan kembali tujuannya menemui Theo. Maerin sangat terkejut mengetahui fakta yang cukup kompleks dan berat untuk dicerna olehnya. Namun dia tak memprotes Theo karena merahasiakan hal sebesar itu darinya. Dia yakin Theo punya alasan untuk melakukan itu.
Pembicaraan cukup panjang, kebimbangan Theo semakin tak berujung. Dan desakan Silas semakin memojokkannya. Maerinpun berkata sambil mengelus punggung tangan Theo yang sedang meremas lututnya sendiri dengan lembut, "Suamiku, kembalilah. Kerajaan membutuhkanmu. Untuk apa bimbang?" Tanya Maerin dengan lembut.
"Aku mencemaskanmu, istriku." Jawab Theo.
"Untuk apa mencemaskanku? Kemanapun anda pergi, saya akan selalu mengikuti anda." Maerin meremas lembut tangan Theo sambil tersenyum hangat.
"Tapi..." Kata Theo, Silas memotong ucapan Theo, "Jika anda mengkhawatirkan keselamatan anda berdua, saya siap melindungi anda bahkan dengan nyawa saya. Saya akan mengabdikan diri pada anda." Ucap Silas dengan tegas hingga membuat hati Theo bergetar.
"Cukup, nyawamu terlalu berharga. Jangan pernah kau korbankan nyawamu itu. Baiklah, aku akan kbali ke istana dan membawa istriku. Aku akan menemui Baginda Raja dan bernegoisasi dengan beliau. Sebab aku sekarang telah memiliki seseorang yang harus kulindungi." Akhirnya Theo memutuskan untuk kembali ke istana.
"Kita akan kembali ke istana saat anda berdua sudah siap. Saya akan datang lagi untuk menjemput anda berdua. Untuk sekarang, saya mohon ijin untuk undur diri." Kata Silas.
"Kau menginap di sini saja." Ucap Theo.
"Benar, tuan Silas. Masih ada kamar kosong, jadi menginaplah di sini." Imbuh Maerin.
"Baiklah, terima kasih atas kebaikan anda." Balas Silas.
"Mungkin akan butuh beberapa hari, setidaknya aku harus berpamitan dengan semua penduduk desa ini." Kata Theo.
"Silakan anda istirahat, tuan Silas. Mari saya antarkan ke kamar untuk anda beristirahat." Kata Maerin. "Sementara itu saya akan memasak untuk makan malam, jika sudah siap. Mari makan bersama."
"Saya bisa membantu." Ucap Silas.
"Kau tiduran saja. Istirahatlah. Biar aku yang membantu istriku." Kata Theo.
Theo dan Maerin berdua di dapur, Theo membantu Maerin memasak. Theo hanya mengamati Maerin yang hanya diam sepanjang memasak. Theo mencoba mengajaknya bicara, "Maafkan aku, istriku."
"Maaf untuk apa?" Tanya Maerin yang tetap sambil memasak.
"Maaf karena tak pernah menceritakan padamu tentang semua ini sebelumnya." Kata Theo.
"Anda pasti punya alasan, jadi untuk apa memasang wajah penuh penyesalan itu? Saya baik-baik saja. Jadi anda tak perlu mengkhawatirkan saya." Jawab Maerin dengan senyum yang hangat.
Theo pun menceritakan semuanya pada Maerin, Maerin tak tahu harus bereaksi seperti apa. Yang jelas dia tak berkomentar apapun namun hanya memberikan senyuman hangat sambil memegang lembut pipi Theo, lalu mencium keningnya, "Terima kasih sudah menceritakan semuanya."
Theo memeluk Maerin dengan lembut san berkata, "Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Aku sangat beruntung memilikimu dalam hidupku."
"Kurasa sudah waktunya makan malam, tolong panggilkan tuan Silas selagi saya menyiapkan makanan."
Disaat bersamaan hati Maerin merasa resah dan gundah. Seperti sesuatu sedang menanti.
Bersambung...