Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Cara Lain
Di sepanjang perjalanan hanya terdengar suara langkah kaki kuda dan roda kereta kuda yang bergerak. Maerin merasa semakin tak nyaman lalu dia bertanya tiba-tiba, "Suamiku? Bukan bermaksud untuk membuat bersedih. Bolehkah saya mendengar sedikit cerita tentang mendiang kakak ipar? Setidaknya supaya saya sedikit mengetahui tentang beliau."
"Ah kau benar, sejak kau mengetahui identitas asliku. Aku tak pernah mengatakan apapun tentang itu padamu. Jadi kakak itu..." Theo terdiam untuk sejenak mengenang mendiang kakaknya.
"Kakak itu tak pernah menunjukkan eskpresinya, jadi tak pernah ada yang mengetahui isi hati atau yang sedang dirasakannya. Tegas, dingin dan sangat kompeten. Dan kakak dua tahun lebih tua dariku, dulu sewaktu aku masih kecil. Aku selalu mengikutinya dari belakang kemanapun ia pergi, jika dipikirkan lagi kakak tak merasa terganggu sama sekali. Sesekali juga mengajakku bermain walaupun hanya sebentar. Setelah kuingat kembali, sepertinya akulah yang menjauhkan diri dan menjaga jarak dari kakak. Itu terjadi setelah kematian Ibunda. Sepertinya saat itu usiaku menginjak delapan tahun. Yah Setelah tak ada lagi interaksiku dengan kakak. Hanya saling bertegur sapa saja saat bertemu. Hah... jadi kakak menutup matanya selama di usianya yang ke-25 tahun. Seharusnya..." Theo mengatakannya sambil mengenang masa lalu. Maerin memotong ucapan Theo sebelum Theo memulai menyalahkan dirinya lagi. "Cukup, sepertinya saya sudah bisa membayangkan sosok kakak ipar. Dari cerita anda, beliau terdengar seseorang yang hangat dan sangat menyayangi anda."
"Ya, kau benar. Aku terlambat mengetahui fakta itu." Sesal Theo.
"Menyesali sesuatu adalah hal baik, jika kita menyesal dan belajar dari penyesalan itu untuk menjadi versi diri yang lebih baik. Menyesali dan hanya meratapinya serta menyalahkan diri terus menerus, hanya akan memperburuk hal-hal di kemudian hari." Maerin mengatakan ini sekaligus untuk memotivasi dirinya sendiri.
"Ucapan nona Maerin benar." Sahut Silas.
"Benar, lalu Silas? Bisakah kau menceritakan kondisi istana sekarang?" Tanya Theo.
"Situasi sedang tidak bagus, namun Putri Mahkota Sylvaine perlahan mengendalikan situasi. Sempat semua orang menuduh beliau terlibat dengan kematian Pangeran Mahkota Victor. Namun setelah diselidiki beliau tak terlibat sama sekali. Jadi secara tak langsung sebenarnya Putri Mahkota Sylvaine sudah mengendalikan politik di kerajaan." Silas menjelaskan.
"Bagaimana respon Raja?" Raja tetap berkuasa, pengaruhnya tetap lebih kuat dibanding pengaruh Putri Mahkota Sylvaine yang secara tak langsung itu. Dan sebenarnya pengaruh politiknya masih lebih rendah dibandingkan mendiang Putra Mahkota Victor. Yang saya khawatir adalah disaat posisi Putra Mahkota kosong, Putri Mahkota Sylvaine pasti tak menyia-nyiakan peluang ini. Mungkin Raja masih bisa mengontrol Putri Mahkota Sylvaine, namun hal itu pasti tak akan bertahan lama. Mengingat Baginda Raja yang semakin tua serta kondisi kesehatannya sering memburuk. Cepat atau lambat Anda segera naik tahta menggantikan beliau. Dan kekhawatiran lain saya, Putri Mahkota Sylvaine pasti tak akan mau melepaskan posisinya itu. Katakanlah beliau bersedia melepaskan posisinya itu, pengaruh politiknya pasti sudah lebih kuat dibandingkan anda yang telah naik tahta. Kemungkinan terburuk bisa saja muncul pemberontakan dari dalam. Yah itu hal paling buruk yang bisa terjadi." Silas menceritakan pendapatnya.
"Yah, yang kau sampaikan ada benarnya. Pilihan terbaik aku harus membuat Putri Mahkota Sylvaine berada di pihakku. Namun dengan cara apa? Sepengetahuanku ia sangat tak menyukaiku bahkan lebih membenciku." Kata Theo.
"Yah sudah pasti beliau menginginkan posisi Ratu." Jawab Silas.
Theo melirik ke arah Maerin, wajah Maerin terlihat tanpa ekspresi saat mendengar percakapan Theo dan Silas. "Sebaiknya aku memikirkan cara lain. Pasti ada cara lain selain cara itu." Tegas Theo.
"Mari pikirkan dengan perlahan." Ucap Silas.
Theo menggenggam erat tangan Maerin, Maerin pun menatap Theo dengan senyum diwajahnya.
"Bisakah kau mencarikan kereta kuda baru yang lebih terlihat seperti kereta pedagang sebelum kita sampai di desa yang ingin kusinggahi sebentar?" Tanya Theo pada Silas.
"Akan saya usahakan untuk mendapatkannya secepat mungkin." Jawab Silas. Silas pun memerintahkan dua mata-mata untuk segera mencari kereta baru serta perlengkapan yang mendukung untuk menyamar sebagai kereta pedagang.
***
Beberapa hari berlalu dan mereka telah berganti kereta kuda pedagang. Setibanya di desa tempat Lumi dan Lior, Theo dan Maerin disambut oleh beberapa warga yang mengenalnya. Mereka menuju rumah Rowan dan Sophie. Lumi dan Lior yang sedang bermain di sekitar rumahnya terdiam melihat kereta kuda yang tiba-tiba berhenti di depan rumahnya itu, Lior berlari ke dalam rumah memanggil ibunya. Dan Lumi tiba-tiba berteriak saat melihat Milo diantara kuda-kuda yang berjejer, "Milooooo... kaukah itu? Kau sudah tumbuh besar."
Maerin yang mendengar ucapan Lumi segera turun dari kereta kuda dan menyapa Lumi, "Lumi? Kau masih mengingat Milo?"
"Ahhhh... Bibi Maerin!" Lumi berlari memeluk Maerin "aku sangat-sangat merindukan bibi!"
Theo pun turun dari kereta kuda dan disusul Silas di belakangnya. Lumipun berteriak, "Paman Theo!"
Theo mengusap lembut rambut Lumi, "Wah kau sudah besar sekarang, padahal baru tiga tahun tak bertemu."
"Tiga tahun itu waktu yang saaaangat lama. Lalu dimana kakek dan nenek?" Tanya Lumi sambil mencari-cari keberadaan mereka diantara wajah-wajah asing yang baru dilihatnya.
"Itu..." Ucap Theo. Sophie pun muncul di saat Theo bingung untuk menjelaskan pada Lumi tentang kakek dan nenek.
"Wah kalian, lama sekali kita tak berjumpa. Mari masuk ke dalam dulu." Sophie sambil mengamati wajah-wajah asing yang bersama Theo dan Maerin.
Mereka masuk, Theo memperkenalkan Silas sebagia pedagang yang sekarang ini dilayani Theo dan Maerin. Mereka saling berkenalan, lalu Maerin bertanya, "Dimana Lior?"
"Oh dia kusuruh memanggil ayahnya yang sedang berada di ladang. Mungkin sebentar lagi akan datang bersama Rowan." Jawab Sophie.
"Paman dan bibi akan tinggal lama di sini kan?" Tanya Lumi antusias.
Maerin menatap ke arah Theo, Theo terlihat sedang memikirkan jawaban. "Kenapa kalian hanya saling menatap satu sama lain?" Tanya Lumi.
"Maaf nona cantik, ijinkan saya menjawabnya. Kami hanya bisa tinggal di sini sampai besok saja. Sebab kami harus bergegas pergi." Jawab Silas.
"Apa? Cepat sekali kalian akan pergi lagi!" Lumi terlihat kecewa.
Rowan dan Lior pun telah tiba, mereka menyapa semua orang. "Wah Lior sudah hampir menyamai tinggi ayahmu!" Kata Theo.
"Benar, anak-anak ini cepat sekali tumbuhnya. Hahaha." Ucap Rowan.
Rowan terlihat mengamati orang-orang yang datang bersama Theo dan Maerin. "Aku tak melihat kakek dan nenek. Mereka tak ikut?"
"Maaf, mungkin ini kabar yang tak ingin kalian dengar. Sebenarnya kakek dan nenek telah meninggal beberapa bulan yang lalu." Jawab Theo.
"Apaa?... Padahal aku sangat-sangat merindukan kakek dan nenek." Ucap Lumi diikuti suara tangisannya. Sophie yang terkejut hanya terdiam untuk memproses fakta yang baru didengarnya itu.
"Itu benar-benar mengejutkan kami." Ungkap Rowan.
Mereka selanjutnya mengobrol ringan, menceritakan hal-hal yang telah terjadi selama tiga tahun terakhir. Sementara itu Sophie dan Maerin berada di dapur untuk menyiapkan makanan. Lumi dan Lior bermain dengan Milo. Silas dan beberapa mata-mata yang menyamar sebagai pelayan pun sedang merapikan barang-barang bawaan mereka.
Bersambung...