NovelToon NovelToon
ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Wanita perkasa / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

"Mencintai bukan hanya soal memiliki, tapi soal memastikan duniamu tetap berputar saat kamu tak lagi ada di sana."

Canida punya segalanya: karir cemerlang sebagai penulis best-seller, suami suportif seperti Alfandy, dan dua anak yang menjadi pusat semestanya. Namun, sebuah amplop putih mengubah hidupnya menjadi nightmare dalam semalam. Vonis kanker serviks stadium lanjut datang tanpa permintaan maaf, merenggut semua rencana masa depannya.

Di tengah rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuhnya, Nida tidak takut mati. Ia hanya takut akan satu hal: Kekosongan. Ia takut anak-anaknya kehilangan arah, dan suaminya kehilangan pegangan akidah.

Maka, Nida mengambil keputusan paling gila dan paling menyakitkan yang pernah dipikirkan seorang istri: Mencarikan calon istri untuk suaminya sendiri.

Di satu sisi, ada Anita, ipar ambisius dan manipulatif siap mengambil alih posisinya demi harta. Di sisi lain, ada Hana, wanita tulus yang Nida harap bisa jadi "pelindung surga" bagi keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Luka Syabila

Dinding-dinding rumah yang biasanya hangat kini terasa seperti lorong-lorong dingin yang menyimpan gema kesedihan. Syabila, gadis berusia dua belas tahun yang biasanya ceria dengan segudang cerita tentang sekolahnya, kini berubah menjadi bayang-bayang yang sunyi. Luka di hatinya bukan hanya karena ia tahu ibunya sedang sakit, tetapi karena ia mendengar terlalu banyak hal yang belum seharusnya ia cerna: tentang kematian, tentang pengganti, dan tentang kebencian orang dewasa.

Sore itu, Syabila duduk di meja belajarnya, namun matanya tidak tertuju pada buku sejarah yang terbuka. Ia menatap ke luar jendela, melihat Syauqi yang sedang bermain sendirian di halaman bawah. Adiknya yang masih kecil itu belum sepenuhnya mengerti mengapa Ibu sekarang jarang memeluk mereka sambil berdiri, atau mengapa Ibu kini selalu mengenakan turban untuk menutupi kepala yang mulai polos. Syabila merasa memikul beban untuk menjaga rahasia adiknya, sekaligus menahan kehancuran dunianya sendiri.

Pintu kamarnya diketuk pelan. "Syabila... boleh Ibu masuk?" suara itu lirih, serak, namun tetap mengandung kelembutan yang selalu menjadi rumah bagi Syabila.

Nida masuk dengan mendorong kursi rodanya perlahan. Wajahnya tampak sangat letih, namun ia memaksakan sebuah senyum untuk putrinya. Syabila tidak menjawab, ia hanya menunduk, membiarkan rambut panjangnya menutupi wajah yang sembap.

"Sayang, kenapa tidak turun makan camilan? Tadi Bibi buatkan donat kesukaanmu," ujar Nida sambil mendekat ke arah meja belajar.

"Aku tidak lapar, Bu," jawab Syabila singkat, suaranya bergetar. Ia kemudian menoleh pada ibunya, matanya merah karena terlalu lama menahan tangis. "Ibu... apa benar Ibu sudah bosan menjadi Ibu kami? Apa benar Ibu lebih suka orang lain yang menjaga kami?"

Nida merasa jantungnya seperti disayat sembilu. "Kenapa kamu bicara begitu, Nak? Tidak ada yang bisa menggantikan posisi kalian di hati Ibu."

"Tapi Ibu terus-menerus membawa Kak Hana ke sini. Ibu menyuruh kami dekat dengannya. Dan kemarin... Nenek bilang Ibu akan segera pergi dan Tante Anita yang akan masuk ke rumah ini. Kenapa semua orang bicara seolah-olah Ibu sudah tidak ada? Kenapa Ibu sendiri yang seolah-olah mempersiapkan kepergian itu?" Tangis Syabila pecah. Ia menelungkupkan kepalanya di atas meja, bahunya berguncang hebat.

Nida menggerakkan kursi rodanya agar lebih dekat, lalu meraih tangan Syabila dan menggenggamnya erat. "Syabila, dengarkan Ibu. Ibu sangat ingin menemani kamu sampai kamu lulus sekolah, sampai kamu menikah, sampai kamu punya anak sendiri. Itu doa Ibu setiap hari. Tapi, Ibu juga harus jujur pada keadaan. Allah sedang memberikan ujian ini pada kita, dan Ibu tidak ingin kalian tersesat jika suatu saat Ibu harus beristirahat panjang."

"Tapi aku tidak mau Kak Hana! Aku tidak mau Tante Anita! Aku hanya mau Ibu!" teriak Syabila.

"Ibu tahu, Nak. Ibu pun hanya mau kamu. Tapi lihatlah Kak Hana... apa kamu merasa dia orang jahat? Dia mencintaimu, Syabila. Dia mencintai Allah. Ibu memilihnya bukan untuk menggantikan Ibu, tapi untuk menjagamu agar tetap berada di jalan yang Ibu ajarkan. Ibu tidak ingin Nenek atau Tante Anita menjauhkanmu dari Al-Qur'an. Kamu lihat sendiri bagaimana Tante Anita, kan?"

Syabila terdiam. Ia teringat bagaimana Anita pernah menyindir kerudung yang ia kenakan sebagai "ketinggalan zaman." Ia juga teringat betapa kontrasnya hal itu dengan Hana yang selalu memuji kecantikannya saat mengenakan jilbab. Namun, menerima orang baru tetaplah hal yang sangat menyakitkan bagi seorang anak yang sedang menghadapi ancaman kehilangan ibu kandungnya.

"Syabila, luka ini memang berat. Tapi jangan biarkan luka ini membuatmu marah pada takdir," Nida mengusap pipi putrinya. "Ibu ingin kamu kuat. Jika nanti Ibu tidak ada di sampingmu saat kamu bangun tidur, ingatlah bahwa Ibu selalu ada di dalam setiap doa yang diajarkan Kak Hana padamu. Kak Hana adalah perpanjangan tangan Ibu."

Luka Syabila tidak sembuh seketika, namun penjelasan Nida memberikan sedikit ruang baginya untuk bernapas. Konflik batin di dalam rumah itu semakin intens ketika malam harinya, Syabila kedapatan sedang mencoba membuang semua foto-foto lama keluarga mereka ke dalam tempat sampah.

Fandy yang menemukan hal itu terkejut. "Syabila! Apa yang kamu lakukan? Ini kenangan kita!"

"Untuk apa ada kenangan kalau nanti Ayah akan punya istri baru dan Ibu baru? Bukankah foto-foto ini hanya akan membuat Ayah merasa bersalah?" Syabila berteriak frustrasi di depan ayahnya.

Fandy terdiam, ia berlutut dan memeluk putrinya erat-erat. "Tidak, Sayang. Tidak akan ada yang menggantikan Ibu di rumah ini. Ayah berjanji."

Namun, di kamar sebelah, Nida mendengar percakapan itu dan hatinya semakin hancur. Ia menyadari bahwa rencananya telah menciptakan luka psikologis yang dalam pada Syabila. Putrinya merasa dikhianati oleh realitas. Syabila mulai menarik diri dari pergaulan di sekolah, nilainya menurun, dan ia sering melamun di pojok perpustakaan sekolah.

Di tengah situasi pelik ini, Hana menunjukkan ketulusannya. Suatu sore, tanpa diminta oleh Nida, Hana datang khusus untuk menemui Syabila. Ia tidak membicarakan agama atau pelajaran, ia hanya membawa peralatan melukis.

"Syabila, Kakak dengar kamu suka melukis. Mau bantu Kakak melukis di panti? Kita buatkan mural untuk kamar anak-anak di sana," ajak Hana dengan nada ceria yang tulus.

Awalnya Syabila menolak, namun Hana dengan sabar tetap menunggunya di teras. Kelembutan Hana yang tidak memaksa perlahan melunakkan hati Syabila. Mereka akhirnya duduk bersama di teras, melukis di atas kanvas kecil. Di sana, Syabila akhirnya bisa mencurahkan lukanya melalui warna-warna yang gelap. Hana tidak berkomentar banyak, ia hanya mendengarkan isak tangis Syabila yang pecah di tengah kegiatan melukis itu.

"Menangislah, Syabila. Tidak apa-apa merasa sedih. Kakak di sini bukan untuk menghapus ibumu dari hidupmu. Kakak di sini hanya untuk menjadi kakak, teman, atau apa pun yang kamu butuhkan agar kamu tidak sendirian," bisik Hana.

Nida melihat pemandangan itu dari balik gorden jendela kamar atas. Air matanya mengalir. Ia melihat bagaimana Hana berhasil masuk ke dalam celah luka Syabila yang bahkan ia sendiri sebagai ibu kandung sulit untuk menyentuhnya di saat sakit seperti ini. Nida menyadari, luka Syabila adalah harga dari sebuah masa depan yang sedang ia bangun.

Namun, kejutan menyakitkan kembali datang. Syabila tanpa sengaja menemukan draf "Surat untuk Masa Depan" yang sedang ditulis Nida di laptopnya. Di sana, Nida menulis instruksi untuk "istri Fandy kelak" tentang cara menangani Syabila saat menstruasi pertama. Membaca itu, Syabila merasa ibunya benar-benar sudah merelakan hidupnya untuk diberikan pada orang lain.

Syabila berlari keluar rumah di tengah hujan deras, membuat seisi rumah panik. Fandy dan Hana mencari ke seluruh penjuru kompleks, sementara Nida hanya bisa menangis dalam sujudnya, memohon keselamatan putrinya. Syabila ditemukan sedang meringkuk di depan masjid kompleks, menggigil kedinginan.

Saat dibawa pulang, yang pertama kali Syabila cari bukan ibunya, melainkan Hana. "Kak Hana... jangan biarkan Ibu pergi," bisiknya dalam gigitan kedinginan.

Malam itu, Hana menginap untuk menjaga Syabila yang demam tinggi. Fandy menatap pemandangan itu dengan perasaan yang campur aduk. Ia melihat bagaimana Hana dengan telaten mengompres dahi Syabila, sementara Nida hanya bisa memandang dari kursi rodanya di ambang pintu. Luka Syabila telah menjadi katalis yang memaksa mereka semua untuk menerima kenyataan: bahwa badai ini tidak bisa dihadapi sendirian.

Terlihat suasana sunyi di kamar Syabila. Luka itu masih ada, menganga dan perih, namun kehadiran Hana mulai menjadi perban yang menahan pendarahan emosi di rumah itu. Nida menyadari, perjalanannya kian singkat, dan luka putrinya adalah pengingat paling nyata bahwa ia harus menyelesaikan "misinya" dengan cara yang lebih lembut, sebelum takdir benar-benar menjemput.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!