"Meiji....!" Teriaknya memeluk jenazah putranya.
Pada akhir hidupnya Lily menyadari, semua orang yang ada di sekitarnya adalah pengkhianat. Cinta mereka palsu!
Berakhir dengan kematian tragis.
Karena itu kala mengulangi waktu, dendam seorang ibu yang kehilangan putranya, membuatnya tertawa arogan dan berucap...
"Bukan kamu, tapi aku yang membuangmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melepaskan
Tentu selalu ada cara untuk merekayasa segalanya. Dorongan dan provokasi diperlukan untuk membuat segalanya terjadi lebih cepat. Lily kali ini memang bukan menjadi pelaku yang membalas dendam secara brutal. Karena dirinya akan menjadi penonton kehancuran mereka.
Hal kecil terkadang memberikan dampak domino.
Seperti saat ini, Feno merobek pakaian yang digunakan oleh Rini. Merebahkannya di atas tempat tidur, kemudian mengikat tangannya menggunakan tali. Sedangkan Feno mulai membuka pakaiannya sendiri.
"Feno jangan!" ucapnya bagaikan menangis, malu tapi mau. Bagaimanapun juga dirinya tidak munafik sama sekali. Kakak angkatnya ini begitu rupawan. Amat sangat pantas dengan dirinya. Andai saja tidak ada pilihan Dilan atau kekasihnya saat ini.
Deru nafas tidak teratur, hawa nafsu benar-benar terasa. Sepasang tubuh tanpa penghalang, bibirnya dicumbui. Sepasang organ itu menyatu dengan cepat bagaikan tanpa ada sedikitpun kesulitan.
Mata Feno menatap ke arah Rini. Dirinya memang bukan seorang perjaka. Tapi bagaimana bisa ini tidak perawan lagi?
Lagi lagi air mata itu mengalir. Kemudian berucap."Maaf, aku pernah diperdayai oleh mantan pacarku. Apa Kakak tidak menyukaiku lagi?"
"Tidak! Aku akan selalu mencintaimu..." kalimat dari sang buaya penuh nafsu, menghentakkan tubuhnya tanpa henti. Tapi memang diakui olehnya, Rini begitu cantik, tubuhnya begitu indah. Wanita ini harus menjadi miliknya.
"Jangan menyukai Dilan! Bukankah ini enak? Aku dapat lebih baik darinya. Lihat suaramu bahkan terdengar begitu seksi menikmatinya." Bisik Feno dengan deru napas tidak teratur.
Semakin bersemangat kala melihat Rini menjerit di bawah tubuhnya. Semakin kasar, semakin brutal, semakin beringas. Karena memang Itulah sifat Feno.
Beberapa benda, disiapkannya untuk menghukum adik angkatnya. Benda dewasa yang digunakan untuk kesenangan.
***
Dua orang yang kini berada di atas tempat tidur. Feno menghala nafas menatap ke arah langit-langit ruangan. Sedangkan Rini berada di sampingnya. Berpura-pura lemah tidak berdaya memang begitu Bukan sifatnya?
"Maaf, tapi ini karena aku mencintaimu..." Ucap Feno memeluknya dari belakang.
Rini berusaha keras menahan senyumannya, tidak dipungkiri olehnya diantara ketiga orang yang dekat dengannya, ternyata Feno yang paling luar biasa.
"Tidak apa-apa, aku juga mencintaimu..." ucapnya bimbang memilih antara tiga pria yang sama-sama mencintainya."Tapi tetap saja kita tidak bisa bersama. Aku harus menggantikan Lily untuk dijodohkan dengan Dilan."
"Aku akan bicara pada ibu dan ayah!" Tegas Feno.
"Tidak ada gunanya...kakak hanya akan menerima hukuman pada akhirnya." Rini menghela napas kasar.
Wanita yang menyipitkan matanya berpikir sejenak. Dirinya tidak ingin kehilangan Feno, tapi juga tidak ingin menghilangkan kesempatan untuk dijodohkan dengan Dilan. Dilan lemah di ranjang, lebih lemah dari Feno ternyata. Yang menarik hanya status keluarganya. Dirinya tidak ingin Lily yang lebih jelek melampauinya.
"Aku akan menerima tawaran perjodohan untuk formalitas saja. Saat kondisi keluarga stabil, aku akan menceraikan Dilan. Membawa setengah harta gono-gini agar kita dapat hidup bersama." Sebuah janji manis penuh pertimbangan. Tentu saja kuntilanak ini tidak akan menyerah akan pocong perkasa ini.
Dirinya akan menjadikan Feno sebagai pria simpanan. Itu adil! Sungguh luar biasa! Benar-benar adil! Bahkan Dilan juga memiliki Silvia bukan?
"Tapi...aku ingin memilikimu sepenuhnya." Ucap Feno sedikit mengigit bahunya.
"Ah... kakak, kita tidak boleh egois. Aku janji walaupun menikah dengan Dilan, aku akan selalu mencintaimu." Ucap Rini.
"Tapi...ada satu syarat..." Bisik Feno.
"Apa?" Tanya Rini pelan.
"Aku ingin anak darimu. Dan jangan biarkan Dilan memiliki anak darimu." Jawaban dari Feno. Sebuah kecurangan yang nyata.
Rini berpikir sebentar. Lagipula dirinya telah berhubungan dengan Dilan tapi tidak ada tanda-tanda kehamilan. Jika hamil anak Feno bukankah itu bagus? Segalanya akan menjadi miliknya. Tinggal mengatakan jika ini adalah anak Dilan.
Rini mengangguk halus. Dengan cepat Feno kembali mencumbui tubuhnya. Lagi dan lagi... melakukan berbagai variasi yang berbeda.
Tanpa Feno sadari dirinya dihasut. Sebelum waktu terulang Feno hanya dapat mendukung dan mencintai Rini dari jauh. Tidak memiliki keberanian untuk menyatakan persetujuannya, karena hubungan sebagai kakak beradik angkat.
Tapi.
Sedikit provokasi untuk mendorong menyatakan cintanya dari Lily. Perasaan memiliki, lalu tiba-tiba takut kehilangan karena perjodohan yang dirubah.
Benar! Lily tidak terlibat langsung. Wanita itu hanya berperan sebagai penonton. Yang tersenyum menatap kematian mereka satu persatu.
Hari ini...di balik pintu kamar Feno yang terkunci, pria itu memangsa wanita ini. Sama sekali tidak akan pernah puas. Begitu indah begitu lembut, bahkan teriaknya membuatnya menggila.
Beberapa pesan masuk ke dalam handphone Feno.
'Kakak, maafkan aku karena menghalangi hubungan kalian. Ini karena aku takut berhadapan dengan Silvia.'
'Bagaimana kalau begini saja, aku akan tebus dengan menyewa villa liburan untuk kalian. Kita cari solusi sama-sama.'
'Apa kalian sedang bersama? Atau marah padaku...tapi jika sedang bersama... cie...'
Itulah beberapa dari serangkaian pesan dari Lily. Bagaikan seseorang yang berada di pihak netral. Wanita yang berprofesi sebagai desain grafis di perusahaan keluarganya ini tersenyum duduk di kursi kerjanya kini. Mengetahui Feno absen tanpa keterangan apapun.
Menatap ke arah matahari terbenam. Perlahan wajahnya tersenyum."Mengadu domba mereka satu persatu. Membuat mereka saling menggigit dan berperang. Itu baru menyenangkan..." Gumamnya.
Hingga sebuah pesan masuk ke handphonenya. Lebih tepatnya sebuah pesan dari ayahnya.
'Lily, malam ini ada pertemuan keluarga dengan keluarga Brata. Kamu harus hadir, ini mengenai pergantian perjodohanmu. Mengerti?'
Lily tersenyum mereka bertindak cepat. Seakan-akan sudah mengharapkan dan menginginkan hal ini. Perlahan dirinya tertawa, walaupun akan ada penghalang besar untuk rencananya.
"Bagaimana caranya membuat harem untuk adikku tercinta? Sebuah harem yang dipenuhi pria obsesif?" Gumamnya yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Masih menggunakan masker berbentuk bagaikan tissue basah. Wajahnya tersenyum membayangkan dimana para pria itu saling membunuh untuk mendapatkan cinta seorang Rini. Pasti akan menjadi pertunjukan yang bagus.
Menyalakan musik Pain Theme Orkestra. Menatap ke arah cahaya matahari yang perlahan akan terbenam.
***
Kala hari menjelang sore. Wanita yang kulitnya sedikit lebih cerah ini. Mengingat iklan krim pemutih sebagian besar hoax, jikapun bukan hoax mungkin mengandung bahan berbahaya kalau dapat mencerahkan kulit dalam waktu singkat. Dalam artian... cantik bukan hal instan seperti yang dilakukan ibu peri pada Cinderella dan pangeran katak.
Melangkah penuh arogansi, kala mobil murahnya telah terparkir. Biasanya dirinya akan menggunakan pakaian berwarna peach atau biru laut, seperti apa yang sering digunakan Silvia. Dirinya ingin menjadi seperti cinta pertama Dilan. Tapi sayangnya cintanya sudah basi, sudah kadaluarsa. Sudah berbau asam dan tidak enak lagi, membuat keracunan dan ingin muntah.
Karena itu kali ini dirinya menggunakan mini dress berwarna merah menyala. Tidak peduli pada apapun, yang terpenting pertunangan ini segera berakhir.
Matanya melirik nakal ke arah calon kakak iparnya yang baru turun dari lantai dua.
Oh... sungguh merelakan orang yang tidak mencintaimu itu menyenangkan. Seperti buang air besar, kemudian keluar semuanya... lega...
ervan ati2 mulutmu kelak bakal kena slepet kembaran istrimu....
tp masa sihhh si raja iblis g ngerasa tu muka jelek anakny
masa baktinya udah selesai saat kau melukai Lily
selamat menikmati hari hari sedih mu yaa
jadi bayangin lagi muka nelangsa nya
kasiaaan 😜🤣🤣
lepaskan lah...yg harus dilepaskan 😜🤣🤣