Ziva Putri Willson, putri bungsu keluarga Willson, adalah perpaduan sempurna antara kecantikan, kecerdasan, dan kepercayaan diri setinggi langit. Di usianya yang masih muda, dia telah menjadi desainer ternama yg namanya menggema hingga ke mancanegara.
Damian Alexander, CEO muda yang dikenal kejam dan dingin. Baginya, hidup hanyalah deretan angka dan nilai saham. Dia sangat anti pada wanita karena menganggap mereka makhluk paling merepotkan di dunia.
"Dengar, Tuan CEO, kamu mungkin bisa membeli saham dunia, tapi kamu tidak bisa membeli hak untuk mengatur kapan aku harus bernapas. Jadi, simpan wajah sok kuasamu itu untuk rapat, bukan untukku." -Ziva.
"Aku sudah menghadapi ribuan musuh bisnis yang licin, tapi menghadapi satu wanita bermulut tajam seperti dia jauh lebih menguras energi daripada akuisisi perusahaan. Tapi justru itu yang membuatnya berbeda." — Damian.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Si Tuan Dingin yang mulai kehilangan akal sehatnya, atau Nona cerewet berwajah manis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGUSIR PENGANGGU
Lampu kristal berkilauan, dan aroma parfum mahal memenuhi ruangan.
Saat pintu ballroom terbuka dan pembawa acara mengumumkan kedatangan mereka, seluruh mata tertuju pada pasangan itu.
"Tuan Damian Alexander dan tunangannya, Nona Ziva Willson!"
Kilatan kamera wartawan membabi buta. Damian dengan protektif merangkul pinggang Ziva, membawanya masuk ke tengah kerumunan.
Tidak jauh di belakang mereka, Kenzo dan Arkan mengikuti seperti bayangan yang mengancam.
"Jasnya ada di mobil Riko, kan? Pakai sekarang di ruang VIP. Aku mau kamu ganti penampilan sekarang. Aku tidak mau kamu terlihat seperti robot di depan abang-abangku yang menyebalkan itu," ucap Ziva berbisik di telinga Damian, "
"Apapun untukmu, Kucing Kecil, tapi ingat, setelah ini, tagihan investasiku akan sangat mahal," jawab Damian menunduk, bibirnya hampir menyentuh telinga Ziva.
Setelah berganti pakaian di ruang VIP, Damian kembali keluar, kali ini, dia memakai jas custom hasil desain Ziva, potongan modern dengan detail sulaman tangan yang halus di bagian kerah, memberikan kesan edgy namun tetap berkelas.
Rambutnya yang biasanya klimis kini di tata sedikit berantakan namun tetap rapi.
Banyak pengusaha wanita yang menahan napas melihat transformasi itu. Damian Alexander tidak lagi terlihat seperti mesin uang, dia terlihat seperti pria yang sangat... diinginkan.
Bahkan Kenzo dan Arkan yang sedang memegang gelas sampanye hampir tersedak.
"Sial, dia jadi kelihatan lebih tampan," gumam Arkan kesal.
Acara inti dimulai, saat mereka duduk di meja utama, Kenzo mulai melancarkan serangannya.
"Jadi, Damian. Apa rencanamu setelah menikah nanti? Selain menggabungkan saham Willson dan Alexander?" tanya Kenzo langsung pada intinya.
"Rencanaku adalah memastikan Ziva tetap bisa menjadi desainer terbaik dunia tanpa harus pusing memikirkan masalah logistik atau vendor yang tidak becus. Dan rencanaku adalah melarangnya tidur lewat jam 10 malam agar dia tidak kelelahan," jawab Damian meletakkan garpunya, dia menatap Kenzo dengan serius.
"Hanya itu?" tanya Arkan meremehkan.
Damian melirik Ziva yang sedang menatapnya penuh harap. Tiba-tiba, di bawah meja, Damian menggenggam tangan Ziva erat.
"Dan rencanaku adalah membuktikan pada kalian berdua, bahwa aku bisa memberikan apa yang tidak bisa kalian berikan padanya: Masa depan di mana dia tidak perlu lagi bersikap kuat sendirian karena ada aku yang berdiri di depannya," ucap Damian dengan suara berat dan tegas.
Keheningan melanda meja itu. Ziva terpaku, jantungnya berdegup kencang. Itu bukan kalimat bisnis. Itu adalah pernyataan perang sekaligus janji setia.
Tiba-tiba, seorang pelayan mendekat dan membisikkan sesuatu pada Damian. Wajah Damian sedikit berubah.
"Ada apa?" tanya Ziva cemas.
"Sepertinya ada tamu tak diundang yang ingin merusak suasana malam ini," ucap Damian sambil melirik ke arah pintu masuk, di mana seorang wanita cantik dengan gaun perak yang sangat berani baru saja masuk dengan wajah penuh amarah.
"Siapa dia?" tanya Ziva menyipitkan mata.
"Mantan rekan bisnisku yang merasa dicampakkan secara profesional, dan mungkin secara personal," jawab Damian datar.
Ziva tersenyum licik, dia berdiri dan memperbaiki kerah jas Damian, dai tahu apa maksud dari perkataan tunangan nya itu.
"Tenang, Biar aku yang urus, wanita licik seperti itu aku sudah hapal, wanita seperti itu hanya butuh desainer untuk merapikan sampah di sekitarnya, bukan?" ucap Ziva dengan mata berkilat.
Kenzo dan Arkan saling pandang, lalu tersenyum tipis, inilah sisi lain dari adik kecil mereka, kelihatan nya saja Ziva cerewet dan kekanak-kanakan, tapi aslinya Ziva jauh lebih berbahaya dari pada kedua Kakaknya.
Untuk pertama kalinya, mereka merasa Damian mungkin memang orang yang tepat karena pria itu hanya diam dan membiarkan Ziva beraksi, seolah dia sangat mempercayai wanita itu.
"Sepertinya malam ini memang akan sangat panjang," gumam Kenzo, mulai menikmati pertunjukan.
Tak
Tak
Tak
Seorang wnita bergaun perak melangkah dengan penuh percaya diri, membelah kerumunan tamu yang mulai berbisik.
Namanya Clarissa, putri dari pemilik firma hukum terkemuka yang sempat dikabarkan dekat dengan Damian sebelum berita pertunangan dengan Ziva meledak.
Wajah Clarissa terlihat cantik, namun matanya memancarkan kecemburuan yang tidak tertahankan saat melihat Ziva berdiri begitu dekat di samping Damian, pria yang selama ini selalu menjaga jarak dengan wanita manapun.
"Damian," sapa Clarissa dengan nada manja yang dibuat-buat, mengabaikan kehadiran Ziva.
"Aku tidak menyangka seleramu ternyata sudah berubah. Dari rekan bisnis yang cerdas menjadi seorang tukang jahit?" ucap Clarissa, melihat Ziva dengan tatapan mengejek.
Ziva merasakan darahnya mendidih, dia paling benci jika profesinya direndahkan. Namun, alih-alih meledak marah seperti biasa nya, Ziva justru tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat elegan dan meremehkan.
"Tukang jahit?" ulang Ziva melangkah maju, tangannya masih melingkar manis di lengan Damian.
"Sayang sekali, Nona... Clarissa, ya? Kamu mungkin punya pengacara hebat di firma ayahmu, tapi sepertinya kamu butuh konsultan gaya dan stylish yang bagus. Gaun perak itu? Itu tren tiga tahun lalu, dan potongan lehernya maaf, itu membuatmu terlihat sangat berusaha keras," ucap Ziva, dengan mulut berbisa nya.
Wajah Clarissa memerah seketika.
"Apa katamu?!" bentak Clarissa, tidak terima.
"Z-Style tidak pernah membuat gaun untuk orang yang tidak punya kelas," ucap Ziva sambil merapikan sedikit jas velvet Damian yang ia desain.
"Dan soal selera Damian, dia memang sudah bosan dengan yang kaku dan membosankan. Itulah sebabnya dia memilih desainer, karena aku tahu cara membuat sesuatu yang dingin menjadi sangat panas," lanjut Ziva, tersenyum miring.
"Benar kan, Damian? Atau kamu lebih suka kembali ke masa lalu yang terlihat sangat berkarat ini?" tanya Ziva menoleh ke arah Damian, menatapnya dengan pandangan menggoda.
Damian menatap Ziva dengan sorot mata yang sulit diartikan, ada rasa bangga yang tersirat di sana. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke Clarissa, dingin dan tanpa ampun.
"Ziva benar, Clarissa. Urusan bisnis kita sudah selesai sejak bulan lalu, dan di sini, dia adalah calon istriku, bukan hanya sekadar pendamping. Jika kamu tidak bisa menghormatinya, sebaiknya kamu keluar sebelum Riko memanggilkan keamanan," ucap Damian dingin.
Clarissa menghentakkan kakinya, merasa dipermalukan di depan umum, tanpa sepatah kata pun dia pergi dengan langkah seribu, meninggalkan aroma parfum yang terlalu tajam di udara.
"Oho! Nice move, Little Monster," puji Arkan sambil bertepuk tangan pelan, merasa terhibur dengan keberanian adiknya.
"Setidaknya aku tahu kamu tidak akan ditindas oleh siapapun di keluarga Alexander nanti," ucap Kenzo juga mengangguk pelan.
Namun, Damian tidak memedulikan kedua kakak Ziva, dia justru menarik Ziva menuju lantai dansa saat musik berganti menjadi melodi waltz yang romantis.
"Tunggu, aku tidak bilang mau dansa!" bisik Ziva panik saat Damian meletakkan tangannya di pinggangnya yang terbuka.
"Tadi itu akting yang bagus, tapi sekarang saatnya membayar hutang karena aku sudah membiarkanmu memamerkan kekuasaanmu tadi," jawab Damian rendah.
abang posesif vs clon suami kutub....🤣🤣🤣
crazy up dpng thorrrrr
koreksi ya semangat