Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.
Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.
Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.
Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.
⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Probabilitas Kemenangan Sekar di Bawah 20%
Suara mesin tik dan ketikan keyboard komputer beradu di ruang administrasi Keputren.
Sekar Ayu Prameswari duduk di meja jati tuanya. Dari jendela, pelataran Bangsal Kencono terlihat jelas.
Pin emas lambang Keraton tersemat di dadanya. Ringan, tapi bebannya psikologisnya berat.
"Nimas Sekar," sapa abdi dalem wanita sepuh, mengantar berkas.
"Ini data ekspor kerajinan perak Kotagede tiga tahun terakhir."
"Matur nuwun, Bu," jawab Sekar, tersenyum tipis.
Sekar membuka berkas. Grafik batang menurun tajam.
Analisis Data: Tren negatif. Penurunan 15% year-on-year. Penyebab: Desain stagnan, kurang inovasi, kalah saing dengan perak Bali dan Thailand.
Otak profesornya bekerja. Pena merah melingkari angka krusial. Angka baginya variabel yang harus dioptimalkan.
Namun, konsentrasinya buyar.
Bukan data, melainkan bisik-bisik di sekitarnya. Para abdi dalem putri saling menyikut, mata mereka tertuju ke arah gerbang utama Regol Keben.
"Ada apa?" tanya Sekar pada staf magang.
Gadis itu menoleh, mata berbinar. "Nimas belum dengar? Mobil diplomatik masuk lewat gerbang VVIP. Katanya... dia sudah pulang."
"Dia?"
"Raden Ajeng Mawar, Nimas. Putri kebanggaan keluarga Danurejan."
Sekar terdiam. Nama itu asing, tapi respons biologis orang-orang di ruangan ini familiar. Antusiasme, ketertarikan, kegembiraan.
Ini adalah respons kelompok terhadap kedatangan "Alpha Female".
Sekar menutup berkas. Berdiri, berjalan ke jendela.
Di pelataran, sedan hitam mengkilap berhenti. Plat nomor CD. Sopir berseragam membukakan pintu.
Kaki jenjang berbalut high heels warna nude turun. Langkahnya mantap.
Wanita itu keluar sepenuhnya.
Sekar menahan napas. Wanita itu adalah spesimen sempurna. Tinggi, kulit kuning langsat, rambut hitam legam disanggul modern. Kebaya modifikasi lace premium warna dusty pink, dipadu kain batik tulis motif Semen Romo.
Tapi yang paling mencolok adalah auranya. Tegak, dagu terangkat, senyum tipis terukur.
"Raden Ajeng Mawar Kusuma..." desis abdi dalem di sebelah Sekar. "Lulusan Oxford. Diplomat termuda di Jenewa. Cantik sekali, ya?"
Sekar tidak menjawab.
Otaknya melakukan komparasi data. Jika GKR Dhaning predator agresif, wanita ini berbeda. Tenang. Terkendali. Ramah, tapi ada jarak dingin.
Ini bukan tipe predator yang mencabik mangsa. Ini tipe tanaman karnivora yang memikat dengan nektar manis.
"Ayo kita lihat," gumam Sekar pelan. "Variabel baru apa yang masuk ke dalam ekosistem ini."
Sekar tidak berniat ikut campur, tapi tugas memaksanya keluar. Dia harus menyerahkan draf awal rencana revitalisasi pasar perak ke kantor Gusti Prabu sebelum makan siang.
Rutenya melewati koridor utama.
Di sanalah pertemuan itu terjadi.
Di tengah koridor, rombongan kecil itu berhenti.
Permaisuri Gusti Kanjeng Ratu Dyah Kusumawardhani, yang biasanya sedingin es, kini tampak... tersenyum?
Sekar memelankan langkah. Permaisuri memegang kedua tangan RA Mawar erat. Gestur yang intim.
"Mawar, Nduk... Ibu pangling. Kamu semakin cantik setelah tiga tahun di Eropa," suara Permaisuri lembut.
"Pangestunipun, Kanjeng Ratu," jawab Mawar.
Suaranya merdu, logat Jawa halus sempurna, bercampur artikulasi jelas khas orator ulung. "Saya membawakan teh Earl Grey dari London dan syal sutra untuk Kanjeng Ratu."
"Ah, kamu selalu ingat kesukaan Ibu."
Di sebelah mereka, GKR Dhaning tampak berseri-seri.
"Dik Mawar harus lihat taman belakang," sela Dhaning antusias. "Ada banyak yang berubah. Tapi tenang saja, posisi itu masih kosong. Kami menjaganya untuk kamu."
Posisi apa? Sekar mengerutkan kening.
Saat itulah, radar Sekar menangkap kehadiran objek lain.
Dari arah berlawanan, Pangeran Arya muncul. Mengenakan surjan lurik harian, tampak terburu-buru dengan kamera DSLR di lehernya.
Langkah Arya terhenti melihat wanita berbaju pink itu.
"Ar!" panggil Mawar.
Bukan "Gusti Pangeran". Bukan "Mas Arya". Tapi "Ar". Itu jelas kode masa kecil.
Wajah Arya berubah. Terkejut, lalu... senyum lebar tulus.
"Mawar?" Arya mendekat, mengabaikan protokol jarak. "Kapan mendarat? Aku pikir baru minggu depan."
Mawar tertawa renyah. "Kejutan. Aku menyelesaikan negosiasi di Brussels lebih cepat supaya bisa mengejar Jumenengan Romo Sultan bulan ini."
"Hebat," puji Arya, menggeleng kagum. "Selalu perfeksionis."
Sekar berdiri mematung di balik pilar jati, sepuluh meter dari mereka. Memegang map erat-erat.
Ada sensasi tidak nyaman di ulu hatinya.
Diagnosis Medis: Peningkatan asam lambung akibat stres akut. Kadar kortisol meningkat. Adrenalin memicu respons fight-or-flight.
Secara logika, Sekar tahu Arya dan Mawar kemungkinan besar adalah teman masa kecil. Tapi intuisi wanitanya menangkap frekuensi yang berbeda.
Cara Mawar menatap Arya... bukan tatapan teman. Pupil matanya melebar. Dia memiringkan kepalanya sedikit ke kanan.
Dan cara Arya tersenyum... Itu senyum penuh nostalgia, bukan jenis senyum yang akan diberikan pada Sekar.
"Ehem."
Deheman keras dari Dhaning memecah momen itu. Mata tajam Dhaning menangkap sosok Sekar yang berdiri canggung di pinggir koridor.
"Kebetulan sekali," ujar Dhaning, suaranya meninggi.
"Dhimas, lihat siapa yang sedang mengintip di sana."
Arya menoleh. Matanya bertemu dengan mata Sekar.
Senyum Arya sedikit memudar. Bingung dan... bersalah?
"Sekar?" panggil Arya.
Sekar tidak punya pilihan.
Mundur berarti pengecut.
Maju berarti ia masuk ke medan perang tanpa senjata.
Dia menarik napas panjang, mengaktifkan mode Professional Persona.
Wajahnya datar dan tenang.
Sekar melangkah mendekat, melakukan Sembah hormat singkat pada Permaisuri dan Dhaning, lalu mengangguk sopan pada Arya dan Mawar.
"Mohon ampun mengganggu, Gusti. Saya hanya hendak lewat menuju kantor Sinuhun," ucap Sekar, stabil. Tidak bergetar.
Permaisuri menatap Sekar dengan tatapan menilai yang dingin. Kontras sekali dengan tatapan hangatnya pada Mawar.
"Oh," gumam Permaisuri pendek. "Silakan."
Namun Mawar tidak membiarkannya lewat.
Mawar menatap Sekar dari ujung rambut sampai ujung kaki. Seperti scanner MRI mencari sel kanker.
"Jadi ini..." Mawar memutar tubuh menghadap Sekar, tersenyum manis. Terlalu manis. "Nimas Sekar Ayu yang sering diceritakan Dhaning di grup WhatsApp?"
Sekar membalas tatapan itu lurus-lurus. "Leres, Raden Ajeng. Salam kenal."
Mawar mengulurkan tangan. Kulitnya halus, manikurnya sempurna dengan warna french tip.
Sekar menyambut jabat tangan itu.
Tangan Mawar dingin, tapi cengkeramannya kuat. Dominan.
"Saya dengar prestasi Anda luar biasa," kata Mawar. Ada penekanan pada kata-kata tertentu. "Dari penjual melon, sekarang jadi... Penasihat Ekonomi?"
Serangan pertama, batin Sekar.
Mawar menyoroti asal-usul Sekar untuk mengontraskan dengan posisinya sekarang. Backhanded compliment.
"Budidaya, Raden Ajeng," koreksi Sekar tenang. Melepaskan jabat tangan itu lebih dulu.
"Dan juga bioteknologi agrikultur. Saya hanya mengaplikasikan sains untuk membantu ekonomi rakyat."
Alis Mawar terangkat satu. "Sains? Ah, iya. Saya dengar Anda menemukan cara membuat bunga mekar di siang hari. Menarik. Di Eropa, kami menyebutnya GMO. Di sini disebut keajaiban, ya?"
Sekar tersenyum tipis. "Di sini disebut inovasi, Raden Ajeng. Dan hasilnya sudah divalidasi oleh pasar."
Arya merasakan ketegangan di udara. Dia berdeham, mencoba menengahi.
"Sekar adalah lulusan terbaik di bidangnya, Mawar. Romo sangat percaya padanya."
Mawar menoleh ke Arya, tatapannya melembut. "Tentu saja, Ar. Aku percaya selera Romo. Beliau selalu suka hal-hal yang... unik dan eksotis."
Kata "eksotis" di sini bukan pujian. Itu eufemisme untuk "aneh" atau "liar".
"Sudahlah," potong Permaisuri, tidak tertarik melihat interaksi ini berlanjut. "Mawar, ayo masuk. Udara di luar terlalu panas. Nanti kulitmu rusak."
"Inggih, Kanjeng Ratu," Mawar mengangguk patuh.
Dia kembali menatap Sekar.
"Senang bertemu denganmu, Sekar. Kuharap kita bisa berdiskusi banyak. Kebetulan tesis S2 saya di Oxford membahas tentang 'Dampak Ekonomi Kerakyatan dalam Melestarikan Feodalisme'. Mungkin perspektif Anda sebagai... praktisi lapangan... bisa melengkapi teori saya."
Itu penghinaan intelektual yang dibungkus kertas kado emas.
Mawar menyebut Sekar "praktisi lapangan" sementara menempatkan dirinya sebagai "teoretikus".
"Dengan senang hati," jawab Sekar, tetap datar.
"Teori memang seringkali berbeda dengan realita di lapangan, Raden Ajeng. Kadang data di atas kertas tidak bisa memprediksi variabel ketahanan hidup ilalang yang diinjak sepatu mahal."
Mata Mawar menyipit sepersekian detik. Dia menangkap metafora itu. Ilalang yaitu Sekar vs Sepatu Mahal yang adalah Mawar.
"Kita lihat saja nanti," Mawar tersenyum lagi, lalu berbalik anggun.
Rombongan itu berlalu, meninggalkan aroma parfum mawar dan vanila yang mahal dan menusuk.
Arya tertinggal sejenak. Dia menatap Sekar dengan pandangan bersalah.
"Sekar, dia tidak bermaksud..."
"Gusti Pangeran," potong Sekar cepat. Dia melirik jam tangannya. "Sinuhun menunggu laporan saya. Mohon permisi."
Sekar tidak menunggu jawaban. Dia membungkuk singkat, lalu berjalan cepat menuju kantor Sultan.
Dia tidak menoleh ke belakang. Dia tidak akan membiarkan Arya melihat tangannya yang gemetar kecil memegang map.
Sesampainya di koridor sepi dekat perpustakaan keraton, Sekar berhenti. Bersandar pada dinding batu bata tebal, mencoba mengatur napas.
"Analisis," bisiknya pada diri sendiri, memejamkan mata.
Sistem limbiknya berteriak marah. Perasaan terhina, cemburu, dan insecure bercampur aduk.
Bayangan Arya yang tersenyum lebar pada Mawar berputar ulang di kepalanya seperti kaset rusak.
Logika: Non-aktifkan emosi. Fokus pada fakta.
Sekar membuka matanya. Tatapannya kembali tajam dan dingin.
Fakta 1: RA Mawar adalah kandidat ideal secara genetika, sosial, dan politik untuk Arya.
Fakta 2: Mawar memiliki dukungan penuh dari Permaisuri dan Dhaning sebagai Aliansi Oposisi.
Fakta 3: Mawar cerdas. Dia tidak menyerang dengan fitnah murahan, tapi dengan degradasi intelektual.
"Dia bukan parasit," gumam Sekar, menganalisis lawan barunya. "Dia adalah spesies kompetitor yang menduduki niche ekologi yang sama."
Sekar menatap pantulan dirinya di kaca jendela perpustakaan.
Gadis desa dengan kebaya sederhana, melawan diplomat lulusan Oxford dengan gaun sutra.
Di atas kertas, probabilitas kemenangan Sekar di bawah 20%.
Tapi Sekar adalah ilmuwan. Dan bagi ilmuwan, probabilitas rendah bukan berarti mustahil. Itu hanya berarti dia butuh variabel tambahan untuk membalikkan keadaan.
"Kau boleh punya teori Oxford, Mawar," bisik Sekar, jarinya menyentuh tanda lahir bulir padi di balik lengan kebayanya, pintu gerbang menuju laboratorium rahasianya.
"Tapi aku punya alam semesta di dalam jariku."
Sekar menegakkan punggungnya. Merapikan rambutnya, lalu berjalan kembali dengan langkah yang jauh lebih mantap.
Malam harinya, di Paviliun Tamu.
Mawar duduk di depan cermin rias antik, membersihkan wajahnya dengan kapas.
GKR Dhaning duduk di sofa di belakangnya, menyesap teh melati.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Dhaning.
Mawar menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah tanpa makeup masih terlihat cantik, namun matanya tidak lagi ramah. Tajam, penuh perhitungan.
"Dia menarik," jawab Mawar pelan. "Dia tidak menunduk saat aku intimidasi. Dia membalas tatapanku. Respon verbalnya juga terstruktur, tidak emosional."
"Dia licin seperti belut," gerutu Dhaning. "Romo dan Arya sudah dihipnotis olehnya."
Mawar meletakkan kapasnya. Memutar kursi, menghadap Dhaning.
"Bukan hipnotis, Mbak Ning. Itu leverage. Nilai tawar. Gadis itu memberikan apa yang keraton butuhkan saat ini: uang dan relevansi publik."
"Jadi kita harus bagaimana? Kau lihat sendiri Arya menatapnya seperti orang gila."
Mawar tersenyum miring. Berjalan menuju jendela, menatap ke arah paviliun kecil di ujung taman tempat Sekar tinggal sementara.
"Mbak Ning, jangan menyerang benteng saat musuh sedang siaga penuh. Itu boros energi."
"Maksudmu?"
"Kita tidak perlu menghancurkan bisnisnya. Itu justru akan membuat Romo marah," jelas Mawar cerdas. "Kita hanya perlu membuktikan satu hal."
"Apa?"
"Bahwa dia tidak cocok secara kultural. Bahwa dia adalah anomali yang memalukan jika dibawa ke panggung dunia."
Mawar berbalik, wajahnya disinari cahaya bulan yang masuk lewat jendela.
"Minggu depan ada Jamuan Ageng untuk duta besar negara sahabat. Arya harus membawa pasangan."
Dhaning tersenyum lebar, mengerti arah pembicaraan ini. "Kau mau dia hadir?"
"Tentu saja," kata Mawar lembut. "Biarkan dia hadir. Biarkan dia duduk di meja VVIP. Dan mari kita lihat... apakah seorang 'Penasihat Ekonomi' tahu cara membedakan garpu salad dengan garpu ikan, atau cara membahas geopolitik dalam bahasa Inggris tingkat tinggi."
Mawar kembali menatap ke arah paviliun Sekar.
"Kita akan mematahkan mentalnya di depan publik, pelan-pelan, sampai dia sendiri yang merasa tidak pantas dan pergi karena malu."
Itu adalah rencana yang kejam. Bukan kekerasan fisik, tapi pembunuhan karakter secara sosial.
Dan bagi kalangan elit Yogyakarta, rasa malu atau wirang jauh lebih mematikan daripada racun.
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
borongan
kena banget jebakan sekar buat rangga😄