Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Sarang Laba-laba dan Altar Darah
Berikut adalah Bab 28 dari "Kronik Dewa Asura: Jalur Penentang Takdir".
Bab 28: Sarang Laba-laba dan Altar Darah
Hutan Zona Terlarang bergema dengan jeritan yang bukan berasal dari tenggorokan manusia, melainkan dari ribuan Laba-laba Wajah Manusia yang mengepung Ye Chen.
Makhluk-makhluk itu mengerikan. Tubuh mereka sebesar anak sapi, berbulu hitam kaku seperti kawat, dengan delapan kaki panjang yang ujungnya setajam tombak. Namun, yang paling membuat bulu kuduk berdiri adalah pola di punggung mereka yang menyerupai wajah manusia yang sedang menangis kesakitan.
KIIIEEEK!
Laba-laba pertama melompat dari dahan pohon di atas kepala Ye Chen. Mulutnya menembakkan jaring putih lengket yang berbau asam.
"Menjijikkan."
Ye Chen tidak bergerak. Dia hanya menghentakkan kaki kanannya.
Tubuh Guntur Asura: Medan Listrik!
BZZZTTT!
Percikan listrik biru meledak dari tubuh Ye Chen dalam radius tiga meter. Jaring laba-laba yang mengenai medan listrik itu langsung hangus terbakar menjadi abu hitam sebelum sempat menyentuh kulitnya.
Laba-laba yang sedang melayang di udara tersengat listrik. Tubuhnya kejang sesaat.
Itu celah yang cukup.
Ye Chen mengayunkan Pedang Pemecah Gunung ke atas.
SPLAT!
Tubuh laba-laba itu meledak seperti semangka busuk. Cairan hijau kental muncrat ke mana-mana, namun tertahan oleh perisai Qi Ye Chen.
Kematian satu teman mereka tidak membuat kawanan itu takut. Justru, bau darah memicu kegilaan mereka.
SWUSH! SWUSH! SWUSH!
Puluhan laba-laba menerjang serentak dari segala arah—atas, depan, belakang, kiri, kanan. Mereka seperti ombak hitam yang hendak menenggelamkan satu titik kecil di tengah lautan.
Ye Chen menyeringai dingin. Di dalam situasi dikeroyok seperti ini, pedang ringan dan cepat tidak akan berguna. Yang dibutuhkan adalah dominasi mutlak.
"Putaran Asura: Gasing Maut!"
Ye Chen memegang gagang pedang raksasanya dengan dua tangan. Dia mulai berputar.
Awalnya pelan, lalu semakin cepat. Berat 500 kilogram dari Besi Meteor Hitam menciptakan momentum sentrifugal yang mengerikan. Angin puyuh hitam terbentuk di sekeliling Ye Chen.
Siapapun yang menyentuh putaran itu, hancur.
KRAK! PRAK! CRASS!
Suara kitin (kulit keras serangga) yang pecah dan daging yang terpotong terdengar tanpa henti. Kaki-kaki laba-laba beterbangan, potongan tubuh berhamburan. Ye Chen menjadi mesin penggiling daging berjalan.
Dia bergerak maju perlahan sambil terus berputar, membelah kerumunan monster itu menuju arah yang ditunjukkan oleh peta di sakunya.
Setelah sepuluh menit pembantaian tanpa henti, Ye Chen berhenti berputar.
Napasnya sedikit memburu. Tanah di sekelilingnya tertutup lapisan tebal bangkai laba-laba dan lendir hijau.
Sisa-sisa laba-laba yang masih hidup mundur ketakutan. Insting mereka mengatakan bahwa manusia di depan mereka bukanlah mangsa, melainkan predator puncak.
Ye Chen menancapkan pedangnya ke tanah untuk bertumpu. Dia mengaktifkan Mutiara Penelan Surga.
"Makan."
Kabut energi hijau dan merah dari ratusan bangkai itu terhisap masuk ke dalam tubuh Ye Chen. Rasa lelahnya hilang seketika, digantikan oleh lonjakan Qi yang hangat.
"Binatang mutasi ini memiliki racun yang unik," gumam Ye Chen, merasakan meridiannya sedikit perih tapi kemudian menjadi lebih kuat setelah dimurnikan. "Racun ini memperkuat kekebalan tubuhku."
Ye Chen tidak membuang waktu. Dia melirik peta kulit binatangnya. Titik cahaya itu berkedip sangat cepat sekarang.
"Di sana."
Ye Chen melompati tumpukan bangkai dan berlari menuju sebuah tebing batu kapur yang tertutup tanaman merambat berduri di ujung area sarang.
Di balik tanaman merambat itu, terdapat sebuah celah gua yang sempit. Namun, ada yang aneh.
Tanaman di sekitar mulut gua itu layu dan menghitam, seolah-olah tersentuh oleh energi kematian yang pekat. Dan ada jejak kaki manusia baru di lumpur depan gua.
"Jejak sepatu bot militer..." Ye Chen menyipitkan mata. "Sekte Pedang Darah sudah masuk."
Dia menyembunyikan auranya hingga titik nol menggunakan teknik Napas Kura-kura, lalu menyelinap masuk ke dalam gua.
Gua itu ternyata bukan gua alami biasa. Semakin ke dalam, dinding batunya berubah menjadi bata kuno yang disusun rapi. Udara di dalam dingin dan kering, berbau dupa tua.
Ye Chen berjalan dalam kegelapan total, mengandalkan indra pendengarannya.
Setelah berjalan sekitar lima ratus meter, dia melihat cahaya obor di depan. Dan suara percakapan.
Ye Chen bersembunyi di balik sebuah pilar batu yang runtuh, mengintip ke dalam ruangan besar di ujung lorong.
Itu adalah sebuah aula bawah tanah kuno. Di tengahnya, terdapat sebuah altar batu berbentuk heksagonal (segi enam). Di atas altar itu, melayang sebuah kotak batu hitam yang disegel dengan rantai energi berwarna biru.
Namun, bukan kotak itu yang menarik perhatian Ye Chen.
Di sekitar altar, berdiri sepuluh orang berjubah merah darah.
Mereka bukan murid biasa. Aura mereka berat dan tajam.
"Sialan! Segel ini kuat sekali!" umpat salah satu dari mereka, seorang pria paruh baya dengan wajah penuh bekas luka bakar. Dia memukul rantai energi itu dengan kapak besarnya, tapi rantai itu hanya berdengung dan memantulkan serangannya.
"Bersabarlah, Tetua Besi," sahut seorang pria lain yang berdiri di depan altar.
Pria ini berbeda. Dia mengenakan jubah hitam dengan sulaman pedang perak di dada—lambang Penatua Luar (Outer Elder) dari Sekte Pedang Darah. Wajahnya tertutup topeng besi polos.
Tingkat kultivasinya: Pemadatan Qi Tingkat 8.
"Tetua Besi (Tingkat 7) dan Tetua Topeng (Tingkat 8)... ditambah delapan murid elit Tingkat 5," hitung Ye Chen dalam hati. "Kekuatan tempur yang cukup untuk meratakan kota kecil."
"Kita sudah mengorbankan darah sepuluh murid untuk membuka pintu depan," kata Tetua Besi frustrasi. "Tapi kotak sialan ini tidak mau terbuka. Apakah informasi dari Tuan Muda Han salah?"
"Informasinya benar," jawab Tetua Topeng dengan suara tenang namun dingin. "Ini adalah Altar Bayangan yang ditinggalkan oleh Dewa Pedang untuk menyimpan Teknik Langkah-nya. Tapi sepertinya kita butuh kunci fisik."
"Kunci fisik?"
"Peta," kata Tetua Topeng. "Potongan peta yang dicuri oleh bocah bernama Asura itu adalah kuncinya. Tanpa peta itu, kita harus menghancurkan segel ini secara paksa. Dan itu akan memakan waktu tiga hari."
"Tiga hari?! Ujian Akademi Bintang akan selesai saat itu! Jika Tetua Akademi mengetahui kita di sini, kita tamat!"
"Maka dari itu, jangan berisik dan teruslah menyerang segelnya!"
Kelompok Sekte Pedang Darah itu kembali menghujani segel biru tersebut dengan serangan gabungan.
DUM! DUM! DUM!
Suara hantaman bergema.
Ye Chen, yang bersembunyi di balik pilar, tersenyum tipis.
"Jadi itu isinya... Teknik Langkah Dewa Pedang?"
Ye Chen sudah memiliki kekuatan fisik (Asura) dan serangan (Pedang Pemecah Gunung + Niat Pedang). Tapi kelemahannya adalah mobilitas. Langkah Kilat Hantu miliknya hanyalah teknik Tingkat Misteri Menengah. Jika bertemu musuh yang benar-benar cepat, dia akan kesulitan.
Teknik Dewa Pedang pasti minimal Tingkat Bumi atau bahkan Langit.
"Barang bagus," mata Ye Chen berkilat tamak.
Tapi bagaimana cara mengambilnya dari sepuluh orang kuat itu?
Jika Ye Chen maju sekarang, dia akan dikeroyok. Meskipun dia kuat, melawan dua Tetua tingkat tinggi dan delapan elit sekaligus adalah tindakan bodoh.
Ye Chen meraba saku jubahnya. Tangannya menyentuh Inti Laba-laba Ratu yang tadi sempat dia ambil dari bangkai terbesar di luar. Inti itu penuh dengan racun korosif yang tidak stabil.
Sebuah rencana jahat muncul di benaknya.
"Kalian ingin membuka segelnya? Biar kubantu."
Ye Chen mengambil posisi. Dia mengeluarkan busur panah lipat yang dia rampas dari salah satu peserta ujian sebelumnya. Dia memasang Inti Laba-laba itu di ujung anak panah.
Targetnya bukan para tetua. Targetnya adalah Langit-langit Gua tepat di atas altar.
Di sana, menggantung stalaktit raksasa yang sudah retak akibat getaran serangan mereka.
Ye Chen menarik napas, memfokuskan Qi-nya ke mata dan lengannya.
Sutra Hati Asura: Mata Elang.
Dalam kegelapan, Ye Chen melepaskan anak panah itu.
Sreeet!
Anak panah melesat tanpa suara di tengah kebisingan hantaman para tetua.
PUK!
Anak panah itu menancap tepat di celah retakan stalaktit di langit-langit. Racun dari inti laba-laba itu meleleh, meresap ke dalam batu, dan meledak kecil.
BOOM!
Ledakan kecil itu cukup untuk memutus pegangan stalaktit seberat sepuluh ton itu.
"Apa?!" Tetua Topeng mendongak kaget saat mendengar suara gemuruh di atas kepalanya.
"AWAS!"
Stalaktit raksasa itu jatuh lurus ke bawah, mengarah tepat ke tengah formasi mereka—ke arah altar.
Para murid elit yang berdiri di sekitar altar tidak sempat menghindar.
BLARRRR!
Stalaktit itu menghantam tanah dengan kekuatan meteor. Tiga murid elit langsung tergencet menjadi bubur daging. Gelombang kejut dan debu meledak, melemparkan Tetua Besi dan murid lainnya ke dinding.
Bahkan Tetua Topeng terpaksa melompat mundur, jubahnya robek terkena pecahan batu.
"SIAPA DI SANA?!" raung Tetua Topeng, batuk-batuk di tengah debu.
Tapi Ye Chen tidak menjawab.
Di tengah kekacauan debu tebal itu, sesosok bayangan hitam melesat masuk Langkah Kilat Hantu dengan kecepatan penuh.
Ye Chen tidak menyerang para tetua. Dia melompat ke atas puing stalaktit yang menimpa altar.
Ajaibnya, segel biru kotak itu retak akibat hantaman stalaktit tadi. Pertahanan luarnya hancur.
Ye Chen mengeluarkan Peta Kulit Binatang dari sakunya dan menempelkannya ke kotak itu.
KLIK!
Kotak batu itu terbuka seketika. Di dalamnya, tergeletak sepasang sepatu bot usang yang terbuat dari kulit naga perak dan sebuah gulungan giok.
"Terima kasih atas kerja kerasnya!" seru Ye Chen.
Dia menyambar sepatu dan gulungan itu, memasukkannya ke Kantong Penyimpanan, lalu melompat kabur ke arah lorong lain di seberang aula.
Debu mulai menipis. Tetua Topeng melihat sosok Ye Chen yang kabur membawa harta itu.
Mata di balik topeng besi itu memerah karena murka.
"ASURAAAA! ITU KAU LAGI?!"
Mereka sudah bersusah payah membunuh murid sendiri, menghabiskan tenaga berjam-jam, dan hampir mati tertimpa batu... hanya untuk melihat hasilnya dicuri di detik terakhir oleh orang yang paling mereka benci?
"KEJAR DIA! JANGAN BIARKAN DIA HIDUP! AKU AKAN MENGULITINYA!"
Tetua Topeng dan Tetua Besi, beserta lima murid sisa yang terluka, melesat mengejar Ye Chen dengan nafsu membunuh yang membumbung tinggi.
Di lorong gelap, Ye Chen berlari sambil tertawa.
"Ayo kejar aku, Kakek Tua! Ujian yang sebenarnya baru saja dimulai!"
(Akhir Bab 28)