NovelToon NovelToon
Rahasia Prajurit Li

Rahasia Prajurit Li

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13.Dewa terbuang.

Yun Lan masih memejamkan mata.

Menunggu.

Menunggu tubuhnya menghilang.

Menunggu dunia berubah gelap.

Menunggu dirinya kembali menjadi arwah yang tak bisa menyentuh apa pun.

Satu detik.

Dua detik.

Sepuluh detik.

Tidak ada apa-apa.

Tidak ada rasa ditarik.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada perubahan.

Hanya suara angin tipis yang kembali berani bergerak di sela dedaunan.

Perlahan Yun Lan membuka satu mata.

Lalu satu lagi.

Ia masih berdiri di tempat yang sama.

Hutan yang sama.

Kuda hitam yang sama.

Dan pria telanjang berselimut di depannya… masih berdiri dengan tangan terangkat kaku seperti orang yang lupa harus melakukan apa setelah marah.

Yun Lan mengedip.

“Apa… sudah selesai?” tanyanya polos.

Pria itu berkedip balik.

Wajahnya berubah.

Dari marah.

Menjadi bingung.

Lalu menjadi… sangat bingung.

Ia menurunkan tangannya perlahan.

Mencoba lagi.

Tangannya terangkat.

Dahi mengernyit.

Tatapan serius.

Seperti orang yang benar-benar fokus mengangkat batu besar… padahal batu itu tidak ada.

Sunyi.

Tidak terjadi apa-apa.

Yun Lan memiringkan kepala.

“Perlu aku bantu?” tanyanya ringan.

Pria itu menatap tangannya sendiri.

Lalu menatap Yun Lan.

Lalu menatap langit.

“Sebentar,” gumamnya pelan.

Ia menarik napas panjang.

Memejamkan mata.

Mengerahkan tenaga.

Wajahnya sampai memerah.

Otot lehernya menegang.

Selimutnya hampir terlepas karena gerakannya.

Yun Lan menonton dengan ekspresi datar.

Hanya suara napas berat pria itu yang terdengar di hutan.

Lalu…

“Kenapa… tidak bisa?” gumam pria itu.

Yun Lan mengangkat alis.

“Tidak bisa ya?”

Pria itu tidak menjawab.

Ia mencoba lagi.

Kali ini dengan gerakan tangan yang lebih dramatis.

Seperti menggambar sesuatu di udara.

Sangat serius.

Sangat khusyuk.

Sangat… tidak menghasilkan apa-apa.

Yun Lan akhirnya menyilangkan tangan di dada.

“Oh,” ucapnya santai. “Jadi ini rasanya melihat dewa tak berdaya.”

Pria itu langsung menatapnya tajam.

“Diam!”

Yun Lan menunjuk ke arahnya.

“Tidak ada kilat. Tidak ada angin besar. Tidak ada cahaya. Kau yakin kau bukan penipu yang jatuh dari pohon?”

Wajah pria itu makin tegang.

Ia mencoba sekali lagi.

Kali ini sampai berteriak kecil karena terlalu memaksa.

Tetap.

Tidak ada apa pun.

Hutan bahkan terasa semakin sunyi… seperti ikut menertawakan.

Pria itu akhirnya menurunkan tangannya.

Wajahnya kosong.

Benar-benar kosong.

“Aku… kekuatan ku hilang.”

Yun Lan tersenyum kecil.

“Selamat datang di dunia manusia.”

Pria itu menatap telapak tangannya lama.

Sangat lama.

Seolah berharap kekuatan itu tiba-tiba muncul lagi.

“Ini tidak mungkin…” gumamnya pelan. “Aku adalah Dewa Yun…”

“Dewa Yun yang mana?,” potong Yun Lan cepat.

Pria itu terdiam.

Benar.

Ia tadi menyangkal.

Sekarang ia mengaku.

Yun Lan tertawa kecil.

“Kau sendiri bingung dengan keadaan mu.”

Pria itu mendengus kesal.

“Aku benar-benar dewa!”

Yun Lan menunjuk ke tubuhnya.

“Dewa tidak jatuh dari langit dalam keadaan telanjang, tahu?”

Pria itu refleks memegang selimutnya lebih erat.

Wajahnya memerah.

Entah karena malu.

Atau kesal.

Atau keduanya.

Yun Lan menatapnya dari atas sampai bawah.

“Ternyata seperti ini dewa perkasa dewa Yun yang tidak berdaya.”

Pria itu mendadak menunjuk Yun Lan.

“Kau! Ini gara-gara kau!”

Yun Lan tersentak.

“Apa hubungannya denganku?!”

“Gara-gara kau manusia buat kaisar langit menghukum ku!Kau yang menolak takdirmu! Kau yang ingin mengubah alur hidupmu! Pasti karena itu kekuatanku—”

Ia berhenti.

Mendadak menyadari sesuatu.

Wajahnya berubah pelan.

Sangat pelan.

“…terikat padamu.”

Yun Lan mengerjap.

“Hah?”

Pria itu menatap Yun Lan seperti baru melihat jawaban di depannya.

“Ketika aku memberimu kesempatan hidup kembali… Kaisar langit menghukum ku dan harus menjalani kehidupan manusia biasa seperti kalian.”

Yun Lan menunjuk dirinya sendiri.

“Aku? Jadi… kau menyalahkan ku?”

Pria itu tidak menjawab.

Tetapi wajahnya sudah menjawab semuanya.

Yun Lan terdiam beberapa detik.

Lalu—

Ia tertawa.

Tertawa lepas.

Tertawa keras di tengah hutan sunyi.

Sampai Paman Hitam mengibaskan ekornya karena kaget.

“Jadi sekarang…” Yun Lan menahan tawa, “…kau bukan dewa lagi?”

Pria itu tidak senang.

“Sementara,hanya sementara.”

Yun Lan menunjuknya lagi.

“Kau dewa terbuang.”

Pria itu menggertakkan gigi.

“Tidak!”

“Dewa tanpa kekuatan.”

“Tidak!”

“Dewa telanjang tanpa kemampuan.”

“BERHENTI!”

Yun Lan mengangkat tangan tanda menyerah.

Baik.

Cukup.

Tapi senyumnya tidak hilang.

Untuk pertama kalinya sejak bertemu sosok ini di mimpinya…

Ia tidak merasa takut.

Sama sekali.

Karena pria di depannya sekarang…

Lebih mirip orang bingung yang kehilangan arah daripada makhluk langit.

Yun Lan berbalik hendak naik ke kudanya.

“Baiklah, aku harus pergi.”

Pria itu langsung panik.

“Tunggu!”

Yun Lan menoleh.

“Apa lagi?”

“Kau tidak bisa meninggalkanku di sini!”

Yun Lan menunjuk sekeliling.

“Hutan. Banyak pohon. Banyak tanah. Sangat cocok untuk mantan dewa.”

“Aku tidak tahu apa-apa!” protesnya.

“Lalu, masalahnya apa?.”

“Aku ikut dengan mu. ”

“Ikut dengan ku? kau tidak salah!.”

“Kau harus bertanggungjawab,karena aku seperti ini karena mu!”

Yun Lan berhenti.

Menatapnya.

Lama.

Sangat lama.

Lalu berkata datar.

“Itu bukan urusanku.”

Pria itu melangkah mendekat.

Selimutnya hampir terlepas lagi.

“KAU yang menyebabkan ini!”

Yun Lan menunjuk dirinya lagi.

“Kau yang memberiku hidup kembali tanpa aku minta!,dan salahmu sendiri tidak menghentikan pengikutmu untuk memberikan persembahan nyawa.”

Pria itu terdiam.

Benar juga.

Yun Lan menghela napas.

“Aku sedang menuju kamp perbatasan timur. Aku akan menyamar jadi prajurit. Aku tidak punya waktu mengurus dewa terbuang seperti mu.”

Pria itu mengernyit.

“Kamp prajurit?”

“Ya.”

“Bukankah lebih baik, kalau aku ikut dengan mu. Bisa menjagamu.”

Yun Lan menatap tajam.

“Bukan kamu yang menjagaku tapi aku yang menjagamu.”

Pria itu menutup mulut.

Yun Lan hendak naik kuda lagi ketika pria itu berkata pelan.

“Kalau kau pergi… aku akan membuka identitas mu sebelum kamu masuk kedalam kamp.”

Langkah Yun Lan berhenti.

Ia memejamkan mata.

Dalam.

Sangat dalam.

Ia benci kalimat ancaman seperti itu.

Karena dirinya tahu, ada rasa bersalah kepada dewa Yun yang sudah memberikan keajaiban pada kehidupan nya.

Ia menoleh pelan, dirinya menilai.

Pria itu kini tampak… tidak menyebalkan.

Hanya bingung.

Hanya tersesat.

Hanya sendirian.

Dan sangat tidak tahu harus bagaimana.

Yun Lan mendengus kesal.

“Kenapa harus aku…”

Pria itu langsung menjawab cepat.

“Anggap lah sebagai balas budi!”

Yun Lan menatap langit.

Seolah meminta kesabaran dari dewa lain yang mungkin masih berfungsi.

Lalu menatap pria itu lagi.

“Kalau begitu kau jadi pelayanku, apa kamu mau?”

Pria itu mengangguk cepat.

“Tentu!”

“Awas saja,jika rahasia ku bocor.Akan aku obrak-abrik kuilmu di seluruh penjuru dunia.”

Ia ragu.

“Aku janji,dan jangan ragukan janji dewa.”

“Kau itu bukan dewa, kau sekarang manusia.Tapi siapa namamu?”

Pria itu terdiam lama.

“…panggil saja Yun, tuan muda.”

Yun Lan menghela napas panjang.

Sangat panjang.

“Baiklah,Yun.”

Wajah pria itu langsung berbinar.

“Tapi!” potong Yun Lan tegas.

“Sebelum melanjutkan perjalanan, kamu butuh pakaian. Mana mungkin aku membawamu dengan bertelanjang seperti ini. ”sambil menatap Yun.

Tiba-tiba suara gemuruh terdengar dari arah perut Yun.

Yun lan menatap kearah Yun, dan Yun memegang perutnya.

“Ini suara perutku tuan muda. ”sambil tersenyum tipis.

“Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan besok saja, kamu bantu aku kumpulan ranting pohon. Kita akan bermalam disini. ”

“Baik tuan muda. ”jawabnya sambil tersenyum.

Akhirnya mereka berdua bermalam di hutan itu, dan menikmati makan malam yang di simpan di tasnya.

Yun lan merasa bersalah melihat Yun, bagaimana pun juga dirinya bisa seperti ini karena dirinya.

1
Nurhasanah
suka bangett cerita mu thor .... rajin2 up ya thor semangattt 🥰🥰🥰💪💪💪💪
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
kau bukan tidak berguna tapi kau terlalu berharga untuk anak yang sudah kau besarkan Jendral Li
Nurhasanah
makin seru .. semangatt thor 🥰🥰🥰
Nurhasanah
lanjut thor ... semangattt 💪💪💪🥰🥰🥰🥰
Nurhasanah
karya bagus gini semoga banyak yg baca ya thorr semangatt ... suka bangett ceritanya 🥰🥰🥰🥰🥰
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir dulu aku
azka aldric Pratama
hadir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!