Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Kepergian Andre meninggalkan suasana yang mencekam di ruang tamu. Awan masih berdiri terpaku dengan napas memburu, matanya menatap pintu depan yang baru saja tertutup dengan penuh amarah. Baginya, setiap orang yang datang membawa nama Hero adalah ancaman bagi kedamaian yang baru saja ia bangun.
"Wan, kamu keterlaluan sama Kak Andre," bisik Jasmine, suaranya bergetar.
"Gue nggak peduli, Jasmine! Siapa pun yang dateng di saat Paman Wijaya lagi nyusun rencana busuk itu patut dicurigai!" bentak Awan. Ia segera meraih ponselnya dan melangkah menuju ruang kerja tanpa menoleh lagi. "Gue harus urus notaris itu sekarang. Jangan keluar kamar kalau nggak gue suruh!"
Jasmine hanya bisa menatap punggung suaminya dengan rasa sesak. Ia merasa Awan semakin terobsesi untuk melindungi mereka hingga menjadi paranoid. Matanya kemudian tertuju pada kotak kado biru tua yang ditinggalkan Andre di atas meja marmer.
Dengan tangan gemetar, Jasmine membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah boneka beruang kecil rajutan tangan dan sebuah amplop putih yang sudah sedikit menguning di bagian pinggirnya. Di atas amplop itu tertulis tulisan tangan yang sangat ia kenali.
Untuk Jasmine-ku.
Itu tulisan tangan Hero.
Jasmine membawa amplop itu ke kamarnya dengan jantung berdegup kencang. Ia duduk di tepi ranjang, perlahan merobek segelnya. Selembar kertas dengan aroma parfum Hero yang samar—aroma yang kini mulai memudar—tersembul keluar.
Jasmine, istriku sayang...
Kalau kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada di sisimu lagi. Andre akan memberikannya padamu jika waktunya tepat. Aku tahu, hidup tanpaku pasti berat, apalagi kamu sedang mengandung buah hati kita.
Jas, ada satu hal yang tidak pernah kukatakan padamu. Tentang Awan. Aku tahu dia terlihat dingin dan kasar, tapi dia adalah satu-satunya orang yang paling aku percayai di dunia ini. Aku sengaja menjauhkan dia darimu selama kita menikah, bukan karena aku membencinya, tapi karena aku tahu dia memiliki perasaan padamu sejak dulu—jauh sebelum aku melamarmu.
Jasmine menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai mengalir deras. Ia teringat bagaimana dulu Awan selalu bersikap sangat sinis setiap kali Hero membawanya bertemu. Ternyata itu adalah cara Awan menutupi lukanya.
Jika sesuatu terjadi padaku, aku ingin Awan yang menjagamu. Tapi aku juga takut, Jas. Aku takut sifat kaku dan obsesifnya justru akan menyakitimu. Karena itu, aku menitipkan sebuah kunci pada Andre. Kunci menuju brankas di Swiss.
Bukan tentang uang, Jas. Di dalam sana ada bukti bahwa Paman Wijaya telah memanipulasi kematian ayah kami dulu. Aku ingin Awan menggunakan itu untuk menghancurkan Paman Wijaya selamanya agar kalian bisa hidup tenang. Tapi berjanjilah satu hal, jangan biarkan Awan menjadi 'monster' demi melindungimu. Tetaplah menjadi cahayanya, seperti kamu menjadi cahayaku.
Aku mencintaimu, selamanya.
Hero.
Jasmine terisak hebat. Surat itu mengubah segalanya. Ia kini mengerti mengapa Andre datang, dan ia mengerti betapa besarnya beban yang dipikul Awan tanpa ia ketahui.
Tengah malam, Awan baru saja kembali dengan wajah yang sangat letih. Jasnya sudah tersampir di lengan, dan dasinya sudah lepas. Ia terkejut melihat Jasmine duduk di ruang tengah dengan lampu yang redup, memegang sepucuk surat.
"Kenapa belum tidur?" tanya Awan judes, meski suaranya terdengar lemas.
Jasmine berdiri dan berjalan mendekat. Ia memberikan surat itu kepada Awan. "Baca ini, Wan."
Awan mengernyit. Ia mengambil kertas itu dan membacanya dengan cepat. Semakin ia membaca, semakin gemetar tangannya. Matanya membelalak saat sampai pada bagian Hero menyebutkan perasaan Awan yang terpendam selama bertahun-tahun.
Awan meremas surat itu, wajahnya memerah karena malu sekaligus sedih. "Hero... sialan lo, Ro," umpatnya pelan, suaranya parau. "Kenapa lo harus kasih tau dia..."
"Jadi bener, Wan? Kamu udah suka aku dari dulu?" tanya Jasmine lembut.
Awan membuang muka, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya. "Gak penting, Jasmine. Itu masa lalu. Sekarang yang penting adalah kunci yang dibawa Andre. Paman Wijaya udah tau soal aset Swiss itu, kita harus gerak cepet."
"Wan, dengerin aku!" Jasmine memegang kedua pipi Awan, memaksa pria itu menatapnya. "Hero bilang jangan jadi 'monster'. Kamu nggak perlu ngelakuin semuanya sendirian dengan cara yang kasar. Kita hadapi ini bareng-bareng. Ajak Kak Andre kerja sama."
Awan menatap mata Jasmine. Untuk pertama kalinya, pertahanan kaku sang CEO runtuh sepenuhnya. Ia menyandarkan dahinya di bahu Jasmine, menghela napas panjang yang sangat berat.
"Gue takut, Jas... gue takut gue nggak bisa jadi kayak Hero yang lo cintai," bisik Awan jujur.
"Kamu nggak perlu jadi Hero, Awan. Kamu suamiku sekarang. Dan aku cinta kamu karena kamu adalah Awan yang protektif, yang lebay bawa tabung oksigen ke kuburan, dan yang mau naik rollercoaster meskipun ketakutan," Jasmine tersenyum di sela air matanya.
Awan menarik Jasmine ke dalam pelukannya. "Besok pagi gue bakal hubungin Andre. Kita selesein ini sekali dan buat selamanya."
Keesokan harinya, Andre kembali ke rumah, tapi kali ini ia disambut dengan jabat tangan (meski tetap sedikit kaku) dari Awan. Mereka bertiga duduk di ruang kerja, menyusun rencana untuk menjebak Paman Wijaya.
"Dia akan mencoba membuka brankas itu dengan dokumen palsu minggu depan di Zurich," jelas Andre sambil menunjukkan salinan kunci digital. "Tapi dia butuh sidik jari atau tanda tangan ahli waris yang sah."
Awan tersenyum miring, senyum yang sangat licik namun penuh kemenangan. "Biar dia dateng ke kita. Kita kasih dia umpan yang nggak bisa dia tolak. Jasmine, lo siap main peran?"
Jasmine mengangguk mantap. "Apapun buat Shaka dan keluarga kita."
Awan menatap istrinya dengan bangga. "Bagus. Paman Wijaya pikir dia serigala, dia lupa kalau di rumah ini ada singa yang lagi laper."