Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Alan! Alan!"
Seorang wanita seusia Alan berlari di lobi mengejar laki-laki itu. Sementara Alan yang hendak mengajar Hana ke ruangannya, mendesah pasrah dan berbalik. Berhadapan dengan wanita cantik dengan rambut ikal sebahu.
"Karina!" Alan berdesis, wanita itu adalah tunangannya yang ia tempatkan di sisi Shopia sebagai sekretaris untuk membantu.
"Alan, kenapa Shopia menangis? Dia mengatakan bahwa dia diusir dari perusahaan ini. Kenapa? Apa karena perempuan desa itu?" bentak Karina, ia bertemu dengan Shopia yang menangis di ruang tunggu lobi dan mengadu kepadanya.
"Dia adikku, Karina!" desis Alan menahan diri untuk tidak berteriak.
"Tapi Shopia telah hidup bersamamu dari kecil. Dia hanya gadis desa yang tidak mengerti tentang bisnis. Jika perusahaan ini berada di tangannya, maka kita hanya menunggu waktu kehancurannya saja. Kau harus mengerti ini, Alan," ujar wanita itu dengan kesal.
Kesal karena Alan tidak membela Shopia yang sudah hidup bersama mereka sejak kecil.
"Tapi Hana adalah pemilik perusahaan ini. Hamaly Grup dipersiapkan nenek untuk Hana," jelas Alan tetap dengan suara rendah.
Karina mendengus, menatap nyalang pada calon suaminya itu.
"Tapi perusahaan ini adalah kerja keras Shopia. Aku melihat sendiri bagai dia terus berusaha dan berinovasi untuk membuat perusahaan ini maju. Kau dengan mudahnya memberikan posisi direktur utama kepada gadis desa yang tidak tahu apa-apa itu! Ini keterlaluan, Alan! Seharusnya kau bersikap tegas terhadapnya. Suatu perkara akan hancur di tangan orang yang salah!" balas Karina sengit.
Alan diam, mencerna setiap kata yang diucapkan oleh tunangannya itu. Ia menghela napas dalam, menepis keraguan. Sisi hatinya membenarkan apa yang diucapkan Karina. Seseorang yang bukan ahlinya akan menghancurkan segalanya.
"Kenapa? Apa kau tidak bisa berbicara dengannya? Pinta dia untuk tidak ikut campur urusan perusahaan. Jika dia ingin saham, berikan dia saham tanpa berkecimpung di perusahaan. Biarkan Shopia yang memegang kendali atas perusahaan ini," lanjutnya dengan lancar jaya.
Alan menghela napas, dia sendiri tidak tahu kenapa di hadapan Hana yang sekarang tak dapat berbicara banyak. Jangankan beradu argument, membantah saja tak mampu. Seolah-olah ada tekanan besar yang membuat dirinya tidak dapat mengendalikan pikiran sendiri.
"Jika kau tidak ingin berbicara dengannya, maka aku yang akan melakukannya sendiri," katanya seraya berjalan menuju ruangan Hana.
Namun, Alan mencegahnya. Mencekal lengan Karina, menahannya untuk tidak pergi menemui Hana.
"Kau tidak bisa pergi menemuinya," ucap Alan pelan.
"Kenapa?" Karina menghempas tangan Alan, suasana di antara mereka terasa panas membakar.
"Aku sendiri tidak tahu. Setiap kali berhadapan dengannya aku merasa tubuhku dikendalikan. Hana sudah banyak berubah," ucap Alan, kepalanya menggeleng pelan tak dapat menjelaskan apa yang ia rasakan.
"Aku tidak peduli! Dia hanya gadis desa yang tidak tahu apa-apa. Kenapa aku harus takut?" sengit Karina semakin bertekad untuk menemui Hana.
"Jika kau memang bisa melakukannya, maka lakukanlah!" katanya pasrah.
Karina mendengus, berjalan tergesa menuju ruangan direktur utama di mana Hana berada. Ia dan beberapa petinggi perusahaan sedang berkumpul di dalam ruangan itu. Ada setumpuk dokumen di atas meja, laporan dari berbagai bagian.
Shopia memperhatikan dengan senyum liciknya. Melihat perdebatan Alan dengan Karina, membuatnya merasa lebih baik. Ia mendekati Alan, dengan wajah sedih penuh luka. Seolah-olah menjadi orang paling menderita di sana.
"Kak, kak Karina marah setelah mendengar kabar Hana yang menempati posisi direktur utama. Aku sudah mengatakan kepadanya aku baik-baik saja. Aku juga sudah mencegahnya untuk tidak pergi menemui Hana, tapi kak Karina langsung pergi. Maafkan aku, semua ini karena aku," ucap Shopia dengan wajah tertunduk dan bahu yang berguncang karena tangisan.
Hati Alan terketuk melihatnya menangis. Bagaimanapun Shopia tumbuh di bawah matanya, kasih sayangnya juga ia limpahkan dari sejak gadis itu kecil. Sayang, belakangan sifat serakah Shopia mulai tampak di permukaan. Membuat Alan meragukan kasih sayangnya sendiri terhadap Shopia.
"Sudahlah. Kau tidak perlu terus menerus menyalahkan diri sendiri. Lagi pula, perusahaan ini memang milik Hana. Sudah seharusnya dia menempati posisi direktur utama. Kakak hanya berharap, kalian akan menjadi saudara yang baik. Bekerjasama memajukan perusahaan ini. Apa kau bisa melakukannya?" tutur Alan dengan lembut.
Shopia mengumpat di dalam hati, tapi bibirnya tersenyum licik. Ia mengangguk patuh, hanya untuk mengambil kembali kepercayaan Alan.
"Aku akan mendengarkan Kakak," katanya.
Alan menghela napas, melangkah menyusul Karina ke ruangan Hana. Wanita itu sudah tidak terlihat, kemungkinan sudah berada di dalam ruangan Hana.
****
Brak!
"Hana! Kenapa kau mengusir Shopia dari perusahaan? Apa kau mengerti apa dampak yang akan terjadi pada perusahaan? Kau hanya gadis desa yang tidak tahu apa-apa, beraninya mengambil alih perusahaan. Kau ingin menghancurkan kerja keras seluruh karyawan Hamaly Grup?" bentak Karina begitu masuk ke ruangan Hana.
Ia tak peduli dengan para petinggi yang berbaris di sana dengan kepala tertunduk. Mereka pasti akan menentang Hana dan mendukung Shopia kembali. Bagaimanapun Shopia sudah lama menjadi atasan mereka.
Sebagian dari mereka setuju dengan tindakan Karina, tapi yang lain tetap diam. Hana yang berdiri membelakangi dengan sebuah dokumen di tangan, berbalik dan menatap calon istri kakaknya itu. Memeriksa pembukuan adalah ahlinya. Istana Amerta yang luas, dia sendiri yang mengendalikan pembukuan. Hanya perusahaan kecil, baginya bukan apa-apa.
Suasana semakin menegang, hawa dingin menyelimuti ruangan. Bulu kuduk mereka berdiri, melihat cara Hana menatap.
Siapa wanita ini? Oh, rupanya sekretaris Shopia, calon istri kakakku tersayang.
Hana berbalik sepenuhnya, memindai Karina dari atas hingga bawah. Seorang wanita berkelas dan sepertinya berpendidikan, tapi salah menempatkan diri.
Tubuh Karina menegang, nyalinya yang tadi menggebu tiba-tiba hilang begitu saja.
Apa ini yang dimaksud Alan? Tubuhku tak dapat aku kendalikan. Tatapan mata Hana membuatku ingin menunduk, dan aku merasa lemah di hadapannya. Ada apa sebenarnya?
Karina bergumam di dalam hati, berperang dengan pikirannya sendiri. Dulu saat bertemu, Hana hanyalah gadis desa yang polos dan bodoh. Tidak mengerti apapun, tapi sekarang Hana seolah-olah menjelma menjadi orang lain.
Brak!
Deg!