NovelToon NovelToon
Kami Lahir Tanpa Namamu

Kami Lahir Tanpa Namamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Anak Genius / CEO / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Orang yang Pergi Tanpa Benar-Benar Pergi

Arka datang lebih awal hari itu.

Café masih setengah buka.

Anak-anak lagi sekolah.

Aruna lagi nyusun roti di etalase.

“Aku boleh tanya sesuatu?” suara Arka pelan.

Aruna nggak langsung lihat dia.

“Tanya aja.”

“Teman kamu… yang dulu bareng kamu waktu lahiran. Dia ke mana?”

Tangan Aruna berhenti.

Maya.

Nama itu jarang disebut sekarang.

“Kenapa nanya dia?” balas Aruna datar.

“Karena waktu aku cari kamu lima tahun lalu… jejaknya selalu mentok di satu nama.”

Aruna menoleh pelan.

“Kamu nyari sampai situ?”

“Aku nyari sampai mana pun.”

Sunyi sebentar.

Aruna lanjut nyusun roti.

“Maya nggak pergi.”

“Terus?”

“Dia pindah.”

“Kemana?”

“Surabaya.”

Arka diam.

Aruna akhirnya duduk di kursi seberang.

“Waktu aku lahiran… aku hampir nggak selamat.”

Kalimat itu bikin Arka menegang.

“Dan Maya yang urus semuanya. Rumah sakit. Biaya. Akta. Bahkan nama anak-anak.”

Arka menelan ludah.

“Dia yang kosongin kolom ayah?”

Aruna mengangguk pelan.

“Aku nggak sanggup waktu itu.”

Hening.

“Terus kenapa dia pindah?” tanya Arka lagi.

Aruna senyum tipis.

“Karena hidupnya nggak mungkin terus berhenti buat aku.”

Ternyata sederhana.

Maya dapat tawaran kerja besar.

Pindah kota.

Menikah dua tahun lalu.

“Tapi dia masih ada,” lanjut Aruna. “Video call seminggu sekali. Kirim hadiah ulang tahun. Dia tahu semuanya.”

“Dia tahu aku datang?”

“Iya.”

Arka menghela napas pelan.

“Dia marah?”

Aruna hampir ketawa kecil.

“Maya nggak pernah marah. Dia cuma bilang satu hal.”

“Apa?”

“Kalau kamu datang lagi, pastiin kali ini bukan cuma rasa bersalah.”

Kalimat itu menggantung.

Arka menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Aku nggak datang karena bersalah.”

Aruna menatapnya lama.

“Terus karena apa?”

Arka butuh beberapa detik.

“Karena waktu aku lihat mereka… aku sadar, aku kehilangan sesuatu yang nggak bisa dibeli lagi.”

Aruna terdiam.

Di sudut ruangan, Arkana berdiri.

Dia pulang lebih cepat karena kelas tambahan dibatalkan.

Dan dia dengar semuanya.

“Maya Tante yang rambut pendek itu?” tanya Arkana tiba-tiba.

Aruna kaget.

“Iya.”

“Dia yang bilang ke Mama kalau kita harus kuat walau tanpa siapa pun?”

Aruna mengangguk.

Arkana menoleh ke Arka.

“Kami memang kuat.”

Arka nggak menyangkal.

“Aku lihat.”

Arkana berjalan mendekat.

“Tapi kuat bukan berarti nggak capek.”

Kalimat itu bikin Aruna terdiam.

Arkana melanjutkan pelan,

“Tante Maya pernah bilang… kalau suatu hari orang yang harusnya ada datang lagi, jangan langsung tutup pintu. Tapi juga jangan langsung buka lebar.”

Arka menatap anak itu dengan serius.

“Terus menurut kamu sekarang pintunya gimana?”

Arkana berpikir sebentar.

“Masih dikunci. Tapi kuncinya nggak dibuang.”

Aruna menatap anaknya.

Lima tahun lalu, Maya bilang hal yang sama.

“Suatu hari dia mungkin datang. Jangan balas dendam pakai anak-anak. Tapi juga jangan lemah.”

Dan sekarang—

Arka berdiri di ruang kecil itu.

Bukan sebagai hantu masa lalu.

Tapi sebagai kemungkinan.

“Kalau Tante Maya ada di sini,” Arkana lanjut,

“dia pasti suruh Om buktiin dulu.”

Arka mengangguk.

“Wajar.”

Arkana menatapnya tajam.

“Jangan cuma deket sama Arsha.”

Aruna terkejut sedikit.

Arka juga.

Arkana melanjutkan, lebih pelan,

“Dia paling gampang kelihatan kangen. Tapi yang paling susah itu Ven.”

Di sekolah, Arven selalu bilang nggak peduli.

Tapi tiap malam dia cek jendela, lihat mobil hitam itu masih ada atau nggak.

Arka baru sadar.

Perang ini bukan cuma soal diterima.

Tapi soal menyembuhkan tiga anak… dengan cara yang beda-beda.

Dan Maya?

Dia memang pindah kota.

Tapi jejaknya masih ada di setiap keputusan Aruna.

Di setiap dinding yang dibangun.

Dan di setiap celah yang sekarang mulai retak.

---

1
Lisa
Kasihan y Mira..udh balik aj ke rmhnya Aruna..
Lisa
Bahagia selalu y Arka, Aruna & ketiga anaknya
Risal Fandi
rekomend banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!