Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.
Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.
Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: SEGEL KUNING DI ATAS BUKIT
Matahari baru saja tergelincir di balik perbukitan karst Oetimu, menyisakan semburat jingga yang tampak seperti luka di langit NTT. Namun bagi Jonatan, luka yang sebenarnya baru saja dimulai di permukaan tanah. Di depan gerbang sumur komunal yang ia bangun dengan peluh dan air mata selama berbulan-bulan, tiga mobil dinas berplat merah terparkir melintang, debunya masih mengepul menutupi tanaman jagung yang meranggas.
Beberapa petugas berseragam cokelat tampak sibuk. Suara derit gulungan plastik terdengar nyaring di tengah kesunyian desa yang mencekam. Mereka sedang melilitkan garis kuning—segel pemerintah—di sekeliling panel surya dan rumah pompa. Segel itu tampak kontras dan menyakitkan, seperti jeratan pada leher seorang pejuang.
"Apa-apaan ini, Pak?" suara Jonatan bergetar. Ia baru saja tiba dari ladang, napasnya memburu, tangannya masih hitam oleh oli mesin traktot.
Seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan papan nama bertuliskan Haris – Dinas Lingkungan Hidup menoleh malas. Ia memegang selembar kertas bermaterai yang tintanya masih tampak segar, seolah baru saja diputuskan di meja makan seseorang yang berkuasa.
"Penghentian sementara operasional, Saudara Jonatan," ujar Haris datar. "Ada laporan resmi dari pihak ketiga bahwa instalasi Anda tidak memiliki izin analisis dampak lingkungan (AMDAL) dan berpotensi merusak debit air tanah di wilayah konservasi ini."
"Konservasi?" Jonatan tertawa getir, tawa yang kering seperti tanah Oetimu. "Selama puluhan tahun, PT Tirta Abadi milik Tuan Markus menyedot air di lembah sebelah menggunakan bor industri tanpa satu pun izin yang jelas, dan Bapak-bapak diam saja! Sekarang, saat warga mulai mandiri dengan teknologi rendah karbon yang saya rancang sendiri, kalian bicara soal konservasi? Mana keadilan dalam kamus kalian?"
Jonatan melangkah maju, namun dua petugas Satpol PP segera menghalanginya dengan tameng dan tatapan dingin. Di belakang Jonatan, warga desa Oetimu mulai berkumpul. Ibu-ibu membawa jerigen kosong yang berdenting kering—suara lapar akan air yang menghantui setiap sore. Para lelaki menggenggam parang di pinggang, raut wajah mereka menggelap, siap meledak kapan saja.
Sarah, yang baru saja berlari dari kantor yayasan dengan wajah pucat, segera menarik lengan Jonatan. "Tenang, Jon. Jangan main fisik. Itu yang mereka cari. Kalau kau menyerang petugas, mereka punya alasan legal untuk meratakan tempat ini dengan tanah dan memenjarakanmu."
"Tapi Sar, mereka menutup satu-satunya sumber air kita! Besok pagi anak-anak di sini tidak punya air untuk minum, apalagi untuk mandi!"
Sarah menatap Haris dengan pandangan tajam. "Pak Haris, kami punya salinan IMB dan izin pemanfaatan air tanah tingkat desa yang sudah disahkan. Kenapa ada perintah mendadak dari kabupaten?"
Haris hanya mengedikkan bahu, lalu masuk ke dalam mobil. "Kami hanya menjalankan perintah. Jika ada keberatan, silakan ajukan gugatan ke PTUN di Kupang. Untuk sekarang, siapa pun yang berani merusak segel ini akan dikenakan pasal berlapis tentang pengrusakan aset negara dan pelanggaran hukum lingkungan."
Rombongan itu pergi, meninggalkan keheningan yang lebih mematikan daripada badai. Jonatan jatuh terduduk di atas tanah yang retak. Di depannya, teknologi yang ia banggakan—sebuah sistem Smart Pump berbasis IoT yang menggunakan algoritma untuk menyesuaikan debit pompa dengan intensitas cahaya matahari—kini mati total.
Malam itu, Oetimu kembali ke zaman kegelapan. Suara pompa yang biasanya berdenyut ritmis setiap malam, mengisi tangki-tangki warga, kini digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Di balai desa, suasana sangat tegang. Cahaya lampu minyak yang temaram menyoroti wajah-wajah warga yang penuh amarah.
"Jon, kita tidak bisa tunggu pengadilan," bisik Matheus, asisten teknis Jonatan. "Warga sudah bicara soal membongkar paksa segel itu malam ini. Mereka bilang, lebih baik masuk penjara karena mencuri air sendiri daripada mati kering di rumah."
"Jangan," cegat Jonatan. "Itu jebakan. Tuan Markus dan para pejabat itu sedang menunggu kita membuat kesalahan. Jika kita anarkis, mereka akan mengirim Brimob, dan Oetimu akan dicap sebagai desa pemberontak."
"Lalu kita harus apa? Menonton anak-anak kita menangis karena haus?" seorang bapak tua berteriak dari sudut ruangan.
Jonatan terdiam sebentar, lalu ia membentangkan peta topografi dan skema geohidrologi wilayah itu di atas meja kayu. Matanya menelusuri garis-garis kontur yang ia hafal luar kepala. Pikirannya berputar cepat, mencari celah teknis di tengah kebuntuan hukum.
"Kita punya satu celah," gumam Jonatan. "Gua Nekmese."
Warga terkesiap. Gua Nekmese adalah tempat keramat, sebuah labirin batu gamping yang diyakini dihuni oleh roh penjaga air. Secara administratif, gua itu dianggap 'tanah ulayat' dan tempat ritual, bukan zona ekonomi yang bisa disentuh oleh izin dinas lingkungan hidup.
"Sungai bawah tanah di dalam gua itu mengalir ke arah laut. Debitnya sangat besar tapi letaknya sangat dalam di bawah lapisan karst," Jonatan menjelaskan, jarinya menunjuk ke sebuah titik hitam di peta. "Jika kita bisa membangun sistem darurat dari sana tanpa melewati jalur pipa yang disegel, kita bisa mengalirkan air ke tangki warga lewat jalur belakang hutan jati."
"Itu gila, Jon," potong Sarah. "Jaraknya dua kilometer, medannya curam, dan kita tidak punya anggaran untuk pipa baru. Ditambah lagi, warga takut masuk ke sana."
Jonatan menatap warga satu per satu. "Saya yang akan masuk. Kita tidak butuh pipa baru yang mahal. Kita punya selang-selang fleksibel cadangan dari proyek irigasi yang belum terpasang. Kita juga punya pompa rendam (submersible) portabel di gudang saya yang belum mereka segel karena mereka pikir itu hanya rongsokan."
Tengah malam, operasi "Gerilya Air" dimulai. Tanpa lampu senter yang mencolok, Jonatan, Matheus, dan segelintir pemuda desa bergerak menyelinap melewati semak belukar. Mereka membawa peralatan teknis di atas pundak seperti tentara yang pergi berperang. Jonatan tahu, ini adalah pertaruhan segalanya.
Di dalam Gua Nekmese, udara terasa lembap dan dingin. Suara tetesan air menciptakan gema yang magis. Jonatan turun menggunakan tali nilon, merayap di antara stalaktit tajam hingga kakinya menyentuh air yang sedingin es. Di bawah cahaya senter kepalanya, sungai bawah tanah itu tampak berkilau, bening dan murni.
"Matheus, turunkan baterai litiumnya!" teriak Jonatan pelan.
Tangannya yang gemetar mulai merangkai kabel. Ia menggunakan inverter modifikasi untuk mengubah arus DC dari baterai menjadi AC yang cukup kuat untuk memutar motor pompa. Ini adalah keahliannya—membuat sesuatu yang canggih dari keterbatasan.
Tiba-tiba, suara deru motor terdengar dari atas bukit. Lampu sorot mobil patroli menyapu pepohonan di dekat mulut gua. Jonatan dan timnya segera mematikan lampu, tiarap di antara kotoran kelelawar dan bebatuan licin. Napas mereka memburu.
"Cek ke bawah! Saya dengar ada suara besi tadi!" teriak seorang pria dari atas—itu suara Gerson, tangan kanan Tuan Markus yang sering menjadi informan polisi.
Jonatan memejamkan mata dalam kegelapan. Ia menyadari bahwa perjuangannya bukan lagi sekadar soal teknik elektro atau hidrolika. Ini adalah perang antara mereka yang menganggap air sebagai komoditas untuk dijual, dan mereka yang menganggap air sebagai hak suci untuk hidup.
"Sedikit lagi..." bisik Jonatan saat ia merasa aliran listrik mulai mengalir. Di tangannya, pipa plastik itu mulai bergetar. Udara terdorong keluar, disusul oleh suara gemericik air yang naik melawan gravitasi, merangkak sejauh dua kilometer menuju warga yang sedang menanti di ujung dahaga.
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
kasian