Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Domino Maut Sang Diva
Di sebuah griya tawang mewah yang menghadap ke gemerlap lampu Jakarta, Diva Angeline duduk di atas sofa beludru putihnya. Di depannya, tiga buah ring light menyala terang, memberikan pencahayaan sempurna bagi kulitnya yang seputih porselen. Diva adalah puncak dari piramida sosial digital; baginya, kematian Vanya hanyalah berita duka yang bisa dijadikan batu loncatan untuk konten "belasungkawa" yang estetis.
"Halo semuanya! Wah, ini beneran akun Vanya dan Maya? Seru banget ya marketing-nya. Oke, kita main santai aja ya, Guys! Tap-tap layarnya, jangan sampai kalah sama yang lagi di dalam kubur!" Diva tertawa renyah, suaranya merdu namun penuh nada meremehkan.
Ia tidak melihat apa yang Maya lihat. Di layar Diva, visual yang muncul hanyalah video berkualitas tinggi yang tampak seperti film horor terencana. Namun di dalam peti yang pengap, Maya sedang berjuang melawan maut yang harfiah.
"Diva... tolong... jangan terima PK ini!" Maya menjerit, suaranya serak karena menghirup debu kayu dan spora jamur dari dalam peti. "Panggil polisi... Jeruk Purut... Blok M... aku dikubur hidup-hidup!"
Namun, suara Maya yang keluar di ponsel Diva telah dimanipulasi oleh algoritma buatan Rian. Suara jeritan itu terdengar seperti backsound horor yang sudah diedit dengan efek reverb yang dramatis. Diva justru bertepuk tangan. "Wah, akting Maya keren banget! Totalitas ya, sampai suaranya dibuat serak gitu. Guys, ayo kasih Lion-nya! Masa kita kalah sama 'hantu'?"
[SYSTEM]: PK MAUT INITIALIZED.
DIVA ANGELINE VS. THE BURIED TWINS.
DURASI: 05:00 MENIT.
TARUHAN: PEMENANG MENGAMBIL SEMUA FOLLOWER. PECUNDANG MENGAMBIL SEMUA DOSA.
Maya merasakan suhu di dalam peti itu meningkat drastis. Ponsel yang dipegangnya menjadi begitu panas hingga kulit telapak tangannya mulai melepuh dan mengeluarkan bau daging terbakar. Di sebelahnya, mayat Vanya mulai beraksi lebih gila. Mayat itu tidak lagi sekadar diam; ia mulai mencakar-cakar dinding peti dengan irama yang mengikuti detak jantung Diva Angeline yang terpampang di layar.
Setiap kali penonton Diva mengirimkan gift, dinding peti yang menjepit Maya terasa menyempit. Kayu-kayu jati itu mengeluarkan suara retakan yang mengerikan, seolah ada raksasa tak terlihat yang sedang meremas peti itu dari luar.
"Hentikan... kumohon hentikan..." Maya menangis, oksigennya kini berada di angka 40%. Pandangannya mulai berkunang-kunang.
Tiba-tiba, akun @Anatomi_Maut memberikan instruksi baru di layar Diva.
@Anatomi_Maut: "Diva, jika ingin menang besar, tantang mereka melakukan 'Mirror Challenge' sekarang."
Diva, yang didorong oleh egonya yang setinggi langit, langsung mengiyakan. "Oke! Maya, Vanya, ayo kita main cermin. Ikuti gerakanku, atau poin kalian aku ambil semua!"
Diva mulai menggerakkan tangannya ke leher, seolah-olah sedang mencekik dirinya sendiri sebagai lelucon. Namun, di dalam peti, kekuatan gaib memaksa tangan Maya untuk bergerak sendiri. Tangan kaku Vanya juga ikut terangkat. Kedua tangan itu—satu hidup dan satu mati—bertemu di leher Maya.
Maya berusaha melawan, namun otot-ototnya dikhianati oleh sistem. Tangannya sendiri mulai menekan tenggorokannya dengan kekuatan yang menghancurkan. Di layar Diva, adegan itu tampak sangat artistik—sebuah koreografi horor yang sempurna.
"Gila! Lihat itu, tangannya sampai biru beneran! Keren banget make-up efeknya!" Diva bersorak, sementara angka likes-nya menembus 100 juta.
Namun, di tengah euforia itu, Diva tiba-tiba berhenti tertawa. Ia melihat sesuatu yang janggal di cermin besar yang ada di belakang sofanya. Di dalam cermin itu, Diva tidak melihat pantulan dirinya sendiri. Ia melihat pantulan lubang kubur yang gelap. Dan dari dalam cermin itu, sesosok tangan pucat dengan kuku merah marun yang rusak mulai merayap keluar, mencengkeram bingkai cermin mewahnya.
"Loh? Ini... ini bagian dari efeknya juga?" suara Diva mulai bergetar.
Ia menoleh ke belakang, tapi tidak ada apa-apa. Namun saat ia kembali melihat ke layar ponselnya, penonton mulai berkomentar dengan panik.
"DIVA! DI BELAKANG LO ADA TANGAN!"
"ITU BUKAN SETTINGAN, DIVA! LARI!"
Tiba-tiba, dari dalam peti, Vanya mengeluarkan suara tertawa yang memecahkan kaca layar ponsel Maya. Di layar Diva, tangan dari cermin itu melesat maju dan menjambak rambut Diva dengan kekuatan yang luar biasa, menyeret sang diva menuju permukaan kaca cermin yang mendadak berubah menjadi cair seperti air raksa.
"TOLONG! RIAN! MATIKAN LIVE-NYA!" teriak Diva, suaranya kini benar-benar ketakutan.
Namun Rian, yang menonton dari tepi lubang kubur di Jeruk Purut, hanya menyesap kopinya sambil tersenyum dingin. "Maaf, Diva. Kontraknya bilang 'Dilarang Berhenti'. Penonton ingin melihat bagaimana seorang bintang jatuh ke dalam tanah."
[SYSTEM]: SCORE UPDATE.
BURIED TWINS: 2.500.000 pts
DIVA ANGELINE: 2.499.999 pts
Di detik terakhir, sebuah gift misterius dari akun anonim masuk ke pihak Maya. Poin Diva tertinggal satu angka.
Seketika itu juga, layar Diva meledak. Di dalam griya tawangnya, Diva Angeline terseret masuk sepenuhnya ke dalam cermin, menghilang ke dalam dimensi yang sama dengan peti mati Maya. Di dalam peti, Maya merasakan hantaman keras saat tubuh Diva tiba-tiba muncul di antara dirinya dan Vanya. Kini, tiga orang gadis berdesakan di dalam kotak kayu yang terkubur dua meter di bawah tanah.
Oksigen: 15%.
"Selamat datang di siaran kami, Diva," bisik Vanya, matanya yang putih kini terbuka lebar tepat di depan wajah Diva yang histeris. "Ayo, kita sapa penggemar kita bersama-sama."
Di luar, Rian menutup tabletnya. "Satu jatuh, ribuan lagi menunggu. Algoritma ini tidak pernah kenyang." Ia mulai mengayunkan cangkulnya kembali, memastikan tidak ada celah udara yang tersisa bagi ketiga diva di bawah sana.
ok next