Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
BAB 32: Ujian Besi dan Doa
Gema takbir yang baru saja membumbung di langit-langit Masjid At-Taubah masih terasa menyisa di gendang telinga Ahmad Alexander. Namun, saat kakinya melangkah keluar dari ambang pintu masjid, udara sejuk pagi itu mendadak berubah menjadi berat dan menyesakkan. Koridor panjang menuju Blok B tampak seperti lorong tak berujung yang diselimuti bayang-bayang kelabu.
Alek berjalan dengan langkah yang masih diseret. Tangan kanannya menekan rusuk kirinya yang dibebat perban, mencoba meredam denyut nyeri yang seolah ingin merobek kulitnya setiap kali ia menarik napas. Di sampingnya, Salim berjalan dengan wajah berseri-seri, masih terhanyut dalam suasana haru prosesi syahadat tadi.
"Kamu sudah punya nama baru, Ahmad. Rasanya seperti melihat orang yang berbeda, Lex—maksudku, Ahmad," ujar Salim dengan tawa kecil yang tulus.
Alek hanya tersenyum tipis. Namun, matanya yang tajam menangkap sesuatu yang ganjil. Lorong itu terlalu sepi. Biasanya, jam sebegini ada petugas kebersihan atau narapidana yang lalu lalang menuju kantin. Tapi hari ini, koridor itu sunyi senyap, hanya suara tetesan air dari atap yang bocor menghantam lantai semen.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki berat muncul dari belokan di depan mereka. Empat orang narapidana bertubuh tegap, mengenakan kaus oblong kumal, muncul dan langsung membentuk barikade manusia. Alek menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke belakang, dan dua orang lagi sudah menutup jalan keluar. Mereka terjepit.
Dari tengah kerumunan di depan, muncullah Bara. Wajahnya yang penuh tato tampak mengerikan di bawah cahaya lampu neon yang berkedip. Di tangan kanannya, ia memutar-mutar sebuah sikat gigi plastik yang bagian ujungnya telah diasah di atas lantai semen hingga menjadi rancing dan tajam seperti silet—shanks, senjata paling mematikan di balik jeruji.
"Selamat atas agama barumu, Ahmad," Bara meludah ke samping, matanya berkilat penuh kebencian. "Gimana rasanya jadi orang suci? Apa Tuhanmu yang baru itu kasih lo kulit baja supaya besi gue nggak bisa masuk ke perut lo?"
Salim gemetar. Ia mencoba berdiri di depan Alek, merentangkan tangannya yang kurus. "Bara, cukup! Dia baru saja syahadat! Jangan cari keributan di hari baik ini!"
"Minggir, pencuri ternak!" teriak salah satu anak buah Bara.
Tanpa peringatan, sebuah pukulan mentah menghantam rahang Salim. KRAK! Salim tersungkur ke lantai, kepalanya membentur dinding semen hingga ia jatuh pingsan seketika.
Alek memejamkan mata sejenak. Amarah lamanya bergolak di dasar perut, terasa panas dan ingin meledak. Ia merasakan otot-otot lengannya yang besar menegang. Insting Venom Crew-nya berteriak: Hancurkan tenggorokan mereka! Patahkan tulang mereka!
Namun, di tengah gemuruh amarah itu, sebuah suara muncul di benaknya. Suara Syekh Mansyur yang tenang: "Gunakan kekuatanmu sebagai benteng, bukan sebagai pedang kesombongan."
Alek menarik napas dalam-dalam, mengabaikan rasa perih di rusuknya. Ia membuka mata. Tatapannya tidak lagi liar seperti dulu. Ada ketenangan yang menakutkan di sana—ketenangan samudera sebelum badai besar tiba.
"Bara," suara Alek rendah, bergetar di udara lorong yang sempit. "Aku tidak punya urusan dengannya. Biarkan Salim dibawa ke klinik, dan kita selesaikan ini seperti laki-laki."
Bara tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh anak buahnya. "Laki-laki? Lo itu cuma pecundang yang sembunyi di balik sarung, Lex! Lo pikir dengan masuk Islam, dosa lo sama Bagas hilang? Gue dibayar buat mastiin lo nggak bakal pernah liat matahari besok pagi!"
Bara memberi isyarat dengan kepalanya. Dua orang anak buahnya merangsek maju dari depan. Salah satunya memegang potongan besi kecil, yang lainnya mengepalkan tangan yang dibungkus kain kasar.
Alek menggeser kakinya, mengambil posisi kuda-kuda rendah yang sangat efisien. Ia menekan perban di dadanya sekali lagi, memastikan ikatannya masih kuat. Ia tahu, satu benturan keras di rusuknya bisa membuatnya pingsan karena syok. Ia harus bertarung dengan sangat presisi.
"Ahmad..." bisik Alek pada dirinya sendiri, seolah memanggil kekuatan dari nama barunya.
Anak buah Bara yang pertama menerjang dengan sebuah pukulan swing liar ke arah wajah Alek. Alek tidak menghindar jauh; ia hanya menggeser kepalanya beberapa inci, membiarkan tinju itu lewat di samping telinganya. Dalam satu gerakan mengalir, Alek menangkap pergelangan tangan lawan, memutarnya dengan teknik pengunci sendi yang sangat halus namun bertenaga.
KRETEK!
Lawan itu menjerit saat bahunya terlepas dari engselnya. Alek tidak melanjutkan dengan serangan mematikan; ia hanya mendorong pria itu hingga menabrak temannya yang lain.
Bara mendesis, wajahnya memerah karena marah. "Habisi dia! Sekarang!"
Ketiga anak buah Bara lainnya maju bersamaan. Ruang sempit lorong itu kini dipenuhi oleh suara napas yang memburu dan gesekan sandal di atas semen. Alek menyadari bahwa pertarungan sejatinya baru saja dimulai. Di tengah kepungan itu, Ahmad Alexander berdiri tegak, bibirnya bergerak tanpa suara, merapalkan zikir yang menjadi satu-satunya pelindung jiwanya saat raga ini mulai dipaksa kembali menjadi mesin perang.
Visualisasi pertarungan ini bukan lagi tentang siapa yang paling kuat, tapi tentang siapa yang paling mampu menguasai dirinya sendiri di bawah ancaman besi runcing yang berkilau di tangan Bara
Lorong Blok B mendadak terasa seperti oven yang membara. Tiga anak buah Bara merangsek maju secara bersamaan dari arah depan, sementara dua lainnya menutup ruang gerak Alek dari belakang. Ruang sempit itu menjadi saksi bisu transformasi seorang pria yang sedang bertarung melawan musuh di depannya sekaligus iblis di dalam dirinya sendiri.
Pengeroyok pertama, seorang pria kurus dengan tatapan kalap, meluncurkan tendangan lurus ke arah perut Alek—tepat di mana perban putih melilit rusuknya yang retak. Alek tidak mundur. Ia tahu jika ia mundur, ia akan terjepit di antara tembok dan kepungan belakang.
Dengan gerakan parrying yang sangat minimalis, Alek menggeser pinggulnya hanya beberapa sentimeter ke kanan. Kaki lawan lewat begitu saja, menyisakan celah yang sangat lebar. Alek menggunakan telapak tangannya untuk menekan paha lawan ke bawah, memanfaatkan momentum berat badan lawan untuk membuatnya tersungkur menghantam lantai semen.
BRAK!
Belum sempat lawan pertama berdiri, serangan kedua datang dari samping. Sebuah pukulan hook kiri mengarah tepat ke pelipis Alek. Alek merunduk, merasakan hembusan angin dari tinju itu lewat di atas kepalanya. Di posisi rendah itu, ia melihat celah di ulu hati lawan. Refleks lamanya sebagai pemimpin Venom Crew berteriak: Hantam rusuknya sampai patah!
Namun, tangan Alek yang terkepal mendadak melunak di detik terakhir. Alih-alih sebuah pukulan penghancur, ia mengirimkan dorongan telapak tangan terbuka (palm strike) yang sangat kuat ke arah dada lawan. Efeknya luar biasa; pria itu terpental ke belakang sejauh dua meter, menabrak rekan-rekannya yang lain hingga formasi mereka berantakan.
"Brengsek! Dia sengaja nggak mau mukul!" teriak Bara dari kejauhan, matanya memerah melihat anak buahnya dipermalukan oleh gerakan yang tampak "lembut" namun sangat efisien itu.
Bara kehilangan kesabaran. Ia merangsek maju, membelah kerumunan anak buahnya. Di tangan kanannya, sikat gigi runcing itu berkilauan tertimpa cahaya neon yang berkedip. Bara tidak bertarung dengan teknik; ia bertarung dengan kebencian murni. Ia menusukkan shanks itu dalam gerakan melingkar ke arah leher Alek.
Alek merasakan napasnya mendingin. Dunianya seolah bergerak dalam slow motion. Ia bisa melihat butiran keringat yang jatuh dari dahi Bara. Ia bisa mendengar bunyi gesekan kain baju Bara saat pria itu bergerak.
Bismillah... bisik Alek dalam batinnya.
Alek melakukan gerakan inside parry. Tangan kirinya menepis pergelangan tangan Bara ke arah luar, sementara kaki kanannya melangkah maju masuk ke dalam zona pertahanan Bara. Jarak mereka kini hanya beberapa senti. Alek bisa mencium bau napas Bara yang busuk oleh rokok murah.
Bara mencoba menusuk lagi dengan tangan kirinya yang kosong, namun Alek sudah lebih dulu menangkap siku Bara. Dengan satu tarikan dan dorongan yang sinkron—sebuah teknik aikido yang pernah ia baca secara sekilas di perpustakaan Syekh Mansyur—Alek memutar tubuh Bara.
KRAK!
Sendi bahu Bara berbunyi keras. Pria raksasa itu meraung kesakitan, senjata sikat giginya terlepas dan berdenting jatuh ke lantai semen. Alek segera mengunci leher Bara dari belakang, bukan untuk mencekik hingga mati, tapi untuk menekan titik saraf di bawah telinga.
"Lepasin gue, setan!" teriak Bara, kakinya menendang-nendang liar, mencoba mengenai kaki Alek yang sedang terluka.
Satu tendangan Bara mendarat tepat di tulang kering Alek yang lebam. Rasa sakit yang luar biasa menjalar hingga ke otaknya, membuat penglihatan Alek memutih sejenak. Pegangannya melonggar. Bara memanfaatkan momen itu untuk menyikut rusuk kiri Alek yang sedang dibebat.
BUGH!
Alek tersentak. Rasa sakit di rusuknya meledak seperti bom. Perban putihnya seketika berubah warna menjadi merah terang; darah segar merembes keluar karena jahitan lukanya robek kembali akibat benturan itu. Alek jatuh berlutut, satu tangannya menumpu di lantai, sementara tangan lainnya menekan dadanya yang terasa seperti dihujam bara panas.
Bara berdiri dengan napas tersengal, memegang bahunya yang cidera. Ia melihat Alek yang lemah di lantai. Ia melihat darah yang menetes dari balik baju koko putih itu ke lantai semen yang kotor.
"Mampus lo, Ahmad!" Bara memungut kembali sikat gigi runcingnya. Wajahnya menunjukkan kegilaan seorang psikopat yang hampir memenangkan perburuan. "Tuhan lo nggak ada di sini! Yang ada cuma gue dan besi ini!"
Bara mengangkat senjatanya tinggi-tihi, mengarahkannya tepat ke punggung Alek yang sedang merunduk menahan sakit. Anak buah Bara bersorak, menantikan momen eksekusi itu.
Alek memejamkan mata. Di tengah rasa sakit yang mematikan, ia tidak merasakan takut. Ia justru merasakan sebuah ketenangan yang asing. Ia meraba lantai, menyentuh sikat gigi plastik yang patah di dekatnya. Ia tahu, ia punya satu detik untuk membalikkan keadaan. Dan kali ini, ia akan menggunakan "taring singa" yang dibicarakan Syekh Mansyur—bukan untuk membunuh, tapi untuk menghentikan kezaliman ini selamanya
Dunia di mata Alek seolah melambat hingga ke titik nadir. Ia bisa mendengar bunyi tetesan darahnya sendiri yang menghantam lantai semen—tik, tik, tik—beradu dengan suara napas Bara yang memburu seperti banteng liar. Di atasnya, siluet raksasa Bara mengangkat sikat gigi runcing itu tinggi-tinggi. Cahaya neon di langit-langit memantul pada ujung plastik yang diasah tajam, siap menghujam punggung Alek yang sedang berlutut lemah.
"Mati lo, pengkhianat!" raung Bara.
Tepat saat tangan Bara mengayun turun dengan kecepatan penuh, Alek melakukan gerakan yang tidak terduga. Ia tidak berguling menjauh. Alih-alih menghindar, ia justru memutar tubuhnya ke belakang, masuk ke dalam ruang gerak Bara. Ini adalah teknik counter-attack yang mematikan dari masa lalunya, namun dieksekusi dengan ketenangan seorang petapa.
STAB!
Ujung runcing sikat gigi itu hanya mengenai udara kosong di samping telinga Alek. Dengan satu gerakan tangan kanan yang presisi, Alek menangkap pergelangan tangan Bara yang sedang meluncur turun. Di saat yang sama, telapak tangan kiri Alek yang terbuka menghantam ulu hati Bara dengan getaran yang terkonsentrasi—sebuah palm strike yang tidak bertujuan mematahkan tulang, tapi menghentikan aliran napas lawan.
OEKH!
Bara tertekuk seketika, matanya membelalak, seluruh oksigen di paru-parunya seolah diperas keluar. Belum sempat Bara jatuh, Alek memutar pergelangan tangan pria itu ke arah belakang punggungnya sendiri.
KRAK!
Bara menjerit tertahan saat sendi pergelangan tangannya dipaksa ke titik maksimal. Sikat gigi runcing itu terlepas dari genggamannya, berdenting jatuh tepat di depan lutut Alek.
Alek tidak berhenti. Ia menarik tubuh Bara hingga pria raksasa itu berlutut di hadapannya. Kini posisi mereka terbalik. Bara yang perkasa kini bersimpuh di depan Alek yang bersimbah darah. Alek memungut senjata sikat gigi itu. Ujungnya yang tajam ia tempelkan tepat di bawah dagu Bara.
Anak buah Bara yang tadinya ingin maju mendadak membeku. Mereka melihat tatapan mata Alek—itu bukan tatapan mata seorang pembunuh. Tidak ada kebencian, tidak ada nafsu untuk melihat darah. Matanya jernih, sedalam sumur tua yang tak berdasar.
"Bara," suara Alek terdengar begitu tenang, hampir seperti bisikan. "Kau dibayar untuk membunuhku. Ayah Bagas mengirimmu untuk menghancurkan apa yang tersisa dari hidupku."
Bara gemetar. Ujung tajam di dagunya mulai menggores kulitnya sedikit, mengeluarkan setetes darah. Ia melihat tangan Alek yang memegang senjata itu sangat stabil, tidak bergetar sedikit pun meski baju koko putihnya sudah berubah menjadi merah pekat di bagian dada.
"Bunuh... bunuh gue kalau lo berani, Ahmad!" tantang Bara dengan suara serak, meski matanya memancarkan ketakutan yang murni.
Alek menatap senjata di tangannya sejenak. Ia teringat wajah Bagas yang pucat. Ia teringat wajah ayahnya yang penuh kutukan. Dan ia teringat wajah Syekh Mansyur yang teduh.
"Aku bisa melakukannya, Bara. Aku tahu cara memutus urat lehermu dalam satu detik. Kamu tahu itu," ujar Alek pelan. "Tapi hari ini, Alexander yang kau cari sudah mati. Dia mati saat bersujud tadi pagi."
Dengan satu sentakan tangan yang kuat, Alek menghantamkan sikat gigi runcing itu ke lantai semen di samping kaki Bara.
PRAK!
Senjata plastik itu patah menjadi tiga bagian. Alek melepaskan kunciannya pada Bara.
"Pulanglah pada tuanmu, Bara. Katakan pada Bapak Rahardjo... dia bisa mengambil namaku, dia bisa mengambil keluargaku, bahkan dia bisa mencoba mengambil nyawaku. Tapi dia tidak akan pernah bisa mengambil kedamaian yang baru saja diberikan Tuhan padaku."
Alek berdiri dengan sisa tenaga yang ada. Dunianya mulai berputar, rasa sakit di rusuknya kini disertai rasa pening yang hebat akibat kehilangan darah. Perban di dadanya sudah basah total, cairan merah itu menetes hingga ke ubin.
Tiba-tiba, suara derap sepatu lars menggema di ujung koridor. "Berhenti! Jangan bergerak!"
Bayu dan tiga orang petugas keamanan lapas berlari mendekat dengan senjata laras pendek yang sudah terhunus. Mereka tertegun melihat pemandangan di depan mereka. Bara, penguasa blok yang ditakuti, sedang duduk bersimpuh di lantai dengan wajah pucat dan bahu yang miring. Sementara Alek, dengan baju koko putih yang kini hampir seluruhnya merah, berdiri tegak di tengah koridor seperti sebuah monumen kemuliaan yang terluka.
"Lex! Ahmad!" Bayu berlari menghampiri Alek tepat saat lutut Alek mulai goyah.
Alek jatuh ke pelukan Bayu. Napasnya tersengal, pandangannya mulai kabur melihat lampu neon yang berkedip. Namun di sudut bibirnya yang pecah, tersungging sebuah senyuman kecil yang sangat tulus.
"Pak Bayu..." bisik Alek lemah. "Tolong... bantu Salim. Dia pingsan di sana."
"Sudah, sudah ditangani petugas lain. Kamu harus ke klinik sekarang, Ahmad! Kamu bisa mati kehabisan darah!" teriak Bayu panik sambil memberi kode pada petugas lain untuk membawa tandu.
Saat Alek diletakkan di atas tandu, ia sempat menoleh ke arah kerumunan narapidana yang mulai keluar dari sel mereka karena keributan itu. Mereka menatap Alek dengan pandangan yang belum pernah ia terima seumur hidupnya. Bukan pandangan takut, bukan pandangan benci. Itu adalah pandangan takjub—sebuah pengakuan bahwa di dalam neraka beton ini, baru saja terjadi sebuah keajaiban.
Bara hanya bisa duduk diam saat petugas memborgol tangannya untuk dibawa ke sel isolasi. Ia menatap punggung Alek yang menjauh di atas tandu. Untuk pertama kalinya dalam karier kriminalnya, Bara merasa kalah telak—bukan kalah oleh pukulan, tapi kalah oleh sebuah kekuatan yang tidak ia pahami: pengampunan.
Malam itu, di klinik yang kembali sunyi, Alek terbaring dengan jahitan baru di rusuknya. Ia terlalu lemah untuk menulis, namun ia menggenggam buku catatan biru Khansa di bawah bantalnya. Ia menatap bayangan bulan yang masuk dari celah jendela kecil.
"Hari ini..." gumam Alek sebelum kesadarannya hilang oleh obat bius. "Singa itu tidak memangsa, Khansa. Dia hanya menjaga pintu rumahnya."
Bab 32 Selesai.
Selanjutnya (Bab 33):
Berita kekalahan Bara menyebar ke seluruh penjara, membuat posisi Alek (Ahmad) menjadi sangat disegani. Namun, di luar penjara, Ayah Bagas yang murka karena Bara gagal, mulai merencanakan sabotase terhadap kunjungan Ibu Alek. Di sisi lain, Riki berhasil menemukan lokasi persembunyian masya Khansa azza Nabila
hehe semangat bangg
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg