NovelToon NovelToon
After Married

After Married

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: zahra

apa yang akan terjadi jika kamu bangun dari tidur mu , tiba tiba sudah memiliki suami yang begitu menolak mu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tahanan rumah

Cahaya mentari menyelinap malu-malu melalui celah jendela ruang makan, menyentuh permukaan meja kayu jati yang telah dihiasi aroma kopi dan roti panggang.

Di sana, kehangatan keluarga bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah simfoni kecil yang memulai hari.

"Selamat pagi, Pa, Ma," sapa Cavin dengan suara rendah yang masih menyisakan sisa kantuk.

Mama Hera menghentikan jemarinya yang sedang mengoles selai, tatapannya menyisir ke belakang pundak sang putra. "Pagi, Sayang. Di mana istrimu? Mengapa tidak turun bersama? Oh iya, Mama sudah meminta Mbah Ipah datang untuk memijat Thalia pagi ini."

Cavin menarik kursi, mendesah pelan. "Kepalanya masih berdenyut katanya, Ma. Efek pusingnya belum hilang."

"Cavin," panggil Papa Ru dengan nada wibawa yang tak terbantah.

"Iya, Pa?"

"Adakah agenda di luar kantor yang mendesak hari ini?"

Cavin menyesap kopinya perlahan, seolah mencari jawaban di antara uap yang mengepul.

"Tidak ada agenda luar hari ini. Mengapa, Pa?"

"Kalau begitu, tundalah keberangkatanmu hingga siang. Jaga istrimu, temani dia saat diurut nanti," titah sang ayah, tenang namun tajam.

Bibir Cavin mengerucut tipis, ada gejolak tanggung jawab yang beradu di dadanya.

"Tapi Pa, cavin banyak kerjaan di kantor, tidak akan selesai kalau Cavin berangkat siang Lagipula ada Bibi yang bisa menjaga."

"Bibi harus ke pasar, dan Mama ada janji arisan. Mungkin baru kembali siang nanti," potong Mama Hera dengan kilat jenaka di matanya. "

Temani dia sebentar, atau kau bisa memindahkan ruang kerjamu ke rumah untuk sementara."

"Tapi Ma—"

"Tidak ada tapi-tapi, Cavin," Mama Hera menyilangkan tangan, memberikan ancaman yang menjadi senjata pamungkasnya.

"Jika kau keberatan menjaga istrimu sendiri, biar Mama hubungi Dokter Tom agar dia yang datang mengurusnya."

Mendengar nama itu, rahang Cavin mengeras. Ia teringat bagaimana rasa posesif yang tak masuk akal membakar dadanya semalam. Mama Hera tersenyum penuh kemenangan; ia tahu betul cara menyatukan dua hati yang masih canggung itu.

Ia sengaja menahan mereka di rumah besar ini agar jarak tak lagi menjadi dinding di antara anak dan menantunya.

Cavin hanya bisa menarik napas pasrah. Di hadapan orang tuanya, ia bukanlah calon pemimpin perusahaan yang ditakuti, melainkan seorang putra yang harus patuh.

“Sepertinya aku akan menjadi tahanan rumah lagi,” batinnya

"Ma, nanti jam berapa harus kujemput?" tanya Cavin, mencoba mencairkan suasana.

"Nanti jika urusan Mama selesai, Mama akan menghubungi Papamu saja. Kau fokuslah pada istrimu," ujar Mama Hera sambil mengerling manja pada suaminya. Sang Papa, yang biasanya kaku, justru membalas dengan kecupan jauh di udara.

Cavin terkekeh, sebuah senandung nakal meluncur dari bibirnya, "Jaga mata, jaga hati, jangan cari lain lagi..."

"Cavin! Cepat habiskan sarapanmu dan bawa ini ke atas. Istrimu harus minum obat tepat waktu," seru Papa Ru, wajahnya memerah karena digoda sang anak di tengah momen romantis mereka.

"Lagipula Papa dan Mama ini, seperti tidak punya tempat lain saja untuk bermesraan," goda Cavin lagi, hatinya sebenarnya menghangat melihat binar di wajah ayahnya yang tampak seperti remaja yang tengah jatuh cinta.

Saat Cavin bangkit dari meja dengan nampan di tangan, Mama Hera mengernyit. "Loh, mau makan di mana?"

"Ke atas, Ma. Aku takut terkena 'demam berdarah' kalau terus menonton kemesraan kalian di sini," selorohnya. "Aku akan menemani Thalia sarapan di kamar."

"Bekerjalah dari rumah sampai dia pulih, Cavin."

"Aku akan usahakan, Ma. Tapi pelantikanku sudah di depan mata," sahutnya sebelum melangkah pergi, menghindari rentetan permintaan aneh ibundanya yang lain.

Bagaimanapun, pundak Cavin kini tengah dipersiapkan untuk memikul mahkota tertinggi sebagai CEO di masa depan.

Setibanya di lantai atas, langkahnya terhenti saat berpapasan dengan asisten rumah tangga yang membawa keranjang cucian.

"Bi, tolong antarkan nampan ini ke dalam untuk istriku. Aku harus ke ruang kerja Papa sebentar," ucapnya lembut.

"Baik, Den Cavin."

"Oh iya, jika tukang urutnya sudah datang, segera kabari aku ya. Terima kasih, Bi."

Cavin melangkah menuju ruang kerja yang sunyi. Ia segera meraih ponsel, menghubungi asisten pribadinya melalui Aplikasi Email Resmi untuk mengirimkan seluruh laporan. Di balik jendela besar ruang kerja itu, ia menatap langit, menyadari bahwa terkadang, berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia adalah cara terbaik untuk menyembuhkan luka yang tak terlihat dalam rumah tangganya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!