Perasaan Kaylee Lumiere didasari oleh kasih sayang yang begitu besar sehingga ia rela menomorduakan kebahagiaannya sendiri.
Ia lebih memilih mendengarkan cerita cinta Atlas Theodore dengan wanita lain daripada mengambil risiko menyatakan cinta dan kehilangan kehadiran Atlas selamanya. Baginya, "memiliki Atlas sebagai sahabat" jauh lebih baik daripada "kehilangan Atlas karena cinta yang ditolak."
Kaylee Sudah ahli Menekan rasa cemburu, sesak napas, dan teriakan di dalam hati yang ingin mengatakan, "Seharusnya aku yang ada di posisi itu."
Kaylee merasa seperti berdiri di balik kaca bening. Ia bisa melihat Atlas dengan sangat jelas, menyentuhnya, dan mengetahui setiap rahasia terkecilnya, namun ada penghalang tak kasat mata yang mencegahnya untuk melangkah lebih jauh. Ia adalah orang paling dekat, sekaligus orang paling jauh dari hati Atlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Keluarga
Pagi itu, langit Helsinki tampak mendung, seolah ikut merasakan beratnya beban yang dipikul Kaylee. Saat Kaylee baru saja selesai memaksakan sesuap sarapan demi janin di rahimnya, suara bel pintu mansion berbunyi.
Bukan pelayan yang menyambut, melainkan Kaylee sendiri yang membukanya. Di ambang pintu, berdirilah dua sosok yang selama sebulan ini menghilang tanpa kabar. Ayah Atlas dan Ibu Atlas.
Penampilan mereka jauh dari kesan glamor keluarga konglomerat Theodore yang biasanya. Ayah Atlas tampak lebih kurus dengan gurat kelelahan yang nyata di wajahnya, sementara Ibu Atlas matanya sembap, seolah tak berhenti menangis sepanjang perjalanan.
Begitu pintu terbuka dan mereka melihat wajah pucat Kaylee, Ibu Atlas langsung memeluk Kaylee dengan erat. Isakannya pecah seketika.
"Kaylee... Sayang... maafkan kami. Maafkan kami yang pengecut ini," tangis Ibu Atlas tergugu di bahu Kaylee.
Ayah Atlas berdiri di belakang istrinya, menundukkan kepala dalam-dalam sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh pria seangkuh dan sekuat dia. "Kaylee, kami gagal melindungimu dan Atlas. Kami terpaksa membiarkan putra kami masuk ke neraka itu agar kalian semua tetap hidup."
Kaylee hanya bisa mematung, air matanya perlahan ikut mengalir. Ia membawa mereka masuk ke ruang tengah, tempat di mana diskusi keluarga yang paling menyakitkan baru saja dimulai.
"Kami berhasil kembali ke Helsinki karena Bianca mengizinkannya sebagai hadiah pernikahan untuk Atlas," jelas Ayah Atlas dengan suara parau. "Tapi Atlas... dia harus tetap di sana. Dia menjadi tawanan yang dipuja di kastil itu."
Ibu Atlas menggenggam tangan Kaylee, lalu tatapannya beralih ke perut Kaylee yang masih rata. Sebagai seorang ibu, ia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari aura menantunya itu. "Kaylee... apakah benar kabar itu? Pesan singkat yang Atlas selundupkan pada kami sebelum kami terbang pulang..."
Kaylee mengangguk pelan, air matanya jatuh ke punggung tangan Ibu Atlas. "Aku hamil, Ma."
Mendengar itu, Ayah Atlas memejamkan mata dengan tangan terkepal di atas lutut. Rasa bersalahnya semakin berlipat ganda. "Cucu pertamaku... dan ayahnya harus berpura-pura mencintai wanita lain di negara orang."
Ayah Atlas kemudian menatap Kaylee dengan tegas. "Kay, dengarkan Papa. Meskipun di mata dunia Atlas adalah suami Bianca Valerius, di mata Tuhan dan keluarga ini, kamu adalah satu-satunya istri Atlas Theodore. Pernikahan di Italia itu hanyalah transaksi maut."
"Kami sudah memindahkan seluruh aset rahasia kami atas namamu," lanjut Ayah Atlas. "Jika terjadi sesuatu pada kami, kamu dan anak itu akan aman. Atlas sedang bekerja sama dengan Bianca, ternyata wanita itu punya rahasianya sendiri yang membuat Atlas sedikit punya ruang gerak. Atlas berpesan agar kamu jangan pernah meragukannya."
Ibu Atlas mengelus pipi Kaylee. "Dia sangat mencintaimu, Kay. Dia bilang, Bilang pada Kaylee, setiap malam aku hanya membayangkan sedang memeluknya, bukan wanita mana pun. Tetaplah kuat untuk cucu kami."
Di Italia, Atlas duduk di meja kerjanya yang luas di salah satu sayap kastil Valerius. Di depannya bertumpuk cetak biru proyek pelabuhan yang sedang ia kerjakan, namun pikirannya sama sekali tidak ada pada garis-garis arsitektur itu.
Ia menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit kamar yang dihiasi lukisan Renaisans yang megah namun terasa seperti penjara. Tangannya gemetar pelan saat meraba saku celananya, mencari benda yang sebenarnya tidak ada di sana.
Atlas sangat ingin meraih ponselnya. Ia ingin mendengar suara Kaylee, ingin melihat wajah tidurnya melalui panggilan video, atau sekadar mengirim pesan singkat: "Aku merindukanmu, Ay."
Namun, kecerdasan Atlas adalah satu-satunya pelindung mereka saat ini. Ia tahu persis bahwa setiap inci kastil ini disadap. Sinyal dari ponsel pribadinya sudah pasti dipantau oleh tim keamanan ayah Bianca, dan ponsel yang diberikan Bianca padanya kemungkinan besar ditanami perangkat pelacak yang canggih.
"Sabar, At... sabar," bisik Atlas pada dirinya sendiri. Suaranya serak, matanya merah karena kurang tidur. "Satu langkah ceroboh, dan Kaylee akan dalam bahaya."
Ia memejamkan mata, mencoba memanggil memori tentang aroma vanila di rambut Kaylee dan bagaimana rasanya saat gadis itu tertawa di pelukannya. Namun, memori itu justru membuatnya semakin tersiksa. Kerinduan itu terasa seperti luka fisik yang terus-menerus disiram air garam.
Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya terbuka. Bianca masuk dengan pakaian santai, membawa segelas wine.
"Kau tidak tidur lagi, Suamiku?" tanya Bianca dengan nada mengejek yang khas. Ia duduk di pinggir meja kerja Atlas, menghalangi pandangan Atlas ke dokumen-dokumennya. "Kau terlihat mengerikan. Apa memikirkan gadis Helsinki itu sampai membuatmu tidak bisa membedakan mana garis lurus dan mana garis lengkung?"
Atlas menarik napas dalam, menjaga wajahnya agar tetap datar. "Aku hanya sedang fokus pada proyek ayahmu, Bianca. Bukankah itu yang kau inginkan? Aku terlihat berguna di mata duniamu."
Bianca tersenyum tipis, menyesap wine-nya. "Gunakan kecerdasanmu untuk hal lain juga, Atlas. Ayahku mulai bertanya-tanya kenapa kamar pengantin kita selalu terasa dingin. Jika kau ingin tetap memegang akses ke sistem logistik, kau harus terlihat lebih bahagia bersamaku di depan pelayan."
Setelah Bianca pergi, Atlas memukul meja kerjanya dengan pelan namun penuh tekanan. Rasa frustrasinya memuncak. Ia benci harus berpura-pura, benci harus bernapas di udara yang sama dengan orang-orang ini sementara kekasihnya sedang mengandung anaknya sendirian di belahan dunia lain.
Ia mengambil secarik kertas kecil, menuliskan nama "Kaylee" di sana, lalu segera membakarnya dengan pemantik api hingga menjadi abu. Itu adalah satu-satunya cara ia bisa memanggil nama itu tanpa terdeteksi oleh penyadap suara.
"Aku akan pulang, Ay," sumpah Atlas dalam hati sambil menatap abu yang terbang tertiup angin. "Demi anak kita, aku akan hancurkan tempat ini dari dalam. Tunggu aku sebentar lagi."
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍