Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Nara memeluk kotak makan hangat yang ia bawa dari rumah. Meski sedikit terlambat pulang dari kampus, Nara tetap memasak dan menepati janji untuk mengantar makan siang untuk suaminya, meskipun tadi sudah makan bakso di kantin, tapi tadi karena emosi dan makan siang harus tetap bersama suami.
Sebelum ke kantor suaminya, Nara mampir membeli kopi, dan juga matcha, Nara lagi suka sekali jajan, apalagi sekarang tidak perlu memikirkan uang.
Di seberang jalan, Naumi yang baru keluar dari cafe yang berbeda dengan Nara, Naumi langsung membeku saat melihat Nara masuk ke sebuah mobil hitam mewah.
“Masa sih…” gumam Naumi.
Tanpa pikir panjang, Naumi mengeluarkan ponsel dan memotret. Beberapa sudut. Jelas. Terlihat mobil mahal dan sopir berseragam rapi.
“Sekarang aku dapat bahan,” senyum Nauma miring.
“Mahasiswi miskin naik mobil sultan? Kita lihat kamu bisa ngelak apa nggak.” kata Naumi dengan senyum miring.
Mobil yang membawa Nara berhenti di depan gedung tinggi menjulang dengan kaca berkilau.
Nara mendongak. “Ya Tuhan…” bisik Nara pelan.
Orang-orang berseragam kantor lalu-lalang cepat, aroma kopi mahal dan pendingin ruangan menyambutnya. Semuanya terasa seperti dunia lain, dunia yang dulu hanya bisa ia lihat di drama.
Belum sempat Nara bingung, seorang wanita rapi dengan name tag sekretaris sudah menghampiri.
“Ibu Nara, silakan ikut saya. Pak Arkan sudah menunggu.”
“I—ibu?” Nara refleks melotot kecil.
Sekretaris itu tersenyum sopan. “Iya, Bu.”
Langkah Nara terasa ringan tapi gugup. Saat ia melewati lobi, bisik-bisik langsung terdengar.
“Itu siapa?”
“Cantik banget…”
“Adiknya Pak Arkan ya?”
“Lah bukannya Pak Arkan anak tunggal?”
“Terus siapa dong?”
Beberapa pegawai bahkan terang-terangan menoleh dua kali.
Nara jadi salah tingkah, menunduk sambil memeluk kotak makan makin erat.
Di dalam lift kaca, sekretaris melirik Nara ramah.
“Ibu jangan kaget ya. Sejak pagi kantor heboh karena Pak Arkan bilang beliau sudah menikah.”
Nara hampir menjatuhkan kotak makannya.
“Hah?!”
“Iya. Semua penasaran siapa istrinya.”
Pintu lift terbuka. “Dan sepertinya… sekarang sudah tahu.” sambung sang sekretaris.
Nara menelan ludah.
Di depan ruangan paling besar dengan tulisan CEO Office, sekretaris mengetuk pelan.
“Pak, Bu Nara sudah datang.”
“Masuk.” jawaban Arkan dari dalam.
Begitu pintu terbuka, Arkan berdiri dari kursinya.
Senyumnya langsung mengembang saat melihat istrinya.
“Kamu datang.”
Nara tersenyum malu.
“Aku bawain makan…”
Arkan melangkah mendekat tanpa peduli kaca transparan yang memperlihatkan mereka pada satu lantai penuh karyawan.
“Capek?”
Nara menggeleng.
Di luar ruangan, para pegawai yang mengintip langsung terdiam.
Itu bukan adik. Bukan tamu.
Cara Arkan menatap gadis itu, jelas tatapan seorang suami.
Dan dalam hitungan menit, satu kantor langsung tahu, CEO dingin mereka sudah benar-benar menikah.
Dan istrinya, mahasiswi cantik yang baru datang dengan kotak makan sederhana.
Sementara itu, di luar sana, Naumi tersenyum puas melihat foto di ponselnya, tanpa sadar, ia baru saja memulai gosip yang akan berbalik menghantam dirinya sendiri.
Sedangkan di kantor, begitu Nara melangkah masuk ke ruang Arkan, suasana satu lantai langsung berubah seperti pasar gosip.
Kaca-kaca transparan yang biasanya hanya jadi pajangan kini dipenuhi wajah penasaran.
“Ya ampun… itu istrinya Pak Arkan?”
“Kok muda banget sih?”
“Serius? Kayak anak magang, bukan istri CEO.”
“Selama ini yang datang ke Pak Arkan kan wanita karier, model, investor…”
“Ini malah gadis polos bawa kotak makan.”
Beberapa karyawan sampai mengucek mata, memastikan mereka tidak salah lihat.
Dari pagi memang sudah ada gosip Arkan sudah menikah, tapi tidak mengira istrinya adalah gadis kecil.
Arkan yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati, ternyata menikah dengan gadis yang terlihat baru lulus sekolah.
“Kirain selera Pak Arkan cewek dewasa mapan.”
“Ini malah imut-imut banget…”
“Kayak masih SMA sumpah.”
Di dalam ruangan, Arkan sama sekali tidak peduli dengan kegaduhan itu. Ia menarik kursi untuk Nara.
“Duduk. Kamu pasti capek.” Nara menurut, masih kikuk.
Arkan membuka kotak makan buatan Nara, matanya berbinar kecil.
“Aromanya enak.” kata Arkan.
“Kamu pasti belum makan siang.” kata Nara.
“Sekarang sudah ada kamu, buat apa catering mahal.”
Kalimat Arkan cukup membuat beberapa pegawai di luar hampir pingsan. Karena memang pintu ruangan tidak tertutup rapat, jadi masih terdengar suara, apalagi karyawan sengaja mengintip.
"CEO dingin… ngomong manis?" gosip makin liar.
“Pak Arkan ternyata demen polos-polos ya.”
“Pantes nggak pernah tertarik sama wanita kantor.”
“Yang datang cantik dewasa semua ditolak mentah-mentah.”
“Eh ternyata kalah sama bocah kampus.”
Namun di balik bisik-bisik itu, ada juga rasa iri.
“Beruntung banget dia…”
“Dapet suami sekaya itu, ganteng lagi.”
“Padahal kelihatannya sederhana.”
Sementara Nara sama sekali tidak sadar dirinya sedang jadi pusat perhatian satu gedung.
Ia hanya fokus melihat Arkan makan dengan lahap.
“Enak?” tanya Nara polos.
Arkan mengangguk.
“Masakan istri sendiri selalu paling enak.”
Kalimat Arkan seperti bom. Beberapa karyawan menutup mulut, menahan teriakan.
Fix. Bukan gosip. Bukan rumor.
Arkan benar-benar jatuh cinta, dan bukan main-main.
Dan hari itu, satu gedung tahu, CEO misterius itu bukan hanya sudah menikah, tapi sangat bucin pada istri mudanya.
Setelah Arkan menghabiskan makan siangnya, ia berdiri dari kursi dengan wajah serius seperti biasa, wajah yang biasanya membuat satu kantor langsung tegang.
“Tolong semua berkumpul di ruang tengah. Sekarang.” Nada itu tak pernah ditolak.
Dalam waktu singkat, karyawan dari berbagai divisi berkumpul. Bisik-bisik masih terdengar, mata mereka otomatis mengarah ke Nara yang berdiri di samping Arkan.
Arkan menggenggam tangan Nara dengan tenang.
“Saya ingin memperkenalkan seseorang,” ucap Arkan datar namun tegas.
“Ini istri saya. Nara.”
Suasana langsung Hening. Lalu, Beberapa karyawan hampir reflek bertepuk tangan, sebagian lain melongo.
Nara sedikit menunduk sopan.
“H-halo… saya Nara. Mohon kerja samanya.”
Senyum Nara lembut, polos, tapi menawan.
Para wanita di ruangan itu saling pandang.
“Cantik banget ya…”
“Alisnya natural sempurna…”
“Kulitnya bening…”
“Pantes Pak Arkan jatuh.”
Tak ada riasan berlebihan, tapi justru itulah yang membuat Nara terlihat semakin memesona.
Cantik alami. Elegan tanpa usaha. Arkan melirik istrinya dengan bangga.
“Mulai hari ini, mohon jaga sikap kalian. Hormati istri saya seperti kalian menghormati saya.”
“Siap, Pak!” jawab mereka hampir serempak.
Namun kejutan belum selesai. Seorang staf membawa beberapa tas kecil mewah.
Arkan menoleh ke Nara.
“Silakan.”
Nara kaget kecil. “Sekarang?”
Arkan mengangguk.
Dengan canggung tapi manis, Nara membagikan satu per satu.
“Ini… hadiah perkenalan dari saya.” kata Nara sambil membagikan tas kecil, yang Nara sendiri tidak tahu isinya apa, intinya Nara ingin memberi hadiah perkenalan.
Salah satu karyawan yang menerima tas kecil, reflek langsung membuka tas kecil itu, Begitu dibuka, ternyata isinya, parfum branded. Dan kotak kecil berisi emas mungil.
Ruangan langsung heboh.
“Ya Tuhan seriusan emas?!” teriak salah satu karyawan.
“Parfum mahal ini!” teriak yang lainnya.
“Istri bos baik banget!”
Nara sendiri melongo kecil. “Sa-sayang ini mahal banget…” bisik Nara.
Arkan berbisik pelan, “Anggap salam sayang dari istri CEO.”
Beberapa karyawan wanita hampir menangis terharu.
“Bukan cuma cantik… baik pula.”
“Pak Arkan jackpot hidup.” bisik bisik masih terus berlanjut.
Sejak saat itu, suasana kantor berubah. Nara bukan hanya dikenal sebagai istri bos muda nan kaya.
Tapi juga sebagai istri CEO yang ramah, rendah hati, dan membuat semua orang langsung jatuh sayang.
Dan tanpa disadari Nara, Ia baru saja memenangkan hati satu gedung penuh.