Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Hadiah yang (Terlalu) Mahal
Interior rumah mewah itu ternyata tidak sementereng dugaan Banyu. Tidak ada lampu kristal norak atau patung emas berlebihan. Perabotannya didominasi kayu jati tua yang dipoles licin, lukisan-lukisan pemandangan kuno, dan sofa kulit yang sudah terlihat lived-in (sering dipakai). Kesederhanaan dalam kemewahan ciri khas orang Old Money yang sesungguhnya.
Pak Wijaya sangat ramah. Dia mengajak Banyu ngobrol ngalor-ngidul tanpa sekalipun bertanya, "Kamu kerja apa?" atau "Orang tua siapa?". Banyu pun nyaman, tidak kepo bertanya jabatan Pak Wijaya. Obrolan mereka mengalir santai layaknya tetangga lama.
Tak lama kemudian, asisten rumah tangga memberitahu bahwa makan siang sudah siap. Mereka pindah ke ruang makan yang memiliki meja panjang dari kayu trembesi solid.
Hidangannya sungguh menggugah selera. Bukan makanan fancy ala hotel, tapi masakan rumahan kelas atas: Sup buntut, ayam goreng lengkuas, tumis kailan, dan sambal terasi yang baunya juara.
"Ayo duduk, Nyu. Jangan sungkan," ajak Pak Wijaya hangat. "Maaf ya lauknya seadanya. Soalnya nggak tahu kamu mau datang, jadi cuma masakan harian biasa."
"Waduh, Om. Ini mah bukan seadanya, ini 'seada-adanya' nikmat!" canda Banyu sambil menarik kursi.
Baru saja Banyu mau menyendok nasi, terdengar suara langkah kaki cepat dari arah ruang tengah, diikuti suara wanita yang menggerutu manja.
"Duh, laper banget... Yah, udah makan ya?"
Itu Siska.
Mungkin karena sedang di rumah, Siska tidak memakai setelan blazer kaku seperti biasanya. Dia mengenakan dress rumahan berbahan katun lembut yang pas badan. Gaun santai itu justru menonjolkan lekuk tubuhnya yang matang pinggang ramping dan pinggul yang membentuk siluet gitar spanyol. Rambutnya yang biasa disanggul rapi kini digerai bebas di bahu, memberikan kesan lebih muda, lebih lembut, dan... jauh lebih mempesona.
Harus Banyu akui, Siska versi "rumahan" ini jauh lebih sedap dipandang daripada Siska versi "Singa Betina" di kantor polisi kemarin.
Siska berjalan masuk sambil memegang perutnya yang rata, tanpa sadar kalau ada tamu. Tapi begitu matanya menangkap sosok laki-laki asing di meja makan, langkahnya terhenti.
Matanya menyipit. Alisnya bertaut tajam.
Banyu melihat perubahan ekspresi itu dengan jelas. Ah, mode macan-nya keluar lagi, batin Banyu. Dia tahu betul apa isi pikiran Siska: "Ngapain cowok gembel ini ada di rumah gue? Pasti mau minta duit."
Tapi Banyu cuek saja. Dia malah menyendok sambal dengan santai.
"Nah, Siska. Kenalin, ini Banyu. Pemuda yang waktu itu nyelametin Nyawa Ayah," Pak Wijaya memperkenalkan dengan antusias, sama sekali tidak peka dengan ketegangan di udara. "Nyu, ini putri saya, Siska."
Siska menatap Banyu dingin, lalu memaksakan senyum tipis yang jelas-jelas palsu.
"Halo. Makasih udah nyelametin Ayah saya," ucapnya datar, lalu langsung duduk di kursi sebelah Melati, menjaga jarak dari Banyu.
Melihat Siska pura-pura tidak kenal (dan tidak membahas insiden kantor polisi), Banyu paham kodenya. Wanita ini gengsi atau takut dimarahi ayahnya.
"Siang, Mbak Siska. Salam kenal," balas Banyu dengan senyum polos, ikut bersandiwara. "Mbak-nya mirip banget sama Melati ya, kirain kakaknya tadi."
Siska melirik tajam, seolah berkata lewat telepati: Awas lo macem-macem atau gue usir sekarang juga.
Namun, melihat Banyu tidak membocorkan rahasia soal insiden Somad dan Joni, bahu Siska terlihat sedikit rileks. Huh, untung dia nggak bego-bego amat, batin Siska.
Makan siang itu berlangsung sedikit canggung bagi Banyu karena kehadiran Siska yang seperti CCTV hidup. Siska terus mengawasinya, seolah takut Banyu tiba-tiba mencuri sendok perak.
Setelah makan selesai, Pak Wijaya masih ingin menahan Banyu untuk ngopi-ngopi sore. Tapi Banyu, yang merasa punggungnya panas ditatap Siska terus-menerus, memilih pamit.
"Maaf Om, saya harus cabut. Masih ada urusan sore ini," tolak Banyu sopan sambil berdiri.
"Wah, sayang sekali. Ya sudah kalau begitu," Pak Wijaya tidak memaksa. "Simpan nomor HP saya tadi ya. Kalau ada waktu luang, main-main lagi ke sini. Melati pasti seneng."
"Iya Om Banyu! Jangan lupa main lagi ya!" seru Melati sambil memegang tangan Banyu.
"Siap, Tuan Putri. Nanti Om main lagi," janji Banyu sambil mengacak rambut Melati.
Banyu sudah berbalik badan hendak menuju pintu keluar. Siska berdiri di belakang ayahnya dengan tangan terlipat, wajahnya menyiratkan: Baguslah, cepetan pergi.
Tapi tiba-tiba, langkah Banyu terhenti. Dia menepuk jidatnya keras-keras.
PLAK!
"Astaga naga! Hampir aja lupa!" seru Banyu heboh.
Siska yang melihat itu langsung tersenyum sinis dalam hati. Matanya berkilat meremehkan.
Nah, kan. Akhirnya keluar juga aslinya. Pasti sekarang dia mau ngomong: "Om, sebenernya saya lagi butuh modal usaha..." atau "Om, bisa minta tolong cariin kerjaan..." Dasar cowok matre. Ekor rubahnya kelihatan juga.
Siska sudah siap mental untuk menyindir Banyu habis-habisan begitu dia membuka mulut untuk meminta sesuatu.
Di bawah tatapan Siska yang tajam seperti scanner bandara, Banyu merogoh tas selempangnya. Dia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dan menyodorkannya kepada Pak Wijaya.
"Om Wijaya, maaf nih. Karena tadi datangnya dadakan, saya nggak sempat beli martabak atau buah. Jadi cuma ada barang kecil ini. Mohon diterima ya, Om."
Jujur saja, Banyu benar-benar lupa soal buah tangan. Baru ingat pas mau pulang. Ini pertama kalinya dia bertamu ke rumah Pak Wijaya, makan gratis pula. Kalau pulang tanpa ninggalin apa-apa, rasanya tidak sopan. Untungnya ada ginseng "kurus" di tasnya. Biarpun menurut Banyu bentuknya menyedihkan, setidaknya dia tidak pulang dengan tangan hampa.
Melihat Banyu menyodorkan kotak, Pak Wijaya mengerutkan kening. "Lho, Nyu? Kamu ini ngapain? Saya undang kamu makan bukan buat minta kado. Nggak usah repot-repot!"
"Jangan gitu dong, Om. Ini masalah adat ketimuran," sanggah Banyu cepat. "Kalau Om main ke kosan saya, masa iya nggak bawa gorengan atau rokok? Sama aja kan?"
"Hahaha! Kamu ini ada-ada saja analoginya," Pak Wijaya tertawa lepas mendengar logika "gorengan" itu. "Ya sudah, kali ini saya terima. Tapi lain kali jangan repot-repot ya."
Pak Wijaya menerima kotak itu dengan senyum lebar. Karena penasaran dengan apa yang diberikan pemuda unik ini, dia langsung membukanya di tempat.
Namun, begitu tutup kotak terbuka dan isinya terlihat, senyum Pak Wijaya membeku. Matanya melebar.
Dia buru-buru menutup kotak itu kembali dan menyodorkannya balik ke Banyu.
"Nyu, ini... ini terlalu berharga. Saya nggak bisa terima. Ini barang mahal!"
Banyu bingung. Mahal apanya? Ginseng kerempeng gitu.
"Yah, Om. Kok dibalikin? Pamali lho nolak rezeki," Banyu menolak menerima kembali kotak itu. "Lagian itu cuma akar-akaran biasa, Om. Nggak seberapa harganya dibanding makan siang tadi. Udah, simpen aja buat jamu."
Terjadi aksi saling dorong kotak selama beberapa saat. Pak Wijaya bersikeras itu barang mahal, Banyu bersikeras itu barang murah. Akhirnya, karena Banyu keras kepala dan Pak Wijaya tidak ingin merusak suasana, sang Wakil Gubernur mengalah.
"Baiklah, saya simpan. Terima kasih banyak ya, Nyu. Ini hadiah yang sangat luar biasa," kata Pak Wijaya dengan nada serius dan penuh penghargaan.
Banyu tersenyum puas. "Sama-sama, Om. Saya pamit dulu ya."
Setelah berpamitan pada Melati, Banyu berjalan keluar.
"Aku antar sampai depan," kata Siska tiba-tiba. Dia meminta izin pada ayahnya lewat tatapan mata, lalu buru-buru menyusul Banyu.