Rangga rela banting tulang siang-malam sebagai kuli dan tukang ojek demi membahagiakan istrinya, Laras. Tapi bagi Laras, kerja keras Rangga cuma "recehan" yang memalukan. Puncaknya, Laras tertangkap basah berselingkuh dan malah berbalik menghina Rangga hingga meminta cerai.
Dengan hati hancur, Rangga menjatuhkan talak dan pergi membawa putri kecil mereka, Rinjani, ke Bandung. Di tengah perjuangan hidup dari nol, hadir Syakira—gadis salafi yang tidak cuma membawa kesuksesan pada usaha Rangga, tapi juga menjadi ibu sambung yang dicintai Rinjani.
Saat Rangga mulai meraih kebahagiaan dan kesuksesan, karma datang menjemput Laras. Hidupnya hancur, disiksa suami barunya, hingga menderita penyakit kronis. Laras merangkak memohon ampun, tapi bagi Rinjani, ibunya sudah lama mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RESTU YANG DINANTI
Sore itu, langit Bandung seolah ikut merayakan kegelisahan yang menyelimuti hati Rangga. Warnanya jingga kemerahan, memberikan suasana yang tenang tapi bikin jantung Rangga berdegup kencang sekali, lebih kencang daripada saat pertama kali dia membuka gerobak angkringannya. Rangga berdiri di depan cermin kecil di rumah Emak yang sekarang sudah dicat rapi. Dia merapikan kerah kemeja batiknya yang meski bukan barang bermerek mahal, tapi sangat bersih karena disetrika penuh doa oleh ibunya sendiri.
Di atas meja ruang tamu, sudah tersedia hantaran sederhana yang disiapkan dengan penuh ketulusan. Ada beberapa toples kue kering tradisional dan wajik ketan buatan Emak yang dibungkus kain brokat cantik. Rangga menarik napas panjang, mencoba membuang rasa gugup yang sejak tadi menyiksa dadanya. Bayangan masa lalu, saat dia dihina oleh keluarga Laras karena datang cuma membawa martabak telur, sempat terlintas dan bikin nyalinya sedikit menciut.
"Sudah, jangan tegang begitu dong. Anak Emak ini kan laki-laki hebat. Kamu datang ke sana bukan untuk mengemis, tapi untuk memuliakan anak orang," ujar Emak sambil mengelus pundak Rangga dengan tangan tuanya yang mulai keriput. Mata tua itu berkaca-kaca menatap putranya yang kini tampak sangat berwibawa, jauh berbeda dengan Rangga yang dulu pulang dengan koper pecah dan hati hancur.
"Rangga cuma takut, Mak. Siapa sih Rangga ini? Cuma duda dengan satu anak. Apa pantas Rangga bersanding dengan Mbak Syakira yang sesempurna itu? Dia putri Pak Haji, terpelajar, dan sangat terpandang di sini," bisik Rangga lirih. Pikirannya seketika melayang pada Laras. Dulu, Laras selalu bilang kalau Rangga itu nggak punya harga diri di depan orang kaya. Luka itu masih ada, meski sudah mulai mengering di bawah siraman kasih sayang Emak dan Syakira.
Tapi Rangga tahu, dia nggak boleh mundur sekarang. Syakira sudah memberinya begitu banyak harapan, dan dia harus membayarnya dengan keberanian. Dengan bismillah, dia membawa hantaran itu menuju rumah Pak Haji Mansyur. Sesampainya di sana, suasana terasa sangat asri. Bau harum bunga sedap malam di teras rumah Pak Haji seolah menyambut kedatangannya dengan hangat. Pak Haji duduk di kursi rotan, menatap Rangga dengan pandangan yang tenang namun penuh selidik, khas seorang ayah yang ingin memastikan putrinya berada di tangan yang tepat.
"Duduk, Rangga," ujar Pak Haji. Suaranya berat, bikin Rangga makin merasa kerdil. Syakira sendiri tidak terlihat di teras, mungkin sedang menyiapkan teh di dalam bersama asisten rumah tangganya.
Rangga meletakkan hantarannya di meja dengan tangan yang sedikit gemetar, tapi dia berusaha menjaga kontak mata. "Pak Haji... maksud kedatangan saya ke sini, pertama untuk bersilaturahmi. Dan yang kedua, saya ingin menyampaikan niat baik saya yang paling tulus. Saya ingin meminang Mbak Syakira untuk menjadi istri saya dan ibu bagi Rinjani."
Hening seketika. Cuma suara jangkrik di halaman rumah yang terdengar sahut-menyahut. Pak Haji diam cukup lama, membuat detak jantung Rangga terdengar sampai ke telinganya sendiri. Rangga merasa seolah waktu berhenti berputar. Dia sudah siap kalau-kalau Pak Haji akan menolaknya karena statusnya yang pernah gagal berumah tangga.
"Kamu tahu kan, Syakira itu putri tunggal saya? Dia segalanya buat saya di dunia ini," Pak Haji mulai bicara dengan nada yang pelan namun sangat berwibawa. "Lalu, kamu ini seorang duda. Kamu punya masa lalu yang pernah hancur lebur di Jakarta. Jujur saja, apa yang bisa kamu janjikan buat anak saya? Apa kamu bisa menjamin dia nggak akan hidup susah seperti saat kamu bersama mantan istrimu dulu?"
Rangga menunduk sebentar, meresapi setiap kata-kata Pak Haji. Dia tidak merasa tersinggung, karena dia tahu itu adalah kekhawatiran yang wajar dari seorang ayah. Lalu dia mendongak dengan tatapan mata yang sangat jujur, tatapan pria yang sudah kenyang dihina tapi tetap memilih jadi orang baik.
"Pak Haji, kalau Bapak tanya soal harta miliaran atau mobil mewah yang berjejer, saya jujur nggak punya. Saya ini cuma laki-laki yang pernah dibuang ke jalanan karena dianggap nggak punya masa depan. Tapi saya punya satu janji yang berani saya pertanggungjawabkan sampai mati di depan Gusti Allah," Rangga menjeda kalimatnya, suaranya sedikit bergetar karena emosi yang meluap.
"Saya janji... saya nggak akan pernah membiarkan Mbak Syakira menangis karena pengkhianatan atau kurangnya rasa tanggung jawab saya. Saya sudah tahu rasanya sakit hati karena dikhianati saat saya sedang berjuang, jadi saya nggak akan mungkin memberikan rasa sakit itu pada orang lain, apalagi pada Mbak Syakira yang sudah jadi cahaya di hidup saya dan Rinjani. Saya cuma punya kerja keras dan kesetiaan, Pak. Saya akan memuliakan dia lebih dari saya memuliakan diri saya sendiri."
Pak Haji Mansyur menghela napas panjang, menatap Rangga dengan sangat dalam. Seketika, senyum kecil yang sangat tulus muncul di wajah tegas itu. "Rangga, sebenarnya saya sudah tahu jawaban saya sejak lama. Saya sering diam-diam menatap bagaimana kamu mencium tangan Emak tiap pagi sebelum berangkat ke pasar. Saya menatap bagaimana kamu menggendong Rinjani saat dia sakit meski kamu sendiri capek luar biasa sehabis jualan."
"Harta bisa dicari bersama, Rangga. Tapi laki-laki yang memuliakan ibunya dan menyayangi anaknya dengan tulus itu langka sekali sekarang. Saya terima pinanganmu bukan karena angkringanmu yang sedang ramai, tapi karena martabatmu sebagai laki-laki sejati yang sudah teruji oleh penderitaan. Jangan kecewakan saya ya," lanjut Pak Haji sambil menepuk pundak Rangga dengan mantap.
Mendengar restu yang keluar dari mulut Pak Haji, Syakira keluar dari balik pintu dengan mata yang sudah basah oleh air mata haru. Dia sejak tadi mendengarkan percakapan itu dari balik tirai. Dia membawa nampan teh, tapi tangannya gemetar hebat karena rasa bahagia yang tak terbendung. Rangga menatap Syakira dengan binar mata yang penuh rasa syukur, seolah menatap pelangi setelah badai yang sangat panjang.
Rinjani, yang sejak tadi duduk manis di samping Pak Haji sambil memegang buku gambarnya, seketika melompat dan berdiri di antara Rangga dan Syakira. Dia menatap ayahnya, lalu menatap Syakira bergantian dengan mata yang berbinar-binar penuh harapan.
"Ayah... jadi Kakak Cantik beneran mau jadi Mama Rinjani? Rinjani nggak bakal sendirian lagi kalau Ayah sibuk di ruko?" tanya bocah itu dengan nada yang polos sekali.
Syakira langsung berjongkok, menyamakan tingginya dengan Rinjani, mengabaikan nampan teh yang sudah diletakkan di meja. "Iya sayang... mulai sekarang, Kakak bakal jaga Rinjani selamanya. Kakak bakal jadi Mama buat Rinjani," bisik Syakira lembut sambil mengusap air mata di pipi tembam Rinjani.
Seketika, Rinjani menangis kencang di pelukan Syakira. Tangis yang bukan karena sedih, tapi karena kerinduan akan kasih sayang sosok ibu yang selama ini dia cari dalam setiap mimpinya. Bocah kecil itu memeluk leher Syakira dengan erat sekali, seolah tidak mau melepaskannya lagi. "Mama... Rinjani mau panggil Mama sekarang boleh ya? Mama jangan pergi ya kayak Ibu dulu..."
Kalimat itu bikin dada Rangga terasa sesak karena haru yang menyayat hati. Dia teringat Laras di Jakarta. Dulu, Laras sering membentak Rinjani kalau bocah itu merengek minta perhatian. Laras lebih sibuk dengan ponsel dan tas barunya daripada mengusap kepala anak mereka. Menatap Rinjani yang kini begitu bahagia di pelukan Syakira, Rangga sadar bahwa doanya selama ini sudah dijawab dengan cara yang paling indah melalui tangan Pak Haji dan Syakira.
"Terima kasih, Pak Haji. Terima kasih banyak," cuma itu yang sanggup diucapkan Rangga saat dia menyalami tangan calon mertuanya itu.
Setelah obrolan singkat soal tanggal pernikahan yang direncanakan bulan depan secara sederhana, Rangga pamit pulang. Dia ingin segera membagikan kabar ini pada ibunya. Begitu sampai di rumah, Rangga langsung berlari ke arah Emak yang sedang menunggu di ruang tamu sambil memegang tasbihnya.
Rangga langsung bersimpuh di kaki Emak, membenamkan wajahnya di pangkuan wanita yang sudah melahirkannya itu. "Mak... Pak Haji sudah restui. Syakira mau jadi istri Rangga. Rinjani juga sudah panggil dia Mama, Mak..." bisik Rangga dengan suara yang pecah oleh tangis bahagia.
Emak seketika menangis haru. Air mata wanita tua itu jatuh membasahi punggung Rangga. "Alhamdulillah, Gusti... akhirnya. Emak selalu berdoa di setiap sujud malam, supaya anak Emak dikasih jodoh yang tulus hatinya. Emak tahu kamu orang baik, Rangga. Gusti Allah nggak pernah tidur kalau hamba-Nya dizalimi."
"Ini semua berkat doa Emak juga. Kalau bukan karena Emak yang paksa Rangga buat bangkit, mungkin Rangga sudah nggak tahu jadi apa sekarang," sahut Rangga sambil mencium tangan ibunya berkali-kali.
Malam itu, di rumah kecil mereka yang kini terasa sangat hangat dan penuh cahaya, Rangga merasakan kedamaian yang sesungguhnya. Tidak ada lagi bayang-bayang hinaan Laras atau rasa minder yang menghantuinya. Dia sadar, setiap tetes air mata yang jatuh saat dia diusir dulu di Jakarta, kini telah berubah menjadi benih-benih kebahagiaan yang tumbuh subur di tanah Bandung.
doa laki laki yang terani Aya juga bisa merubah nasibmu seperti debu
jahat selingkuh dan membiarkan suami dan Anaknya ,,