NovelToon NovelToon
HATI EMAS

HATI EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.

Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:

• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.

Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.

Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. The Smile Behind the Poison

Taman dalam Istana Araluen — siang hari

Taman istana tampak tenang.

Bunga musim semi bermekaran rapi, burung-burung kecil hinggap tanpa takut—

namun ketenangan itu palsu.

Heilen Valerius melangkah anggun di jalur marmer, kipas di tangannya bergerak pelan.

Wajahnya tenang, senyum tipis terpatri sempurna.

Sampai—

“Ah, Selir Heilen.”

Suara itu terdengar manis, namun tajam seperti jarum.

Heilen berhenti.

Di hadapannya berdiri Elza Lavenza, selir ke-3, dengan gaun pastel dan senyum penuh perhitungan.

Di sampingnya, Mahgna de Courcy, selir ke-6, menatap dengan mata penuh rasa ingin tahu—dan sedikit ejekan.

“Tak kusangka kita bertemu di sini,” lanjut Elza lembut.

“Biasanya kau jarang keluar kamar, bukan?”

Heilen tersenyum tipis.

“Kesibukan seorang ibu memang tak pernah ada habisnya.”

Mahgna terkekeh kecil.

“Oh? Kesibukan apa, jika boleh tahu?”

Ia mendekat selangkah, lalu berkata ringan namun menusuk:

“Kau tidak ingin menikahkan anakmu?”

“Sudah usia dewasa, masih tidak memiliki calon.”

Udara di sekitar mereka mendadak terasa berat.

Heilen menutup kipasnya perlahan.

“Anakku tidak terburu-buru,” jawabnya tenang.

“Tahta bukan sesuatu yang diperebutkan dengan pernikahan tergesa-gesa.”

Elza mengangkat alis.

“Benarkah?” katanya sambil tersenyum.

“Bukankah justru dengan pernikahan, posisi bisa… diperkuat?”

Mahgna menimpali polos—terlalu polos.

“Apalagi jika dibandingkan dengan putra mahkota,” katanya.

“Sudah punya calon yang—bagaimana ya—disukai banyak pihak.”

Senyum Heilen tak berubah.

Namun jari-jarinya mengencang di balik lengan gaun.

“Putra mahkota,” ucapnya pelan,

“memang selalu menjadi pusat perhatian.”

Ia melirik mereka satu per satu.

“Tapi perhatian bukanlah segalanya.

Yang bertahan adalah mereka yang menunggu waktu yang tepat.”

Elza tersenyum kecil.

“Atau mereka yang terlambat dan tertinggal,” balasnya halus.

Mahgna tertawa kecil, lalu menutup mulut seolah sadar telah terlalu jauh.

“Maaf,” katanya.

“Aku hanya khawatir. Alistair tampak… pendiam akhir-akhir ini.”

Heilen menatap lurus ke depan.

“Serigala yang diam,” katanya pelan,

“biasanya sedang menghitung jarak gigitannya.”

Keduanya terdiam sesaat.

Angin taman berhembus pelan, menggoyangkan kelopak bunga.

Elza tersenyum lebih kaku.

“Kalau begitu, semoga keberuntungan selalu berpihak padamu, Selir Heilen.”

Mahgna mengangguk cepat.

“Tentu… semoga.”

Mereka melangkah pergi.

Begitu bayangan mereka menghilang di balik lengkungan taman, senyum Heilen runtuh.

Ia menutup mata sejenak.

Meremehkanku, batinnya dingin.

mereka lupa....

Heilen membuka mata, penuh tekad.

Pernikahan bukan satu-satunya jalan menuju mahkota.

Dan Anthenia Blackwood…

Bibirnya melengkung pelan.

…bukan satu-satunya bidak.

Di kejauhan, lonceng istana berdentang lembut.

Pertanda—

bahwa permainan baru saja memasuki babak berikutnya.

Koridor batu sisi barat Istana Araluen

Langkah Heilen terdengar pelan namun teratur.

Wajahnya kembali tenang, seperti topeng yang tak pernah retak. Dua dayang mengikuti dari belakang, menunduk tanpa berani menatap.

“Panggil Alistair,” ucap Heilen tanpa menoleh.

“Diam-diam.”

Salah satu dayang berhenti dan berbalik arah.

Heilen melanjutkan langkahnya hingga tiba di paviliun kecil yang jarang dikunjungi—tempat sunyi, jauh dari telinga istana.

Ia duduk perlahan, menuang teh untuk dirinya sendiri.

Elza… Mahgna…

Mereka terlalu percaya diri.

Cangkir porselen beradu pelan saat ia meletakkannya kembali.

“Jika mereka mulai menggonggong,” gumamnya,

“itu berarti mereka mencium peluang.”

Beberapa saat kemudian

Alistair Valerius masuk dengan senyum sopan.

“Ibu memanggil?” tanyanya lembut.

Heilen menatap putranya lama—terlalu lama untuk sekadar seorang ibu.

“Duduk,” katanya.

Alistair patuh.

“Mereka mulai berbicara tentang pernikahan,” ucap Heilen ringan.

“Dan tentang Anthenia Blackwood.”

Sorot mata Alistair bergerak tipis.

“Hm. Jadi memang benar.”

“Benar apa?” tanya Heilen.

“Bahwa gadis itu kini pusat permainan,” jawabnya tenang.

“Putra mahkota, Kaisar, bahkan Valerion.”

Heilen tersenyum tipis.

“Dan kau?”

Alistair mengangkat bahu.

“Aku menunggu.”

Heilen mencondongkan tubuhnya.

“Menunggu terlalu lama,” katanya dingin,

“membuat orang lain mengklaim apa yang seharusnya bisa kita arahkan.”

Alistair terdiam.

“Bukan dia targetmu,” lanjut Heilen pelan.

“Bukan sekarang.”

“Lalu?” tanya Alistair.

“Lingkarannya,” jawab Heilen.

“Kepercayaan. Nama. Persepsi.”

Ia berdiri.

“Jika Anthenia jatuh,” katanya tenang,

“itu harus tampak seperti kesalahannya sendiri.”

Alistair tersenyum—senyum yang tak pernah mencapai matanya.

“Seperti biasa,” ucapnya.

“Lembut di permukaan.”

Sisi lain istana — sore hari

Anthenia berjalan bersama Nelia di lorong kaca.

“Kak William terlihat tegang akhir-akhir ini,” kata Nelia polos.

“Dia jarang tersenyum.”

Anthenia meliriknya.

“Itu bukan hal baru.”

Nelia tertawa kecil.

Namun langkah Anthenia melambat.

Ada sesuatu, pikirnya.

Sejak pagi…

Ia menoleh sekilas ke arah taman jauh—tempat pertemuan selir tadi terjadi—tanpa tahu apa yang dibicarakan di sana.

Angin berembus pelan.

Bukan dingin.

Tapi cukup membuat kulitnya merinding.

“Lady Anthenia?” tanya Nelia.

Anthenia tersenyum kecil.

“Tidak apa-apa.”

Namun di dalam hatinya, alarm yang lama tak berbunyi mulai berdentang.

Ini bukan kebetulan, pikirnya.

Ini persiapan.

Malam — kamar Heilen

Heilen berdiri di depan jendela.

“Mulailah dari yang kecil,” katanya pada bayangan malam.

“Kesalahan kecil… selalu dipercaya.”

Di kejauhan, cahaya istana Araluen berpendar tenang.

Dan jauh di bawahnya,

permainan mulai bergerak—tanpa suara.

Aula Jamuan Kecil Istana Araluen — sore menjelang malam

Jamuan ini bukan acara resmi.

Tidak ada musik besar, tidak ada pengumuman kaisar.

Hanya pertemuan bangsawan wanita—teh, kue kecil, dan percakapan ringan.

Justru di sinilah racun paling mudah dituang.

Anthenia melangkah masuk dengan sikap tenang. Gaun biru gelapnya sederhana, tanpa perhiasan mencolok. Nelia menggandeng lengannya, tersenyum ceria.

“Lady Anthenia!” seru Genevieve Kesan sambil melambaikan tangan.

“Ayo duduk bersama kami.”

Beatrice Miller dan Adelaide Lavenza duduk tak jauh, saling bertukar pandang singkat.

Elza Lavenza sudah lebih dulu hadir. Senyumnya ramah—terlalu ramah.

“Ah, Putri Blackwood,” katanya lembut.

“Senang sekali kau bisa hadir.”

Anthenia membalas dengan anggukan sopan.

“Terima kasih atas undangannya.”

Teh disajikan. Percakapan mengalir tentang mode, taman, dan pesta musim panas.

Terlalu normal.

Terlalu tenang.

Lalu Elza membuka kipasnya perlahan.

“Ngomong-ngomong,” katanya santai,

“aku dengar kau sangat aktif membantu wilayah perbatasan akhir-akhir ini.”

Anthenia mengangguk.

“Itu tanggung jawab keluarga Blackwood.”

Beatrice tersenyum miring.

“Bukan keputusan yang biasanya dibuat oleh seorang… gadis.”

Beberapa kepala menoleh.

Nelia hendak bicara, tapi Anthenia menekan lembut tangannya.

“Aku tidak tahu keputusan memiliki jenis kelamin,” jawab Anthenia tenang.

Genevieve menahan senyum.

Elza tertawa kecil.

“Tentu saja tidak. Hanya saja… ada yang berkata kau terlalu sering terlibat urusan militer.”

Hening sesaat.

Adelaide memiringkan kepala.

“Bukankah itu wilayah Putra Mahkota?”

Beberapa bangsawan muda saling berpandangan.

Ini dia, pikir Anthenia.

Retakan pertama.

“Aku tidak mengambil alih apa pun,” katanya tenang.

“Aku membantu wilayahku sendiri.”

Elza mengangguk seolah setuju.

“Tentu. Tapi kau tahu bagaimana orang berbicara.”

Ia menyesap teh.

“Mereka bisa salah paham… dan menyangka kau terlalu ambisius.”

Nelia bangkit setengah berdiri.

“Itu tidak adil—”

Anthenia berdiri penuh.

“Aku tidak bisa mengendalikan bisik-bisik,” katanya lembut.

“Namun aku bisa mengendalikan tindakanku.”

Ia menatap Elza tanpa senyum.

“Dan tindakanku tidak pernah ditujukan untuk mahkota.”

Kalimat itu jatuh berat.

Beatrice menggigit bibir. Adelaide mengalihkan pandangan.

Elza tersenyum tipis—tidak puas, tapi cukup.

“Maaf jika pembicaraan kami tidak menyenangkan,” katanya.

Anthenia mengangguk sopan.

“Aku pamit.”

Ia menggandeng Nelia keluar aula.

Begitu pintu tertutup—

“Lady Elza,” bisik Beatrice,

“apa itu cukup?”

Elza menutup kipasnya perlahan.

“Cukup untuk membuat orang mulai bertanya,” jawabnya.

Koridor luar — senja

Nelia menatap Anthenia cemas.

“Mereka jahat,” katanya lirih.

“Mereka sengaja.”

Anthenia tersenyum kecil.

“Tidak,” jawabnya pelan.

“Mereka hanya menjalankan peran.”

Ia menatap ke depan.

“Dan aku baru saja masuk ke babak yang tidak bisa kuhindari.”

Di ujung lorong, bayangan seseorang berdiri.

William.

Tatapannya tajam—bukan marah, tapi waspada.

Ia telah mendengar.

Dan untuk pertama kalinya, sebagai panglima,

ia tidak melihat medan perang—

melainkan perang tanpa darah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!