Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Langit Jenewa dan Janji yang Mengeras
Salju tipis mulai turun di atas atap-atap kota Jenewa, menyelimuti vila tersembunyi di pinggiran danau dengan selapis warna putih yang tenang. Di dalam ruang tengah yang hangat, aroma kayu pinus yang terbakar di perapian bercampur dengan aroma lembut minyak telon bayi.
Aruna duduk di kursi goyang berbahan kulit, matanya menatap kosong ke arah api. Di pelukannya, Leonardo menggeliat kecil, mencari posisi nyaman untuk menyusu. Pergelangan tangan Aruna masih berdenyut merah, namun kini denyutnya lebih stabil—sebuah pengingat konstan bahwa ia masih menjadi "kunci" yang bernapas.
"Minumlah ini, Nona. Anda belum makan sejak kemarin sore."
Marco berdiri di sampingnya, menyodorkan segelas susu hangat dan sepiring kecil roti gandum. Penampilannya kini jauh lebih rapi, meski bekas luka di bahunya masih tampak jelas di balik kemeja hitamnya.
Aruna mendongak, matanya yang cekung menatap Marco dengan tajam. "Bagaimana aku bisa makan, Marco? Setiap kali aku menutup mata, aku mendengar suara ledakan di gua itu."
"Tuan Dante tahu apa yang dia lakukan," suara Marco tetap tenang, meski ada getaran kecil di sana. "Dia memilih untuk memberi Anda waktu. Jangan sia-siakan waktu itu dengan membiarkan diri Anda sakit. Ingat, Leonardo bergantung pada kesehatan Anda."
Aruna menunduk, menatap wajah Leonardo yang tenang. "Dia bertanya padaku lewat tangisannya setiap malam, Marco. Dia mencari ayahnya. Dia mencari detak jantung Dante yang biasanya menenangkannya saat aku sedang lelah."
"Anak itu kuat. Dia adalah seorang Valerius," sahut Marco. Ia duduk di kursi seberang Aruna, meletakkan sebuah tablet di meja kopi. "Dan kita tidak punya banyak waktu untuk berkabung. Konsorsium sudah mulai bergerak. Mereka tahu Anda ada di Swiss."
"Bagaimana mereka tahu?" Aruna mengencangkan dekapannya pada Leonardo. Bayi itu merespons dengan isapan yang lebih kuat, membuat tanda melati di pergelangan tangan Aruna bercahaya terang.
"Jejak biometrik dari tanda itu," Marco menunjuk pergelangan tangan Aruna. "Setiap kali Anda menyusui, 'kunci' itu mengirimkan gelombang sub-frekuensi yang bisa ditangkap oleh satelit pengintai tingkat tinggi. Adrian merancangnya agar brankas itu tahu bahwa sang pewaris sedang 'diberi makan', tapi dia tidak memperhitungkan teknologi pelacakan masa kini."
Aruna tertawa sumbang, sebuah suara yang terdengar asing di telinganya sendiri. "Jadi, setiap kali aku memberikan kehidupan pada bayi ini, aku juga memberikan lokasiku pada para pembunuh itu?"
"Tepat sekali."
"Kalau begitu, ayo kita selesaikan," Aruna berdiri, memindahkan Leonardo yang sudah tertidur ke dalam boks bayi di sudut ruangan. Ia merapikan kemejanya, lalu berjalan menuju meja kerja Marco. "Kapan kita ke bank itu?"
"Pagi ini. Jam sembilan," Marco mengetuk layar tabletnya. "Bank L’Etoile Noire. Bank paling aman di dunia. Mereka tidak mengenal nama, mereka hanya mengenal DNA dan kunci fisik."
Pukul sembilan tepat, sebuah limusin hitam berhenti di depan gedung marmer abu-abu yang megah di pusat distrik finansial Jenewa. Aruna turun dengan mengenakan setelan jas wanita berwarna hitam yang elegan, rambutnya disanggul rapi. Di dadanya, ia menggendong Leonardo menggunakan kain gendongan sutra hitam yang mahal.
Dua pengawal yang disiapkan Marco menjaga jarak beberapa langkah di belakang. Aruna melangkah masuk ke dalam lobi bank yang sunyi dan dingin.
"Selamat pagi, Madame. Ada yang bisa kami bantu?" seorang pria paruh baya dengan setelan yang sangat kaku menyambut mereka.
Aruna melepaskan kacamata hitamnya. "Aku di sini untuk mengakses brankas pribadi nomor 0912-A."
Pria itu terdiam sejenak. Ia menatap Aruna, lalu menatap bayi di gendongannya. "Maaf, Madame, tapi brankas itu sudah tidak diakses selama dua puluh tahun. Prosedurnya sangat ketat. Anda memiliki kuncinya?"
Aruna mengulurkan pergelangan tangan kirinya. "Aku adalah kuncinya."
Manajer bank itu tampak terkejut. Ia segera memberi isyarat agar Aruna mengikutinya menuju sebuah lift pribadi yang turun jauh ke bawah tanah. Di dalam lift, suasana terasa mencekam. Leonardo mulai merengek kecil, merasa tidak nyaman dengan tekanan udara yang berubah.
"Sstt... sayang, sebentar lagi selesai," bisik Aruna.
Pintu lift terbuka, memperlihatkan sebuah lorong baja yang dijaga oleh sistem laser. Di ujung lorong, ada sebuah pintu bundar raksasa dengan berbagai macam pemindai.
"Silakan, Madame," ujar manajer bank itu sambil berdiri di belakang garis kuning. "Letakkan pergelangan tangan Anda pada pemindai biometrik, dan pastikan detak jantung Anda berada di bawah seratus denyut per menit."
Aruna melangkah maju. Tangannya gemetar. Ia menatap Leonardo yang kini menatapnya dengan mata bulat yang besar.
"Marco, pegang dia sebentar," Aruna menyerahkan Leonardo kepada Marco.
"Tidak, Nona," Marco menahan tangan Aruna. "Sistem ini dirancang oleh Adrian. Dia ingin Anda menggendong bayi itu. Isapan atau keberadaan bayi itu adalah bagian dari kalibrasi hormon oksitosin Anda. Tanpa bayi itu di dekat Anda, detak jantung Anda tidak akan berada pada frekuensi yang tepat."
Aruna menelan ludah. "Ayahku benar-benar seorang manipulator ulung, bahkan dari balik liang lahat."
Ia merapatkan Leonardo ke dadanya. Bayi itu mulai tenang kembali. Aruna menarik napas dalam-dalam, mencoba memikirkan kenangan paling damai yang pernah ia miliki—bukan tentang pelarian, bukan tentang Dante, tapi tentang ibunya yang sedang menyanyi di dapur kecil mereka di Jakarta.
Perlahan, ia meletakkan pergelangan tangannya pada kaca pemindai.
ZING...
Cahaya biru menyapu tanda melati itu. Tanda itu mulai berdenyut, mengeluarkan cahaya merah yang sangat terang hingga menyinari seluruh ruangan gelap itu.
"ID Terkonfirmasi: Aruna Salsabila. Status: Aktif. Kalibrasi Hormonal: Optimal. Selamat Datang, Kunci Valerius."
Suara mesin yang berat terdengar berputar. Pintu brankas raksasa itu terbuka perlahan, mengeluarkan embusan udara dingin yang sudah terperangkap selama puluhan tahun.
Di dalam brankas itu, tidak ada tumpukan emas atau uang tunai. Hanya ada sebuah meja kecil dengan satu kotak hitam berbahan serat karbon dan sebuah surat tua.
Aruna melangkah masuk dengan kaki gemetar. Ia mengambil surat itu.
"Untuk putriku, Aruna. Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menjadi seorang ibu. Hanya seorang ibu yang bisa memahami kenapa aku harus mengunci dunia ini darimu sampai kau cukup kuat untuk melindunginya. Di dalam kotak ini, ada data yang bisa menghancurkan kerajaan Valerius, atau membangunnya kembali sesuai keinginanmu. Pilihlah dengan bijak. - Ayahmu."
Aruna membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah drive penyimpanan data dan sebuah cincin stempel kuno dengan lambang yang berbeda dari lambang Dante maupun Luciano. Itu adalah lambang keluarga Salsabila yang asli.
"Apa itu, Nona?" Marco mendekat, matanya berkilat penuh rasa ingin tahu.
"Ini adalah kehancuran mereka, Marco," bisik Aruna. Ia menatap data di layar kecil yang muncul dari kotak itu. Daftar nama, transaksi, dan bukti-bukti pembunuhan yang melibatkan hampir seluruh petinggi mafia di Eropa.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan bergema dari arah pintu brankas yang masih terbuka.
"Luar biasa. Aku selalu tahu Adrian adalah orang yang sangat teliti."
Aruna dan Marco berbalik dengan cepat. Di sana, di ambang pintu, berdiri seorang pria yang tidak pernah mereka duga akan muncul di sana. Bukan Luciano, bukan pula Dante.
"Siapa kau?" tanya Aruna, melindungi Leonardo di belakang punggungnya.
Pria itu melangkah maju ke dalam cahaya. Ia tampak lebih muda dari Dante, dengan senyum yang tampak ramah namun memiliki dingin yang mematikan di matanya. "Namaku adalah Enzo. Aku adalah adik kandung Dante yang 'dibuang' oleh Lorenzo ke panti asuhan karena dianggap terlalu lemah. Tapi seperti yang kau lihat... aku tidak selemah yang mereka kira."
"Enzo?" Marco bergumam, tangannya sudah berada di gagang senjatanya. "Tuan Dante bilang kau sudah mati dalam kebakaran panti."
"Dante percaya pada banyak kebohongan yang diceritakan ayah kami," Enzo menatap kotak hitam di tangan Aruna. "Sekarang, Aruna... berikan kotak itu padaku. Aku akan menggunakannya untuk membersihkan nama Valerius dari orang-orang seperti Dante dan Luciano. Aku akan memberimu kebebasan sejati."
"Kebebasan?" Aruna tertawa, suaranya kini terdengar sangat kuat. "Aku sudah bosan mendengar janji kebebasan dari pria-pria di keluarga ini. Setiap kali kalian menawarkan kebebasan, kalian sebenarnya hanya menawarkan penjara baru dengan dinding yang lebih cantik."
"Nona, jangan dengarkan dia," bisik Marco.
"Aku tidak mendengarkan siapa pun lagi," Aruna mengambil drive data itu dan memasukkannya ke dalam saku jasnya. Ia menatap Enzo. "Jika kau menginginkan ini, kau harus membunuhku dan bayi ini. Dan kau tahu apa yang terjadi jika 'kunci' ini mati sebelum datanya ditransfer sepenuhnya ke server pusat?"
Enzo menyipitkan mata. "Apa?"
"Data ini akan meledak dan menghapus seluruh catatan finansial di bank ini. Kau akan menghancurkan ekonomi dunia bawah tanah, termasuk milikmu sendiri," gertak Aruna, meski ia tidak tahu apakah itu benar.
Leonardo tiba-tiba menangis kencang. Suara tangisannya memantul di dinding baja brankas, menciptakan kebisingan yang memekakkan telinga. Isapan tangisnya membuat pergelangan tangan Aruna bersinar semakin terang, seolah-olah merespons stres yang dialami Aruna.
"Berhenti, Enzo!" teriak Marco, kini ia menodongkan senjatanya pada pria muda itu. "Biarkan kami pergi, atau tempat ini akan menjadi kuburan kita semua."
Enzo menatap Aruna, lalu menatap Leonardo, dan akhirnya pada tanda lahir yang bercahaya itu. Ia tampak ragu. "Kau sangat berani, Aruna. Tapi kau tidak tahu apa yang akan terjadi sekarang. Konsorsium sudah ada di atas gedung ini. Mereka tidak akan membiarkanmu keluar hidup-hidup dengan data itu."
"Kalau begitu, aku akan menunjukkan pada mereka bagaimana seorang ibu melindungi anaknya," sahut Aruna.
Ia menatap Marco. "Marco, siapkan pelarian udara. Kita tidak akan keluar lewat lobi."
"Tapi Nona, tidak ada jalan lain!"
Aruna menatap sebuah ventilasi besar di langit-langit brankas yang dirancang untuk sirkulasi udara khusus. "Ada jalan. Jika ayahku bisa menanam kode di tubuhku, dia pasti sudah menyiapkan jalan keluar untukku."
Aruna menarik sebuah tuas kecil yang tersembunyi di balik meja tempat kotak hitam tadi berada. Tiba-tiba, lantai brankas bergetar, dan sebuah lorong sempit terbuka di belakang rak buku baja.
"Ayo!"
Mereka berlari masuk ke dalam lorong gelap itu tepat saat Enzo memerintahkan anak buahnya untuk menyerang. Pintu lorong menutup dengan dentuman keras, meninggalkan Enzo yang berteriak frustrasi di belakang.
Di dalam lorong yang hanya diterangi oleh lampu darurat berwarna merah, Aruna terus berlari sambil mendekap Leonardo. Bayi itu kini diam, seolah tahu bahwa ibunya sedang berjuang demi mereka berdua.
"Kau luar biasa, Nona," ujar Marco di sela napasnya yang memburu. "Tuan Dante akan bangga melihat Anda sekarang."
"Aku tidak melakukan ini untuk Dante," sahut Aruna tajam. "Aku melakukan ini untuk diriku sendiri. Dan untuk Leo."
Mereka sampai di ujung lorong yang ternyata terhubung dengan sebuah hangar kecil di bawah tanah yang berisi sebuah helikopter tanpa tanda. Seorang pilot sudah duduk di sana, mesinnya sudah mulai berputar.
"Siapa yang menyiapkan ini?" tanya Aruna bingung.
"Aku," sebuah suara berat terdengar dari balik pintu hangar.
Aruna membeku. Ia menoleh perlahan. Di sana, bersandar pada pilar beton dengan perban di kepalanya dan lengan yang digendong, berdiri Dante Valerius. Ia tampak hancur, namun matanya masih memiliki kilat yang sama—kilat yang selalu membuat Aruna merasa antara aman dan terancam.
"Dante?" Aruna berlari mendekat, namun ia berhenti beberapa langkah di depan pria itu. "Kau hidup?"
Dante tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh luka. "Kau pikir ledakan sekecil itu bisa membunuhku sebelum aku melihatmu membuka brankas ayahmu?"
"Kau mengikutiku? Selama ini?"
"Aku memastikan kau sampai di sini dengan selamat, Aruna. Marco selalu melapor padaku," Dante menatap Leonardo. "Berikan dia padaku sejenak."
Aruna ragu, namun ia menyerahkan Leonardo. Dante mencium dahi putranya dengan penuh kasih sayang. "Dia tumbuh sangat baik. Itu karena susumu, Aruna. Kau telah menjaga bagian terbaik dari diriku tetap hidup."
"Sekarang apa?" tanya Aruna. "Kau akan mengambil datanya dan membuangku?"
Dante menatap Aruna, lalu menyerahkan kembali Leonardo. Ia mengambil drive data dari saku Aruna. "Aku akan mengambil ini untuk menghancurkan Enzo dan Luciano selamanya. Tapi kau... kau dan Leonardo akan pergi dengan helikopter ini ke sebuah pulau di Pasifik yang tidak ada di peta mana pun. Aku sudah menyiapkan segalanya."
"Kau tidak ikut?"
Dante menggeleng. "Aku harus menyelesaikan kotoran yang ditinggalkan keluargaku. Jika aku ikut, mereka akan terus mengejar kita. Tapi jika aku tetap di sini, aku bisa menjadi pengalih perhatian yang sempurna."
Aruna menatap Dante. Untuk pertama kalinya, ia melihat pengorbanan yang nyata dari pria ini. Bukan pengorbanan untuk kode, tapi pengorbanan untuk keselamatan mereka.
"Dante..." Aruna meraih tangan Dante. "Kembalilah. Leo akan menunggumu. Dia butuh ayahnya untuk mengajarinya cara menjadi Valerius yang lebih baik."
Dante mengecup tangan Aruna, tepat di atas tanda melati yang kini sudah meredup. "Aku akan kembali. Tapi sampai saat itu, jadilah wanita yang kuat seperti saat kau di dalam brankas tadi. Kau bukan lagi kunci, Aruna. Kau adalah pemilik gerbangnya."
Helikopter mulai terangkat. Aruna menatap dari jendela saat sosok Dante perlahan mengecil di bawah sana. Ia mendekap Leonardo, memberikan ASI-nya kembali saat mereka terbang menuju cakrawala yang baru.
Di pergelangan tangannya, tanda melati itu kini tidak lagi berdenyut merah. Warnanya berubah menjadi putih perak yang permanen—sebuah tanda kemenangan. Aruna Salsabila bukan lagi ibu susu biasa. Ia adalah penguasa rahasia yang paling dicari di dunia, dan ia siap untuk menghadapi siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.