Andreas St. Clair adalah definisi dari kesempurnaan yang arogan. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris dinasti elit New York, ia tidak memiliki toleransi untuk kegagalan atau amatirisme. Baginya, film terbarunya hanyalah bisnis biasa, hingga ia dipasangkan dengan Seraphina Vanderbilt, Terkenal Gadis Manis Manhattan yang reputasinya sebersih salju.
Ketegangan memuncak di lokasi syuting saat adegan ciuman mereka gagal hingga enam kali.
Andreas, yang muak dengan kekakuan Seraphina, menghina bakat dan profesionalitasnya di depan semua orang. Namun, Andreas tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Seraphina, tersimpan sebuah rahasia, itu adalah ciuman pertamanya, baik di depan kamera maupun dalam hidupnya.
Terluka dan dipicu amarah, Seraphina melepaskan topeng "gadis baik-baik" miliknya. Dia menantang ego Andreas dengan keberanian yang belum pernah dilihat dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Malam itu, dinginnya Cambridge seolah menembus hingga ke sumsum tulang. Jarum jam baru saja melewati angka satu dini hari ketika Archelo St. Clair melangkah keluar dari apartemen Fank, salah satu rekan tim studinya. Di sampingnya, Justine berjalan sambil menguap lebar, masih memegang beberapa lembar kertas draf proyek ekonomi yang baru saja mereka selesaikan setelah begadang berjam-jam.
"Aku tumpangi kau sampai blok depan, Chello. Mobilku diparkir tepat di depan lobi," ucap Justine sambil menekan tombol lift.
Archelo hanya mengangguk pelan. Pikirannya kosong, hanya ingin segera sampai di apartemen pribadinya dan merebahkan diri. Namun, tepat saat pintu lift terbuka di lantai lobi, pemandangan di depan mereka menghancurkan seluruh rasa kantuk Archelo dalam sekejap.
Di sudut lobi yang remang-remang, dekat deretan kotak surat, Archelo melihat dua sosok yang sangat ia kenali. Itu adalah Florence Edison dan kekasih seniornya, sang mahasiswa hukum berprestasi yang selama ini terlihat begitu sempurna.
Namun, pemandangan malam ini jauh dari kata sempurna. Flo tidak berdiri tegak; ia tampak meracau, kepalanya terkulai lemas ke bahu pria itu, dan jemarinya mencengkeram kemeja sang senior dengan gerakan yang tidak terkendali.
Di sisi lain, sang senior pria yang biasanya tampil necis dengan jas mahal kini tampak berantakan. Matanya merah, pupilnya melebar mengerikan, dan ia menyeringai aneh sambil terus membisikkan sesuatu ke telinga Flo yang tampak setengah sadar.
Justine, yang juga melihat pemandangan itu, menarik napas pendek dan berbisik tepat di telinga Archelo.
"Chello, lihat matanya... Mereka tidak mabuk alkohol. Sepertinya mereka fly habis ngobat," bisik Justine dengan nada ngeri.
Deg.
Jantung Archelo berdegup kencang. Ia tahu persis tatapan itu. Itu adalah tatapan yang sama yang ia lihat pada Hernand dan Julian di markas tua mereka setahun lalu. Namun, otaknya menolak mentah-mentah kenyataan bahwa Flo, gadis kriminologi yang sangat membenci narkoba, akan menyentuh barang haram itu secara sukarela.
"Tidak mungkin," desis Archelo. "Flo tidak akan pernah melakukan itu."
Tiba-tiba, suara Flo pecah, melengking di lobi yang sunyi. "Panas... Andreas... maksudku, ini panas sekali! Lepaskan!" Flo meracau, tangannya mulai menarik-narik kerah bajunya sendiri seolah suhu di ruangan itu mencapai titik didih. Wajahnya memerah, keringat dingin membasahi pelipisnya.
Sang senior justru tertawa pelan, tawa yang terdengar sangat jahat dan tidak waras. Ia mencoba menyeret Flo menuju lift, tampaknya ingin membawa gadis itu ke atas.
Archelo sadar dalam sekejap. Ini bukan penggunaan sukarela. Ini adalah jebakan. Senior itu pasti telah mencampurkan sesuatu ke dalam minuman Flo, sesuatu yang keras, mungkin jenis perangsang yang dicampur dengan halusinasi.
"Justine, usir pria brengsek itu," perintah Archelo, suaranya kini berubah menjadi rendah dan sangat berbahaya, suara yang mengingatkan pada kemarahan Andreas St. Clair di masa lalu. "Bawa dia keluar, pukul dia jika perlu, atau panggil keamanan. Tapi jangan biarkan dia menyentuh Flo lagi."
Justine, yang tahu betapa mengerikannya Archelo jika sudah dalam mode ini, segera bertindak. Dengan tubuhnya yang lebih tegap, Justine merangsek maju dan menarik paksa sang senior dari sisi Flo. Pria itu mencoba melawan, namun karena kondisinya yang sedang fly parah, ia dengan mudah diseret Justine menuju pintu keluar lobi.
Archelo segera menangkap tubuh Flo tepat sebelum gadis itu jatuh ke lantai marmer. Begitu kulit mereka bersentuhan, Archelo terkejut merasakan suhu tubuh Flo yang sangat tinggi.
"Flo! Florence, lihat aku!" Archelo menepuk pipi Flo dengan lembut namun tegas.
Mata Flo terbuka sedikit, namun pandangannya kosong. Ia menatap Archelo tanpa mengenali siapa pria di depannya. "Panas... kepalaku sakit... tolong..." rintihnya. Ia mulai meronta, tangannya mencakar lengan jaket Archelo.
Archelo tahu ia tidak bisa membawa Flo ke rumah sakit tanpa memicu skandal besar yang akan menghancurkan masa depan gadis itu di bidang hukum. Ia harus membawa Flo ke tempat yang aman. Beruntung, Flo tinggal di gedung ini.
"Di mana kunci apartemen mu, Flo? Katakan padaku nomor kamarmu," bisik Archelo, mencoba menenangkan kegelisahan Flo.
Dengan kesadaran yang hanya tersisa sedikit, Flo merogoh tas kecilnya dengan tangan gemetar. Ia mengeluarkan sebuah kartu akses. "Lantai... tujuh... tujuh nol tiga..."
Archelo tidak membuang waktu. Ia menggendong Flo dalam dekapannya, membawanya masuk kembali ke dalam lift. Di dalam ruang sempit itu, Flo terus meracau. Ia menyandarkan kepalanya di dada Archelo, menghirup aroma tubuh pria itu yang entah kenapa memberikan sedikit ketenangan di tengah badai kimia yang menyerang otaknya.
"Dingin... aku butuh yang dingin..." gumam Flo, air mata mulai mengalir di sudut matanya yang terpejam.
Begitu sampai di depan pintu kamar 703, Archelo menempelkan kartu akses itu. Pintu terbuka dengan bunyi klik yang pelan. Apartemen itu kecil, rapi, dan sangat menggambarkan kepribadian Flo, buku-buku hukum tertata rapi, dan ada aroma peppermint yang selalu melekat pada gadis itu.
Archelo bermaksud membaringkan Flo di sofa, namun saat ia hendak melepaskan gendongannya, Flo justru mencengkeram kerah kemeja Archelo dengan kuat. Kekuatan yang muncul dari efek obat itu membuat Flo menarik Archelo hingga pria itu jatuh terduduk di sampingnya di atas sofa.
"Jangan pergi..." rintih Flo. Matanya kini terbuka, menatap tepat ke mata Archelo. Ada kilatan ketakutan, gairah yang terpaksa, dan kebingungan di sana. "Siapa kau? Kenapa aromamu... seperti orang yang aku benci?"
Archelo terpaku. Ia menatap wajah Flo dari jarak yang sangat dekat. Wajah yang selama setahun ini ia pandangi dari jauh dengan rasa bersalah.
"Ini aku, Archelo," jawabnya dengan suara serak.
Tangan Flo yang panas kini merambat ke wajah Archelo, mengusap rahang tegas pria itu. "St. Clair? Pengecut... kenapa kau di sini?"
Flo kemudian menarik kepala Archelo mendekat, kekuatannya tidak stabil. Dalam kondisi yang sangat kacau, Flo justru menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Archelo, terisak pelan.
"Senior itu... dia memberiku sesuatu... aku takut..."
Archelo mematung, tangannya yang tadinya ragu-ragu kini melingkar erat di bahu Flo, memberikan pelukan protektif yang selama ini hanya bisa ia bayangkan.
Hatinya hancur melihat gadis sekuat Flo dihancurkan dengan cara serendah ini oleh pria yang seharusnya melindunginya.
"Kau aman sekarang, Flo. Aku di sini," bisik Archelo.
Ia tahu malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang. Ia harus membantu Flo melewati efek obat itu tanpa melanggar batas yang pernah ia janjikan pada dirinya sendiri. Ia tidak akan menyentuh Flo lebih dari yang dibutuhkan untuk menolongnya. Ia akan menjadi pria yang berbeda dari apa yang Flo pikirkan malam itu di depan kelab.
Archelo bangkit sejenak, mengambil handuk dingin untuk mengompres dahi Flo yang kepanasan. Ia duduk di lantai di samping sofa tempat Flo berbaring, menjaga gadis itu sepanjang malam.
Di tengah kesunyian apartemen itu, Archelo sadar bahwa takdir baru saja memberinya kesempatan, bukan untuk meniduri seperti kata-kata kasarnya dulu, tapi untuk menjadi satu-satunya orang yang berdiri menjaga kehormatan Florence Edison saat dunia mencoba merampasnya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰